
"Siapa dia? Aku tidak mengenalnya." Lirih Kylie.
"Liv, apa kau mengenalnya?" Kylie bertanya pada Livy yang ada disebelahnya.
Livy pun memajukan wajahnya ke layar monitor seperti Kylie dan memandang dengan seksama wajah pria itu. Tak lama Livy menggelengkan kepalanya, ia juga tidak mengenal pria itu.
Kylie menghela nafasnya kasar.
"Aku minta rekaman itu!" Ucap Kylie pada petugas cctv lalu memutar tubuhnya menghadap bodyguardnya.
"Urus rekaman cctv itu dan cari pria yang memakai hoodie hitam itu." Perintah Kylie pada bodyguard-nya.
"Baik Nona." Jawab tiga bodyguard itu serempak.
"Ayo Liv, kita keluar!" Kylie dan Livy pun keluar dari dalam ruang cctv.
Setelah keluar dari ruang cctv, Kylie yang sudah tidak mood kuliah mengajak Livy untuk bolos kuliah hari itu. Namun saat mereka hendak keluar dari gedung kampus, tiba-tiba seorang laki-laki berteriak memanggil Kylie.
Kylie dan Livy pun menoleh kebelakang dan terlihatlah dua orang dosen laki-laki dan tiga orang petugas keamanan sedang berjalan mendekatinya.
"Cih!! Pasti ja*lang itu sudah melapor!" Decih Kylie sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Kylie, ikut kami keruang dosen!" Perintah salah satu dosen.
"Baik Pak." Jawab Kylie pasrah namun tidak ada sedikitpun rasa takut ataupun rasa bersalah dalam dirinya.
"Kau masuk ke kelas mu!" Perintah dosen yang satu lagi pada Livy.
__ADS_1
"Baik Pak." Balas Livy. Dan Livy pun berjalan lebih dulu meninggalkan Kylie dan dosen-dosen itu menuju ruang kelasnya.
"Ayo Kylie!" Ajak salah satu dosen itu. Dan mereka pun berjalan beriringan menuju ruang dosen.
*
*
*
Di ruang dosen.
Sesampainya di ruang dosen, Kylie melihat sudah ada rektor, empat dosen, Emely dan dua orang teman Emely yang menjadi saksi Emely. Emely juga sudah mendapat tindakan medis darurat dari pihak kampus.
Sudah hampir setengah jam rektor menginterogasi Kylie, namun tak ada satu patah kata pun yang Kylie ucapkan, baik permintaan maaf karena sudah mematahkan hidung Emely atau pun penjelasan pada dosen-dosen dan rektor yang ada diruangan itu kenapa Kylie sampai melakukan itu pada Emely. Dan itu membuat Emely jadi semakin playing victim di depan rektor dan para dosen.
"Kylie, sekarang kau hubungi orangtuamu, suruh mereka datang kesini sekarang juga!" Perintah rektor.
"Bapak yakin mau memanggil orangtua saya?" Kylie malah bertanya balik.
"Tidak usah memanggil orangtua saya lah Pak. Saya bisa kok menghadapi orangtua dia sendirian!" Kata Kylie lagi sambil menunjuk Emely.
"Ini masalah serius Kylie! Cepat hubungi orangtua mu, SEKARANG!!" perintah rektor tegas.
"Oke, tapi Bapak jangan menyesal yah!" Ucap Kylie. Karena pihak kampus juga tidak ada yang tahu kalau Kylie adalah anak Tuan Bimantara dan sepertinya sampai saat ini berita tentang identitas Kylie yang heboh di papan pengumuman tadi belum sampai ke telinga rektor dan para dosen yang ada diruangan itu.
Sepuluh menit kemudian.
__ADS_1
BRAAK...
Pintu ruang dosen terbuka kasar.
Sontak semua orang yang ada dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu, kecuali Kylie. Ternyata yang membuka pintu adalah orangtua Emely.
"Emy...." Teriak Mama Emely sambil menghampiri Emely saat melihat hidung dan sekitaran hidung putrinya sudah membengkak dan biru lebam.
"Mama...." Balas Emely manja.
Melihat drama di depannya Kylie memutar bola matanya malas sambil mencebikkan bibirnya.
"Hidung Emy patah Ma, gimana ini?" Rengek Emely.
"Astaga Sayang, siapa yang melakukan ini pada mu, hah? Siapa katakan, biar Mama patahkan juga hidungnya!" Tanya Mama Emely. Orangtua Emely belum melihat Kylie.
"Saya orangnya! Kenapa!" Malah Kylie yang menjawab.
Sontak orangtua Emely menoleh kebelakang mereka dimana Kylie sedang duduk manis dengan wajah tanpa dosa-nya.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1