
Seorang pemuda terbaring lemah di atas brangkar pesakitan, matanya terpejam rapat dengan perban melilit rapi di kepalanya. Pemuda tersebut juga harus bernafas menggunakan masker oksigen dan juga alat bantu penunjang hidup lainnya.
Diruang yang sama, beberapa laki-laki berbeda usia saling menunjukkan wajah tegang mereka. Satu diantara mereka terduduk lesu dengan yang lebih tua mengusap punggungnya. Dia adalah Aksan yang sedang mencoba menenangkan Brian, ia merasa hancur karena adik kesayangannya hilang entah kemana.
Ya, pemuda yang terbaring dibrangkar adalah Mika. Entah apa yang terjadi, mereka tidak tahu apa-apa. Yang mereka tahu saat ini, adik kesayangannya mereka sedang berada dalam bahaya.
"Apa yang harus kita lakukan pah, kita harus cari baby kemana?" wajah kusut Gallen tidak jauh berbeda dengan Brian, ia meminta jawaban pada papanya Dexter.
Sementara Allen, duduk disamping brangkar Mika, menatap penuh harap agar anak didepannya segera membuka matanya.
"Seharusnya kita lebih memperketat penjagaan saat di sekolah, maafkan opa karena terlalu menganggap remeh pada bajingan itu." Matias menunjukkan raut penyesalan.
"Itu sudah tidak penting dad, yang harus kita lakukan adalah mencari keberadaan bajingan itu dan juga anak bungsuku." Axio menatap marah, dalam hati ia bersumpah untuk menghabisi nyawa bajingan itu jika sampai melukai baby-nya.
Sementara di sebuah bangunan tua yang tersembunyi ditengah hutan, seorang pemuda dengan tubuh terikat di kursi yang ia duduki. Wajahnya terlihat berantakan, air matanya masih belum mengering padahal pemuda tersebut sudah menangis hampir 3 jam lamanya.
"Diamlah bocah, tangisanmu mengganggu pendengaranku." Pria jangkung itu berdiri didepan Jean sambil mencengkram dagunya, tatapannya begitu tajam.
Bukannya berhenti menangis, Jean malah semakin mengeraskan tangisnya. Ia merasa sangat takut pada pria didepannya, apalagi setelah melihat kejadian sebelum ia di bawa ketempat yang tidak ia ketahui.
"Cih, dasar lemah. Kau bahkan lebih lemah dari anak itu, tapi tenang saja aku akan segera mengirimmu ketempat saudaramu,, ke alam baka,,hahahhahah." tawa pria itu menggelar, Jean yang ketakutan menghentikan tangisnya tapi air matanya tidak mau berhenti keluar.
"Daddy, abang tolong Jean. Jean takut, Jean gak mau di sini. Abang Mika, Jean takut abang kenapa-kenapa. Jean pengen ketemu abang, Jean takut." ucap nya dalam hatinya.
Pria itu lalu keluar, mengunci pintu kamar yang di pakai untuk mengurung Jean. Tapi itu tidak menghilangkan rasa takut dihati Jean, pikirannya kini tertuju pada Mika. Rasa khawatirnya menyeruak, apalagi saat melihat bagaimana abang kesayangannya itu mendapat banyak pukulan didepan matanya.
Flashback
Jean membuka matanya, ia berada didalam gudang sekolah padahal ia ingat tadi hendak menemui Mika di perpustakaan.
Ia melihat sosok yang tidak ia kenal, Jean panik namun tidak bisa bergerak karena tubuhnya terikat. Jean melihat seorang pemuda sedang menelepon seseorang tidak jauh darinya.
"Cepatlah datang, aku sudah mendapatkan anak itu. Aku ada di gudang sekolahnya, cepatlah sebelum mereka menyadari adik bungsu kesayangan menghilang." ucap pemuda tersebut lalu menutup telponnya.
Pemuda itu melihat kearah Jean yang sudah sadar, ia mendekat lalu menyeringai pada Jean yang memundurkan tubuhnya. Jean ingin berteriak untuk meminta pertolongan, namun mulutnya di lakban dan kedua tangan dan kakinya terikat.
