
Matahari memasuki celah tirai jendela kamar seorang pemuda yang masih memejamkan matanya, sementara pemuda satu tengah duduk memandangi wajah damainya.
Puas menatap wajah Mika, Allen bangun mengecek suhu tubuh Mika dengan menyentuh dahi pemuda itu dengan punggung tangannya.
Hangat, itu sensasi yang dirasakan oleh Allen. Sepertinya Mika masih demam karena wajahnya juga masih terlihat pucat.
Allen tidak ingin mengganggu tidur pemuda yang sudah dianggap adik olehnya, ia memutuskan keluar dari kamar Mika. Masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan bersiap kesekolah.
Karena kamar Allen memang bersebelahan dengan Mika, jadi ia menyempatkan untuk melihat Mika yang masih tertidur sebelum turun menuju ruang makan.
Allen sampai di meja makan, disana sudah berkumpul semua anggota keluarga Lavande minus Mika yang masih terlelap dikamarnya.
"Mika mana nak, apa dia belum bangun?" tanya Lina pada anak sulungnya.
"Masih tidur mah, tubuhnya masih demam." ucap Allen sambil mendudukkan dirinya.
"Abang Mika sakit, bang." kata Jean yang terkejut, bocah itu terlihat panik dan langsung berdiri hendak pergi kekamar abang kesayangannya itu.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Mika yang sedang berjalan menuruni tangga, sementara Allen juga tidak kalah terkejut tatkala melihat Mika yang turun dengan memakai seragam sekolahnya.
"Abang sakit?" tanya Jean sambil menatap khawatir pada Mika.
"Gak ko Je, cuma agak lemes doang. Mungkin karena semalaman gak makan." ucap Mika, menampilkan senyumannya walaupun tidak bisa menutupi wajahnya yang sedikit pucat.
"Kalau gitu abang harus makan yang banyak ya." kata Jean dengan ceria, lalu menggandeng tangan Mika.
Jean sempat terdiam sejenak saat merasakan tangan Mika yang terasa hangat, namun ia melanjutkan langkahnya karena Jean tahu Mika hanya berusaha kuat agar tidak membuat orang disekitarnya khawatir.
Acara sarapan pun di mulai, Allen dan Lina tidak pernah lepas memperhatikan Mika yang sedang mengunyah makanannya. Sementara Jean tetap mempertahankan wajah cerianya, meskipun hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi sampai membuat Abang kesayangannya itu sakit.
Skip
Allen mengendarai mobilnya, sesekali ia melirik kearah Mika yang duduk bersandar pada pintu mobil di sebelahnya. Allen jelas mengkhawatirkan keadaan Mika, begitupun dengan Jean yang berbeda mobil dengannya. Karena Brian kali ini tidak mengijinkan Jean satu mobil dengan Mika, Jean yang sempat menolak akhirnya pasrah setelah Mika membujuknya.
"Lo yakin mau sekolah hari ini, muka lo pucet soalnya?" Allen akhirnya mengatakan pertanyaan yang sedari tadi ia tahan.
"Iya kak, gw gak papa kok. Paling kalau emang gak kuat, nanti gw ijin ke UKS." ucap Mika.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam, sampai Lo pulang dalam keadaan terluka seperti itu?" lanjut Allen.
Mika menghela nafasnya setelah mendengar pertanyaan dari Allen, ia sudah menduga jika abang kembar Jean itu pasti akan meminta penjelasan kepadanya.
__ADS_1
"Dean beranggapan kalau gw itu adalah Anzel, saudaranya yang sudah meninggal." ucap Mika.
"Dia depresi kak, mungkin karena rasa kehilangannya sampai-sampai dia menganggap gw itu adalah Anzel."lanjut Mika setelah menghela nafasnya kembali.
"Tapi semalam gw bener-bener takut pas Dean nyengkram pundak gw, apalagi tatapan matanya benar-benar buat gw merinding." kata Mika sambil menggidikan tubuhnya.
Allen hanya melihat sekilas ekspresi wajah Mika, lalu kembali fokus pada kemudinya.
"Terus Lo mau gimana kalau seandainya Lo ketemu dia hari ini?" tanya Allen.
