Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Kelicikan Dean


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak Dean mulai bergabung di meja yang sama dengan Mika di kantin, Dean mulai mengikuti Mika kemampuan ia pergi bahkan ke perpustakaan juga.


Awalnya Mika merasa biasa saja, menurutnya mungkin Dean tidak terlalu pandai bergaul karena itu dia selalu mengikuti Mika karena hanya ia yang di kenalnya. Namun jika ia sampai mengambil fotonya secara diam-diam, barulah Mika mulai merasa ada yang tidak beres dengan pemuda tersebut.


Seperti saat ini, Mika yang sedang serius membaca di dalam kelas merasa di potret oleh Dean dengan kamera ponselnya. Meskipun tidak ada suara ataupun kilatan cahaya yang keluar saat memotret, tapi Mika bisa merasakan dengan jelas. Apalagi Xaniel yang berada dalam dirinya juga mengatakan hal yang sama.


"Ah bocah ini melakukannya lagi, apa kau akan diam saja karena lagi-lagi dia mengambil fotomu secara diam-diam. Sepertinya dia terobsesi pada kau mika/ Anzel, atau dia sudah tahu jika kau itu memanglah Anzel saudara angkatnya."


Perkataan Xaniel cukup membuat Mika merasa gusar, apa yang harus ia lakukan jika yang di katakan Xaniel benar Dean mengetahui jiwa Anzel ada di tubuhnya Mika.


Apa Mika harus mengungkapkan jati dirinya pada Dean, karena sebenarnya ia juga sangat merindukan keluarganya angkatnya itu. Tapi sekarang Mika sudah memiliki Jean dan keluarganya, yang menyayanginya tanpa syarat.


Dan bukankah alasan kematiannya juga adalah keluarga Dean, dan karena Dean lah Anzel memiliki pemikiran jahat padanya. Tapi entah kenapa Mika merasa kasian pada Dean saat di rumah sakit, dan penasaran dengan alasan Dean mencoba mengakhiri hidupnya.


Apa itu ada hubungannya dengan kematiannya atau ada alasan lain. Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum pasti membuat kepala Mika terasa sakit, di tambah Xaniel yang terus merecoki pikirannya.


Mika menghela nafasnya, menepis semua hal di pikirannya. Hidupnya saat ini tidak boleh di terganggu oleh kejadian di masa lalu, karena sekarang ia hidup sebagai Mika. Dengan tubuh Mika bukan Anzel, karena kenyataannya Anzel itu sudah mati.


Mika yang merasa tidak nyaman terus di perhatikan oleh Dean akhirnya memilih untuk meninggalkan kelas, tujuannya kali ini bukan perpustakaan mungkin ia akan pergi ke taman belakang sekolahnya.


Mika bahkan dengan sengaja pura-pura tidak mendengar panggilan Dean saat berlalu dari kelas, Mika sudah mengambil keputusan untuk menjaga jaraknya dengan Dean. Karena ia tidak ingin terus menerus terikat dengan masa lalunya.


Mika duduk di sebuah kursi yang ada di taman belakang sekolah, ia merasa tenang karena suasana di sana memang sangat sepi. Apalagi saat ini masih ada jam pelajaran, berbeda dengan kelas Mika yang sedang jam kosong karena guru yang seharusnya mengajar sakit.


Mika memejamkan matanya, punggungnya ia sandarankan pada sandaran kursi. Menajamkan fungsi telinganya untuk mendengarkan semilir angin yang bersinggungan dengan dedaunan, serta suara dari serangga-serangga kecil disana.


Namun saat ia mulai menikmati kesendiriannya, mika lagi-lagi harus mengeluarkan stok kesabaran saat seseorang duduk disampingnya tentu saja tanpa seijin darinya. Dan itu cukup mengganggu baginya.


Mika menoleh kearah pemuda tersebut, lalu melanjutkan kegiatannya tadi.


"Apa ada yang mengganggumu akhir-akhir ini?" tanya Randi, ketua OSIS yang selalu ia temui di perpustakaan.


"Gak ada kok kak." Mika, kembali memejamkan matanya.


"Perkataanmu tidak sesuai dengan ekspresi wajahmu, terlihat jelas di mataku jika saat ini sedang memiliki masalah." ujar Randi.


Mika menatap samping wajah kakak kelasnya, namun ia memilih untuk diam. Mika tidak ingin menceritakan masalahnya pada orang lain, bukan karena takut orang lain mengetahui masalahnya. Tapi Mika hanya takut terikat dengan orang lain saat ia memutuskan untuk terbuka pada orang tersebut.

__ADS_1


"Serius kak, gw gak ada masalah apapun. Gw cuma pengen nyari tempat tenang aja, soalnya di kelas berisik banget karena jamkos." kata Mika.


"Lalu kenapa tidak pergi ke perpustakaan seperti biasanya?" tanya Randi, sepertinya di tidak perlu membahas tentang masalah pribadi Mika.


"Pengen cari suasana baru aja, lagian gw lagi gak ada mood buat belajar. Makanya milih tempat ini." lanjut Mika, sambil menampilkan senyuman di wajahnya.


Pada akhirnya, Randi memilih untuk tidak banyak bertanya lagi. Ia menarik kepala Mika dalam pangkuannya, lalu mengelus lembut rambutnya.


