
Jean tidak henti-hentinya memamerkan senyuman di wajahnya, sementara Mika terlihat menghela nafasnya saat melihat sepeda yang terparkir di hadapannya.
"Ini sepedanya Je?" tanya Mika memastikan.
"Iya bang, bagus kan." kata Jean dengan semangat.
Sementara Mika benar-benar tidak habis pikir dengan keluarga Lavande, bisa-bisanya mereka membelikan anak remajanya sepeda untuk bocah berusia 5 tahun. Bukan hanya ukurannya yang kecil, disisi kanan dan kiri roda belakangnya juga ada roda kecil. Mika yang tadinya sangat bersemangat langsung tertunduk lesu, ia langsung menyeret kakinya meninggalkan taman belakang mansion tersebut.
"Abang Mika mau kemana? " tanya Jean.
"Kekamar." ucapnya sambil berlalu dari hadapan Jean.
"Katanya mau ajarin Jean naik sepeda?" lirih Jean.
"Minta kakak Lo yang lain aja, gw mendadak jadi gak semangat." ucap Mika pelan.
Meninggalkan Jean yang kebingungan dengan perubahan sikap abang kesayangannya itu, Mika yang sedang berjalan menuju pintu belakang berpapasan dengan Gallen, Allen dan Brian.
"Lo mau kemana, bukannya mau ajarin baby naik sepeda?" tanya Gallen yang melihat Mika terlihat lesu.
" Udah gak mood kak." ucap Mika dengan malas.
"Kenapa?" kini Brian yang bertanya.
"Tuh liat aja sepedanya kaya gimana, heran gw sama cara orang tua kalian memperlakukan Jean. Bikin mood gw hancur aja." jelas Mika menunjuk sepeda yang sedang di pegang oleh Jean, lalu melanjutkan langkahnya kedalam mansion.
Mereka bertiga yang melihat sepeda baru Jean di buat melongo, tidak habis pikir dengan apa yang mereka lihat.
"Hmffft,, bwahahahah. Pantes aja si Mika pergi, orang sepedanya kaya gitu. Orang tua Lo udah stress kali ya?" Gallen memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
Brian yang kesal dengan sikap Gallen pun memilih untuk diam, jujur ia juga merasa malu. Apalagi saat melihat tingkah Jean yang masih kegirangan dengan sepeda barunya.
"Diem, jangan sampai Lo jadi makin gila." Allen menatap tajam pada adik kembarnya yang masih tertawa.
"Bang Gallen, bang Brian,bang Allen ajarin Jean naik sepeda dong, soalnya bang Mika bilang lagi males, mau ya bang?" Jean menghampiri abang-abangnya dengan tujuan memelas.
__ADS_1
Gallen yang sudah berhenti tertawa kini kembali menahan tawanya saat membayangkan Jean yang menaiki sepeda kecil itu, walaupun tubuh Jean itu kecil di usianya yang 16 tahun tapi tetap saja sepeda baru berukuran lebih kecil darinya.
"Iya, abang ajarin baby." Brian menggandeng tangan kecil milik adiknya menuju sepeda, walaupun ia sendiri kebingungan untuk mengajarinya.
Secara Brian itu tidak bisa mengendarai sepeda atau motor, dia bisanya cuma mengendarai mobil. Bukannya apa-apa, motor sama sepeda itu lebih berbahaya gampang jatuh atau kecelakaan menurut orang tua mereka.
° ° °
Mika kembali kekamarnya, membuka pintu balkon. Membiarkan semilir angin masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai 2.
Mika mengganti seragam sekolahnya dengan kaos hitam dan celana selutut miliknya, ia mengambil ponselnya memasangkan headset di telinga.
Memang seperti sudah menjadi kebiasaannya, bersantai setelah pulang sekolah. Toh ia tidak di ijinkan bekerja atau pergi tanpa seijin keluarga Lavande, karena secara perlahan mereka menjadikan Mika sebagai bagian dari keluarganya. Dan dengan perlahan pula, Mika mulai menerima segala hal yang di berikan oleh keluarga Jean.
Ingat, Mika tidak pernah meminta. Mika juga tidak melakukan hal licik untuk mendapatkan perhatian mereka, ia hanya menjadi dirinya sendiri. Pribadi lembut yang penuh perhatian, walaupun hanya melakukan hal kecil untuk keluarga itu.
Semua ini karena Jean, perhatian dan kasih sayang yang saat ini ia rasakan semuanya karena Jean. Bocah manja yang terobsesi menjadikan Mika sebagai abang angkatnya, padahal ia sudah memiliki banyak orang yang sangat menyayanginya.
Mika melirik kearah bawah kamarnya, ia tersenyum saat melihat Brian, Allen dan Gallen sedang mengajari Jean mengendarai sepeda kecil itu. Ia hanya ingin melihat tanpa melakukan apapun, karena sebenarnya Mika memang suka memperhatikan Jean dari jauh.
