Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Dean yang selalu mencari perhatian


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Dean masih sering melakukan sesuatu untuk mengambil perhatian Mika. Bukan hanya Jean yang menjadi targetnya, tapi juga Revan.


Di mulai dari berpura-pura sedih saat Jean atau Revan berdekatan dengan Mika, berpura-pura tersenggol dan jatuh saat berpapasan dengan Brian atau Gallen dan hal yang lainnya.


Mika hanya memperhatikan sampai sejauh mana Dean akan melakukan hal licik tersebut, entah kenapa Mika seperti melihat cerminan dirinya saat hidup sebagai Anzel dulu.


Semua orang mungkin menatap iba pada Dean, apalagi mereka yang menyaksikan Dean kesakitan akibat di perlakukan dengan kasar olehnya abang-abangnya Jean dan Revan. Hal itu mereka lakukan karena tidak terima adik kesayangannya terus di tuduh melakukan hal jahat.


Mika juga sering menegur Mika, karena sekarang mereka tahu semua perilaku Dean hanya untuk mengambil perhatian Mika.


Dan mungkin hari ini adalah salah satu yang cukup buruk, Dean mulai nekat menarik perhatian dengan menyakiti dirinya.


Prang...


"Aw,,, iish.." Dean meringis saat terkena tumpah kuah panas dari mangkok bakso yang Jean bawa.


"Lo gak papa Dean?." Jimi yang berada dekat dengannya melihat tangan Dean memerah hampir melepuh.


"Jean Lo apa-apa sih, Lo sengaja kan nabrak Dean?" ucap Jimi.


Jimi menghampiri Jean, matanya menatap penuh kemarahan. Selama ini mungkin hanya Jimi yang sepertinya percaya dengan Dean, ia selalu membela Dean bahwa saat Revan yang menjadi target dari Dean.


Dean cukup senang dengan perhatian dari Jimi, walaupun ia sebenarnya berharap Mika lah yang seharusnya ada disampingnya. Tapi untuk sekian kalinya ia merasa kecewa, Mika tidak melakukan reaksi apapun. Mika hanya diam menonton kesakitan Dean, kadang ia juga pergi begitu saja seperti tidak melihat apapun.


"Jean gak sengaja bang, tiba-tiba aja Dean nyenggol tangan Jean." Jean seperti biasanya, ia mengatakan pembelaannya.


"Alah Lo emang gak suka kan sama Dean, Lo ada masalah apa sama dia" bentakan Jimi sukses membuat air mata Jean luruh.


Pemuda berhati lembut itu tidak bisa di bentak, Jean akan langsung menangis.


"Lo jangan asal nuduh, baby gw gak mungkin ngelakuin hal jahat seperti yang Lo tuduhkan." Gallen maju, berdiri berhadapan dengan Jimi.

__ADS_1


"Bang Jimi gak boleh asal nuduh begitu, belum tentu Jean sengaja numpahin kuah baksonya. Mungkin aja Jean gak sengaja." ucap Revan yang menghampiri Jean, memeluk tubuh tubuh Jean.


"Lo gak inget Van, dia itu dulu juga kaya gitu sama Lo. Dia bahkan buat Lo di benci sama kakak kandung Lo sendiri." Jimi mulai meracau, dia bahkan mengungkit kisah lalu yang pernah di alami oleh Revan.


"Itu udah berlalu bang, gak perlu di bahas lagi. Sekarang tuh urusannya sama Dean, dan Jean pasti gak sengaja bang." kata Revan.


Sedangkan Jean terus menangis dalam pelukan Revan, ia melihat kearah Mika yang masih duduk diam. Namun Jean bisa melihat Mika sekilas tersenyum kepadanya, dan Jean mengerti maksud dari senyuman itu.


"Apa Lo akan diam aja melihat baby di perlakukan seperti itu cuma gara-gara si Dean?" pertanyaan Allen cukup membuat Mika terkejut, ia mendatarkan kembali raut wajahnya.


"Lo harus mulai bertindak Ka, Dean sudah mulai keterlaluan soalnya." Liam yang juga berada di dekat Mika menimpali perkataan Allen.


"Gw gak tahu ada masalah apa Dean sampai melakukan hal sejauh itu, tapi gw juga gak suka ngeliat Dean terus menerus memfitnah Jean dan Revan. Apalagi kak Jimi sudah mulai berpihak kepadanya." ujar Mika yang lalu menghela nafasnya.


Mika berjalan kearah kerumunan, ia berhenti di dekat Dean. Mata Dean berbinar saat melihat Mika menghampirinya, berbeda dengan Revan, Gallen dan Brian yang menatapnya penuh tanya.


