
"Anda Tuan Muda Hanzel?" Tanya Bunda Vero. Maklum saja, wajah Hanzel di televisi sangat berbeda jika di lihat langsung.
"Anda kenal saya?" Hanzel bertanya balik.
"Ya jelas lah, pernikahan Anda dan Kylie kan masuk berita." Jawab Bunda Vero.
"Shiiit!! Aku lupa, kalau pernikahan ku hari ini di liput media lokal dan luar negri!" Gerutu Hanzel dalam hati.
"Amanda, Monika, minta maaf pada Tuan Muda ini. Ini Tuan Muda Hanzel, suami Kakak kalian." Ucap Bunda Vero pada Amanda dan Monika.
"Benarkah?" Tanya Amanda tak percaya karena seharian mereka tidak menonton televisi.
Hanzel tidak menjawab dan memasang wajah ketus.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak tahu." Ucap Monika.
"Kylie mana? Saya kesini mau menjemput dia." Tanya Hanzel pada Bunda Vero, ia tak menghiraukan permintaan maaf Monika.
"Ada di dalam. Monika, antar Tuan Muda ini ke kamar anak-anak Kylie." Ucap Bunda Vero.
Mata Hanzel membulat, mulutnya juga menganga.
"A-anak-anak?" Tanya Hanzel terbata-bata, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Iya. Memangnya Kylie tidak cerita pada Anda kalau Kylie punya tiga anak di panti ini?"
Hanzel menggelengkan kepalanya masih dengan mulut yang menganga.
"Pasti kamu terkejut yah? Tenang saja, anak-anak yang di maksud adalah anak adopsi Kylie. Jadi jangan berpikir yang negatif tentang Kylie." Ucap Bunda Vero. Melihat wajah Hanzel, Bunda Vero tahu kalau saat ini Hanzel pasti berpikiran yang tidak-tidak tentang Kylie.
__ADS_1
"Monika, cepat antar suami Kakak kamu." Perintah Bunda Vero.
"Mari Tuan Muda, ikuti saya." Ucap Monika lalu berjalan mendahului Hanzel dan diikuti Hanzel dari belakang.
*
*
*
Kini Monika dan Hanzel sudah berada tepat di depan pintu kamar dimana Kylie dan ketiga anak adopsinya berada.
"Ini kamarnya." Ucap Monika.
"Saya permisi dulu." Ucap Monika lagi.
Monika pun pergi dari hadapan Hanzel.
Pemandangan yang begitu hangat terlihat jelas dimata Hanzel, dimana Kylie sedang bermain dengan dua gadis kecil di tempat tidur. Sangking serunya bermain, Kylie sampai tidak sadar kalau Hanzel sedang mengintip mereka.
"Mommy, itu..!" Seru Marsha saat melihat ada orang mengintip di pintu.
Sontak Kylie menoleh kebelakang.
Karena sudah kepergok, Hanzel pun membuka lebar pintu kamar itu.
Mata Kylie membulat sempurna saat melihat Hanzel yang berdiri di depan pintu.
"Sedang apa dia disini?!" Kylie bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Hanzel masuk kedalam kamar yang luasnya seperti kamar mandi di kamarnya dengan satu spring bed 180x200, satu meja belajar dan lemari tiga pintu dengan dekorasi frozen.
"Mommy, Mister itu siapa?" Tanya Sharon dengan polosnya.
Mendengar Sharon memanggil Hanzel dengan sebutan Mister, Kylie yang sempat kesal karena melihat Hanzel, langsung tertawa terbahak-bahak.
Melihat Kylie tertawa, Hanzel mengeraskan rahangnya kesal. Ingin rasanya Hanzel memiting leher Kylie dan menarik Kylie keluar dari kamar itu, tapi ia sadar sekarang di hadapannya ada dua anak kecil yang tidak boleh melihat adegan kekerasan dalam bentuk apapun.
Hanzel menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengatur emosinya lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Hai cantik, boleh berkenalan?" Tanya Hanzel lembut pada Sharon sambil menjulurkan tangannya.
Sharon menganggukkan kepalanya.
"Sharon." Balas Sharon sambil menyambut tangan Hanzel.
"Nama yang cantik." Balas Hanzel.
"Hanzel. Jadi kau bisa memanggil saya Hanzel, jangan panggil saya Mister, oke." Kata Hanzel lagi.
"Tapi Mister kan sudah tua, kata Bunda, Mommy Ky, Ante Manda dan Ante Monik kalau sama orang yang sudah tua gak boleh manggil nama." Balas Sharon polos.
Mendengar Hanzel disebut 'tua', Kylie pun tertawa lepas.
Lagi dan lagi, Hanzel hanya bisa mengeraskan rahangnya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...