
Mika menghela nafasnya, mencoba menenangkan perasaannya. Apalagi bisikan Xaniel mulai mengganggunya, Mika tidak ingin kehilangan kewarasannya dengan meladeni perkataan Xaniel.
"Abang kenapa?" tanya Jean, bocah ini memang cukup peka dengan perubahan sikap abang kesayangannya itu.
"Ah, gak kenapa-kenapa kok Je. Kalian udah selesai makan ya, maaf ya kalo gw telat datengnya." ucap Mika, sedikit menundukkan kepalanya.
"Gak papa kok, bang Mika mau makan apa biar bang Kahfi yang pesenin." Jean berkata dengan polosnya, untung sayang kalau tidak mungkin bocah itu akan di buangnya kelautan karena berani menjadikannya babu.
"Gak usah Je, kasian kak Kahfi. Nanti gw pesen sendiri kok, jadi kak Kahfi mending lanjutin makannya." kata Mika yang mendapat tatapan tajam dari Kahfi tanpa disadari Jean.
Mika bangun dari duduknya, ia hendak pergi ke stand penjual makanan. Belum melangkah, Mika di kejutkan dengan kedatangan Revan bersama William dan Jimi.
"Lo duduk aja, biar gw yang pesen." ucap Jimi.
Sedangkan Revan dan Liam dengan santainya duduk di meja yang sama dengan meja yang ditempati Mika, mereka seperti mengabaikan sorot mata yang tajam dari Vian dan yang lainnya.
"Adek mau makan apa?" tanya Jimi dengan lembut.
"Nasi goreng aja deh sama es teh manis bang, kalau Mika mau apa?" ucap Revan lalu menoleh kearah Mika.
"hmmm,, batagor aja deh kak minumnya air mineral aja." kata Mika.
Jimi langsung pergi ke stand, meninggalkan para pemuda yang terlihat seperti sedang bersitegang. Mika menatap malas pada kedua kelompok tersebut, jika sampai terjadi baku hantam pihak Revan pasti kalah karena mereka kalah jumlah.
"Jean bantuin Mika dong, gw takut abang-abang Lo nanti berantem sama kak Liam dan kak Jimi." bisik Mika di telinga Jean.
Jean sempat terkejut, namun setelah mendengar arahan dari Mika ia mengangguk mengerti.
"Revan pulang sekolah mau main gak ke mansion Jean?."
Ajakan Jean langsung mendapat tatapan tidak setuju dari semua abangnya, Mika terlihat menghela nafasnya. Jean sepertinya salah mengartikan ucapan, karena Mika hanya meminta Jean untuk akrab dengan Revan tapi tidak sampai harus memintanya datang ke mansion juga.
"Tidak baby, abang tidak mau jika kamu terkena sial karena bermain dengan anak itu." perkataan Vian terdengar begitu menyakitkan untuk Revan, Mika juga ikut merasakan sakit di dadanya.
"Jaga ucapan Lo Alvian, bisa-bisanya Lo ngomong seperti itu pada adik kandung Lo sendiri." Liam terlihat masih menahan emosinya.
"Itu adalah kenyataan, anak itu memang pembawa sial." Vian berdiri, menunjuk Revan yang tertunduk menahan tangisnya.
"Ternyata Lo belum sadar juga ya kak." lirih Mika atensi semua orang mulai tertuju pada Mika, apalagi suasana hening yang tercipta karena hinaan Vian terhadap Revan.
"Kak, gw di sini mau makan bukannya liat Lo ngebully adik kandung Lo sendiri. Padahal sedarah tapi masih aja gak terima nasib." perkataan Mika terdengar sopan, namun makna yang terkandung di dalam kalimatnya menyentak relung hati Alvian.
"Gak papa kok Mika, gw juga udah gak butuh pengakuan bang Vian. Karena gw sekarang punya bang Liam dan bang Kahfi yang selalu ada disamping gw dan yang pasti sayang sama gw." ucap Revan, menegarkan hatinya.
