
Semua orang yang berada di kamar Jean memandang khawatir pada Mika, bahkan Jean terlihat ingin kembali menangis.
Mika yang di perhatikan mulai merasakan perih di kedua bahunya, padahal sebelumnya ia tidak merasakan apapun. Karena Mika tidak tahu jika Xaniel itu tidak pernah merasakan sakit, jadi kemungkinan Xaniel sedikit membantunya dengan membuat lukanya mati rasa.
Mika meringis menahan sakit, namun ia tetap menampilkan senyum teduhnya pada Jean. Ia bahkan menepuk kepala Jean seperti biasanya, walaupun sangat sakit saat mengangkat tangannya.
"Udah jangan nangis, Mika gak suka liat kamu sedih." tutur lembut Mika, jangan lupakan senyuman yang selalu bisa menenang Jean dan orang di sekitarnya itu.
Brian dan Gallen sekarang berpikir, mungkin karena pribadi Mika yang dewasa dan hangat menjadikan Dean terobsesi kepadanya.
"Mika lukanya di obatin dulu ya nak, biar mama yang bantu obatin luka kamu." ucap Lina.
"Iya mah." ucap Mika pada Lina, lalu kembali menatap Jean yang berada dihadapannya.
"Jean sudah makan dan minum obat?" tanya Mika, masih dengan melembutkan suaranya.
Jean menggelengkan kepalanya, Jean memang menolak makan saat Diana hendak menyuapinya. Mika melirik kearah nakas, disana ada mangkok berisi bubur dan segelas air.
"Mika suapin ya, Jean harus makan habis itu minum obat ya?" ujar Mika yang dibalas tatapan berbinar.
"Tapi abang obatin lukanya dulu." lirih Jean.
"Iya nak, kamu lebih baik mengobati luka di bahu kamu dulu. Sepertinya masih mengeluarkan darah.?" kata Diana dengan melihat noda merah di bahu Mika yang sepertinya bertambah luas.
Mika menggelengkan kepalanya, lalu menatap Jean dengan senyuman.
"Gak papa kok, Mika suapin Jean dulu mommy bisa tolong ambilkan buburnya." kata Mika.
Diana menyerahkan mangkok berisi bubur pada Mika, ia mulai menyuapi Jean. Bocah itu terlihat menerima sendok demi sendok bubur dan di sodorkan kepadanya.
Diana, Lina dan yang lainnya lagi-lagi di buat tersenyum oleh kedekatan mereka berdua. Mika yang selalu terlihat tulus pada Jean, itulah yang mereka lihat.
Setelah menghabiskan buburnya, Mika membantu Jean untuk meminum obatnya. Kemudian Jean membaringkan tubuhnya di kasur, sedangkan Diana menyelimuti anak bungsunya sebatas dada.
"Jean udah baik-baik aja kok bang, sekarang mending abang Mika obatin lukanya." ucap Jean.
"Iya nak, kalau terlalu lama di biarkan nanti tambah parah terus bisa infeksi." Lina terlihat khawatir, apalagi wajah Mika juga terlihat mulai memucat.
"Ya udah kalau gitu Jean tidur ya sekarang, Mika juga mau ke kamar." Mika bangun dari duduknya.
Tubuhnya mulai terasa sakit, bukan hanya bahunya saja. Perih dan panas itulah yang ia rasakan pada kedua bahunya, pandangannya juga mulai memburam.
Mika berjalan keluar dari kamar Jean diikuti oleh Lina dan Gallen, membiarkan Jean bersama mommy dan kedua abangnya.
Tubuh Mika merosot saat melewati kamar Brian yang terletak disamping kamar Jean, Lina dan Gallen langsung panik menghampiri Mika yang masih mempertahankan kesadarannya.
__ADS_1
"Astaga nak, kamu kenapa?" Lina berlutut dihadapan Mika yang sedang duduk lemas menyenderkan tubuh sampang kanannya pada tembok.
"Mamah, Mika kenapa?" tanya Gallen yang tak kalah khawatir.
"Mika gak papa kok mah, tolong jangan kasih tahu Jean. Mika gak mau buat Jean khawatir." lirih Mika lemah.
