
Saat kepulangan Mika akhirnya tiba, ia sedang membereskan pakaian dan perlengkapan lainnya di bantu oleh Carolina bersama si kembar Allen dan Gallen.
Kenapa bukan Jean yang menjemput, bocah itu beralasan sedang ada pelajaran tambahan padahal sebenarnya Jean beserta anggota keluarga Lavande yang lain tengah mempersiapkan pesta kejutan untuk kepulangan Mika dari rumah sakit.
Mika hanya diam saat berada didalam mobil yang sedang di kendarai oleh Allen, didepan dan di belakang mobil Allen juga ada mobil hitam yang mengawal mereka.
Lina melihat Mika yang menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, tatapan kosongnya tertuju pada jalanan.
"Mika lagi mikirin apa?" Lina mengelus rambut Mika, membuat pemuda itu terkejut lalu melihat kearahnya.
"Ah gak kok tante, cuma agak kepikiran sama kontrakan Mika aja. Udah lama gak pulang, takutnya ada maling masuk atau jadi sarang tikus." kata Mika lembut, tapi perkataannya tidak semuanya benar karena ia sebenarnya juga memikirkan Dean.
"Nanti boleh gak, Mika pulang dulu ke sana?" lanjut Mika.
Allen dan Gallen yang duduk di kursi depan melirik dari kaca spion sambil mencuri dengar, sedangkan Lina terlihat diam seperti sedang berpikir.
"Nanti tanya yang lain dulu ya?" ujar Lina, yang ia maksud adalah keluarga Lavande.
Bagaimanapun juga, mereka sudah menganggap Mika sebagai anggota keluarga mereka. Mungkin diantara semua anggota keluarga Lavande, Lina dan Allen lah yang sangat peduli padanya. Lina bahkan berharap Mika itu menjadi anak bungsunya, walaupun kenyataannya jiwa yang ada di tubuh Mika sebenarnya adalah anaknya yang di culik 17 tahun yang lalu.
Hingga akhirnya mereka sampai di pintu gerbang mansion, Allen segera memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu utama mansion tersebut.
Mika menginjakan kaki kedalam mansion yang hampir satu minggu ia tinggalkan, namun bangunan megah tersebut terasa begitu sepi bagi Mika. Mungkin karena anggota keluarga konglomerat tersebut masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Mika terlihat menarik nafas dalam-dalam, menghirup aroma Pinus yang cukup ia rindukan selama satu Minggu lebih, walaupun ia lebih merindukan ruangan kecil dikontrakkannya.
"Sepi banget." gumam Mika yang masih bisa di dengar oleh Allen yang berjalan didepannya.
Allen sedikit menarik sudut bibirnya, ia tersenyum. Rencana keluarganya mungkin akan berhasil. Dimana Gallen dan Lina, mereka masih di luar mansion untuk mengarahkan para maid agar membawa barang bawaan mereka dari rumah sakit.
"KEJUTAN...." teriak semuanya berbarengan saat Mika memasuki ruangan keluarga.
Mika memegang dadanya karena terkejut, lalu tersenyum dengan air mata yang lolos begitu saja dari kedua matanya.
Ia merasa sangat terharu sekaligus bahagia karena di perlakukan begitu istimewa oleh keluarga yang dulu ingin ia hindari, memperoleh kasih sayang yang tulus tanpa merebutnya dari orang lain.
Jean maju, memeluk Mika dengan erat. Refleks, Mika membalas pelukan dari bocah yang selalu ia anggap merepotkan. Kini ia bahkan menenggelamkan wajahnya di leher Jean yang di balas elusan lembut darinya.
Sementara yang lain hanya menatap haru pada dua bocah yang masih saling berpelukan, seperti teletabis.
"Semua ini buat abang, idenya dari Jean terus mommy daddy dan yang lainnya juga bantu." ucap Jean ditelinga Mika sambil menunjuk kue bertuliskan selamat datang dan makanan lainnya.
