
“Mommy.. Bunga siapa ini ??” Tanya Diavolo memandang ke arah sebuket bunga di meja nakas. Michella terdiam, terpaku sejenak. Itu adalah bunga pemberian Haydan yang masih ada di sana, Michella tidak tahu apakah dirinya harus menjelaskan kepada Diavolo mengenai masa lalunya yang satu itu, ataukah tidak.
“Ehm.. Itu.. Dari salah satu penggemarku..” Ujar Michella dengan kaku, dan bingung, Diavolo melirik kekasihnya dan merasa ada yang salah dengan jawaban itu, seakan dirinya sudah yakin jika itu adalah jawaban bohong dari Michella kepadanya. Diavolo tahu itu, tapi dia memilih membiarkan Michella menceritakan semuanya sendirian.
Diavolo tidak mau menekan Michella terlalu keras, dia tahu jika wanita itu masih belum bicara, itu artinya dia belum siap untuk menceritakannya, dan Diavolo siap menunggu kapanpun Mommy nya bercerita.
“Baiklah kalau begitu, haruskah aku menaruh kembali bunga ini-”
“Buang saja bunga itu !!”
Diavolo terkejut dengan perkataan Michella selanjutnya, wanita itu tampak.. Bingung... Khawatir dan takut, ada apa ?? Apakah sosok yang memberikan bunga ini yang membuatnya ketakutan.
“Michella... Sebaiknya, kau katakan saja pada Diavolo.” Ujar Joella yang mengenali Michella, dan mengetahui apa yang terjadi, memberikan saran kepada Michella untuk terbuka kepada Diavolo.
“Ada apa ?? Mommy... Ada apa, sayang ?? Ada sesuatu yang salah ??” Tanya Diavolo membelai lembut rambut Michella, sementara wanita itu, yang masih duduk di atas ranjang terdiam. Kedua anaknya di taruh di ranjang tersendiri, untuk di berikan vitamin dan lainnya. Karena di rumah sakit, memberikan sebuah vitamin bagi bayi yang baru lahir, agar sehat dan kuat. Tentu saja, semua atas persetujuan Michella. Dan rumah sakit, menjamin keselamatan dan penjagaan ketat bayi tersebut.
“Aku...... Tidak apa.. Aku hanya tidak menyukai bunga itu.” Michella tahu, keadaan dan suasana Diavolo sedang bersitegang di pengadilan, tidak mungkin Michella akan membebani Diavolo dengan hadirnya sosok yang membuatnya merasa sangat khawatir.
“Hmm... Haydan... ??” Diavolo memeriksa bunga tersebut, dan mengetahui nama Haydan ada di buket bunga itu. Diavolo melirik ke arah Michella yang masih terdiam sendiri.
Apakah hubungan Mommy dan lelaki bernama Haydan ini ?? Batin Diavolo, dia tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi. Meskipun tidak mengetahui secara pasti, tapi melihat dari wajah dan ekspresi takut Michella, sudah pasti ada sesuatu yang tidak benar dan salah.
Michella menundukkan wajahnya, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Padahal seharusnya dia tidak memikirkan sosok bernama Haydan itu, dia seharusnya bisa melepaskan semua masa lalu buruk itu, tapi semua langsung terputar jelas, saat Haydan kembali datang di hadapannya. Dan tentu saja, itu membuatnya merasa sangat khawatir, dan takut. Haydan adalah sosok yang nekad dan bahkan kasar, jauh lebih kasar daripada Riel ataupun Fael.
Joella mengetahui itu, dia tahu saat-saat terakhir sebelum Haydan dan Michella berpisah, keduanya sempat bertarung hebat, tapi Joella tidak melihat dan tidak mengetahui perseteruan keduanya. Tapi dia melihat apa yang terjadi kepada Michella.
Flashback.
Joella, hendak menjemput Michella. Wanita itu berkata ingin berbelanja bersama dengannya, tapi Joella merasa aneh. Kenapa handphone Michella tidak mengangkat panggilan teleponnya ?? Tapi Joella berfikir, mungkin Michella sedang bersiap-siap dan tidak memperhatikan handphonenya. Sebaiknya Joella ke rumahnya, itulah pikiran Joella.
Tapi semua berubah, saat Joella di rumah Michella. Wanita itu tidak melihat sahabatnya di depan, Joella berfikir akan masuk saja ke dalam, toh dia sudah terbiasa masuk ke dalam rumah Michella. Dan semua penjaga serta orang bekerja dengan Michella mengenali Joella, jadilah tidak ada masalah saat wanita itu masuk ke dalam menggunakan mobilnya.