Wajah Mika terlihat semakin memucat, kesadarannya juga semakin lemah. Gallen langsung mengangkat tubuh Mika ala bridal membawanya memasuki lift menuju kamar Mika yang berada di lantai 2.
Lina memerintahkan seorang maid untuk membawakan baskom berisi air hangat, sedangkan dia mengambil kotak obat yang ada dikamarnya.
Allen yang melihat Gallen menggendong tubuh Mika langsung mengikutinya, ia juga merasa khawatir karena melihat wajah pucat Mika.
Gallen membaringkan tubuh Mika secara perlahan, ia juga melepaskan kemeja putih Mika yang sudah berwarna merah sebagian. Gallen menyingkir saat Lina duduk disamping Mika dengan membawa kotak obat di tangannya.
Seorang maid datang membawa baskom berisi air hangat, lalu menyerahkannya pada Lina. Wanita paruh baya itu mulai membersihkan luka di kedua pundak Mika, sementara kedua anak kembarnya hanya bisa menatap khawatir pada pemuda yang sudah dianggap adik oleh mereka.
Allen merasa heran, dari mana Mika mendapatkan luka seperti itu. Bukan hanya luka akibat kuku tangan yang menembus kulit, tapi Allen juga melihat ada luka seperti sayatan benda tajam di bahu kiri Mika.
Selesai membersihkan luka Mika, Lina mulai mengoleskan obat merah dan menutup luka tersebut dengan kain kasa yang di rekatkan dengan plester.
Mika tidak meringis sedikitpun karena ia memang kehilangan kesadarannya saat Gallen menggendongnya, setelah selesai di obati Lina meminta Gallen untuk mengganti pakaiannya Mika dengan pakaian bersih.
Allen terlihat menatap tajam pada Gallen yang hendak mengganti pakaian Mika, Gallen yang langsung paham akhirnya membiarkan Allen yang mengganti pakaian Mika.
Allen merasakan tubuh Mika terasa panas, karena sepertinya Mika juga terkena demam. Lina meminta maid untuk membawa baskom yang tadi di gunakan untuk membersihkan luka Mika untuk di ganti dengan yang baru.
"Biar Mika mama saja yang menjaganya, kamu bisa istirahat nak?" kata Lina pada putra sulungnya.
"Gak papa mah, Allen masih mau di sini." ucap Allen yang duduk di dekat kaki Mika.
Allen menatap sendu pada wajah damai Mika yang masih memejamkan matanya, begitupun dengan Lina yang terlihat sedih.
"Andai adikmu masih ada di samping kita, mungkin mama tidak akan berharap Mika menggantikan posisinya." lirih Lina.
Allen terkejut saat mendengar perkataan wanita yang sangat di sayangnya itu, Allen tidak menyangka jika Lina masih memikirkan saudara kembarnya itu.
17 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mereka dapat merelakan kepergian salah satu anggota keluarganya itu, apalagi untuk Lina yang mengandung selama 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anak yang bahkan tidak bisa di lihatnya lagi setelah Dirham menculiknya.
Air mata Lina menangis saat membayangkan seperti apa hidup anak bungsunya di tangan musuh keluarganya, apalagi Dirham mengatakan jika pria bajingan itu menyiksa putra bungsunya hingga meregang nyawa.
Melihat mamanya menangis, Allen langsung memeluk tubuh wanita tersebut. Lina juga membalas pelukan putra sulungnya, tidak di pungkiri Allen juga merasakan kesedihan yang sama dengan Lina.
"Mama harus kuat, kita tidak boleh selalu bersedih. Karena Allen tahu Khallen tidak akan menyalahkan kita untuk hidupnya yang singkat, Khallen pasti mengerti mah karena semua yang sudah terjadi bukankah keinginan kita." tutur lembut Allen, mungkin adalah kalimat terpanjang yang pernah Allen ucapkan.
"Iya sayang, mama ngerti. Kamu juga harus bisa menjaga adikmu Gallen dengan baik dan jadi sosok kakak yang baik untuknya ya nak?" kata Lina saat tangan Allen mengusap air mata di pipinya.
__ADS_1
"Mama tenang saja, Allen pasti menjaga Gallen dengan baik dan juga keluarga kita, keluarga Lavande." ucap Allen yang di dengar oleh Gallen yang bersandar di pintu kamar Mika.
