
Addy membuka matanya, dan terkejut mendapati anak buah Haydan tergeletak di atas tanah dengan penuh darah. Pintu ruangam terbuka dengan kasar, beberapa lelaki dengan seragam berbeda kemudian mendekati mereka, melepaskan ikatan di tangan dan kaki, serta di mulut mereka.
“Kalian baik-baik saja ??”
Addy mengangguk dengan sedikit kaku, bukankah di depannya adalah anak buah yang terkenal dari sosok raja mafia yang identitasnya di sembunyikan, kenapa mereka ada di sana, dan menyelamatkan mereka ?? Addy mengenal para lelaki di depannya, banyak yang mengatakan mereka adalah prajurit yang bekerja di dunia gelap, dan di bawah kekuasaan sosok raja mafia. Mereka terkenal cerdik, dan berbahaya, ditambah atasan mereka juga sangat cerdik dan berbahaya.
“Tuan Diavolo, mengatakan untuk membawa kalian keluar, ke tempat yang lebih baik.”
“Ba..baiklah..”
“Apakah bayinya baik-baik saja ??” salah seorang lelaki di depan Addy bertanya kepada rekannya, yang memeriksa keadaan dan kondisi kedua bayi kembar itu.
“Jangan khawatir, mereka aman. Hanya saja mereka menangis.” Ujarnya dengan sedikit sedih di nada terakhirnya, mungkinkah bayi itu mengerti dirinya sedang dalam keadaan yang begitu berbahaya, hingga mereka menangis ??
“Biarkan aku yang membawa mereka, bisa kalian membantu kedua adikku ??”
“Tentu saja, ayo ikuti kami. Sudah ada ambulan yang disediakan untuk menyelamatkan kalian.” Ujar salah satu lelaki dengan ramah, mengajak Cathina dan Catholo yang sudah terbebas.
...
Disisi lain, Diavolo sendiri yang berjalan dengan diikuti begitu banyak anak buah, berjalan dengan gagah berani, tidak ada satupun tembakan dari anak buah Haydan yang berhasil mengenai Diavolo, sebaliknya. Beberapa anak buah Diavolo berhasil menembak dan membunuh anak buah Haydan.
Tentu saja, prajurit pilihan Diavolo memang bukan prajurit kaleng-kaleng. Mereka sudah terlatih dan lihai dalam pertarungan, karena itu tidak banyak orang yang berani mencari masalah dengan sang raja mafia. Diavolo melirik beberapa anak buah Haydan berlari, dan mencoba melindungi diri, Diavolo menyeringai licik.
__ADS_1
Para pecundang itu, bahkan tidak berhasil membunuhku. Batin Diavolo, meremehkan anak buah musuhnya yang begitu pecundang dan lemah. Pecundang begini, begitu sok jagoan menculik ratu kesayangan sang raja mafia ?!
Salah satu anak buah, Haydan kemudian berhasil melarikan diri ke lantai atas guna untuk memberitahu kepada tuannya, betapa gencarnya keadaan di bawah, karena tiba-tiba saja pasukan dari sang raja mafia menyerang dan mengepung mereka. Kemarahan Diavolo tidak main-main, bahkan di luar rumah sudah di kelilingi anak buah Diavolo yang berjaga untuk membunuh anak buah Haydan yang mencoba melarikan diri.
Inilah kemarahan sejati sang raja mafia, tidak peduli apapun, musuh tetaplah musuh !!
Sampai di ruangan atas, lelaki itu mendobrak kamar milik atasannya, dan membukanya tanpa mengetuk ataupun memberitahu, tapi lelaki itu tidak berani masuk hanya membuka pintu dan melangkah masuk dua langkah saja dari depan.
“Tuan, gawat.. Di bawah-”
Dor !!
Belum sempat berbicara, tiba-tiba saja lelaki itu di tembak lalu mati di tempat. Saat tubuh lelaki itu terjatuh ke bawah, muncullah Diavolo dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan, apalagi melihat Haydan di atas Michella dengan pakaian Michella terbuka tiga kancing di sana.
“Kau !!” Merasa geram, Diavolo berlari ke arah Haydan dan menyerangnya. Haydan mungkin cukup mampu menyadari adanya Diavolo, tapi kebrutalan lelaki itu membuat Haydan menjauh dari Michella dan terlibat pertarungan fisik dengan Diavolo.
“Maaf Nyonya.. Biar saya bukakan.” Lalu Raxt membuka ikatan di kedua pergelangan tangan Michella dan kedua kakinya.