"Makasih ya Je." Mika melepas pelukannya, terlihat senyuman diwajahnya walaupun kedua pipinya berurai air mata.
"Jangan sakit lagi ya nak, kita semua jadi khawatir sama kamu. Mulai sekarang kamu harus bisa menjaga kesehatan, kasihan Jean yang terus menangis saat kamu sakit kemarin." Diana menghampiri Mika, memegang salah satu pundaknya.
__ADS_1
"Iya tante, terimakasih. Mika janji bakal jaga kesehatan, janji juga gak akan buat Jean nangis lagi." kata Mika sambil menatap wajah Jean yang dihiasi senyum.
"Bukan tante bang, tapi mommy. Mulai sekarang abang harus panggil mommy Jean mommy juga terus daddy, mama, papa, opa, oma dan abang sama mereka." ucap Jean sambil menunjuk anggota keluarganya satu persatu.
"Gak sopan Je, gw kan bukan anggota keluarga Lo." kata Mika pelan.
"Tidak apa-apa nak, panggil kami seperti cucu-cucu oma lainnya. Kami semua tidak keberatan, apa lagi pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa baby kami." kata Desi, Omanya Jean.
Lina yang mendengar ucapan ibunya saat sampai di ruang keluarga tersenyum simpul sambil menatap punggung Mika, sementara Mika merasa sedikit canggung.
"Udah ah ngobrolnya, sekarang mending kita makan. Mommy sama Oma udah buat banyak masakan enak loh bang, kita makan sekarang yuk." Jean menarik tubuh Mika yang hanya menurut.
Mereka semua tersenyum saat melihat tingkah baby Jean, lalu berjalan mengikuti bungsu Lavande itu menuju ruang makan.
° ° °
Lusanya, Mika sudah kembali kesekolah setelah hampir dua Minggu absen. Cukup banyak pelajaran yang ia tinggalkan, membuatnya harus belajar ekstrak untuk menyusul ketertinggalannya.
Setelah menghabiskan separuh jam istirahat bersama Jean dan abang-abangnya, Mika pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku.
Ia menyalin materi setelah meminjam dari teman sebelahnya, Mika yang sedang serius mencatat harus terganggu dengan sebuah tangan yang berada diatas pundak kiri.
Mika sedikit menoleh kesebelah kiri tubuhnya, ia menatap malas pemuda yang masih meletakkan tangan di pundaknya.
"Ada perlu apa?" tanya Mika sopan, walaupun ia sebenarnya malas berbicara dengan pemuda tersebut.
"Ikut gw." lanjut Gio yang berjalan meninggalkan meja Mika.
Mika meletakkan pulpennya, lalu berjalan mengikuti langkah Gio. Tidak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka, Mika berjalan mengikuti Gio seperti anak bebek yang mengikuti induknya.
Hingga akhirnya mereka sampai disamping tangga, Gio menghentikan langkahnya. Ia terlihat menengok kekanan dan kekiri, Gio hanya takut ada siswa yang mengenalnya melihat ia berbicara dengan Mika.
Mika menatap jengah pada Gio, yang terlihat waspada." Lo mau ngomong apa, cepetan geh bentar lagi mau masuk soalnya dan gw belum selesai nyalin materi pelajaran tadi.?"
"Sabar, nih dari Yuna." Gio menyerahkan sebuah kertas berwarna yang bertuliskan 'infitation' pada Mika yang kemudian di terimanya.
Mika melihat kertas tersebut, terlihat ia menarik kedua sudut bibirnya.
"Yuna pengen Lo dateng di acara ulang tahunnya, walaupun gw sebenernya ogah ada Lo disana tapi mau bagaimana lagi Yuna ngancem bakal ngambek kalau kita gak ngundang Lo." jelas Gio.
"Gw pasti dateng kok, tolong bilangin sama Yuna ya." kata Mika yang terlihat sangat antusias.