"Jean, Jean Lo dimana." teriak seseorang yang berada di luar gudang, Jean mengenali suara itu. Itu adalah suara Mika, Jean menggeleng lalu menghentak-hentakkan tubuhnya berharap Mika bisa menyadari keberadaannya.
Pemuda tersebut langsung bersembunyi saat Mika membuka pintu gudang, sepertinya ia lupa mengunci pintu tersebut.
Mika berjalan masuk kedalam gudang, ia terlihat mengedarkan pandangannya. Mika melihat sesuatu yang mengusiknya di bagian pojok gudang, ia langsung berlari setelah menangkap sosok Jean yang duduk dengan posisi terikat.
"Jean Lo gak papa, siapa yang udah ngelakuin hal ini?" Mika menghampiri tubuh Jean, melihat Jean yang hendak mengucapkan sesuatu Mika langsung membuka lakban di mulut Jean.
" Abang cepat pergi dari sini." Jean yang kembali berurai air mata mencoba memperingatkan Mika.
__ADS_1
Namun Mika yang tidak mengerti hanya menatap heran pada Jean.
Mika mencoba membuka ikatan ditangkap Mika, namun belum sempat terbuka seseorang sudah berdiri dibelakang Mika dengan balok besi ditangannya.
"ABANG AWAS." pekik Jean, namun terlambat.
Tubuh Mika terlempar kesamping akibat pukulan dari seseorang yang tepat mengenai kepalanya.
Mika yang masih mencoba mempertahankan kesadarannya melihat kearah seseorang yang sudah memukulnya, ia mengenali orang tersebut. Dia adalah Willy, murid sekelasnya dan juga sahabat Gio saudara angkatnya.
"ishh," Mika meringis saat merasakan sakit dikepalanya dan juga darah yang ada di telapak tangannya.
"Jangan pukul abang Mika, kalau kamu mau Jean bawa Jean aja tapi jangan sakiti Abang." Jean menggeleng ribut saat melihat Willy berjalan mendekati Mika yang mencoba berdiri sambil memegang kepalanya.
"Apa tujuan Lo sebenarnya." kata Mika pelan, sambil mengumpulkan sisa tenaga.
"Lo gak perlu tahu, tapi karena Lo udah melihat semuanya jadi gw bakal habisin Lo disini." Willy tersenyum sinis, lalu melayangkan kembali balok besi kearah Mika.
Mika menghindari balok besi tersebut, namun Willy menendang dadanya dengan kuat hingga tubuh Mika kembali jatuh.
"Uhuk,, uhuk." Mika memuntahkan darah, Willy kembali menendang tubuh Mika yang sudah tidak berdaya.
Jean mencoba menolong Mika dengan menrangkak, ia juga berteriak meminta pemuda itu berhenti memukul Mika.
Tidak lama kemudian, seorang pria berjubah hitam datang dari arah belakang gudang. Pria itu membekap mulut dan hidung Jean, membuat anak itu pingsan.
"Cepat pergi, sebelum ada yang menyadari keberadaan kita." titah pria tersebut pada Willy.
Willy mengakhiri pukulannya dan berjalan mengikuti pria tersebut, mika bisa melihat sedikit wajah pria yang menggendong Jean. Mika mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Mika melihat tubuh Jean yang semakin menjauh, namun kegelapan melahap kesadaran hingga ia jatuh pingsan.
Flashback end
Jean hanya bisa berdoa semoga Mika baik-baik saja, ia juga mengutuk dirinya sendiri yang begitu lemah tak berdaya.
"Maafin Jean ya bang, Jean selalu nyusahin abang." lirih Jean.
Sementara di salah satu gedung pencakar langit, tiga pria berbeda usia terlihat serius. Salah satunya sedang mengelap sebuah katana(pedang) lalu menyimpannya kembali di sebuah kotak.
"Kau sudah bertemu dengannya hari ini nak?" tanya pria bersurai hitam dengan beberapa bagian berwarna putih.
"Sudah kek, apa dia sudah bangun?" tanya balik pemuda tersebut pada kakeknya, reinhard.
