
Diavolo meminum minumannya, dan Michella menatap ke arah kekasihnya yang sudah terlihat cukup baik dan lebih tenang untuk saat ini. Lelaki itu menikmati minuman itu hingga habis, lalu memandang ke arah Michella yang menatapnya dengan penuh rasa kasihan. Michella mendekati Diavolo dan membelai pipi kekasihnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi ?? Kenapa kau terluka parah ??” Ujar Michella sepertinya rasa khawatir dan bingung, serta penasaran menjadi satu. Dirinya tidak tahu, kenapa dan bagaimana kekasihnya itu terluka cukup parah di sana ??
Diavolo berdiam sejenak, kemudian menghela nafasnya, “Aku.. Aku bertarung dengan... Mantan kekasihmu.” Ujar Diavolo sedikit sinis, menyebutkan Riel sebagai mantan kekasih Michella. Wanita itu terkejut dengan perkataan dari Diavolo.
“Kau..kau bertarung dengan Riel ??”
“Huft.. Aku takut, dia akan menyakitimu Mommy...” Celetuk Diavolo dengan tatapan penuh sendu, dan kekhawatiran. Diavolo khawatir jika Michella jatuh ke tangan lelaki lain, yang mungkin hanya memanfaatkan wajah dan tubuh Michella saja.
“Tapi kau terluka sangat parah..” Ujar Michella dengan tidak tega melihat kekasihnya, bertarung demi dirinya hingga terluka sebegitu parahnya, dan bahkan Michella melihat bekas luka itu.
“It’s okay.. Seorang raja akan bertarung demi ratunya, bukan ?? Aku akan bertarung untuk melindungimu..” Diavolo mengelap air mata Michella yang hampir keluar, dan nada bicaranya tampak sangat tenang, seakan tidak ingin membuat Michella semakin mengkhawatirkan dirinya.
Diavolo membelai rambut Michella dengan lembut, seketika lelaki itu mendekati wajah Michella dan mencium bibirnya, awalnya wanita itu terkejut tapi kemudian dia mulai menikmati ciuman itu. Diavolo memberikan ciuman agar wanita itu sedikit lebih tenang, ciuman itu hanya berlangsung 5 menit, dan itupun adalah ciuman lembut nan menenangkan. Setelah itu, Diavolo melepaskan ciuman itu, dan menghapus air saliva di bibir Michella dengan ibu jarinya, sembari berbicara dengan lembut.
“Bagaimana.. Jika kita ke kamar ?? Hmm ?? Aku ingin beristirahat, setelah pertarungan tadi.”
Michella mengangguk, “Aku akan membantumu.”
...
__ADS_1
“Pelan-pelan.”
Michella benar-benar memperlakukan Diavolo dengan lembut, dirinya takut jika luka yang ditutup dengan perban masih belum sembuh dengan total. Diavolo dalam hatinya terkekeh geli melihat perilaku Michella yang begitu perhatian kepadanya, lihat saja pasti selama 2 hari ke depan, Michella akan terus memperhatikan dan memperlakukan Diavolo bak pasien kecelakaan parah.
“Jangan khawatir, sayang. Lagipula perban ini cukup kuat untuk menutup lukaku. Kau tidak perlu khawatir.” Ujar Diavolo dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Tetap saja, aku akan mengganti perbanmu, besok. Atau tidak, kau akan terkena infeksi, haruskah aku memanggil teman dokterku ??”
“Err.. Bukankah temanmu, adalah dokter kandungan ??”
“Bukan, Bella. Aku ada kenalan dokter lainnya, dia laki-laki.”
Diavolo mengangkat alisnya, “Kau.. Kenal dokter laki-laki ??”
Michella menghela nafas, “Berhentilah cemburu dan bersifat posesif, dokter itu adalah tunangan dari Bella.”
Diavolo mengangguk, tetapi dirinya tidak akan merasa malu dengan perlakuan posesif dan cemburuannya, kepada Michella. Biarpun itu teman, tapi Diavolo harus selektif dan bila perlu, dia memata-matai dan menginvestigasi siapa teman lelaki dari Michella itu. Katakanlah, Diavolo berlebihan karena dirinya memang takut kehilangan sosok kekasih kesayangannya itu. Sesuai motto, sekali milik Diavolo, maka selamanya adalah milik Diavolo.
Michella mendekati, dan berbaring di sebelah Diavolo, membelai rambut lelakinya dengan perlahan.
“Berhentilah bertingkah cemburu berlebihan. Kau tahu, aku tidak mungkin akan mencari lelaki lain setelah bersama denganmu.” Ujar Michella tersenyum dan terkekeh pelan melihat betapa cemburunya kekasihnya itu, saat Michella menyebutkan istilah lelaki.
__ADS_1
“Kau tidak, tapi mereka iya. Bahkan sampai mencelakaiku demi mendapatkanmu.” Ujar Diavolo dengan kesal.
“Padahal kita sudah di takdirkan berjodoh, kenapa mereka keras kepala ?! Apakah karena jodoh mereka sudah meninggal, jadi mereka merebut jodoh orang lain ?!” Lanjut Diavolo dengan kesal, sementara Michella terkekeh mendengarkan perkataan dari Diavolo, yang terkesan seperti anak-anak yang mainannya akan di ambil.
Diavolo melirik kekasihnya yang tertawa akibat perkataannya, membuat lelaki itu senang dalam hatinya, dan dia memandang kagum ke arah wajah cantik, indah itu tertawa karena hal kecil yang dilakukan.
“Mommy..”
“Hmm ??”
“Kiss me~”
“Kan udah tadi, jangan disini. Lukamu masih belum sembuh, dan masih basah.”
Diavolo memberikan tatapan memelasnya, “Cuma sekali aja, ayo sini~”
“Cuma ciuman aja ya ??”
Diavolo mengangguk dengan senang, Michella terkekeh dalam hatinya. Dia mendekati Diavolo, dan keduanya berciuman bibir satu sama lain. Keduanya terlihat menikmati ciuman lembut itu, benar-benar sangat memabukkan, tapi Michella dan Diavolo berusaha menahan diri hanya dalam ciuman saja mereka melampiaskannya, tidak melakukan yang lebih.
Setelah itu, keduanya melepaskan ciuman, tapi masih menikmati masa-masa berdua dan bersama, dengan tertidur saling berpelukan satu sama lain, Michella menjaga diri agar tidak menyentuh luka yang masih basah di tubuh Diavolo. Sementara Diavolo sendiri menikmati hangatnya pelukan lembut itu. Satu sama lain, memiliki pemikiran meskipun keduanya menutup mata, tetapi keduanya belum benar-benar tertidur.
__ADS_1
Michella berfikir apa yang harus dia masak, dan bagaimana cara dia membagi waktu dengan anak-anak dan merawat kekasihnya yang terluka, sementara Diavolo berfikir bagaimana menjaga Michella dari Riel yang (mungkin) masih memikirkan rencana untuk merebut Michella darinya, benar-benar dua pemikiran yang berbeda, tetapi saling menjaga satu sama lain. Betapa lucu dan romantisnya kedua pasangan itu, astaga siapapun pasti iri dengan keromantisan keduanya.