Gallen masuk dan langsung memeluk kakak dan mamanya dari belakang, membuat mereka terkejut karena pelukan Gallen tidak main-main kencangnya.
"Minggir kau dasar adik kurang ajar." kata Allen dengan nada dinginnya.
"Aish, tadi Lo bilang apa bang. Sungguh terharu gw, Lo bilang mau jagain gw." kata Gallen yang masih mempertahankan pelukannya.
Brugh
Tubuh Gallen terjengkang saat Allen mendorong perut adiknya itu dengan kaki kanannya, Lina sempat terkejut namun ia malah tertawa kecil melihat tingkah laku kedua putranya.
"Sakit bang." ringis Gallen memegang pantatnya yang sakit karena mencium lantai kamar Mika.
"Itu karma karena kamu membuatku hampir kehabisan nafas dasar adik gila." kata Allen menatap tajam pada Gallen.
"Gila tapi sayang kan." ucap Gallen sambil cengengesan, membuat Allen membuang mukanya.
Bisa ikut gila jika dirinya terus meladeni sikap absurd Gallen, sementara Lina hanya tersenyum melihat tingkah kedua putranya kembarnya itu sambil sesekali mengganti kompres di dahi Mika.
• • •
Sementara di rumah keluarga Aditama, Reyhan sibuk menenangkan adik bungsunya yang terus berteriak histeris. Reyhan dengan sigap membuang jauh silet yang di pegang Dean hingga melukai telapak tangannya.
"Anzel benzi Dean bang, Anzel bentak Dean lagi. Anzel benci sama Dean, hiks,, hiks." tangis Dean begitu memilukan dihati Reyhan.
Pemuda itu terdiam karena bingung, kenapa adiknya yang sudah dianggap sembuh kembali terlihat depresi. Reyhan mengingat pertemuannya dengan seorang pemuda saat berjalan kearah kamar Dean, pemuda itu terlihat tergesa-gesa saat pergi.
"Anzel udah gak ada dek, Anzel sudah meninggal. Abang mohon kamu terima semua itu dan relakan kematian Anzel." kata Reyhan mencoba menenangkan Dean.
Dean menggelengkan kepalanya ribut, tubuh bergetar hebat. Reyhan semakin mengeratkan pelukannya, memaksa kepala adiknya tenggelam di dadanya.
"Itu gak bener bang, tadi Anzel disini. Anzel temenin adek pulang, Anzel belum mati bang." racauan Dean membuat Reyhan semakin bingung.
"Tadi Anzel disini, tapi Anzel pergi karena Dean nyakitin dia bang." lanjut Dean.
"Pak tolong ambilkan obat Dean?" titah Reyhan pada bodyguard yang berdiri didepan pintu kamar adiknya.
Bodyguard itu menyerahkan sebuah jarum suntik berisi obat penenang, Reyhan menyuntikkan obat tersebut di tengkuk Dean. Pemuda itu sempat menolak namun pelukan Reyhan tidak bisa membuatnya berontak, Dean kehilangan kesadarannya beberapa detik setelah obat tersebut masuk kedalam tubuhnya.
Reyhan membaringkan tubuh adiknya diatas kasur, memerintahkan maid untuk menelpon dokter yang biasa menangani Dean.
"Apa yang sebenarnya terjadi,kenapa adikku bisa seperti ini?" tanya Reyhan pada bodyguard yang tadi.
"Sebenarnya tuan muda pulang bersama teman sekelasnya, sepertinya tuan muda menganggap teman sekelasnya itu sebagai Anzel. Beberapa menit berdua didalam kamar, pemuda tersebut keluar dengan ketakutan. Saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena tuan muda Dean tidak mengijinkan saya masuk." jelas bodyguard tersebut.
__ADS_1
Reyhan menghela nafasnya, pikirannya cukup kacau. Apalagi melihat sang adik yang kembali terlihat depresi membuatnya merasa sedih dan sesak.
"Cari tahu tentang anak itu, semuanya jangan ada yang terlewat. Masalah Dean biar aku yang menjelaskannya pada papa dan bang Rezka, kamu bisa bekerja sekarang." ucap Reyhan yang diangguki oleh bodyguard tersebut.