
Bererapa hari kemudian Mika yang sudah diijinkan pulang dari rumah sakit memutuskan untuk masuk sekolah, tentu saja bersama dengan Jean karena ia tidak diijinkan pulang ke kontrakannya oleh keluarga bocah itu.
Mika memasuki kelasnya, ia langsung menuju tempat duduknya. Beberapa murid dikelas menatapnya, namun Mika memilih tidak menghiraukannya dan duduk sambil menatap keluar jendela seperti kebiasaannya.
Mika melonjak terkejut saat pundaknya ditepuk oleh seseorang yang langsung menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Mika udah masuk sekolah, emangnya udah bener-bener sehat?" Revan, duduk dikursi yang ada dihadapan Mika.
"Udah ko Van, gw udah sehat kalo gak ngapain masuk sekolah." ucap Mika dengan tenang, ia menatap Revan dengan tatapan teduhnya sambil tersenyum.
"Gimana kabar lo selama gw gak masuk sekolah, gak di siksa sama kak Vian lagi kan?" Mika mengejek Revan yang langsung menampilkan wajah cemberutnya.
"Mika mah kok ngomongnya gitu.." lirih Revan yang dibalas tawa kecil oleh Mika.
"Iya maaf, gw cuma becanda. Jadi gimana kabar lo Van?." Mika menghentikan tawanya.
"Baik kok ka, gw udah gak pernah ngemis perhatian lagi sama bang Vian seperti saran Lo waktu itu. Karena gw udah sadar ternyata ada orang yang lebih peduli sama gw yaitu bang Liam sama bang Jimi yang selalu perhatian sama gw." Revan menampilkan wajah bahagianya yang membuat Mika tersenyum lega.
"Bagus deh kalau begitu." tanpa sadar Mika mengusak rambut Revan yang membuat murid disekitarnya menatap sinis kepadanya.
"Ya udah kalau gitu gw kekelas dulu ya, belajar yang bener ya ka kalau perlu bantuan jangan sungkan panggil gw ok." Revan berdiri mengacungkan jempolnya pada Mika lalu berjalan keluar kelas.
Tidak lama kemudian bel tanda masuk sekolah berbunyi diikuti seorang guru yang masuk kedalam kelas dan memulai pelajarannya.
Skip
Mika berjalan di koridor sekolahnya tidak lama setelah bel istirahat berbunyi, tujuannya hanya satu yaitu perpustakaan. Tentu saja setelah menolak ajak Jean untuk kekantin dengan alasan ia ingin pergi ke perpustakaan lebih dulu.
Mika mengambil sebuah buku, membawanya ketempat biasanya ia membaca didalam perpustakaan. Ia mulai membuka buku tersebut, mencari materi yang dianggapnya penting dan mencatatnya di buku kecil yang selalu ia bawa saat sekolah.
Tidak lama kemudian seseorang duduk dihadapan Mika, ia adalah Randi kakak kelas yang selalu ia temui saat berada di perpustakaan. Mika tersenyum pada Randi saat pemuda tersebut melihat kepadanya.
"Kemana saja kamu satu minggu ini, apa kamu sakit?" tanya Randi yang belum membuka bukunya.
"Iya kak, Mika sakit selama seminggu ini." jawab Mika.
"Jangan lengah untuk menjaga kesehatan, karena sehat itu mahal. Dan lagi kamu seharusnya pergi kekantin untuk makan siang, bukannya di perpustakaan." perkataan Randi terdengar begitu dingin di telinga Mika.
"Iya gak papa kok kak, habis ini Mika juga mau kekantin kok." Mika menutup bukunya lalu bangun dari duduknya.
"Kalau gitu Mika duluan ya kak?" pamit Mika yang dibalas anggukan oleh Randi.
Randi menatap punggung Mika dengan tatapan penuh arti, ia terlihat seperti menyimpan kerinduan pada anak tersebut. Namun ia tidak ingin hanyut dalam lamunannya, ia memilih kembali fokus pada buku yang ia pinjam.
Sedangkan Mika memilih berjalan menuju kantin, pertemuannya dengan Randi membuat dirinya sedikit kesal. Namun ia bukanlah orang yang ambil pusing dengan tingkah orang lain.
Saat berjalan menuruni tangga, kepalanya kembali berdenyut sakit. Ia bahkan seperti mendengar suara seseorang yang mengatakan 'waspadalah, seseorang akan mencelakai jean' namun saat ia melihat sekitarnya, tidak ada seorangpun disana.
