
Mika kembali bersama Jean yang berjalan di belakangnya, Jean juga menundukkan wajahnya membuat si kembar Allen Gallen, Brian dan teman-temannya menatap penuh tanya.
"Jean minta maaf ya Dean, Jean udah siram rambut kamu. Jean cuma gak suka aja kamu deket-deket sama bang Mika, Jean udah nyesel kok jadi sekali lagi Jean minta maaf ya." suara Jean terdengar begitu bergetar, ia mengulurkan tangannya pada Dean yang masih menangis.
"Iya Dean maafin kok, tapi jangan kaya gini lagi ya. Dean cuma pengen temenan sama Mika aja gak bermaksud ngerebut dia dari kamu." Dean membersihkan sisa air mata di pipinya, ia juga menyambut uluran tangan Jean.
"Tapi by, tadi kamu bilang kan...."
"Ini cuma salah paham kok kak, tadi Jean udah jelasin semuanya sama gw jadi masalahnya udah selesai kan. Yuk kita kekantin, gak enak dari tadi kita jadi tontonan mereka." Mika memotong ucapan Kahfi.
Mika lalu melanjutkan langkahnya menuju kantin, diikuti oleh Jean, Revan dan Liam, Sedangkan Brian, sikembar dan Vian dkk terlihat masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Dean tersenyum dibalik topeng sedihnya, paling tidak langkah awalnya berjalan dengan baik. Dan akan melanjutkan rencana berikutnya, untuk perlahan menarik Mika dalam dekapannya.
° ° °
Mika sampai di sebuah cafe di antar oleh Allen, ia memintanya untuk berhenti dulu di sebuah cafe saat perjalanan pulang sekolah. Mika juga meminta Jean untuk pulang terlebih dahulu bersama Brian dan Gallen.
Tangan kecilnya membuka pintu cafe, menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati aroma kopi yang ada di dalam cafe tersebut. Mika sangat merindukannya, apalagi sudah lebih dari dua bulan ia tidak pernah mampir kesana.
"Adek..." teriak seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun.
Perempuan itu membuka Appronnya, lalu berjalan kearah Mika. Mika tersenyum sesaat sebelum perempuan itu memeluk tubuhnya, Mika juga membalas pelukannya.
"Adek kemana aja selama ini, kakak sampai khawatir karena kamu juga gak pernah datang lagi ke distronya Bintang." kata Risa yang melepas pelukannya.
"Maaf ya kak, selama ini gak ngasih kabar. Mika baik-baik aja kok, kalau soal distro Mika emang udah gak kerja lagi disana." ujar Mika.
Risa yang melihat Mika membawa seseorang di belakangnya langsung tersenyum kearah Allen, ia juga menarik tangan Mika.
"Ngobrolnya sambil duduk yuk dek, kamu gak buru-buru kan soalnya kakak kangen banget sama kamu." Risa menarik Mika kesebuah meja yang terletak di pojok cafenya.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa, sekalian juga buat temen kamu dek?" tanya Risa saat melihat Allen duduk di sampingnya.
"Gak usah repot-repot kak, tapi kalau boleh sih Mika pengen minum milkshake taro. Kalau kak Allen mau minta apa?" ucap Mika sedikit malu-malu, lalu menoleh kearah Allen.
"Cappucino." kata Allen yang diangguki oleh Risa.
Risa memanggil salah satu karyawan untuk segera membuatkan pesanan mika dan Allen.
"Jadi, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu kayak ngilang selama hampir 2 bulan ini, kakak masih inget terakhir kali ketemu kamu pas Bintang telpon kakak buat ngobatin luka-luka kamu." Risa menatap serius pada pemuda yang sudah dianggap adiknya sendiri itu.
"Gini kak, sebenarnya sekarang Mika tinggal di mansionnya keluarga Lavande. Jadi Mika itu nolongin anak bungsunya keluarga itu, terus mereka pengen jadiin Mika sebagai anak angkatnya. Mika nolak dan cuma ngambil tawaran beasiswa, eh karena banyaknya kejadian yang tidak terduga sekarang Mika tinggal di sana sama anak yang udah Mika tolongin." kata Mika yang di dengarkan dengan serius oleh Risa.
"Terus kak Allen ini juga salah satu kakaknya anak yang udah Mika tolongin, nama Jean. Gitu deh ceritanya." lanjut Mika setelah meminum milkshakenya.
"Oh gitu, tapi syukur deh ternyata kami gak kenapa-kenapa." Risa mengacak-acak rambut Mika, pemuda itu hanya diam sambil menikmati perlakuan kekasih dari bosnya saat berkerja di distro.
Sedangkan Allen hanya diam sambil menatap kedekatan Mika dengan Risa, ia juga meminum cappucino yang sudah tersedia di hadapannya.
Hampir satu jam Mika berada di cafe milik Risa, ia akhirnya meminta ijin untuk pulang setelah melihat ekspresi Allen yang terlihat kebosanan.
