
Michella menaruh kedua anaknya dalam box tempat tidur. Sementara Joella duduk bersantai di sofa, mengamati sahabatnya yang memandang ke arah kedua anaknya sembari tersenyum senang dan bangga, karena dirinya kembali di berikan kedua anak kembar lucu nan menggemaskan.
“Kau terlihat sangat senang.” Ujar Joella.
“Yeah, ini sudah kedua kalinya aku mendapatkan anak kembar.” Ujar Michella.
“Astaga.. Kau sudah memiliki 4 anak, sementara aku bahkan belum mendapatkan pasangan kencan.” Ujar Joella dengan sedikit miris akan keadaan dirinya, kenapa dirinya di takdirkan untuk menjadi single di saat sahabatnya sudah memiliki banyak anak ??
“Kenapa kau tidak mengajak Niko berkencan ?? Ku dengar, pengacara itu juga single.”
“Entahlah... Aku merasa sedikit tidak yakin.”
“Aku yakin, dia pasti sosok yang baik untukmu.”
“Begitukah ??”
Michella mengangguk, keduanya tersenyum senang, Joella terkadang bisa merasakan kasih Michella yang begitu hangat kepadanya, meskipun hubungan mereka hanyalah sebatas sahabat saja. Michella tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda, entah kenapa firasatnya mengatakan ada sesuatu yang salah pada dirinya itu. Apakah yang terjadi ??
“Hey, Joella.. Apakah Addy sudah kembali ??”
“Oh.. Bukankah dia bekerja ??”
“Yeah.. Kapan anak-anak kembali dari study tour ??”
“Bukankah Addy bilang masih lama ?? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan mereka ??”
“Entahlah, aku merasakan firasat buruk dan tiba-tiba saja pikiranku mengarah ke mereka.”
“Jangan khawatir, saat penjemputan nanti, Diavolo bilang akan menyerahkan anak buahnya untuk berjaga, bukan ??”
“Yeah, dan Addy tidak mengatakan apapun padaku. Mungkinkah, mereka belum kembali dari study tour ??”
“Sepertinya belum. Tenanglah, mungkin karena kondisi dan keadaan kita terancam oleh banyak orang, karena itu kau merasa sangat khawatir.” Ujar Joella, yang meskipun sebenarnya dirinya tidak benar-benar tenang, entah kenapa ada sesuatu yang salah.
Hingga sebuah ketukan di pintu kamar terdengar. Joella segera mempersiapkan senjatanya, dan Michella sedikit merasa bingung dan khawatir. Bagaimana jika itu adalah Fael ?? Atau mungkin Haydan ?? Joella menatap ke arah Michella untuk tidak mengatakan apapun, sebelum mengetahui siapa yang ada di depan pintu, hingga sebuah suara mulai terdengar dari depan pintu kamar.
“Nyonya Michella... Ini saya, jangan takut.”
Mendengar suara dari salah satu anak buah Diavolo, Michella merasa sedikit lega. Segera saja, wanita itu menyuruh lelaki itu masuk.
“Masuklah.”
Pintu terbuka, dan memperlihatkan seorang lelaki yang memang dia adalah anak buah Diavolo, hanya saja tatapannya tampak sangat gelisah dan bingung.
“Nyonya.. Hari ini Addy menjemput kedua anak-anak anda.”
Michella membulatkan matanya, “Kenapa Addy tidak mengatakan apapun kepadaku ?!” Ujar Michella dengan shock.
“Dia mengatakan ingin memberikan kejutan kepada anda, karena itu dia berniat menjemput mereka sendirian. Dan lagi, study tour ini pulang secara mendadak.”
Michella menggelengkan kepalanya, tapi dia tidak heran. Karena memang Addy jujur saja tidak mengetahui semua yang terjadi secara keselurahan. Dia hanya tahu, permasalahan Diavolo dengan Riel saja, itupun ada kabar gembira dimana Diavolo hampir bisa terbebas dari Riel. Dan Addy tidak memiliki ide apapun mengenai kehadiran Haydan dan lainnya. Oh Tuhan !! Dan study tour ini pulang lebih awal secara mendadak ?! Kenapa harus di saat seperti ini ?!
“Lalu dimana mereka ?? Mereka aman saja, kan ??”
Lelaki itu terdiam sejenak, ada keraguan haruskah dia mengatakan kepada Michella ?? Tapi dia sudah berjanji kepada Diavolo, atasannya. Apapun yang terjadi, dirinya harus mengatakan kepada Diavolo atau Michella. Karena Diavolo tidak bisa, maka Michella lah yang menggantikannya.
“Nyonya.. Ada penembakan liar di bandara. Kami berusaha mencari mereka, tapi...”
“Tapi.. ??”
“Entah bagaimana, kami kehilangan jejak mereka. Yang kami temukan hanyalah mobil milik Addy saja, kami tidak menemukan mereka.”
Michella yang mendengarkan perkataan itu, rasanya kakinya lemah, dan pikirannya semakin kacau. Padahal Bella sudah memberikan peringatan agar Michella tidak boleh stress, karena memang itu akan mempengaruhi tubuhnya dan masa menyusuinya. Dikhawatirkan stress hanya akan membuat Michella semakin lemah, dan benar saja. Tidak lama, Michella pingsan tak sadarkan diri, dengan Joella langsung menangkap tubuh Michella dengan sigap, juga lelaki di depannya.
“Bisa kau panggilkan dokter ?? Biar aku yang menaruh Michella ke atas ranjangnya.” Ujar Joella kepada sosok lelaki itu.
__ADS_1
“Baik.”
Joella secara perlahan mengangkat tubuh Michella untuk menuju ke atas tempat tidurnya. Joella bisa melihat wajah Michella memucat disana, apa yang harus aku katakan kepada Diavolo nanti ?!
...
Disisi lain..
“Akhirnya persidangan selesai juga, dan kita bisa membuktikan jika kau tidak bersalah.” Ujar Niko dengan lega, ternyata kasusnya tidak serumit dugaannya.
Sementara Diavolo sendiri merasa ada sesuatu yang salah. Dia berdiam, kemudian dia menelfon ke sebuah nomer yang tidak tertulis di sana. Setelah di seberang sana mengangkat teleponnya, barulah Diavolo berbicara.
“Apakah ada kabar dari Addy, mengenai kepulangan anak-anakku ??”
“Maaf tuan, terakhir kali. Tuan Addy mengatakan kepulangan mereka masih 3 hari lagi.”
“Begitukah ?? Apakah ada kabar terbaru dari para penjaga di study tour ??”
“Maaf tuan, masih belum ada kabar apapun.”
“Baiklah kalau begitu.”
Telepon di matikan. Diavolo masih merasa cemas dan tidak enak, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dirinya merasa sangat tidak nyaman saat ini.
“Ada apa ??” Tanya Niko yang melihat kegelisahan Diavolo, dan sempat mendengarkan kabar mengenai kedua anaknya itu.
“Tidak ada.. Aku hanya.. Bisakah kita ke rumah sakit ?? Aku ingin menemui kekasihku.”
“Huft.. Baiklah.. Haruskah aku ikut ??”
“Hanya untuk memberikan kabar gembira kepada kekasihku.”
“Baiklah-baiklah..” Sebenarnya Niko enggan mengikuti Diavolo, karena sudah pasti mereka akan berduaan bermesraan, dan membuat hati Niko semakin memanas di sana. Tapi biarlah saja, sekalian jalan-jalan juga. Toh dia tidak ada urusan apapun setelah ini.
__ADS_1
__ADS_1