Perasaan Mika mendadak tidak tenang, sakit di kepalanya juga mendadak menghilang. Ia berjalan lebih cepat untuk menemui Jean dikantin untuk memastikan firasatnya tadi.
Saat sampai di kantin, Mika melihat Jean sedang makan bersama abang-abangnya. Ia merasa sedikit tenang, pikirnya mungkin salah karena terlalu paranoid mungkin.
__ADS_1
Mika duduk di tempat biasa Jean dan abangnya makan saat istirahat, ia tersenyum saat Jean melihat kearahnya.
"Bang Mika mau makan apa, biar bang Kahfi pesenin?" tanya Jean, membuat Kahfi terkejut. Bisa-bisanya baby kesayangannya itu menjadikan seorang babu.
"Apa aja deh, terserah lo." jawab Mika yang membuat Kahfi melihatnya kesal, sedangkan Mika hanya tersenyum karena mengerjai Kahfi.
Namun tiba-tiba, sebuah piring berisi siomay diletakkan dihadapan Mika. Sedikit terkejut, karena yang meletakkannya adalah Allen yang menatapnya dingin.
"Makan, Lo bilang apa aja kan. Sekarang makan yang ada dihadapan Lo." kata Allen yang membuat semua orang disekitarnya menatap heran.
Mika yang menyadari suasana menjadi sedikit tegang langsung menatap Allen dengan senyum teduhnya, ia juga menarik piring tersebut agar lebih dekat padanya.
"Makasih ya kak." ucap Mika yang memasukkan siomay tersebut kedalam mulutnya.
Suasana kembali seperti semula, Jean juga melanjutkan makan siangnya dengan disuapi oleh Law. Yang lain juga melanjutkan untuk menghabiskan makan siangnya, kecuali Allen yang hanya menikmati jus alpukat nya karena sepiring siomaynya ia berikan pada Mika.
° ° °
Axio sedang berkutat dengan laptopnya saat bunyi notifikasi karena sebuah pesan masuk kedalam ponselnya berbunyi, ia langsung melihat isi pesan tersebut.
Rahang Axio mengeras, ia terkejut sekaligus marah saat membaca pesan tersebut.
089891110---
Aku akan memberi salam pada anak kesayanganmu hari ini, selamat menikmati hari-hari sebelum kehancuran keluargamu.
Axio berdiri dari duduknya lalu segera menelepon ayahnya Matias untuk memberitahukan jika bajingan itu mulai bergerak, ia juga berusaha menelpon anak tengah untuk memastikan keadaan mereka di sekolah.
° ° °
"Apa ada yang mencurigakan di sekolah nak.?" suara Axio terdengar khawatir.
"Tidak kok dad, memangnya ada apa?" Brian merasa sedikit bingung karena Axio memang belum memberitahukan anak-anaknya jika musuh masa lalunya kembali untuk menghancurkan keluarganya.
"Apa baby ada bersamamu?" tanya Axio.
"Tidak dad, aku baru keluar dari toilet. Baby sedang bersama yang lain, memangnya ada apa dad?" Brian semakin merasa curiga pada Daddy nya yang tidak langsung menjelaskan masalahnya.
"Nanti Daddy jelaskan dirumah, sekarang kamu jaga baby baik-baik jangan sampai dia sendirian. Beritahu Allen dan Gallen untuk tidak pergi sendirian juga, sedang ada musuh daddy yang mengincar kalian. Daddy akan menjelaskan semuanya saat dirumah, sekarang kamu ikuti saja perintah daddy." kata Axio pada anak tengahnya.
"Ok, aku mengerti. Kalau gitu aku akan kembali pada yang lainnya." ucap Brian yang langsung paham dengan situasi.
"Daddy percayakan baby dan yang lainnya padamu, kalau begitu daddy tutup ya." Axio langsung memutuskan sambungan telepon tersebut tanpa menunggu balasan dari Brian.
Brian berjalan cepat menuju kantin tempat baby dan yang lainnya berkumpul, namun ia langsung panik saat melihat Jean tidak bersama dengan yang lainnya.
"Dimana baby?" tanya Brian yang terlihat panik pada teman dan sepupunya itu.
"Dia bilang mau pergi ke taman di belakang sekolah sama Mika, mau nunjukin bunga yang ditanam baby saat praktek biologi Minggu lalu." kata Vian.
