
Mika bersama yang lain tiba di mansion, mereka langsung menuju kamar Jean dikarenakan baby-nya itu tertidur saat perjalanan pulang tadi.
Brian menggendong Jean, di ikuti Mika dibelakangnya. Sedangkan si kembar Allen dan Gallen menuju kamar mereka masing-masing.
Brian menidurkan adiknya dengan perlahan agar tidak menggangunya, ia terlihat mengecup kening Jean. Mika hanya diam saat melihat kehangatan kakak beradik itu, ia memilih duduk di kursi belajar milik Jean.
Brian melihat kearah Mika yang menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, terlihat bibir Mika yang sedikit pucat membuatnya merasa sedikit khawatir.
"Pergi kekamar, terus istirahat." ucap singkat Brian yang membuat Mika sedikit melonjak sambil menahan nafasnya.
Mika lalu bangun dari duduknya, saat hendak berjalan lagi-lagi ia merasakan kepalanya berdenyut.
"ish,," ringis Mika sambil memegang kepalanya.
'ini belum berakhir, tetaplah waspada atau anak dihadapanmu akan bernasib sama dengan kamu Anzel'
Lagi-lagi Mika mendengar suara dari dalam kepalanya, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa akhir-akhir ini ia merasa sering di beri peringatan oleh seseorang yang tidak ia ketahui, dan siapa yang harus di waspadainya.
"Lo gak papa?" suara Brian menyadarkan lamunannya, ia langsung menatap wajah kakaknya Jean yang menampilkan wajah khawatir.
"Gak papa kok kak, kalau gitu Mika kekamar dulu ya." Mika menggeleng lalu memaksakan senyumannya, ia lalu keluar dari kamar Jean.
Mika masuk kedalam kamarnya, ia bersandar pada pintu bagian dalam lalu tubuh merosot hingga posisinya duduk sambil tetap bersandar pada pintu.
Ia memukul-mukul kepalanya, yang anehnya sudah tidak terasa sakit lagi. Mika kembali bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
"Gw sebenarnya kenapa, terus suara itu suara siapa dan lagi siapa yang mau mencelakai Jean sampai-sampai gw harus tetap waspada." gumam Mika entah pada siapa.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya, Mika memilih masuk kedalam kamar mandi untuk sekedar menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Sementara Brian yang mendengar mobil daddy-nya datang, segera BB keluar dari kamar Jean untuk meminta penjelasan pada Axio.
"Dad,," lirih Brian.
"Kita bicara diruang kerja daddy, panggil Allen dan Gallen juga." Axio memotong ucapan anak tengahnya lalu berjalan menuju ruang kerja di mansionnya.
"Apa yang ingin daddy jelaskan?" Brian menatap Axio meminta penjelasan.
"Dahulu, daddy memiliki seorang musuh. Dia pernah menghancurkan kebahagiaan keluarga kita 17 tahun yang lalu." ucap Axio.
__ADS_1
Si kembar Allen dan Gallen saling menatap tidak percaya, apa yang dipikirkan mereka itu berhubungan dengan penjelasan Axio.
"Saat pria bajingan itu menculik adik bungsu kalian, Allen Gallen." lanjut Axio.
Allen dan Gallen langsung mengepalkan tangannya, dulu mereka pernah di beritahu oleh mama dan papanya jika adik mereka pernah di culik sesaat setelah di lahirkan.
"Dan di kembali, untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kita lagi. Dan pria brengsek itu juga mengatakan jika dia sudah menghabisi nyawa adik bungsu kalian, Allen Gallen." Axio terlihat menghela nafasnya, ia sebenarnya tidak tega memberitahu kedua anak adiknya itu.
Mereka bertiga langsung terlihat marah, bagaimana tidak. Orang yang sudah mengambil salah satu anggota keluarga mereka kembali untuk menghancurkan keluarga mereka.
"Lalu apa rencana daddy sekarang?" Brian yang berdiri didepan daddy-nya menatap serius.
"Opa, papa dan daddy sudah memerintahkan semua anak buah untuk mencari keberadaan bajingan itu. Untuk sementara usahakan kalian selalu bersama saat berada di sekolah atau di luar rumah, jangan gegabah karena bajingan itu sangat berbahaya dan kalian tidak akan sanggup menghadapi sendiri." Axio menatap si kembar, ia seperti bisa membaca pikiran mereka yang ingin segera menemukan pria yang sudah mengambil adik bungsu mereka.
"Baik dad, kami mengerti. Kami akan selalu bersama-sama dan juga menjaga baby dengan berbagai cara." kata Gallen.
"Apa insiden yang baru saja terjadi pada baby adalah ulahnya.?" gumam Brian sambil memegang dagunya.
"Apa maksud kamu nak?" tanya Axio memastikan ucapan bajingan itu.
"Saat berada di taman belakang sekolah, ada pot bunga yang tiba-tiba jatuh tepat diatas baby. Tapi untung saja Mika berhasil mendorong tubuh baby hingga tidak terkena pot itu." Axio langsung menatap khawatir mendengar penjelasan anak tengahnya itu.
"Benarkah, lalu bagaimana keadaan baby sekarang?" tanya Axio.
