
Malam gelap menyapu jingga, matahari sudah di telan sepenuhnya oleh kegelapan. Saat ini Mika tengah bersiap-siap untuk pergi kepercayaan ulang tahun adik sepupunya, Yuna.
Mika berjalan menuruni tangga, tidak seperti anggota keluarga Lavande yang selalu menggunakan lift Mika by terbiasa menggunakan tangga di mansion tersebut.
"Abang Mika mau pergi sekarang?" tanya Jean yang sedang duduk di pangkuan Abang sulungnya.
Revan dan yang lainnya memang sudah meninggalkan mansion tersebut saat sore hari, itu pun karena suasana yang tidak menyenangkan antara Vian dan Liam membuat Brian akhirnya meminta mereka pulang, lebih tepatnya di usir secara halus.
"Iya, gw pergi kerumah adik sepupu gw dulu ya." ucap Mika berjalan melewati Jean dan keluarganya.
"Gw anter ka." Allen berdiri menghampiri Mika.
Mika yang hendak menolak hanya bisa pasrah, ia hanya tidak ingin semua orang tahu hubungannya dengan keluarga Gio. Walaupun semua anggota keluarga Lavande sudah tahu semua latar belakang Mika, mereka bahkan bisa dengan mudah mencari tahu orang tua kandung Mika jika anak itu menginginkannya.
Selamat di perjalanan, mereka berdu hanya di temani keheningan. Mika yang selalu takut berinteraksi dengan Allen karena sifat dingin dan ketusnya, walaupun akhir-akhir ini ia merasa sikap Allen lebih baik padanya.
"Sampai sini aja bang." ucap Mika.
Allen menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk perumahan elit, ia menatap heran pada Mika.
"Yang mana rumahnya.?" tanya Allen.
"gak masuk kedalam kak, dari sini gw mau jalan aja. Kak Allen bisa langsung pulang, gak usah tungguin gw."ucap Mika yang hendak membuka pintu mobil, namun langsung di kunci oleh Allen.
"Lo tunjukkin rumahnya, gw anter Lo sampai depan rumahnya." kata Allen dengan nada dinginnya.
"Tapi kak.." lirih Mika.
Mika menghentikan perkataannya, ia tidak ingin berdebat dengan Allen atau siapapun. Pada akhirnya ia menuruti perkataan Allen dengan menunjukkan arah jalan menuju rumah nenek angkatnya dulu.
"Di sini?" Allen memberhentikan mobilnya.
"Iya kak, Mika turun dulu ya kak Allen mending langsung pulang aja." ucap Mika, sedikit kesal karena Allen belum membuka kunci pada pintu mobilnya.
"Lo gak mau nyuruh gw turun, kenapa? Takut kalau gw tahu semua tentang keluarga Lo, asal Lo tahu aja Mika kami sudah mengetahui semua tentang Lo, SEMUANYA." ucap Allen penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Mika menghela nafasnya, ia memang tidak bisa berkutik jika berhubungan dengan keluarga Lavande. Mika memilih pasrah, toh tidak buruk juga mengajak Allen masuk kedalam rumah yang pernah hampir 10 tahun ia tinggali.
"Ya udah, kak Allen boleh ikut. Tapi kalau ada apa-apa sama gw jangan ikut campur ya kak." kata Mika yang di angguki oleh Allen.
__ADS_1
Allen membuka kunci otomatis di pintu mobilnya, kemudian Mika bersama Allen turun dari mobil tersebut. Mika berjalan lebih dahulu, menekan bel yang ada di pintu gerbang. Sedangkan Allen menatap rumah yang tidak terlalu besar itu, mungkin apartemen pribadinya 2kali lebih besar.
Tidak lama kemudian seorang perempuan berusia sekitar 40 tahunan keluar dari pintu rumah, ia tersenyum saat melihat Mika yang berdiri di depan pintu gerbang.
"Kamu sudah datang nak, ayok masuk. Luna sudah menunggu kamu, dia pasti senang karena kali ini kamu datang." ujar Fatma, saat wanita itu membukakan gerbang.
"Kamu datang sama siapa nak?" Fatma menatap Allen yang tersenyum kaku.
"Oh, dia kakak kelas Deo tante." ucap Mika yang memanggilnya namanya sendiri Deo, karena itu adalah panggilannya dulu saat nenek Renata masih hidup.
Mika dan Allen masuk kedalam rumah sederhana namun terlihat sangat elegan itu, Mika menatap sekeliling rumah yang sudah ditinggalkannya selama lebih dari 4 tahun itu. Tidak ada yang berubah, baik bangunan maupun isinya walaupun sekarang hanya ada foto keluarga Wiratama saja yang di pajang dan satu foto Renata Aileen.
Sepertinya Wira sudah membuang semua benda yang berhubungan dengan dia, tak ingin terlalu lama hanyut dalam rasa kecewanya Mika melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga yang sudah di desain dengan pernak-pernik khas ulang tahun.
"Kak Deo akhirnya datang juga." pekik seorang gadis berusia sekitar 11 tahun sambil membawa kursi rodanya mendekati Mika.
Mika yang melihat Yuna yang hendak menghampirinya langsung bergegas, Mika memeluk tubuh kecil gadis itu. Sedangkan Allen hanya memperhatikan interaksi Mika bersama adik sepupunya.
Allen tidak melihat tamu undangan lain, sepertinya ulang tahun tersebut dirayakan secara sederhana.
Mika mendorong kursi roda Yuna, mendekati meja yang sudah ada kue ulang tahun dan makanan lainnya.
Mika menghela nafasnya, ia kembali tersenyum tatkala Yuna menatap wajahnya.
