
Malam hari tiba, Michella selesai membaringkan kedua anaknya, dan menunggu di depan ruang tamu, karena sebentar lagi Diavolo akan datang. Dia berfikir menunggu kekasihnya sembari duduk di sofa, karena memang dirinya masih belum mengantuk. Dirinya memutuskan untuk menunggu sembari bermain handphone, dengan begitu dirinya tidak akan merasa jenuh.
Tidak lama, sebuah bel rumah berbunyi. Michella hanya merasa penasaran, jika itu Diavolo, sudah pasti lelaki itu akan langsung membuka pintu, kenapa dia harus membunyikan bel rumah ?? Tapi dia tetap berdiri untuk membukakan pintu, Michella terkejut saat mendapati sosok lelaki pengantar paket ada di depan pintunya.
“Maaf Nyonya... Apakah benar ini rumah milik Nyonya Michella Cath Queenie ??”
“Itu, saya sendiri. Ada apa ??”
“Nyonya.. Saya mengantarkan kiriman paket untuk anda.”
“Dari ??”
“Maaf, Nyonya.. Tidak ada nama pengirimannya. Saya hanya di tugaskan untuk mengantar kepada anda.”
“Dan apa isinya ??”
“Entahlah Nyonya... Mungkin benda, karena saya tidak diberikan penjelasan apapun.”
Michella menimang apakah dia harus menerimanya atau tidak. Tapi baru saja dia berfikir, tiba-tiba si pengantar paket itu kembali mengucapkan sesuatu.
“Nyonya tidak perlu khawatir, tidak ada bahan membahayakan apapun di dalamnya. Juga..”
“Juga ??”
“Saya di berikan ancaman, jika anda tidak menerima benda ini, maka saya akan di pecat. Saya tidak tahu, siapa yang pengirimnya, tapi sepertinya orang itu sangat dekat dengan anda. Dia mengatakan jika, anda pasti mengenali orang itu.”
“Apakah dia... Diavolo ??”
“Saya tidak tahu-”
“Ada apa ini ??”
Wah, panjang umur sekali. Saat Michella menyebutkan nama kekasihnya, tiba-tiba saja lelaki itu muncul dari sana, dan memberikan tatapan penuh tanda tanya. Dia memandang si pengantar paket, dan kotak besar paket ditangan lelaki pengantar itu. Michella memandang ke arah kekasihnya.
“Dear.. Apa kau mengirimkan paket untukku ??”
“Tidak.. Jika aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, maka akan langsung aku berikan.”
“Lalu siapa ini ??”
Diavolo memandang ke arah si petugas pengantar itu, dia kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang yang tentunya tidak sedikit.
“Aku akan memberikan uang ini, dan menerima paketnya, jika kau mengatakan siapa si pengirim paket di tanganmu..”
Tapi si petugas itu tampak sedih, “Jika aku tahu Tuan, maka akan aku tulis. Ini perintah langsung dari atasan saya, dan dia tidak mengatakan apapun, kecuali ancaman akan memecat dan membunuh keluargaku, jika Nyonya Michella tidak mau menerimanya.”
Diavolo dan Michella memandang satu sama lain, merasa bingung. Tapi Michella mengangguk, memberikan kode kepada Diavolo, sementara Diavolo merasa ragu-ragu dengan ucapan Michella. Apakah wanita itu yakin ??
“Apa kau yakin ??”
Michella mengangguk.
“Baiklah.”
Michella menerima paket itu, “Aku akan menerima paket ini.”
“Terima kasih banyak Nyonya.” Ujar Petugas itu dengan lega.
“Dan ini bayaran untukmu.” Diavolo menyerahkan uangnya.
“Tapi, Tuan-”
“Ini perintah ratuku.”
“Ha ??” Petugas itu sempat bingung, apakah jaman sekarang masih ada kerajaan ?? Siapa yang dia maksud dengan istilah Ratu. Sementara Michella sedikit kesal, karena Diavolo malah secara terbuka memanggilnya ratu, untung bukan panggilan Mommy. Bisa lebih bahaya, bisa-bisa petugas itu menyangka jika Michella adalah sugar mommy.
“Darling !! Ah, ini perintahku. Terimalah.”
“Begitu baiklah, terima kasih nyonya, tuan.” Petugas itu tampak senang, dan membungkuk sebelum dirinya pergi meninggalkan mereka. Sementara Michella memandang sedikit curiga dengan apa yang ada di dalam paket itu.