Mika yang sempat terkejut dengan perlakuan Randi hanya diam, ia membalikkan tubuhnya dengan posisi kepala berhadapan dengan perut si ketos. Mika juga menikmati elusan lembut pada rambutnya,bisa ia lihat tanpa berbuat apa-apa Mika bisa merasakan perhatian orang lain padanya. Jadi untuk apa Mika kembali melangkah kemasa lalunya, jika saat ini ia sudah merasa bahagia.


Hampir selama 1 jam Mika tertidur di pangkuan Randi, hingga bel tanda istirahat berbunyi Randi memaksanya untuk bangun.


Mika dan Randi berpisah setelah memasuki gedung karena tujuan mereka berbeda, Mika hendak pergi kekantin sedangkan Randi memutuskan untuk pergi keruang OSIS terlebih dahulu.


Saat melewati beberapa ruangan, Mika melihat beberapa siswa berkumpul di dekat tangga. Mika memilih melanjutkan langkahnya, saat ia mendengar lirihan dari seseorang yang ia kenal.


"Salah Dean apa? Sampai Jean nyiram badan aku pake air dingin, hiks,, hiks.."


Suara tangis Dean sukses membuat Mika membalikkan tubuhnya, ia berjalan cepat membelah kerumunan murid-murid yang menghentikan langkahnya.


"Maksud Dean apa, Jean kan gak siram kamu. Kenapa kamu fitnah Jean." ucap Jean yang tidak menyadari Mika sudah berdiri di dekatnya.


"Itu gak bener bang, dia bohong. Jean gak kaya gitu." Jean menggeleng ribut, menatap Mika penuh harap.


Sedangkan di sekitar mereka siswa siswi lagi mulai berbisik membicarakan Jean.


"Lihat tuh, si Jean mulai lagi ngebully orang lain."


"Gw kira target itu cuma Revan ternyata ada yang lain."


"Pura-pura polos lagi, padahal hatinya iblis"


"Gara-gara dia si Revan sering di bully sama kakaknya sendiri."


"Cih, dasar bocah PPB. Akhirnya keluar juga aslinya."


Dan masih banyak lagi cibiran yang di ucapkan mereka, tidak lamanya kemudian kerumunan itu membubarkan diri saat melihat Revan dan abang-abangnya Jean datang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi baby?" tanya Brian.


Jean yang melihat Mika masih di peluk oleh Dean memilih berlari menuju salah satu abang kembarnya.


"Dean fitnah Jean bang, dia bilang Jean udah siram dia padahal gak?" ucap Jean yang sudah memeluk Gallen.


"Lah paling itu akal-akalan Lo kan Jean, soalnya Lo juga dulu kaya gitu pas ngambil perhatiannya si Vian." ucap Jimi dengan sinis, membuat mata Vian di buatnya hampir keluar.


Dean menyembunyikan senyumannya di balik pelukan Mika, satu orang yang percaya padanya sudah cukup untuk membuat rencananya berhasil.


"Gak, kalian harus percaya sama Jean." lirih Jean yang mulai menangis.


Mika melepaskan pelukan Dean, ia menatap wajah dan seragamnya yang basah. Ia menghela nafasnya.


"Jean, bisa kita bicara sebentar.?" ucap Mika, membuat Jean menoleh kearahnya.


"Lo gak percaya sama baby?" sarkas Law yang terlihat menahan emosinya, apalagi saat melihat Jean menangis.


"Jean ikut gw sebentar bisa, gw cuma mau minta penjelasan aja." lanjut Mika.


Ia menarik tangan Mika menuju lantai atas gedung sekolahnya, sedikit menjauh dari Dean dan yang lainnya. Sedangkan Jean hanya menurut, jujur ia sangat takut Mika tidak mempercayainya.


"Jean bisa jelasin apa yang barusan terjadi?" tanya Mika dengan lembut, ia bahkan mengelus kepala Jean untuk memenangkannya.


"Tadi Jean pergi kekelas abang, tapi bang Mika gak ada. Terus Dean bilang pengen bareng kekantin, Jean turutin. Tapi pas mau sampai di bawah, tiba-tiba aja Dean basahin rambut sama bajunya pake air yang dia bawa. Dean juga duduk di lantai terus nangis, tapi Jean gak tahu kenapa." ujar Jean dengan polosnya.


Mika menyadari ada keganjalan dalam cerita Jean, karena untuk apa Dean melakukan semua itu dan menuding Jean lah yang melakukannya.


"Terus Dean nyalahin Jean, tapi Jean berani sumpah. Itu semua cuma fitnah bang, oh ya satu lagi. Tadi Jean sempat denger Dean ngomong kaya gini bang, 'gw bakal buat Mika jadi milik gw' gitu bang." lanjut Jean.


Mika terkejut mendengar penuturan Jean, apalagi dengan ucapan Dean yang sempat di dengar oleh Jean.


Mika bisa menebak maksud Dean sampai berpura-pura tersakiti oleh Jean, yang membuatnya tidak habis pikir adalah kenapa Dean melakukan cara yang sama dengannya dulu untuk mengambil perhatian orang lain.


Apalagi menjadikan Jean yang polos sebagai kambing hitamnya, membuat Mika kembali merasakan penyesalan di hatinya.


"Mika percaya kok sama Jean, sekarang Jean jangan nangis ya. Dan Jean bisa gak ikutin perintah Mika sekarang." ucap Mika sambil mengusak rambut lembut milik Jean.

__ADS_1


Jean mengangguk, Mika tersenyum kepadanya. Mika mulai mengatakan apa yang harus Jean lakukan untuknya, Jean kembali mengangguk karena paham dengan arah dari mika.


__ADS_2