"Gw juga gak tahu kak, tapi gw harus selesaiin masalah ini secepatnya. Gw gak mau si Dean itu sampai nekat melakukan hal lain, dan yang paling gw takutkan adalah Jean. Gw takut Dean nekat ngelukain Jean kak." ujar Mika yang terdengar lirih diakhir kalimatnya.
"Kalau masalah Jean, nanti gw bicarain sama Brian dan Gallen. Sekarang Lo harus fokus sama diri Lo sendiri, karena mungkin aja anak itu masih terobsesi sama Lo." kata Allen.
Tidak terasa mobil Allen telah memasuki lapangan parkir sekolahnya, Mika juga tidak menyangka perjalanan yang biasanya terasa lama menjadi sangat singkat karena obrolan mereka. Karena biasanya Mika dan Allen itu selalu diem-dieman di mobil.
"Kalau ada apa-apa Lo harus kasih tahu gw, mulai sekarang Lo harus terbuka sama gw dan jangan nutupin atau rahasiain apapun lagi dari gw. Paham Lo?" kata Allen tegas namun terdengar penuh perhatian.
Mika hanya menganggukan kepalanya, kemudian mereka turun dari mobil menghampiri Jean dan yang lainnya.
"Kekelas sekarang atau mau ke tempat lain?" tanya Vian, Kahfi dan Law juga sudah ada di sampingnya.
"Gw langsung kekelas aja ya Je, kak." ucap Mika.
Mereka akhirnya memutuskan untuk langsung kekelas, setelah mengantar Mika terlebih dahulu.
Mika duduk di kursinya yang terletak di pojok belakang, ia melihat kearah meja Dean yang masih kosong. Mika terlihat menghela nafasnya karena lega, jujur ia seperti merasa takut jika harus bertemu dengan Dean.
Namun wajahnya kembali menegang saat melihat sosok pemuda yang melewati jendela kelasnya, pemuda itu adalah Dean yang sepertinya di ikuti oleh Rezka di belakangnya.
Tubuh mika mulai bergetar, ia mengingat kembali kejadian kemarin saat berada di rumah Dean. Dadanya seperti terhimpit batu besar, Mika merasa sangat sulit untuk menghirup oksigen di sekitarnya.
"Pagi ka, muka kamu pucet begitu kamu sakit ya?" kata Dean saat berada di kursinya.
Dean langsung menghampiri Mika yang diam membeku, tatapannya menjadi kosong. Mika menepis tangan Dean saat pemuda tersebut hendak memegang wajahnya.
Dean terkejut karena mendapat perlakuan kasar dari Mika, begitupun dengan Rezka yang merasa kesal karena adiknya di perlakukan seperti itu.
"Mika kenapa kasar kayak gitu, Dean kan cuma khawatir karena wajah Mika pucat." lirih Dean sambil menundukkan wajahnya.
"Lo lupa ya, kan Lo yang buat gw sakit kayak gini?" Mika menatap dingin pada Dean.
__ADS_1
"Maksud Mika apa, Dean gak ngerti?" kata Dean pelan
"Haaaaahh,, sumpah gw muak liat wajah polos buatan Lo. Rencana licik apa lagi yang ada di pikiran Lo, apa kematian Anzel sudah membuat Lo jadi pribadi buruk seperti ini." Mika menghela nafasnya, lalu menatap keluar jendela sambil mengatakan isi hatinya.
Perkataan Mika juga membuat atensi murid yang ada didalam kelas tertuju kepada mereka berdua, Rezka yang berdiri didepan kelas juga mengepal-ngepalkan tangannya menahan amarah.
"Ke,, kenapa Mika ngomongnya kaya gitu sama Dean. Dean salah apa sama Mika, kalau Mika gak suka dideketin sama Dean cukup bilang aja. Jangan bawa-bawa Anzel, Mika itu gak tahu apa-apa tentang Anzel hiks,, hiks..." ujar Dean.
Perkataan Dean sukses membuat beberapa murid menatap benci kepada Mika, mereka juga terlihat merasa iba pada Dean yang sudah menangis.