Karena Mika memang sudah menganggap Yuna sebagai adi perempuannya sendiri dan lagi hanya Yuna lah yang masih memperlakukannya dengan baik semenjak kematian nenek angkatnya.
"Iya nanti gw sampein, gw duluan kekelas. Kelamaan takut sama lo nanti gw di jauhin sama murid-murid lain." kata Gio sambil meninggalkan Mika.
__ADS_1
"Lo kira gw virus covid gitu." Mika mendengus kesal pada perkataan Gio.
Mika menatap kembali undangan tersebut, ia tersenyum bahagia. Mika mang sangat merindukan Yuna, tapi sayangnya Paman Wira tidak pernah mengijinkan anak tersebut bertemu dengan putrinya yang juga adik bungsu Gio.
Mika berjalan kembali kekelas sambil tersenyum tersenyum menatap undangan yang di berikan oleh Gio, Mika masuk kedalam kelasnya setelah menyimpan undangan tersebut di saku kemejanya.
Hingga bel tanda sekolah berakhir berbunyi, membuat gerombolan siswa siswi yang segera meninggalkan kelas mereka.
Mika keluar dari kelas setelah hampir semua murid di kelasnya sudah pulang, ia hanya tidak suka berdesak-desakan dan memilih pulang dengan santainya.
"Lama." ketus Allen saat Mika sampai didekat mobil Allen yang masih berada diarea parkir sekolahnya.
"Maaf kak, gw gak mau desak-desakan makanya nungguin kelas sepi." kata Mika sambil menundukkan kepalanya.
"Cepat masuk Ka, baby dan yang lainnya sudah pulang duluan." Gallen dengan lembut berkata untuk menenangkan suasana tegang yang kakak kembarnya ciptakan.
"Iya kak."
Mika masuk kedalam mobil Allen, seperti biasanya ia duduk di kursi belakang sedangkan Allen dan Gallen di kursi depan.
Tidak ada obrolan diantara mereka bertiga, Allen sedang serius menyetir, Gallen sibuk dengan ponselnya membuat Mika bosan. Jika bersama Jean, walaupun sering terganggu dengan celotehannya paling tidak suasana menjadi lebih ramai tidak sepi seperti sekarang.
"Maaf kak, boleh mampir ke toko pernak pernik gak sebentar aja." ucap Mika sedikit ragu dan gugup juga.
"Tidak, kita langsung kembali ke mansion." Allen berkata dingin seperti biasanya.
"Ck abang, jangan langsung gak bolehin atuh. Emangnya Mika mau ngapain ke toko pernak pernik.?" Gallen menoleh kebelakang, melihat Mika yang sudah bermuka masam karena ucapan kakak kembarnya.
"Mau beli kado untuk ulang tahun." kata Mika dengan tampang memelas.
"Kado buat siapa? Pacar kamu ya?" tanya Gallen antusias.
"Bukan pacar kok kak, tapi adik gw." jawab Mika yang diangguki oleh Gallen.
"Ya udah kita mampir, tapi hanya sebentar." final Allen setelah mendapatkan tatapan memelas dan Mika dan juga Gallen.
° ° °
"Makasih ya kak, udah bantuin gw milihin kado buat Yuna." kata Mika saat turun dari mobil Allen.
"Iya sama-sama, abang Gallen juga seneng semoga adik Lo seneng sama hadiahnya ya." Gallen mengusak rambut Mika, ia tidak menolak sentuhannya seperti dulu.
Sedangkan Allen menatap iri pada adik kembarnya itu, namun karena rasa gengsinya membuat ia enggan bersikap manis pada Mika.
"Mika masuk dulu ya kak, kak Allen juga makasih ya udah mau anterin gw." Mika tersenyum pada Allen lalu masuk kedalam mansion meninggalkan Allen yang tersenyum kecil pada sosok yang sudah menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Cie,, yang di senyumin sama Mika." ledek Gallen yang langsung berlari saat mendapat tatapan tajam dari kakak kembarnya itu.