
“Jadi, bisa kau jelaskan semuanya ??”
Michella terbungkam, dirinya benar-benar mendapatkan pertanyaan dari Diavolo saat malamnya. Setelah Michella menemani kedua anaknya tertidur, Diavolo mengajak Michella ke dalam kamar. Dan mulai duduk santai di sofa, sembari memandang ke arah Michella. Sementara Michella duduk di tempat tidur, wanita itu tampak gelisah, dan mengigit bibirnya dengan penuh ragu, tetapi dirinya mencoba untuk menceritakan segalanya.
“Jadi... Selama ini.. Ermm.. Beberapa anak donatur di sekolah.. Mereka merasa iri dengan kecerdasan Cathina dan Catholo, hal seperti ini sering terjadi.” Ujar Michella menjelaskan dengan singkat.
“Huft.. Tapi kenapa kau tidak berbicara kepadaku, aku bisa mengatasi mereka.” Ujar Diavolo dengan sedikit kesal, dan kecewa, karena Michella masih belum terbuka kepadanya dan masih menutupi beberapa hal darinya. Padahal lelaki itu ingin, Michella terbuka dan Diavolo akan membantunya.
“A..Aku berfikir bisa mengatasinya, sendiri..”
Diavolo menggelengkan kepalanya, dia bangkit dari sofanya, dan kemudian duduk di depan Michella, di bawah lantai. Memegang tangan Michella yang berada di paha wanita itu, sembari memandang dengan tatapan berbinar, sedikit merasa sedih dan khawatir.
“Michella... Aku datang bukan hanya sebagai kekasih, tetapi sebagai calon suami dan ayah dari anak-anak kita.” Ujar Diavolo, memandang dengan tatapan serius, dan nada bicaranya terdengar sangat terluka, karena melihat Michella masih menyembunyikan beberapa hal darinya. Michella sendiri, memandang dengan sendu ke arah mata indah milik Diavolo.
“Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi, dariku..” Ujar Diavolo dengan nada sedih, membuat Michella mengangguk secara perlahan, seakan dirinya terhipnotis oleh tatapan penuh sihir dari Diavolo.
“Maaf..”
Diavolo mengangguk, dia kemudian bangkit dari posisinya, dan duduk di sebelah Michella.
“Untuk sedikit menenangkan diri, bagaimana jika segelas Wine ??” Ujar Diavolo menawarkan Mommy nya, sekalian menenangkan diri, sekaligus meminum minuman beralkohol untuk menghangatkan tubuh mereka, di malam hari yang cukup dingin.
__ADS_1
“Tidak.” Michella langsung menggelengkan kepalanya, menolak tawaran yang diajukan oleh Diavolo.
“Kenapa ??” Diavolo sedikit bingung, karena tidak biasanya Mommy nya, menolak minuman beralkohol entah itu beer, wine atau whiskey sekalipun, tapi kenapa Mommy nya menolak untuk kali ini ?? batin Diavolo.
“Kau mau, anak-anak kita meninggal di dalam kandungan ?! Saat aku hamil muda dulu, aku sangat berhati-hati dalam menjaga makanan dan minuman.” Ujar Michella memukul Diavolo dengan guling, karena kesal. Kenapa lelaki itu malah menawarinya minuman beralkohol saat dirinya sedang hamil. Seakan diingatkan oleh Michella, Diavolo langsung tersenyum senang, membelai perut kekasihnya yang masih rata.
“Aku lupa, jika kita memiliki anak lain, di dalam perutmu.” Ujarnya mengusap dengan lembut.
“Kalau begitu, besok aku akan siapkan makanan sehat dan bergizi, untuk calon istrimu dan juga anak-anak kita.”
“Anak-anak yang mana ??”
“Semuanya, yang sudah besar, dan yang masih di dalam kandungan. Apa kau sudah lupa sayang ?? Haruskah aku menambah lagi, anak di dalam perutmu ??”
“Hey !! Dasar mesum !! Jangan berbicara seperti itu !!”
Diavolo terkekeh pelan, dan menyeringai licik, “Ayolah, mumpung masih hamil muda. Aku masih bisa memanjakanmu, saat hamil besar, aku bahkan tidak bisa mencumbumu.”
“Kenapa kau selalu berfikir mesum saat bersama denganku ?!”
“Karena aku sangat menyayangimu, sayang. Aku tidak pernah mesum kepada siapapun, kecuali dirimu.”
__ADS_1
“Jika kau mesum dengan wanita lain, maka aku akan membunuh wanita itu, dan kau !!”
Diavolo terkekeh, “Mommy sangat mengerikan, ketika sedang cemburu~ sangat lucu, sayang~”
Diavolo membelai lembut pipi Michella, sementara wanita itu masih memberikan reaksi kesalnya, tetapi itu justru membuat Diavolo semakin merasa gemas, dan membelai rambut indahnya itu. Diavolo tidak bosan-bosannya melihat wajah cantik nan indah itu, di hadapannya rasanya dia ingin sekali terus bersama dengan wanita pujaan hatinya itu.
“Berhentilah... Membelai wajah dan rambutku..”
“Mommy, wajahmu benar-benar imut menggemaskan, bagaimana mungkin aku berhenti memandang dan menyentuhnya.”
Michella mengalihkan pandangannya merasa malu, Diavolo menggunakan kesempatan emas itu untuk mengecup leher dan menghirup aroma harum dari tubuh Michella. Merasakan sentuhan di bagian paling sensitifnya, membuat Michella melirik.
“D...diavolo..”
“Mommy.. Just once.. Please..”
“ehm~... Just.. Be more gentle..”
Diavolo sedikit mendorong Michella hingga berbaring di atas kasur, Diavolo berada di atas tubuh Michella, tetapi tidak benar-benar menindihnya. Tangannya bergerak untuk melepaskan pakaian milik Michella, matanya terus mengamati wajah indah dan tubuh indah seksi itu.
Michella tidak memperlihat banyak ekspresi, tapi terlihat tatapan sayu, dan pasrah di sana. Memerah malu, saat kancing baju sudah terbuka, tubuh itu terpampang jelas di depan mata Diavolo, hanya pakaian dalam saja yang menutupi alat privasinya. Diavolo menyeringai, dia sangat menyukai pemandangan indah di depannya.
__ADS_1