"Dia menghubungiku beberapa malam yang lalu, sepertinya dia akan membutuhkan bantuan dari kita." Reinhard mengambil pistol dihadapannya lalu membersihkan dengan lap khusus.
"Apa yang sudah memicu kebangkitannya ayah, setelah terakhir kalinya ia bangkit sekitar 6 bulan yang lalu?" tanya David, anak reinhard sekaligus papa Randi.
__ADS_1
Ya , pemuda yang ada diantara mereka adalah Randi. Kakak kelas yang selalu bertemu dengan mika di perpustakaan, ia langsung memberitahu orang tua saat pertama kali bertemu dengan Mika di perpustakaan.
Mika pernah bertemu dengan Randi jauh sebelum mereka satu sekolah, mika tidak mengenali Randi karena saat itu Xaniel yang mengambil alih tubuh Mika.
Dan hari ini, Randi melihat tanda-tanda keberadaan Xaniel lewat mata Mika. Iris biru kelam itu milik Xaniel, pemuda berdarah dingin yang selalu menikmati saat menyiksa mangsanya dan kali ini siapa yang akan di jadikan target oleh Xaniel.
° ° °
Setelah hampir 6 jam tidak sadarkan diri, mata yang terpejam rapat itu mulai menunjukkan pergerakan. Diana menyadarinya, ia langsung mendekati brangkar Mika.
"Euughhh.." perlahan mata Mika terbuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Syukurlah, kamu sudah sadar nak." ucap lega perempuan itu, lalu menatap khawatir padanya.
Diana menautkan alisnya saat menatap mata Mika, kenapa iris kedua matanya berwarna biru kelam.
Mika langsung mendudukkan tubuhnya, melepas masker oksigen dan juga jarum infus ditangannya. Diana langsung panik, mencoba menghentikan aksi Mika.
"Jangan Mika," Allen yang berlari mendekati brangkar Mika, ia tertegun saat Mika menatapnya tajam.
Allen menyadari ada yang aneh dengan anak itu, apalagi tatapan tajam yang ia layangkan.
Mika bangun dari brangkarnya, semua orang yang ada didekatnya langsung terkejut. Dengan luka separah itu Mika bahkan tidak terlihat meringis sedikitpun, ia bahkan terlihat baik-baik saja walaupun wajahnya terlihat sangat pucat.
"Ck, kalian letakkan di mana ponsel saya." ucapnya datar sambil melempar pandangan ke sekelilingnya.
Semua orang kembali tertegun, karena tidak biasanya Mika berbicara sesopan dan seformal itu.
"Saya pinjam ponsel kamu?" Mika yang tubuhnya sudah diambil alih oleh Xaniel menengadahkan tangan pada Allen yang berdiri paling dekat dengannya.
Allen langsung memberikan ponselnya, masih dalam terkejutnya ia melihat Mika seperti menelpon seseorang.
"Saya ada dirumah sakit, seperti yang pernah saya katakan, saya membutuhkan bantuanmu kakek." ucap Mika yang langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban.
Mika kembali ke brangkar, ia duduk bersila sambil menampa dagunya dengan tangan kiri. Ia melihat satu persatu wajah orang yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan lucu, ya karena mereka semua terkejut.
"Apa kamu baik-baik saja nak, apa perlu Tante panggilkan dokter." kata Diana.
"Haaaah, tidak perlu nyonya karena saya baik-baik saja." ucap Xaniel (sementara Mika di panggil Xaniel dulu ya).
"Sepertinya kalian salah paham, saya bukanlah Mika melainkan Xaniel, saya seperti alter ego Mika." lanjut Xaniel.
"Jangan bercanda disaat seperti ini Mika, sekarang jelasin kenapa Lo bisa terluka di dalam gudang terus Lo lihat siapa yang sudah membawa adik gw." Brian yang emosi mencengkram baju Mika.
"Dimana para laki-laki dewasa di keluarga ini, apa mereka sedang mencari bungsu kalian? Jika kalian ingin mengetahui semuanya dan ingin menyelamatkan permata kalian, panggil mereka kemari. Dan aku akan memberitahukan semuanya." Xaniel menatap tajam pada Brian lalu menarik bibirnya kesamping menampilkan senyum sinisnya.
__ADS_1