Setelah pagar di buka, Joella memasukkan mobilnya, dan memarkir tepat di halaman depan Michella. Joella keluar dari mobil, dan tepat setelah dirinya menutup pintu mobil, tiba-tiba salah satu pelayan yang cukup dengan Michella, Tasya keluar dengan wajah panik dan khawatir.
“Nona Joella !! Tolong !!”
“Tasya.. ?? Ada apa ??”
“Nyonya Michella.. Dia.. Dia..”
“Tenang, tarik nafasmu dulu, dan ceritakan apa yang terjadi.” Ujar Joella yang sebenarnya dalam hatinya begitu khawatir karena melihat ekspresi Tasya yang begitu panik.
“Tuan Haydan.. Dia bertengkar dengan Nyonya Michella.”
“Mereka bertengkar ?!”
“Dan.. Darah.. Aku melihat darah !!”
“Telfon ambulan, aku akan datang dan masuk !!”
Tasya mengangguk, Joella langsung masuk ke dalam rumah milik Michella, dan menuju ke arah kamarnya. Karena dia tahu, jika akan terjadi sesuatu yang buruk, hingga dia berlari dan membuka pintu kamar itu dengan panik. Saat membuka kamar, Joella melihat Michella terkapar di atas lantai dengan penuh genangan darah, dan Haydan berdiri tidak jauh, membawa sebuah vas kaca yang pecah dengan dihiasi oleh darah milik Michella.
“Michella !!!”
Flashback off
__ADS_1
Joella masih mengingat bagaimana kondisi Michella saat itu, benar-benar buruk, dirinya harus berada di rumah sakit dalam waktu yang lama, tidak hanya itu bekas jahitan di kepalanya. Astaga, Joella tidak bisa membayangkan semengerikan apa peristiwa yang terjadi sebelumnya, dan Michella tidak menceritakan apapun kepadanya.
“Mommy.. Tidak apa, jika kau tidak ingin menceritakannya.. Tapi aku berharap, itu tidak membebanimu, atau membuatmu stress. Tapi jika memang itu menganggumu maka katakan saja padaku, aku akan membantumu sayang.” Ujar Diavolo dengan lembut sembari membelai rambut Michella, dan berbicara dengan nada yang begitu rendah.
Michella tersenyum dengan sendu, bersyukurlah dirinya bertemu kembali dengan Diavolo. Sosok yang memang sangat memahaminya, dan mengerti dirinya. Rasanya, Michella merasa sangat bodoh mencoba mencari sosok sempurna yang begitu mencintainya dengan sosok yang temperamen dan hanya obsesi kepadanya, tapi tidak mencintainya.
“Terima kasih, darling. Itu sangat berarti bagiku.. Bagaimana dengan pengadilan dan masalahmu ??”
“Ehmm.. Well, dia meminta rekaman cctv di rumahmu, sebagai bukti.”
“Bukankah sudah aku berikan ?? Aku sudah memberikan ijin juga kepada satpam pengawas cctv untuk itu.” Ujar Michella mengangkat satu alisnya, sementara Diavolo malah terkekeh pelan, seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Iya, aku sudah mendapatkannya..”
“Lalu ?? Ada masalah apalagi ??”
“Sebenarnya... Saat rekaman itu di mulai, saat kita menerima paket berisi kepala orang.”
“Itu bagus, itu justru memperlihatkan jika kita tidak bersalah, bukan ??”
“Itu benar.. Tapi ada satu hal yang harus aku katakan kepadamu.”
“Mengenai ??”
“Adegan kita selanjutnya.”
“Eh ?? Adegan selanjutnya.. ?? Tunggu ?! Itu tidak terlihat bukan ?!”
“Err... Hehehehe...”
“Diavolo, jangan katakan mereka melihat- ” Michella memerah malu, bahkan sampai tidak bisa berkata apapun, sementara Diavolo terkekeh sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Err mereka melihatnya... Dan-”
“Hah ?! Bagaimana bisa !!!”
“Diavolo !!! Sini kau !!”
“Ampun, mommy..”
Michella memukul Diavolo dengan guling sebagai pelampiasan rasa malunya, bagaimana bisa satu pengadilan malah melihat adegan keduanya sedang melakukan itu. Astaga Tuhan !!
__ADS_1
__ADS_1