Liam langsung memeluk tubuh Revan, mengelus lembut rambutnya. Vian melihat keakraban antara Liam dan Revan merasakan cubitan kecil di hatinya, ia menoleh kearah Jean berharap Jean bergelayut manja padanya.
Namun keinginannya sirna tatkala melihat Jean menatapnya kecewa, Jean bahkan tidak menampilkan sedikitpun senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Abang Vian gak boleh ngomong gitu sama Revan, bagaimanapun dia adik abang dan mulai sekarang Revan bakal jadi temen Jean, titik gak pake koma."
"Tapi baby,,.." ucap Vian yang terpotong oleh perkataan Jean.
"Tidak ada yang namanya anak pembawa sial bang, karena semua yang terjadi pada kita adalah takdir yang maha kuasa." kata Jean.
Jimi datang membawa nampan berisi nasi goreng dan bakso pesanannya, ia di ikuti seorang pelayan yang membawakan siomay milik Liam dan batagor punya Mika, tak lupa juga dengan minuman mereka.
Mereka memulai acara makan siang, Liam terlihat menyuapi Revan dengan telaten. Membuat tatapan Vian tertuju padanya, lagi-lagi ia merasakan sakit di dada kiri saya.
"Jean mau?" tanya Mika sambil memegang sendoknya, sedangkan Jean terlihat bersemangat tatkala mendengar ucapan sang kakak.
"Mau bang, aaa... am." Jean menerima dengan baik suapan dari Mika.
Hingga acara makan selesai, tidak ada yang berani membuka obrolan. Mereka juga sudah kembali ke kelas masing-masing.
° ° °
Mika masuk kedalam kamarnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa begitu lelah, dan semenjak Xaniel sering mengajaknya berbicara tubuh Mika seperti kehabisan tenaganya.
"Kau sudah pulang ternyata?" ucap Xaniel dalam pikiran Mika.
"Berhenti mengatakan omong kosong Lo, Xaniel. Ganggu tau gak, Lo punya rencana apa sebenarnya." Mika memejamkan matanya, ia berinteraksi menggunakan telepati dengan Xaniel.
"Saya tidak memiliki rencana apapun, bukankah pernah saya katakan, saya akan membantu kau mendamaikan kedua kelompok itu." lanjut Xaniel.
"Kau tidak perlu tahu semuanya, Anzel. Saya hanya ingin melakukan permainan yang menyenangkan dan kau adalah pion nya, hahahaha." gumam Xaniel, tanpa bisa di dengar oleh Mika.
Tidak lama kemudian Mika keluar dari kamarnya, kakinya melangkah menuju ruang keluarga tempat Jean, Revan dan abang-abangnya berkumpul.
Mika mendudukkan dirinya di sofa dekat dengan Allen, bukannya apa-apa hanya tempat itu yang kosong. Sementara Revan dan Jean duduk lesehan di atas karpet bulu di temani Gallen dan Jimi.
Jean dan Revan sedang bermain game Ludo di ponsel milik Jimi, dan yang lain malah sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Kenapa lama.?" suara Allen begitu mengejutkan Mika, ia sampai mengelus dadanya.
"Ah tadi ke kamar mandi dulu kak, makanya lama maaf ya?" ucap Mika sambil menggaruk tengkuknya.
"Tidak perlu minta maaf, Lo gak melakukan kesalahan apapun. Dan berhentilah bersikap kaku sama gw, itu sangat menggangu." lanjut Allen, berhasil membuat Mika membulatkan matanya.
Mika mengangguk lalu melanjutkan acara menonton televisi, interaksi antara Allen dan Mika sedikit membuat Brian, Liam dan Gallen memperhatikannya. Namun mereka kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ih,, bang Jimi curang ah." Jean bersedekap dada, sambil mengerucutkan bibirnya pada Jimi yang tertawa karena berhasil menang untuk kedua kalinya.
"Curang gimana Jean, Lo nya aja yang gak bisa mainnya." ucap Jimi yang menghentikan tawanya karena melihat Jean yang hampir menangis.
