
Begitulah isi surat kontrak pernikahan Hanzel dan Kylie yang Hanzel buat.
"Bagaimana? Tidak ada yang di rugikan kan?" Ucap Hanzel.
"Ya memang. Tapi ada beberapa poin juga yang ingin ku tambahkan." Balas Kylie.
"Apa?" Tanya Hanzel.
Kylie pun menuliskan dua point yang menurutnya tak kalah penting.
Pasal 7 : Selama pernikahan berlangsung, Pihak pertama dilarang keras ikut campur dengan urusan pribadi Pihak Kedua, begitupun sebaliknya.
Pasal 8 : Selama pernikahan berlangsung, Pihak Pertama di larang keras meminta hak-nya sebagai suami yang minta pelayanan ranjang pada Pihak Kedua.
Setelah menambahkan dua point, Kylie pun menunjukkannya pada Hanzel.
"Cih, siapa juga yang mau ikut campur dengan urusan pribadi mu!! Dan siapa juga yang berselera dengan mu!!" Cibir Hanzel.
"Kau tidak setuju?" Tanya Kylie dengan tatapan mengintimidasi.
"Ya, ya, ya, aku setuju!" Meski mencibir, tapi tetap saja Hanzel menyetujui dua point yang Kylie tambahkan.
Hanzel pun menandatangani surat kontrak pernikahannya dengan Kylie.
Setelah Hanzel menandatanganinya, baru lah Kylie yang menandatanganinya.
"Apa kau sudah mencari rumah yang ingin kau tempati untuk mu dan anak-anak mu?" Tanya Hanzel.
"Mmm.." jawab Kylie seadanya.
"Apa kau sudah buat janji dengan agen propertinya?"
__ADS_1
Kylie menggelengkan kepala.
"Tapi kau punya nomornya kan?"
Sekali lagi Kylie menggelengkan kepalanya.
"Kau ini!! Mau beli rumah tapi tidak minta nomor agen propertinya, bagaimana sih! Harusnya kalau kau sudah melihat rumah yang kau suka, kau langsung hubungi agen propertinya, buat janji temu." Omel Hanzel.
"Lupa." Panjang lebar Hanzel mengomel hanya di balas dengan satu kata dari Kylie.
"Haish!!" Geram Hanzel.
"Ya sudah, ayo kita kesana! Di daerah mana rumah yang kau incar itu?!"
"Di Rubby Residence." Jawab Kylie.
"Kalau begitu ayo cepat! Aku tidak punya waktu banyak." Ajak Hanzel. Hanzel pun berdiri dari tempat duduknya dan diikuti Kylie yang juga berdiri dari tempat duduknya. Mereka pun berjalan keluar cofee shop.
"Untuk apa kau mengikuti ku?" Tanya Hanzel ketus.
"Kan kau yang bilang kita akan melihat rumah."
"Iya, tapi tidak satu mobil ju-" belum selesai Hanzel bicara, Kylie sudah masuk kedalam mobil.
"Haish!!" Geram Hanzel.
Hanzel yang geram langsung berjalan menuju pintu mobil tempat Kylie duduk.
"Keluar! Mobil ku kan sama mu, pakai saja mobil ku itu dan kita akan pergi mencari rumah dengan dua mobil." Bentak Hanzel.
"Memangnya apa bedanya mau kita pakai satu mobil atau dua mobil, hah? Kalau tujuan kita sama-sama kesana yah lebih baik kita pakai satu mobil!" Balas Kylie.
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak protes! Kau mau pakai satu mobil atau aku tidak mau pergi mencari rumah!"
"Kau!!" Geram Hanzel sambil menggertakkan giginya.
"Baiklah!! Tapi kita jemput kekasih ku dulu!"
"Untuk apa kita menjemput kekasih mu?"
"Aku ingin transparan dengan kekasih ku agar dia yakin kalau aku tidak akan jatuh cinta padamu!"
Mata Kylie membulat sempurna.
"Kenapa? Kau keberatan? Kalau kau keberatan, kau bisa bawa mobil sendiri."
"Tidak aku tidak keberatan!!"
"Bagus kalau begitu!"
Hanzel pun menutup pintu mobil tempat Kylie duduk lalu berjalan menuju pintu tempat duduk pengemudi.
Setelah masuk kedalam mobil dan memakai seatbelt Hanzel pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya keluar dari area cofee shop.
Seperti yang di katakan Hanzel tadi pada Kyle bahwa ia ingin menjemput Courtney terlebih dahulu, maka dari itu sekarang tujuan Hanzel adalah hotel tempat Courtney menginap.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1