"Oh ya ini hadiah dari kakak, semoga kamu sudah ya dek." Mika menyerahkan sebuah kotak dan diterima dengan senyuman oleh Yuna.
"Gimana kalau kita langsung mulai saja acaranya?" ujar Fatma.
Pesta ulang tahunpun berjalan dengan lancar, walaupun dengan suasana canggung diantara mereka. Allen melihat Mika sedang di suapi oleh Yuna, ia melihat tatapan tidak suka terpampang jelas di wajah Gio.
"Nak Allen jangan sungkan ya, silahkan makan semuanya. Deo jarang sekali pulang kerumah ini, mungkin karena sikap suami tante yang dengan tega mengusirnya dulu. Padahal Deo itu anak yang sangat baik, Yuna bahkan sangat dekat dengannya." tutur Fatma sambil memandang kearah Mika dan Yuna.
Wira terlihat mendekati tubuh Mika, ia mengucapkan sesuatu. Wira berlalu dengan Mika yang mengikutinya dari belakang, Allen yang merasa khawatir hendak mengikuti namun di halangi oleh Gio.
"Lo di sini aja, ayah gw mau ngomong sesuatu sama Mika jadi mending lo gak usah ikut campur. Gw tahu sekarang Mika tinggal sama kalian, gw kasih tahu aja Mika gak sebaik yang kalian lihat. Dia punya sisi tersembunyi yang mungkin akan membuat kalian berpikir dua kali untuk menampungnya." ujar Gio yang kemudian berlalu menuju lantai 2 rumahnya.
Allen terdiam setelah mendengar perkataan dari Gio, jika sisi tersembunyi Mika adalah Xaniel mereka sudah mengetahuinya. Tapi jika hal lain, apakah sesuatu lebih berbahaya dari Xaniel.
Tidak lama kemudian Mika kembali keruang keluarga, wajahnya terlihat murung namun masih di sembunyikan dengan baik oleh senyumannya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu hampir 1 jam, Mika memutuskan untuk pulang. Ia pamit pada Yuna, memeluk tubuh gadis tuna daksa itu dengan erat. Sepertinya seorang kakak yang akan ditinggikan oleh adik perempuannya.
° ° °
Mika mengunci pintu kamarnya saat sampai di mansion, tubuhnya merosot. Ia menekuk lututnya, membenamkan kepalanya karena air mata yang di tahannya hampir satu jam itu akhirnya luruh.
Mika menangis dalam diam, mungkin ini adalah reaksi dari tubuhnya. Mengingat Mika yang asli memang tidak pernah menjalani hidupnya dengan bahagia setelah kematian neneknya. Namun kenapa rasanya begitu menyesakkan, bahkan lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan sebagai Anzel.
Flashback
Mika mengikuti langkah Wira menuju teras belakang rumahnya, di atas meja yang ada di teras tersebut ada sebuah amplop coklat yang tidak terlalu besar.
"Ambil dan bukalah." titah Wira, ia berdiri membelakangi Mika.
Mika mengambil amplop tersebut, membuka dan membacanya dengan seksama setiap kata yang tertulis di kertas putih tersebut.
Mika menatap punggung Wira, seakan tidak percaya dengan isi surat tersebut.
"Aku sudah mencoret namamu dalam daftar anggota keluarga Aileen, kamu bukan lagi cuci ibuku. Mulai sekarang namamu hanya Mikadeo, bulan lagi Mikadeo Aileen. Dan satu lagi, lusa aku dan keluargaku akan pergi ke luar negeri untuk menetap di sana. Kamu seharusnya sudah tahu, jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu dalam keluargaku. Apalagi setelah kematian ibuku, aku bisa dengan mudah menyingkirkan keberadaanmu." ucap Wira tanpa menoleh kearah Mika yang sedang menahan air matanya.
Flashback end
Anzel/Mika tidak menyangka pamannya akan benar-benar menghapus keberadaannya dalam keluarga Aileen, keluarga yang sudah menjadi bagian dalam hidup tubuhnya sekarang
Rasa sesak memenuhi dadanya saat ia mengingatkan kembali kenangan bahagia Mika bersama sang nenek, Renata Aileen yang tertinggal dalam memorinya.. Meskipun Mika hanyalah cucu angkat, Renata tidak pernah membedakan kasih sayang yang ia berikan dengan cucu kandunnya. Begitupun dengan Yuna dan Fatma, mereka juga selalu bersikap baik kepada Mika walaupun Wira membencinya secara terang-terangan.
"Padahal gw bukanlah Mika yang asli, tapi kenapa rasanya sesakit ini." Mika menekan dada kirinya, sedangkan air matanya terus mengalir.
"Kenapa kau jadi lemah seperti ini Anzel, tegakkan kepalamu dan hadapi saja kenyataan yang terjadi pada tubuhmu sekarang. Bukankah kau sendiri yang berkata akan memperbaiki hidupmu dan tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuatmu menyesalinya kembali."
Suara Xaniel kembali terdengar di kepala Mika, ia mendongakkan kepalanya. Menghapus air mata di kedua pipinya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Seperti itu lebih baik, karena saya menyukai dirimu yang kuat itu Anzel."
"Berhenti mengatakan isi pikiran Lo itu Xaniel, meskipun gw berterimakasih karena Lo udah menyadarkan diri gw." ucap Mika.
Ia membawa tubuhnya menuju kamar mandi, mencuci wajahnya untuk menghapus jejak kesedihannya.
Mika memang harus melupakan semua kenangan menyakitkan yang di alami tubuhnya saat ini, memutus ikatan masa lalunya dan hidup untuk masa depannya yang baru.
__ADS_1