
Panti Asuhan.
Kini mobil Hanzel dan mobil rombongan anak-anak panti asuhan sudah kembali ke panti asuhan.
"Pulang lah, aku masih ingin disini." Ucap Kylie.
"Enak saja! Kau mau aku kena marah oleh Daddy-ku! Kau harus ikut pulang bersama ku." Balas Hanzel.
"Tapi aku masih ingin bersama anak-anak ku."
"Sebentar lagi kau akan selalu bersama mereka. Jadi sekarang kau harus ikut pulang bersama ku, jangan buat aku di marahi oleh Daddy-ku!" Balas Hanzel.
"Baiklah." Balas Kylie pasrah.
Hanzel dan Kylie pun berpamitan pada anak-anak panti dan Bunda Vero setelah berpamitan mereka pun pulang ke penthouse apartemen Tuan Galtero.
"Apa malam ini kita akan tidur di apartemen Daddy mu?" Tanya Kylie.
"Memangnya kau mau tidur dimana? Kau mau kembali kerumah orangtua mu?"
"Aku ingin tidur di apartemen ku."
Hanzel diam sejenak.
Ia juga berpikir untuk tidak tinggal di apartemen Tuan Galtero. Karena kalau mereka tinggal di apartemen Tuan Galtero, sudah pasti dirinya akan tidur sekamar dengan Kylie.
Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai ia khilaf atau tidak sadar memeluk Kylie saat tidur. Sudah pasti dirinya akan bonyok di buat Kylie.
"Bagaimana kalau nanti kau bilang pada Daddy ku agar kita tinggal di apartemen mu?"
"Kenapa aku yang bilang, kenapa tidak kau saja?!"
"Kalau aku yang bilang, pasti Daddy ku tidak akan mengizinkan, makanya kau saja." Ucap Hanzel.
Kylie diam.
"Ya sudah kalau tidak mau. Kita akan tinggal di apartemen Daddy ku sampai aku membelikan rumah untuk mu." Kata Hanzel lagi.
"Ya sudah nanti aku coba bicara dengan Daddy mu. Sekalian aku ingin memberitahu Daddy mu tentang anak-anak ku." Balas Kylie.
__ADS_1
*
*
*
Penthouse Apartemen Tuan Galtero.
Setengah jam kemudian, mobil yang Hanzel kendarai pun tiba di gedung apartemen tempat tinggal Hanzel dan Tuan Galtero.
Hanzel dan Kylie berjalan beriringan memasuki gedung apartemen dan berjalan menuju lift.
Setelah pintu lift terbuka, mereka pun masuk kedalam lift dan menekan angka dimana lantai unit apartemen tempat tinggal Hanzel dan Tuan Galtero berada.
Ting. Pintu lift terbuka.
Lift yang membawa mereka sampai di lantai tempat penthouse apartemen Tuan Galtero berada.
Hanzel mengernyitkan keningnya saat melihat lantai itu tidak ada penjagaan bodyguard Daddy-nya.
"Apa Daddy tidak ada di apartemen?" Lirih Hanzel pelan namun masih bisa di dengar Kylie.
"Buktinya tidak ada bodyguard yang menjaga disini." Jawab Hanzel.
Hanzel membuka pintu unit penthouse apartemen Daddy-nya dan masuk terlebih dulu dari Kylie.
"Dad.. Daddy.." panggil Hanzel sambil berjalan memasuki ruang tengah dan di ekori Kylie dari belakang.
Kosong. Tidak ada Tuan Galtero di ruang tengah.
"Dad.. Daddy.." Hanzel kembali berjalan menuju kamar Tuan Galtero.
Ceklek. Tanpa mengetuk pintu, Hanzel langsung membuka pintu kamar itu lalu masuk ke ruang tidur.
Kosong. Tidak ada juga Tuan Galtero disana.
"Daddy kemana sih?!" Gumam Hanzel.
Hanzel pun keluar dari dalam kamar Daddy-nya dan berjalan menuju perpustakaan mini, salah satu tempat favorite Tuan Galtero.
__ADS_1
"Ada?" Tanya Kylie saat Hanzel melewati ruang tengah.
Hanzel menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan menuju perpustakaan mini dan diikuti Kylie dari belakang.
Ceklek. Hanzel membuka pintu perpustakaan mini Daddy-nya.
Kosong. Tuan Galtero juga tidak ada disana.
"Kemana Daddy? Apa dia sudah kembali ke Jerman?!" Monolog Hanzel bertanya-tanya.
"Coba telepon." Saran Kylie.
Hanzel pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Tuan Galtero.
Sedangkan Kylie, ia berkeliling melihat-lihat isi perpustakaan Daddy mertuanya.
"Bagaimana?" Tanya Kylie.
"Ponselnya tidak aktif."
"Coba hubungi salah satu pengawalnya."
"Ini sedang ku hubungi, tapi tidak dijawab-jawab."
"Kalau begitu, coba tanya asisten pribadi Daddy mu apa hari ini Daddy mu ada jadwal kembali ke Jerman."
"Mm." Balas Hanzel sambil menganggukkan kepalanya lalu menghubungi asisten pribadi Daddy-nya yang ada di Jerman.
Nihil. Tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan Hanzel.
"Oh.. Dad, dimana dirimu?!" lirih Hanzel cemas.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1