"Apa kamu lebih suka memperhatikan dari sini?"
Mika terkejut, jantungnya seperti berpacu cepat hampir saja jantungan. Ia menoleh pada sosok yang entah sejak kapan berdiri di dekatnya.
"Eh kak Aksan, ngagetin aja. Hampir aja Mika kena serangan jantung." kata Mika sambil mengelus dadanya.
Untung saja sosok yang mengagetkan dirinya itu adalah Aksan, kalau yang lain mungkin ia akan langsung marah.
"Kenapa malah duduk di sini, bukankah Jean memintamu mengajarinya naik sepeda?" Aksan menyilangkan tangannya didepan dada.
"Liat bentukan sepedanya jadi males bang, Jean itu udah gede kenapa di beliin sepeda buat balita kak?"
"Owh,"
Aksan duduk dipagar pembatas balkon kamar Mika, ia menatap lekat bocah di hadapannya. Aksan memang bermaksud menemui Mika, namun saat melihat ia tidak bersama dengan Jean di halaman belakang jadi Aksan langsung menuju kamarnya.
__ADS_1
"Aku menerima laporan dari Allen, bahwa ada murid baru di kelasmu. Allen juga bilang kalau anak itu pernah bertemu denganmu saat dirumah sakit." Mika melihat raut wajah serius Aksan.
"Iya, namanya Aldean. Memangnya kenapa kak?". Mika menatap wajah serius Aksan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kamu mengenal jauh sebelum di luar rumah sakit?" tanya Aksan penuh selidik, kecurigaan terlihat jelas di wajahnya.
Mika di sejenak, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Aksan. Pertemuannya dengan Dean saat di rumah sakit memang di ketahui oleh Allen yang bersamanya saat itu, namun apa yang akan di lakukan oleh keluarga Jean jika mereka tahu jika Dean sengaja bersekolah di sana hanya untuk bertemu dengannya.
"Nggak kok kak, waktu dirumah sakit Mika gak sengaja ketemu sama dia. Tapi sebelumnya Mika gak kenal kok, serius kak." kata Mika yang sedikit gugup, karena ia tidak boleh sampai salah bicara.
"Oh begitu rupanya."ucapnya santai.
Pernyataan yang keluar dari Mika memang tidak jauh berbeda dari informasi yang di berikan oleh Allen, tapi tetap ada perasaan yang mengganjal. Apalagi Allen juga mengatakan Mika yang tiba-tiba menangis setelah bertemu dengan pemuda itu.
"Kalau begitu aku keluar dulu, jangan lupa untuk tidak datang terlambat saat makan malam nanti."
Aksan berjalan meninggalkan Mika, menutup kembali pintu kamarnya. Namun ia tidak langsung pergi, ia menatap pintu kamar tersebut.
"Sepertinya aku harus mencari tahu tentang kamu dan anak itu, karena aku belum bisa mempercayaimu Mika. Apalagi setelah aku melihat sosok Xaniel yang tertidur di dalam tubuhmu, aku hanya tidak ingin keluargaku ada dalam bahaya." gumam Aksan yang kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Mika.
Sementara Mika melanjutkan kembali kegiatannya melihat Jean dan abang-abangnya. Ia hanya tidak ingin membebani pikirannya dengan berbagai hal, biar semua berjalan dengan sendirinya.
• • •
Sementara di rumah baru keluarga Aditama, Dean terlihat membanting tasnya saat berada di ruang keluarga.
Di sana ada Rezka dan Reyhan yang sedang menonton tv, sedangkan Gibran masih di kantor barunya.
"Adek kenapa?" Rezka menghampiri Dean saat anak itu menghentak-hentakkan kakinya.
"Iya, adek kenapa pulang sekolah kesel begitu?" kini Reyhan ikut mendekati tubuh Dean.
"Dean gak suka liat Anzel dekat sama anak itu, Dean pengen Anzel cepet-cepet pulang ke sini bang." lirih Dean, air matanya juga mulai membasahi pipi tirusnya.
"Iya, nanti Anzel kita bawa pulang ya. Udah sekarang mending adek makan terus minum obat dan istirahat ya, abang suapin." Rey mengelus rambut adiknya lalu membawanya menuju kamar adiknya.
__ADS_1
Sedangkan Rezka hanya bisa menghela nafasnya, nyatanya Dean sang adik masih sakit. Mentalnya masih sakit karena sekarang ia menganggap orang lain sebagai Anzel, adik angkatnya. Meskipun fisik sudah membaik dan semangat hidupnya kembali. Tapi itu hanya topeng untuk menutupi sakit mentalnya, ia khawatir adiknya akan melakukan apapun untuk mendapatkan Mika. Ia hanya takut, Dean melakukan cara yang sama dengan Anzel untuk memperoleh perhatian dari dari orang lain.