
"Bagaimana, di jawab?" Tanya Kylie.
Hanzel menggelengkan kepalanya.
"Coba periksa di lantai atas."
"Tidak mungkin Daddy ku kelantai atas."
"Ya siapa tahu saja kan!"
Hanzel menghela nafasnya kasar, meski feelingnya mengatakan tidak mungkin Daddy-nya ada di atas, tapi tetap saja Hanzel mengikuti saran Kylie.
Hanzel pun keluar dari perpustakaan mini Daddy Galtero dan diikuti Kylie dari belakang.
Namun saat mau menapaki anak tangga, tiba-tiba ponsel Hanzel berdering. Tanda panggilan masuk di ponsel-nya.
Mata Hanzel membelalak sempurna melihat nama si pemanggil.
Courtney. Nama sang kekasih tertera di layar ponsel Hanzel.
Melihat nama sang kekasih yang sangat ia rindukan di layar ponselnya, jelas saja Hanzel senang bukan kepayang.
Hanzel pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo Babe, ke-." Belum selesai Hanzel bicara, Courtney sudah memotong kata-kata Hanzel.
"Babe, apa kau bisa menjemput ku."
"Menjemput mu? Memangnya kau dimana?" Tanya Hanzel.
"Aku sedang di Bandara Soekarno-Hatta sekarang Babe."
"Jangan bercanda Babe!"
"Aku tidak bercanda Babe!! Kalau kau tidak percaya, akan aku alihkan ke panggilan video." Courtney pun mengalihkan panggilan menjadi panggilan video.
"Apa kau sudah percaya pada ku sekarang Babe?" Tanya Courtney sambil mengarahkan kameranya ke arah sekitar bandara.
Melihat itu tanpa banyak bicara lagi, Hanzel langsung menutup telepon dari Courtney dan hendak meninggalkan Kylie.
__ADS_1
"Stop!" Kylie menahan tangan Hanzel.
"Mau kemana kau?"
"Mau menjemput kekasih ku di Bandara."
"Apa?! Lalu aku?!"
"Terserah kau mau kemana! Mau kau tetap disini atau pulang ke apartemen mu!"
Mata Kylie membulat lebar mendengar jawaban Hanzel.
BUGH..
Kylie yang tidak terima dengan jawaban Hanzel langsung menendang tulang kering Hanzel.
"Aaakh..." Teriak Hanzel kesakitan.
"Kau ini kenapa, tiba-tiba menendang ku!!" Teriak Hanzel lagi
"Siapa suruh kau menelantarkan ku demi kekasih mu!!" Balas Kylie.
"Untuk apa?"
"Jangan banyak tanya, berikan saja kunci mobil mu!!"
"Beritahu dulu, untuk apa!"
"Haish kelamaan!!" Kylie yang tidak sabar pun merogoh saku celana Hanzel dengan paksa.
"Ekh.. apa kau lakukan perempuan gi*la!!"
Mendengar Hanzel mengatai-nya, Kylie langsung memberi tatapan tajam pada Hanzel.
"Sekali lagi kau panggil aku dengan sebutan itu, ku seret kau ke rooftop apartemen, lalu ku ikat kau di pembatas rooftop!!" Ancam Kylie. Kylie merasa menang karena akhirnya ia tahu kelemahan Hanzel.
Setelah itu, Kylie kembali merogoh saku celana Hanzel dan mengambil kunci mobil Hanzel.
"Untuk apa kunci mobil ku, hah!! Jangan bilang kau mau ikut ke Bandara!"
__ADS_1
"Cih, tidak sudi!! Daripada aku harus melihat kau dan kekasihmu, lebih baik aku memandang Pim Pom, anjing Mini Pom ku!!"
"Lalu untuk apa kunci itu?"
"Ya untuk apalagi kalau bukan untuk kendaraan ku ke apartemen ku!!" Jawab Kylie.
"Bye, aku pergi dulu. Jangan lupa dengan pernjanjian kita, ku tunggu besok di coffee shop yang ada di dekat apartemen ku." Ucap Kylie lalu berlalu dari hadapan Hanzel.
BRAAAK.
Kylie menutup kasar pintu unit penthouse apartemen Daddy mertuanya itu.
"Dasar perempuan aneh!! Sebentar lembut sebentar kasar!!" Geram Hanzel.
Mau tak mau Hanzel pun memakai mobil yang biasa digunakan Tuan Galtero untuk menjemput Courtney di Bandara.
*
*
*
Di luar gedung apartemen.
Kylie yang awalnya berniat langsung pulang ke apartemen, tiba-tiba saja mengurungkan niatnya pulang ke apartemennya.
Tiba-tiba saja rasa penasaran mengusik benaknya perihal sosok kekasih Hanzel.
"Aku penasaran wanita seperti apa kekasih laki-laki angkuh itu, sampai-sampai dia terus menghina ku!" Gumam Kylie.
Bukan karena dia cemburu, namun hanya sekedar penasaran kenapa bisa pria bule yang kini sudah sah menjadi suaminya itu begitu membanggakan kekasihnya.
Karena rasa penasarannya itu juga, Kylie tidak jadi pulang ke apartemen dan memilih untuk membuntuti Hanzel.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...