__ADS_1
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, untuk memeriksa apa yang ada di dalam paket kotak itu. Memang tampak mencurigakan sekali paket itu.
...
Setelah masuk ke dalam rumah, mereka sama-sama duduk di ruang tamu depan, menaruh paket itu di meja tengah, Diavolo dan Michella memandang satu sama lain. Dengan tatapan bingung.
“Jadi.. Siapa yang akan membukanya ??” Tanya Diavolo.
“Biar aku saja.” Michella kemudian mendekati paket itu, dan kemudian membuka pita di bagian luar. Benar saja, setelah pita di buka, paket bagian atas kemudian menampilkan sebuah kertas. Michella meraih kertas itu dengan tulisan berdarah.
Ini untukmu, Michella sayang~
Michella sudah curiga dengan tulisan ini, dia yakin ini sepertinya dari Riel, karena Riel selalu memanggilnya dengan istilah sayang dulunya.
“Dari Riel.” Ujar Michella.
“Kita buang saja.”
“Tunggu sebentar..” Tiba-tiba sesuatu mulai muncul dalam pikiran Michella, dia kemudian membuka paket itu, dan benae saja. Kertas di dalam paket penuh dengan darah, sesuatu terbungkus di dalam kardus dengan penuh bercak darah.
“Ada sesuatu yang tidak beres.” Celetuk Michella dengan penasaran.
“Biar aku saja yang membukanya.” Ujar Diavolo mencegah Michella untuk membuka paket itu. Dia kemudian melindungi Michella di belakangnya, dan tangannya membuka paket di depan itu secara perlahan.
Setelah paket terbuka, Michella berusaha menutup mulutnya dengan rapat menggunakan tangannya. Di dalam paket itu adalah kepala seseorang dan Michella mengamati dan mengetahui siapa sosok yang di penggal itu.
“Bu..bukankah itu.. Lily.. Lily istrinya sendiri.. ??” Ujar Michella terkejut bukan main melihat sosok kepala itu, adalah sosok perempuan yang pernah melabraknya, Lily.
“Bukankah istrinya hamil ??” Ujar Diavolo mengingat jika istri dari Riel sedang hamil.
“... Dia memang sering mengancamku akan membunuh istrinya jika aku tidak kembali padanya, saat putus dulunya.” Ujar Michella menceritakan semuanya.
“Dasar gila !!” Ujar Diavolo melihat peristiwa yang terjadi di depannya.
“Sayang~ bagaimana dengan hadiah yang aku kirim ??”
“Kau gila, Riel !! Benar-benar gila !! Dia sedang hamil !!”
“Yeah, aku juga membuka isi perutnya, haruskah aku mengirimkan janin ****** itu kepadamu ??”
Michella langsung mematikan telepon itu, dia tidak tahu harus bagaimana lagi, apakah Riel akan datang dan kembali menerornya, astaga dia tidak menyangka jika Riel melakukan hal segila itu, dia berfikir itu hanyalah perkataan bohong semata saja, agar Michella tidak meninggalkannya, Michella awalnya yakin jika Riel tidak sejahat dan sekejam itu, tapi nyatanya ?? Michella tidak bisa membayangkan jika dirinya benar-benar menikahi Riel, apa yang akan dilakukan lelaki gila itu padanya.. Michella terus berfikiran negatif hingga tanpa sadar jika Diavolo mendekapnya serta menenangkannya.
“Sstt.. Mommy.. Jangan khawatir, dia tidak akan berani menyentuhmu. Aku pastikan itu.” Bisikan itu menyadarkan Michella, jika terdapat sosok pelindung yang ada di sisinya, dan tersedia untuk menjaganya.
“Diavolo..”
“Ssttt.. Inilah kenapa aku enggan meninggalkanmu, di saat hamil seperti ini sangatlah rentan dan berbahaya. Aku tidak ingin kehilanganmu, kehilangan calon anakku, dan bahkan kehilangan kedua anak kita. Mereka rentan terkena teror atau bahkan di sakiti.” Bisik Diavolo dengan lembut, entah kenapa suara lelaki itu benar-benar menenangkannya.
Tanpa berfikir panjang, Michella memeluk kekasihnya dengan erat. Diavolo tahu, dibalik wajah indah itu, tersimpan rasa khawatir dan was-was, apalagi kedua anaknya masih sangat kecil dan polos, mudah menjadi sasaran empuk bagi para penjahat.
__ADS_1
__ADS_1