"Mika percaya kan sama Dean, kalau Jean sengaja numpahin kuah panas sama Dean,, hiks,, hiks." Dean melepas pelukan Jimi lalu memeluk Mika dengan erat.


Dean mengangguk, tatapannya sedih dengan air mata yang terus mengalir sukses membuat siapa saja yang melihatnya merasa iba.


"Apa Jean juga terluka?" tanya Mika yang mengalihkan pandangannya pada Jean.


Jean menggeleng, dia menatap sendu pada Mika yang kembali mengalihkan perhatiannya pada Dean.


"Kak Jimi mending anterin Dean ke UKS deh, kasih lukanya kalau terlalu lama nanti tambah parah." ucap Mika.


"Dan masalah ini kita selesaikan setelah luka Lo di obatin, karena gw masih belum tahu mana yang bener diantara kalian walaupun kejadiannya tepat di hadapan gw." lanjut Mika.


"Tapi ka, Jean harusnya minta maaf seperti dulu waktu dia numpahin kuah bakso sama Revan. Dulu Lo suruh dia minta maaf, mau itu di sengaja atau gak sengaja. Terus kenapa sekarang Lo gak nyuruh si Jean minta maaf, apa jangan-jangan karena sekarang Lo tinggal sama dia Lo jadi berpihak sama dia." kata Jimi penuh emosi, pemuda itu bahkan menunjuk Jean dengan jari telunjuknya.


Suasana yang tadinya mulai tenang kembali ricuh setelah mendengar perkataan Jimi, mereka yang menonton juga kembali berbisik.

__ADS_1


Bugh..


T


ubuh Jimi terhuyung, saat sebuah pukulan melayang tepat di pipi kirinya. Pelukannya pada Dean juga terlepas, Jimi memegang pipinya dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya.


"Jaga ucapan Lo Jimi, Jean itu nyatanya gak salah dan Lo juga jangan menghina Mika. Disini Mika itu cuma mau menengahi jadi jangan asal ngomong, karena gw gak bisa terima itu." Allen yang tadinya memilih diam akhirnya ikut dalam kericuhan, ia tidak terima jika Jimi menghina Mika


"Dan kalian semua bubar, ini bukan tontonan jadi pergi atau gw juga bakal jadiin kalian samsak tinju gw satu persatu. PAHAM KALIAN."  lanjut Allen penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Seketika kerumunan yang kembali terkumpul menghilangkan, mereka lebih baik pergi dari pada berurusan dengan anggota keluarga Lavande.


Sedangkan Mika yang sempat menahan nafasnya akhirnya bisa menghembuskannya, ia tidak menyangka Allen akan ikut turun tangan padahal sebenarnya Mika ingin menyelesaikan masalah ini sendiri dengan caranya sendiri.


Jimi juga hanya diam, tersadar jika ia baru saja menghina Mika. Jimi menyesal telah berkata kasar pada Mika, walaupun sebenarnya Mika tidak terlalu memperdulikannya.


"Jean, maaf ya Mika bawa Dean ke UKS dulu. Setelah lukanya di obati kita bicarakan baik-baik masalahnya, entah itu sengaja ataupun tidak sengaja. Kak Gallen anterin Jean kekelas ya, udah jangan nangis kan udah janji." kata Mika yang berjalan pada Gallen dan Jean, Mika bahkan menyempatkan mengelus kepala Jean.


Dean menatap iri pada Jean, jika Mika masih berlaku lembut pada Jean,. Dean merasa takut usahanya kali ini juga akan sia-sia.


"Gw anterin Lo ke UKS, ayo." Mika membawa tubuh Dean dengan memapahnya secara perlahan.


Tanpa disadari oleh orang lain Dean tersenyum, ia merasa senang mendapat perhatian dari Mika. Inilah yang sangat Dean harapkan, perhatian dari kasih sayang dari Mika.


Sebenarnya didalam hatinya, Mika merasa sedikit kesal pada Dean. Ia tidak habis pikir Dean akan melakukan hal buruk dan licik seperti yang pernah Anzel lakukan dulu.


Bukankah Dean sama saja membuka kembali luka di hati Mika, membuatnya kembali merasakan penyesalan sebelum kematiannya. Padahal Mika baru saja mulai menikmati hidup baru bersama dengan keluarga baru.


"Dean seneng, akhirnya Mika percaya sama Dean." ucap Dean pelan.


"Belum tentu Dean, karena gw gak tahu apa tujuan Lo. Jadi untuk sementara gw bakal ikutin permainan yang Lo mulai." Batin Mika yang membuat Xaniel tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2