"iya, bang Jimi curang, masa menang berturut-turut sih.?" Revan juga merasa tidak terima dengan kekalahannya.
__ADS_1
"Eh Lo berdua kalau kalah mah ya kalah aja, jangan nuduh gw curang dong. Dasar bocil." lanjut Jimi.
Mata Jean semakin berkaca-kaca, ia langsung berlari menumbuk tubuh Mika.
"Huwa,,, abang Mika lihat. Bang Jimi nakal, dia mainnya curang bang Jimi juga ngatain Jean bocil. Hiks,,, hiks.." ucap Jean di sela tangisnya.
Mika memeluk tubuh Jean, salah satu tangannya mengelus lembut rambut bocah manja itu.
"Jean kan emang bocil." ucap Mika, Jean langsung menatap wajah pemuda yang memeluknya.
"Bang Mika juga kenapa ngatain Jean bocil, hiks,, hiks."
Mika langsung mendapat tatapan maut dari semua orang di sekitarnya, kecuali Liam, Jimi dan Revan yang terlihat menahan tawanya.
"Lah, kan Jean gampang banget nangis. Cengeng banget kaya bocil, padahal seinget Mika Jean udah janji kan gak akan cengeng lagi." Mika melepas elusannya lalu memegang dagunya, berpura-pura berpikir.
Jean yang langsung mengingat ucapan sendiri saat Mika berada dirumah sakit Langsung menghapus air matanya, ia bahkan seperti menahan tangisnya agar tidak pecah kembali.
"Iya, Jean udah janji maafin Jean ya bang." ucap Jean yang langsung dibalas senyuman oleh Mika.
Jean kembali menyusupkan wajahnya pada dada Mika yang kembali memberikan elusan lembut di punggungnya.
Melihat tingkah keduanya, Revan jadi menginginkan sebuah pelukan juga. Revan melihat kearah Vian, kakaknya terlihat menahan kesal sambil terus memperhatikan kedekatan Jean dan Mika. Revan melihat kearah Liam, kakak kelasnya itu juga melirik ke arahnya.
"Bang Liam, Revan juga pengen di peluk kaya Jean." Revan merentangkan tangannya saat berada di hadapan Liam.
Liam tersenyum, lalu menarik tubuh Revan dalam pelukannya. Ia juga mengelus kepalanya belakang Revan, terasa begitu nyaman oleh pemuda itu.
" Jimi bermain curang?" ucap Liam yang di angguki oleh Revan.
"Bagaimana kalau abang beri dia sedikit hukuman karena sudah membuat adik kesayangannya abang kesal." mata Revan berbinar saat mendengar perkataan Liam.
Berbeda dengan Jimi yang menatap tidak terima pada temannya itu, sementara Vian yang memilih acuh nyatanya merasakan sedikit iri pada Liam.
Begitupun dengan Allen yang duduk di sebelah Mika, ia terlihat seperti iri. Ekspresi Allen cukup disadari oleh Gallen yang tiba-tiba berdiri di depannya, Allen yang merasakan keberadaan Gallen menatap malas.
"Abang juga pengen di peluk, sini Gallen peluk bang." Gallen merentangkan tangannya
Saat ia hendak memeluk tubuh kakak kembarnya itu malah mendorongnya hingga Gallen terjengkang dengan posisi tidak elit.
"Cih, jangan coba-coba meluk gw. Dasar adik gila." umpat Allen.
"Hahahaha,, padahal mau tapi malu..." ledek Gallen, berhasil membuat Allen semakin menatapnya nyalang.
Sementara Mika yang sudah melepas pelukannya dari Jean hanya bisa menghela nafas, sedikit menyesali hidupnya yang harus di kelilingi orang-orang aneh.
"Bukankah ini sangat menyenangkan, Anzel. Berterimakasih pada bocah manja di dekatmu, karena dialah yang akan jadi penyelamat hidupmu." gumam Xaniel yang dapat di dengan dengan baik oleh Mika.
__ADS_1