
Di dalam ruang resepsi.
Tadi, setelah lampu menyala dan melihat Kylie sudah tidak ada lagi didepannya, Hanzel pun bergegas mencari keberadaan Kylie, ia ingin membalas perbuatan Kylie.
"Pergi kemana perempuan sialan itu!" Geram Hanzel sambil matanya berkeliling mencari Kylie.
Saat sedang serius mencari keberadaan Kylie, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
Sontak Hanzel pun menoleh ke belakang.
"Kau mencari Kylie?" Tanya Kenneth.
"Mmm. Apa kalian melihat dia?"
"Dia sudah pulang."
"Pulang!! Enak sekali dia pulang setelah menggigit ku!"
"Kau kan suaminya sekarang, kejar lah dia, bawa dia pulang bersama mu!"
Hanzel diam sejenak.
"Benar juga yang Kenneth katakan, sekarang kan aku suami Kylie. Berarti aku harus membawa-nya pulang. Dan aku bisa sepuasnya membalaskan rasa sakit ku pada perempuan sialan itu!" Gumam Hanzel dalam hati.
"Berikan aku alamat mansion Tuan Bimantara." Pinta Hanzel.
Kenneth pun memberikan alamat mansion orangtua mereka.
"Apa kau yakin Kylie akan pulang ke mansion? Aku rasa tidak!"
"Lalu kemana dia pulang kalau bukan ke mansion?" Tanya Hanzel.
"Hanya ada dua tempat jika Kylie tidak pulang ke mansion. Yang pertama apartemennya dan yang kedua panti asuhan." Jawab Kevin.
__ADS_1
"Apa kau yakin Kylie akan ke panti asuhan malam-malam begini?" Tanya Kenneth ragu.
"Mungkin saja." Balas Kevin, ia juga tidak yakin.
"Panti asuhan? Untuk apa dia kesana? Apa jangan-jangan Kylie itu..." Hanzel menggantung kata-katanya, dipikirannya saat ini Kylie bukan lah anak kandung Papa Bimantara.
"Jangan berpikir yang macam-macam! Kylie adalah adik kandung kami." Cepat-cepat Kenneth meluruskan keadaan.
"Oh." Hanzel membulatkan mulutnya.
"Kalau kau ingin tahu kenapa Kylie ke panti asuhan, cari tau sendiri lah jawabannya." Timpal Kevin.
"Kev, coba lacak keberadaan Kylie saat ini." Perintah Kenneth.
Kevin pun melacak keberadaan Kylie dari ponselnya.
"Benar kan dugaan ku, dia ke panti asuhan." Ucap Kevin saat melihat arah tujuan Kylie.
"Berikan alamat panti asuhan itu pada Hanzel."
"Cepat susul dia! Biar kami yang memberi penjelasan pada orangtua kita." Perintah Kenneth.
Hanzel pun beranjak dari hadapan kedua Kakak iparnya dan keluar dari ruang resepsi.
*
*
*
Satu jam kemudian.
Panti Asuhan.
__ADS_1
Kini mobil yang Hanzel kendarai telah sampai tepat di depan panti asuhan.
"Sepertinya memang ini panti asuhannya." Gumam Hanzel.
Hanzel pun membunyikan klakson mobilnya agar seseorang membukakan pintu gerbang panti asuhan.
Tiiin.. tiiin.. tiiin.
Dengan tidak sabarannya Hanzel membunyikan klakson mobilnya.
Di dalam panti asuhan.
Mendengar suara klakson yang begitu ribut, Kylie yang baru selesai membersihkan tubuhnya pun keluar dari dalam kamar.
Ternyata begitu Kylie keluar dari dalam salah satu kamar yang ada di panti asuhan, Bunda Vero, si pemilik panti dan dua orang yang membantu mengurus panti juga keluar dari dalam kamar mereka.
Mereka berempat pun berjalan bersama menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang membunyikan klakson.
"Siapa yang datang malam-malam begini? Tidak sopan sekali membunyikan klakson seperti itu!" Cibir Kylie sambil mengintip dari tirai jendela. Tapi sayangnya mereka tidak melihat jelas mobil yang sedang membunyikan klakson itu.
"Amanda, Monika, coba kalian keluar dan lihat siapa yang datang, manatau saja ada sesuatu yang sangat darurat makanya orang itu membunyikan klaksonnya seperti itu." Perintah Bunda Vero.
"Baik Bunda." Jawab Amanda dan Monika serentak.
"Tunggu, aku ikut!" Kylie pun hendak ikut keluar rumah.
Tapi baru saja ia ingin keluar dari pintu tiba-tiba saja salah satu anak asuh Kylie memanggil Kylie.
"Mommy Ky."
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...