Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
7. Penawaran keluarga Lavande


__ADS_3

Mika masuk kedalam kamar Jean dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan air hangat, ia lalu duduk disamping Jean yang masih berbaring di tempat tidurnya.


"Jean bangun dulu ya, Mika udah buatin nasi gorengnya nih." Mika mengusap lembut rambut Jean setelah meletakkan nampan yang ia bawa terlebih dahulu diatas nakas.


Mika membantu Jean duduk, keringat membasahi tubuh Jean. Mika mengusap lembut keringat yang ada di dahi anak bungsu Lavande, sedangkan keluarga Jean hanya melihat dari dekat.


Mika menyuapi Jean dengan telaten hingga nasi goreng habis, lalu ia menyodorkan gelas yang berisi air hangat. Jean menerimanya dengan baik, walaupun ia merasakan sakit dikepala dan tubuhnya.  Tapi hatinya merasa sangat senang karena Mika ada disampingnya.


"Sekarang Jean minum obat dulu ya." kata Mika yang diangguki oleh Jean.


"Tante mana obatnya." Mika menatap Diana yang berdiri diseberang kasur Jean.


Diana bangun lalu mengambil obat yang berada didalam laci, lalu memberikannya pada Mika.


"Pinter, sekarang Jean tiduran lagi ya. Biar cepet turun demamnya." Mika kembali mengelus kepala Jean.


Jean merasa tenang saat menerima perlakuan lembut dari Mika, elusan dikepala terasa seperti candu untuknya.


Mika bangun setelah membantu Jean berbaring, namun baru saja melangkah Jean kembali menahannya.


"Bang Mika jangan pergi." Jean terduduk sambil memegang tangan Mika.


"Ini udah malam, gw mau pulang soalnya besok kan harus sekolah." Mika menatap datar kearah Jean yang sudah menahan tangisnya.


Mika hanya ingin cepat pergi dari mansion ini, karena jika terlalu lama mungkin ia akan semakin terikat dengan bocah manja dihadapannya ini.


"Tapi Jean mau tidur dipeluk sama bang Mika, hiks,,, hiks." air mata kembali keluar dari mata Jean yang sudah membengkak.


"Malam ini tolong kamu temani baby dulu ya, Tante mohon. Demam baby juga belum turun, takutnya nanti terjadi apa-apa pada baby kami." Diana menatap Mika dengan tatapan sendu, ah Mika jadi lemah kalau seperti ini.


"Ya deh, tapi malam ini aja ya." Mika akhirnya pasrah, lagipula 3 manusia kutub yang sedari tadi menatapnya dengan tajam tidak mungkin akan membiarkannya pulang.


Mika kembali duduk didekat Jean, ia juga mengelus kepala anak itu lagi dan seperti tadi tangis Jean langsung berhenti.


Keluarga Jean keluar dari kamar, meninggalkan Jean dan Mika berduaan.


"Bang Mika peluk." lirih Jean.


Mika naik keatas kasur, berbaring disamping Jean lalu memeluknya. Hawa panas dari tubuh Jean begitu terasa saat bersentuhan dengan kulit Mika, tapi ia tahan dan menepuk-nepuk punggung Jean agar segera tertidur.


Setelah beberapa menit, dengkuran halus terdengar dari mulut Jean. Mika melepas pelukannya perlahan agar tidak menggangu tidur anak didepannya, ia juga turun dari kasur tanpa bersuara. Awalnya Jean terlihat terusik, namun setelah Mika kembali mengelus punggung Jean kembali tertidur lelap.

__ADS_1


_ _


Sementara anggota keluarga Jean kini sedang berkumpul diruang keluarga, mereka terlihat begitu serius. Apalagi tujuan Axio mengumpulkan mereka adalah untuk membicarakan perihal baby mereka.


"Haah,, sepertinya kita memang tidak punya pilihan lain. Kita akan membuat Mika setuju untuk menjadi bagian dari keluarga kita, seperti keinginan dari baby." Axio menghela nafasnya.


"Mommy sih setelah melihat anaknya setuju aja, soalnya baby kayaknya nyaman banget sama Mika." Diana terlihat menerima keputusan sang kepala keluarga, toh Jean juga terlihat senang.


Axio menatap kedua anaknya bergantian, mereka mengangguk tanda setuju. Akhirnya keputusan telah di buat, tinggal menyampaikannya pada Mika.


"Kalau gitu, mommy liat keadaan baby dulu ya. Sekalian panggil Mika kemari." Diana lalu pergi menuju kamar anak bungsunya.


Wanita yang masih terlihat cantik itu membuka pintu kamarnya perlahan, ia melihat kedalam. Diana melihat Mika duduk didekat jendela balkon kamar anaknya, ia menatap kosong kearah langit.


"Sepertinya baby sudah tidur ya." ucap Diana mengelus kening putranya.


Mika tersentak, ia sangat terkejut dengan keberadaan Diana yang sudah ada didekatnya. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan wanita tersebut, mungkin karena lamunannya.


"Ah, iya Tante. Demamnya juga udah mulai turun." ucap Mika setelah menetralkan keterkejutannya.