"Kita harus cepat cari baby, daddy bilang ada yang sedang mengincar nyawa baby." ucap Brian yang langsung berlari diikuti Allen dan Gallen.
__ADS_1
Vian yang langsung merasa khawatir juga langsung mengikuti Brian bersama Law dan Kahfi di belakangnya.
Jean berjalan mundur saat mengobrol dengan Mika diperjalanannya menuju taman sekolah, ia menceritakan tentang bagaimana ia menanam bunga matahari bersama teman dikelompoknya. Mika hanya menanggapinya dengan senyuman sambil sesekali melempar pujian pada Jean yang membuatnya semakin terlihat senang.
Namun lagi-lagi sakit kepala ia rasakan, bisikan dari seseorang yang tidak ia ketahui asalnya juga kembali ia dengar.
'waspadalah mika, seseorang sedang berusaha mencelakai Jean dari atas gedung itu'
Mika yang kembali mendengar peringatan itu langsung mengedarkan pandangannya keatas gedung sekolah, ia melihat kesana-kemari membuat Jean menatapnya bingung.
"Bang Mika cari apa, celingak-celinguk kaya gitu?" tanya Jean.
"Nggak ko Je, ayo lanjut jalan." kata Mika yang bersikap seperti biasa.
Saat Jean melanjutkan langkahnya, Mika melihat ada yang aneh dari atap gedung sekolahnya. Ia melihat sebuah pot bunga berada ditepi atap gedung yang di pegang oleh orang berbaju hitam dengan masker dan kacamata hitam menutupi wajahnya.
Mika melihat pot bunga itu dijatuhkan tepat diatas Jean, ia langsung mendorong tubuh Jean hingga bocah tersebut terjatuh bersamanya.
"BABY." teriak Brian dan yang lainnya saat melihat pot bunga jatuh dan hancur didekat baby mereka.
Mereka langsung menghampiri tubuh Jean dan Mika juga masih dalam posisi tiduran di lantai untuk memastikan keadaan mereka berdua.
Jean yang terkejut langsung menatap wajah Mika yang terlihat menahan nafasnya, ia juga melihat pada pot bunga yang hancur tidak jauh darinya.
"Jean gak papa kan?" Mika mengangkat tubuhnya lalu duduk dihadapan Jean yang masih terlihat syok
Jean menggeleng kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca. Ia terlihat sangat ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi.
Brian dan yang lainnya juga datang untuk memastikan keadaannya, Gallen langsung menarik tubuh Jean saat melihat anak itu hendak menangis.
"Abang, Jean takut, hiks,, hiks." tangan Jean pecah dalam pelukan Gallen.
Sedangkan Brian dan Allen berdiri didekat Mika untuk memeriksa keadaannya.
"Lo baik-baik aja ka?" tanya Allen.
"Gw baik-baik aja kak." angguk Mika yang masih duduk.
"Ada yang sengaja jatohin pot bunganya kak, tadi gw sempet liat orang pake baju serba hitam diatas sana." Mika menunjuk posisi tempat pot bunga itu sebelum jatuh.
"Kamu lihat wajahnya?" tanya Brian yang dijawab gelengan oleh Mika.
"Nggak kak, wajah ditutupi masker dan kacamata hitam." lanjut Mika.
"Allen cepat siapkan mobil, kita pulang sekarang. Kamu juga ikut mika, dan kalian tolong cari tahu siapa yang mau mencelakai baby." titah Brian pada Allen, lalu menatap Vian dan kedua temannya.
"Kami mengerti, lebih baik baby dibawa pulang. Kita tidak tahu motif orang tersebut mencelakai baby, jadi lebih aman untuk baby dirumah." kata Vian dan dia angguki oleh Law dan Kahfi.
Allen segera pergi menuju parkiran untuk mengambil mobil, sedangkan Gallen membantu Mika berdiri dan Brian yang menggendong Jean ala koala menuju mobil di pintu keluar parkiran sekolahnya..
Tujuan mereka adalah mansion, bukan hanya untuk meminta penjelasan pada daddy saja. Melainkan mansion adalah tempat yang paling aman untuk mereka dari serangan musuh-musuh orang tua mereka.
__ADS_1
Sedangkan Mika sedari tadi memilih diam, ia masih mencerna kejadian yang baru saja di alaminya. Ia juga terus memikirkan tentang suara yang terus memperingatkannya tentang bahaya yang akan terjadi.