“Bagaimana dengan anak-anakku ??” Ujar Michella dengan sedikit panik, saat Raxt mencoba membukakan ikatan itu.
“Tenang saja, Nyonya... Mereka sudah aman bersama kami.. Nah ikatan anda sudah terbuka.” Ujar Raxt berhasil melepaskan semua ikatan tali di tangan dan kaki Michella.
“Terima kasih.”
__ADS_1
Raxt kemudian memalingkan wajahnya sejenak, membuat Michella penuh tanda tanya. Apakah mungkin, karena Michella mengatakan sembari tersenyum, Raxt memalingkan wajahnya sebagai rasa penghormatan ??
“Maaf, Nyonya.. Bisa anda perbaiki dulu, kancing baju anda. Tuan Diavolo bisa membunuh saya di tempat, jika melihat pakaian anda seperti itu.” Ujar Raxt dengan sopan, dan itu membuat Michella tersadar jika kancing bajunya terlepas karena ulah Haydan yang berusaha untuk memp*rk*s*nya.
Setelah memperbaiki pakaiannya, barulah Raxt menoleh kembali ke arahnya. Rupanya Raxt tidak mau melihat tubuh Michella yang terekspos di sana, benar-benar sangat menghargai perempuan.. Ataukah dirinya takut karena Diavolo ?? Itu tidak penting, yang terpenting Raxt berlaku sopan kepadanya.
“Nyonya... Apakah anda bisa berdiri dan berjalan ?? Tuan Diavolo meminta saya, agar menemani anda keluar.”
“Err.. Sepertinya kakiku terlalu sakit untuk berjalan.” Michella tidak mengada-ngada, bagian kakinya memang terasa sangat sakit, apalagi Haydan mengikatnya dengan kuat.
“Baik, tunggu sebentar...” Raxt memotong ucapannya, kemudian memandang ke arah tuannya yang masih bertarung, Michella memandang bingung melihat tingkah Raxt, hingga lelaki itu membuka suaranya.
“Tuan Diavolo, aku ijin menggendong Nyonya Michella keluar dari bangunan.”
Michella menggelengkan kepalanya, bahkan di saat seperti ini Raxt harus meminta ijin kepada Diavolo ?! Ada-ada saja, tidak mungkin Diavolo akan menjawab-
“Menggendong boleh, menyentuh tidak boleh !” Ujar Diavolo membalas dengan singkat.
Michella membuka mulutnya, sejak kapan calon suaminya belajar menjawab pertanyaan sembari bertarung ?? Bagaimana fokusnya bisa terbagi menjadi dua ?! Sementara Raxt berfikir, bagaimana caranya menggendong Nyonya Michella tanpa menyentuhnya ?? errr..
“Nyonya.. Bagaimana saya bisa menggendong anda, jika Tuan Diavolo mengatakan untuk tidak menyentuh anda ??” Ujar Raxt bertanya bak anak kecil yang masih tidak mengerti. Michella memukul keningnya sendiri, ini juga salah Diavolo, mana ada menggendong tanpa menyentuh ?! Memang Raxt penyihir yang bisa membawa orang tanpa menyentuh ?!
“Gendong saja seperti biasa, aku tidak akan mengatakan apapun kepada Diavolo.” Ujar Michella tidak mau mengambil pusing perkataan Diavolo.
__ADS_1
Raxt akhirnya mengangguk, dia menggendong Michella keluar dari ruangan itu. Sementara Michella sendiri sempat melihat ke arah keduanya bertarung, terlihat Diavolo dan Haydan bertarung dengan tubuh penuh darah, keduanya seakan tidak mau mengalah demi Michella. Membuat pikiran di kepala Michella, apakah saat Diavolo bertarung dengan Riel atau Fael ?? Apakah Diavolo juga berdarah seperti mereka ?!
Terlalu fokus pada pikirannya sendiri, Michella tidak menyadari melewati tempat rumah milik Haydan yang kini penuh dengan mayat anak buah Haydan yang bergeletak meninggal di tempat dengan penuh genangan darah. Dan ada beberapa api yang mulai membakar sisi rumah dari luar, mungkinkah Diavolo memberikan perintah untuk membakar rumah itu, setelah Michella dan anak-anak keluar dari rumah ?? Atau mungkin Diavolo berfikir ingin memanggang Haydan secara hidup-hidup sebagai bentuk kemarahannya ?!