"Kamu kebawah geh, suami saya mau bicara sama kamu." kata Diana dengan nada memerintah.


"Mau ngapain Tante, saya mau pulang sekarang soalnya." Mika sebenarnya memang enggan berlama-lama di mansion tersebut. Entah kenapa ia jadi teringat kehidupannya yang lalu, rasa penyesalan begitu ia rasakan.


Mika mengangguk pasrah lalu berjalan meninggalkan kamar Jean menuju lantai 1.


Sesampainya diruang keluarga, ia terdiam sebentar untuk menyiapkan mentalnya. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang sejak memasuki mansion ini, paranoid itu yang Mika alami. Ingat di kehidupannya saat menjadi Anzel, ia harus mati karena merebut perhatian dan sang protagonis yang merupakan anak kandung dari papanya.


"Ma,,malam om. Kata Tante, om suruh saya kesini." ucap Mika menahan gugup.


"Ah iya, kamu sudah disini. Kamu bisa duduk dulu." Axio menyadari kedatangan Mika langsung meminumnya untuk duduk.


Mika mendudukkan tubuhnya pada  sofa, disebelahnya ada Brian dan Aksan yang memasang wajah datarnya.


"Maksud saya memanggil kamu kesini untuk membicarakan perihal baby Jean anak saya." Axio menghentikan ucapannya membuat Mika menaikkan alisnya.


"Saya akan mengangkat kamu menjadi anak saya, seperti kemauan Jean." lanjut Axio lalu menarik nafas panjang.


Mika menunduk, ternyata perkiraannya benar. Jean akan menjadikannya bagian dari hidupnya, jujur ia sangat tidak mau.


"Maaf om sebelum, bukannya saya tidak menghargai penawaran om. Tapi saya menolak om." kata Mika membuat 3 orang didekatnya menatap tajam penuh kecurigaan.

__ADS_1


"Kamu menolak, hahaha.. katakan apa alasannya." Axio tertawa keras, lucu. Dimana ada orang yang menolak hidup enak dan menjadi bagian keluarga yang kaya raya.


"Saya tidak mau menjadi benalu dalam keluarga om, saya sadar diri kalau saya cuma orang miskin. Lagi pula saya bahagia dengan kehidupan saya saat ini, dan saya juga tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi bagian keluarga om." jelas Mika, ia hanya mengatakan isi hatinya.


"Hahahaha,, jarang sekali ada orang yang menolak tawaran saya." tawa axio kembali pecah setelah mendengar alasan dari Mika.


Mika pikir apa yang salah dari ucapannya, apa memang selucu itu sampai membuat manusia kutub didepannya tertawa keras.


"Apa Lo serius menolak tawaran Daddy gw." Brian buka suara setelah menyimak sedari tadi.


Sedangkan Aksan memilih tetap diam karena masih merasa curiga terhadap Mika.


Mika menghela nafasnya, ia tidak suka dengan situasi seperti saat ini. Terasa seperti disidang dan ia sebagai tersangkanya.


"Iya, saya serius. Karena keadaan Jean juga udah membaik, saya pengen pulang sekarang om." kata Mika.


"Ya sudah kalau kamu menolak menjadi anak angkat saya, bagaimana jika kamu bersekolah di sekolah anak. Saya tahu baby ingin berada dekat kamu, jadi saya harap kamu tidak menolaknya." kata Axio lalu menyeruput kopinya.


"Lagipula saya juga tahu, kamu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari murid sekolahmu sekarang bukan. Wajah lebam kamu itu juga pasti karena beberapa murid memukul kamu hati ini." lanjut Axio.


"Dari mana om tahu, om ngintilin saya ya?" Mika terkejut mendengar penuturan Axio.


"Hahahaha,, apa yang saya tidak ketahui tentang kamu nak. Semua data diri kamu, keseharian kamu, bahkan masa lalu kamu saya juga tahu."


Mika mendengus kesal, bisa-bisanya orang tua ini mengetahui semua tentangnya.


"Jangan pikir macam-macam, kami hanya ingin memastikan kamu bukan orang jahat yang mencoba memanfaatkan adik saya." ucap Aksan dengan dingin, akhirnya tuh turunan manusia kutub ngomong juga.


"Bagaimana, kamu menerima tawaran saya?"


Mika diam, ia sedang berpikir. Paling tidak dia harus mempertimbangkan segala sesuatu kedepannya. Ia tidak ingin merasakan mati muda lagi, apalagi mati karena menjadi protagonis jahat yang mengambil perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.


Masih dalam diamnya, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari lantai atas. Tidak berselang lama, Diana terlihat keluar dari lift.


"Mika masih ada disini kan?" mata Diana tertuju pada Mika.


"Ada apa Tante?" tanya balik Mika.


"Baby bangun, dia menangis lagi karena kamu tidak ada disampingnya. Baby ingin kamu menemaninya sekarang." jelas Diana.


Sedikit enggan, Mika akhirnya memutuskan kembali kekamar Jean. Sebelum masuk kedalam lift Mika sempat berkata.

__ADS_1


"Tentang tawaran yang tadi, saya pikirkan dulu om." ucapnya lalu menghilangkan dibalik pintu lift.


__ADS_2