Rezka sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia masuk kedalam kelas Mika. Menceritakan kerah baju Mika lalu melayangkan tinjunya pada pipi kanan Mika, karena tidak siap tubuh Mika terpental dari tempat duduknya.
Mika mencoba menahan tubuhnya agar bisa duduk, ia meringis sambil memegang pipi kanannya. Darah segar keluar dari sudut bibirnya yang sobek akibat kerasnya pukulan Rezka.
Beberapa murid perempuan langsung berteriak ketakutan, bukannya apa-apa mereka juga mengkhawatirkan keadaan Mika yang sempat terbentur tembok belakang.
Mereka hanya menonton, tidak ada yang berani menolong Mika. Status sosial sepertinya lebih penting bagi mereka, karena itulah mereka enggan berurusan dengan Mika yang hanya seorang murid beasiswa.
"Saya mungkin berterima kasih karena kamu sudah menolong adek saya, tapi saya tidak bisa terima jika kamu menghina Dean sampai seperti itu, apalagi membawa-bawa nama Anzel. Memangnya apa yang kamu tahu tentang keluarga kami hah, sampai-sampai kamu bisa bicara seperti itu." kata Rezka dengan keras sampai bergema didalam kelas.
Dean tersenyum dalam hatinya, apalagi melihat Mika yang tertunduk dengan tatapan kosong. Sementara Mika masih diam pada posisinya, hatinya terguncang. Pukulan Rezka membuatnya kembali mengingat perlakuan buruk yang di berikan oleh kakak sulung angkatnya.
"Haaaaahh.." Mika menghela nafasnya, ia mencoba berdiri dengan berpegangan pada tembok di dekatnya.
Mika menatap dingin kearah Rezka dan Dean, berjalan mendekati tubuh Rezka.
"Asal Lo tahu aja, selama ini gw mencoba sabar menghadapi adik Lo yang gila itu. Adik yang paling Lo sayangi itu terobsesi sama gw, dan selalu cari cara untuk mengambil perhatian gw." kata Mika menempel jari telunjuknya didepan dada Rezka.
"Dan berapa kali lagi gw harus ngomong sama lo, gw itu bukan Anzel. Nama gw Mika, jadi berhenti menganggap gw saudara angkat Lo yang udah mati itu." Mika mengalihkan atensinya pada Dean.
Rezka terkejut mendengar perkataan Mika, ia merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Karena yang dia tahu dari penjelasan Reyhan, ada teman sekelas Dean yang membuat adiknya merasa sedih. Karena itu lah Rezka datang kesekolah untuk berbicara dengan teman sekelas Dean yang ternyata adalah Mika.
"Tapi kamu sudah mengakui kalau kamu adalah Anzel, sekarang kenapa Mika ngomongnya kaya gitu.. hiks.." ucap Dean yang kembali terlihat sedih.
"ITU KARENA TERPAKSA, GW KASIAN SAMA LO MAKANYA GW BILANG SEPERTI ITU." untuk pertama kalinya Mika berteriak pada orang lain.
"Kalau tahu lo bakal ngerusak kebahagiaan gw, mungkin waktu itu gw akan biarin Lo mati. Apa ini rasa terima kasih Lo ke gw, dengan mencoba merusak ketenangan hidup gw." lirih Mika.
"Apa yang sebenarnya mau Lo lakuin sama gw, apa Lo mau jadiin gw alat untuk melampiaskan dendam Lo sama Anzel. Apa itu yang Lo mau hah." lagi-lagi Rezka dibuat terkejut dengan ucapan Mika.
Bibir Dean juga seperti terkunci, ia tidak bisa mengatakan pembelaannya karena semua yang di ucapkan oleh Mika memang benar.
__ADS_1
Dean menata kembali hidupnya yang hancur akibat kematian Anzel agar dapat berjumpa kembali dengan Mika. Tidak ada satupun orang yang tahu, jika alasan Dean depresi bukanlah karena rasa kehilangannya pada Anzel. Melainkan karena kebenciannya pada anak angkat papanya dan ingin membalas dendam dengan tangannya sendiri. Dan karena Anzel mati di tangan Gibran, Dean menjadi frustasi hingga mentalnya terganggu.