Saat Allen mulai menjalankan mobilnya, Mika membuka kaca jendela mobil untuk melambaikan tangannya pada Risa. Bagaimanapun ia sudah menganggap Risa dan Bintang sebagai kakaknya sendiri, karena mereka berdua yang selalu ada saat Mika membutuhkan bantuan.
Mika membenarkan posisi duduknya, ia juga menutup kaca mobil Allen. Ia tersenyum bahagia, karena memang sejak lama ia sangat ingin mengunjungi Risa sekedar untuk berterimakasih atas semua kebaikannya.
"Perempuan itu kelihatannya deket banget sama lo?" tanya Allen, untuk memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Namanya kak Risa, orangnya baik banget. Dulu kalau tiap tanggal tua dia sering datang ke kontrakan buat bawain makanan, terus kak Risa juga yang suka jaga gw kalo gw sakit. Makanya gw kangen banget sama dia, makasih ya udah temenin gw buat ketemu kak Risa lagi." kata Mika sambil menampilkan senyumannya di akhir kalimat.
Entah kenapa Allen begitu menyukai senyuman itu, ia juga merasakan kerinduan di hatinya setiap kali menatap wajah Mika dengan serius. Walaupun selama ini Allen memilih untuk tidak terlalu dekat dengan Mika, tapi kenyataannya ia selalu ingin berada di dekatnya. Allen ingin melindunginya, memperhatikannya dan melihat senyumannya.
• • •
__ADS_1
Mika membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, ia baru saja ingin memejamkan matanya setelah menyelesaikan pr dari gurunya hari ini.
Ia menoleh kearah jam di tembok kamar, menunjukkan pukul 11 malam. Jadi siapa yang mengganggunya malam-malam begini.
Mika membuka pintu depan malas, namun rasa malasnya langsung menghilang setelah mengetahui sosok yang mengganggunya malam-malam seperti ini.
"Apa perlu apa dad.?" tanya Mika, terdengar begitu kaku saat ia mengatakan kata 'dad'.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, apa aku mengganggu tidurmu nak?." ucap Axio, ia merasa sedikit tidak enak saat mengingat sekarang sudah jam 11 malam dan artinya mungkin saja ia sudah mengganggu tidur Mika.
"Gak ko dad, Mika juga baru selesai ngerjain PR. Emang apa yang mau daddy tanyakan sama Mika, pasti penting ya?" Mika duduk diatas kasurnya, ia melihat Axio duduk di kursi meja belajarnya.
"Ini tentang anak yang menuduh baby sudah membullinya, aku dengar dia adalah murid baru di kelasmu. Kalau tidak salah Brian mengatakan namanya adalah Dean, apa yang di katakan pada daddy itu benar.?" tanya Axio.
Mika cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Axio, sepertinya Brian dan lainnya selalu melaporkan kejadian apapun pada orangtuanya.
Kini Mika merasa bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Axio, ia berpikir untuk menyelesaikan masalah Dean sendirian tanpa campur tangan siapapun karena Mika juga belum mengetahui tujuan Dean yang sebenarnya.
"Oh masalah tadi siang, itu cuma salah paham kok. Lagian Jean juga sudah minta maaf dan Dean juga sudah memaafkan, jadi masalahnya udah selesai dad." ucap Mika setengah mungkin.
"Bukan itu maksud daddy nak, apa kamu percaya baby berlaku seperti itu pada orang lain. Karena daddy tahu baby itu anak seperti apa, jadi sangat tidak mungkin jika dia membully seseorang." kata Axio, ia terlihat menahan amarahnya.
Mika menyadari Axio tidak terima dengan tuduhan pada anak bungsunya itu, ia tersenyum pada sosok ayah yang penuh tanggung jawab itu.
"Daddy cukup percaya aja kalau Jean itu memang anak yang baik, dan tidak perlu percaya dengan apapun hal buruk yang dibicarakan tentang Jean. Karena Mika juga percaya sama Jean, ia itu sangat baik bahkan kebaikannya itu sering buat orang lain salah paham padanya. Jadi daddy harus tenang, biar masalah Dean jadi urusannya Mika." ujar Mika.
Pemuda itu berjalan mendekati Axio, menatapnya lembut lalu mengalihkan pandangannya pada rembulan yang bersinar cerah malam ini.
Kemarahan Axio mendadak sirna tatkala memperoleh tatapan teduh dari penyelamat anak bungsunya itu, keputusan yang benar menjadi Mika sebagai anggota keluarganya.
"Baiklah, kalau begitu daddy serahkan masalah ini sama kamu. Tapi mulai sekarang, tolong ceritakan apa pun pada daddy. Karena bagi kami kamu adalah salah satu anggotan keluarga kami." ucap Axio sambil memegang kedua pundak Mika, ia menatap lekat iris hitam pekat yang terlihat terkejut itu.
__ADS_1
Sementara Mika dibuat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Axio, ia tidak menyangka jika dirinya begitu dianggap dan di terima olehnya. Mika mengangguk, ia tidak boleh membuat keluarga barunya merasa khawatir. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Dean, bukan sebagai Anzel melainkan sebagai Mika.
"Iya dad, mulai hari ini Mika akan terbuka pada kalian." batin Mika.