"Mika ya, lagi-lagi anak itu menyelamatkan baby kita." gumam Axio yang diangguki semuanya.
"Kalau begitu kalian bisa keluar, ingat mulai sekarang kalian harus selalu waspada." kata Axio dengan nada serius.
" Baik dad." kata mereka bertiga yang langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut.
° ° °
Malam tiba membawa kegelapan yang sudah menelan jingga sepenuhnya, mika yang merasakan lelah tiba-tiba menderanya memilih langsung tidur setelah selesai makan malam bersama.
Jean yang sempat meminta agar ia menemaninya bermain, Mika tidak menolak namun Allen tiba-tiba meminta agar Jean membiarkannya untuk istirahat. Jean yang melihat wajah Mika yang sedikit memucat akhirnya mengijinkannya kekamar lebih dulu.
Matanya memberat, rasa kantuk begitu menguasainya. Sesaat kemudian dengkuran halus keluar dari mulut kecil yang selalu bisa menenang Jean itu.
Jean, ia tidak bisa tidur masuk kedalam kamar Mika yang berada di lantai dua mansionnya. Ia melihat kakak kesayangannya itu sudah terlelap, Jean duduk disamping Mika sambil memperhatikan wajah tenang milik Mika.
__ADS_1
Jean menempelkan punggung tangannya di kening Mika, hangat itu yang ia rasakan.
"Bang Mika jangan sakit terus, Jean jadi sedih ngeliatnya. Apa semua gara-gara Jean yang selalu nyusahin abang, maafin Jean ya bang." ucap Jean sambil menempelkan plester penurun panas di kening Mika.
Mika sempat menggeliat karena rasa dingin di keningnya, ia sedikit membuka matanya menatap sosok yang memperhatikannya dengan khawatir.
"Maafin Jean ya bang udah ganggu tidur abang?" Jean menampilkan wajah bersalahnya.
Mika mendudukkan tubuhnya, ia mengucek pelan sebelah matanya.
"Iya gak papa, Jean kenapa disini?. Ini dapat Jean, makasih ya tapi gw udah gak papa kok." Mika menyentuh plester di keningnya.
" Iya bang, maaf ya tapi Jean gak bisa tidur." ucap Jean.
Bocah itu terlihat memajukan bibirnya, terlihat lucu sehingga membuat Mika sedikit terkekeh.
"Mau tidur bareng disini gak.?" Mika mengusak rambut Jean.
"hmm." Jean mengangguk menampilkan wajah berbinar.
Mika lalu menarik tubuh Jean dalam pelukannya dan berbaring dikasur milik Mika.
Semenjak Mika tinggal di mansion keluarga Jean, mereka menyiapkan kamar khusus untuknya. Mika sebenarnya ingin pulang ke kontrakannya, namun mereka terus melarangnya bahkan mengancamnya akan merobohkan bangunan yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 4 tahun itu. Dan bagaimana pekerjaannya di distro milik Bintang, mereka meminta ijin pada Bintang agar Mika bisa beristirahat dan memerintahkan seseorang untuk menggantikannya bekerja. Terlalu berlebihan menurut Mika, namun pada akhirnya ia hanya bisa menerima karena keluarga Lavande suka sekali mengancamnya.
Tidak lama kemudian dengkuran halus keduanya terdengar, mereka lelap dalam mimpinya mereka masing-masing.
Saat jam menunjukkan pukul 00.25 Mika terbangun dari tidurnya, ia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
Mika berjalan kearah jendela kamarnya, ia membuka gorden membiarkan sinar bulan menerpa tubuhnya. Mika terlihat berbeda malam ini, iris hitam pekat miliknya terlihat berubah menjadi biru kelam seperti warna langit malam, surainya tetap berwarna hitam namun muncul sedikit warna silver di ujung poninya.
Mika menekan tombol ponselnya, mencoba menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian seseorang menjawab telepon dari Mika, ia tersenyum namun nampak lebih seperti menyeringai.
"Halo tuan Reinhard Alderweireld, lama tidak bersua dengan anda." kata Mika dengan dingin, sangat berbeda dengan ia yang biasanya.
"Halo juga Mika, ah sepertinya kau bukan Mika melainkan Xaniel benar bukan dugaan ku." kata lawan bicara Mika/Xaniel yaitu orang yang pernah menelepon Mika saat dirumah sakit dan Mika memanggilnya dengan sebutan kakek tua.
"Ya, akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhnya ini sesuai kehendakku." Mika menyeringai sambil mengepal-ngepalkan tangan kanannya.
"Ya selamat datang kembali, cucuku. Apa yang ingin kau inginkan dari ku?"
__ADS_1
Mika, ah bukan. Ia adalah Xaniel tersenyum evil sambil menatap bulan. Ia akhirnya bisa bangun dari tidur panjangnya didalam tubuh Mika, Xaniel adalah alter ego milik Mika sebelum jiwa Anzel masuk kedalam tubuh itu.
Xaniel adalah semua kebalikan dari Mika, entah apa yang sudah membangunkan jiwanya. Dan apa tujuan setelah ia bisa bangkit dan mengendalikan tubuh Mika sepenuhnya.