
Las Vegas.
PRAAAANG..
Suara vas bunga yang di lempar ke kaca meja rias.
"Arrrrgh!!!!!!" dan disusul teriakan histeris Courtney.
Ia sedang kesal karena melihat berita di media online tentang pernikahan Hanzel dan Kylie.
"Bukannya lusa dia menikah!!! Kenapa dia sudah menikah kemaren!!" Teriak Courtney lagi.
BRAAAK.
Pintu kamar terbuka kasar.
"Ada apa ini? Kenapa kau mengamuk?" Tanya Maxim sambil menghampiri Courtney.
"Pria breng*sek itu sudah menikah!! Pernikahannya bukan lusa tapi kemaren!! Menyebalkan!!!"
"Lalu?"
"Apa kau tidak mengerti Max, itu sama saja akan sulit bagiku untuk membuat si breng*sek itu frustasi, gi*la, lalu bu*nuh diri!!"
"Tenang Honey, aku yakin kalau anak manja itu masih mencintai mu. Jadi mau dia sudah menikah atau belum itu tidak berarti apa-apa untuk mu." Ucap Maxim menenangkan Courtney.
"Sekarang bersiaplah. Kita ke bandara sekarang, keberangkatan mu dua jam lagi." Kata Maxim lagi.
__ADS_1
"Sampai disana, kau harus bisa meyakinkan anak manja itu untuk menceraikan istrinya. Kali ini berakting-lah seperti seorang wanita yang hatinya rapuh. Kau paham?!"
"Mmm.." balas Courtney.
*
*
*
Panti Asuhan.
Setelah mendapat ceramah dari Bunda Vero kurang lebih satu jam, kini mereka sudah bersiap pergi ke taman bermain seperti yang sudah Hanzel janjikan pada Marsha dan Sharon.
Bukan hanya Marsha dan Sharon saja yang pergi, tapi si bungsu Trent, Amanda, Monika dan anak-anak panti yang lain juga Kylie ajak. Dan pastinya dengan menggunakan minibus kiriman Papa Bimantara sebagai kendaraan mereka, sedangkan Hanzel, Kylie, Marsha, Sharon dan Trent naik mobil Hanzel.
"Ayo semua masuk." Ucap Amanda pada keenam anak panti yang usianya sudah sepuluh tahun keatas.
Keenam anak-anak itu pun masuk kedalam mobil minibus. Setelah keenam anak-anak itu masuk, barulah Amanda dan Monika masuk kedalam mobil.
Melihat adik-adiknya sudah masuk kedalam mobil, barulah Kylie masuk kedalam mobil Hanzel dimana Hanzel, Marsha dan Sharon sudah menunggu.
Dengan menggendong Trent, Kylie berjalan menuju mobil lalu membuka pintu mobil belakang dan masuk ke dalam mobil.
"Apa aku supir mu, hah!!" Cibir Hanzel saat melihat Kylie duduk di jok belakang.
"Aku harus duduk di belakang untuk menjaga anak-anak."
__ADS_1
"Untuk apa di jaga, memangnya mereka akan lari-larian di dalam mobil, hah! Atau tiba-tiba membuka pintu mobil dan lompat keluar mobil!" Balas Hanzel. Karena tidak mungkin pintu atau jendela mobil bisa terbuka kalau Hanzel sudah mengunci-nya.
"Cepat pindah ke depan! Aku bukan supir mu!" Perintah Hanzel.
"Marsha, Sharon, kalian harus tetap tenang yah, jangan berkelahi atau membuat keributan. Agar supir kita, si Mister Tua itu bisa berkonsentrasi, oke." Ucap Kylie sebelum pindah ke jok depan.
Mata Hanzel melotot sebesar-besarnya mendengar Kylie menyebutnya supir dan Mister Tua di depan anak-anak.
"Oke Mommy." Jawab Marsha dan Sharon bersamaan.
Kylie pun pindah ke jok depan bersama Trent. Karena tidak memiliki tempat duduk khusus bayi, mau tak mau Kylie harus memangku Trent.
"Apa si gembul itu tidak bisa kau dudukkan di belakang bersama kakak-kakaknya?" Tanya Hanzel
"Gembul, gembul, gembul! Namanya Trent!!" Cibir Kylie.
"Tidak! Membiarkan anak satu tahun bersama anak lima dan tiga tahun duduk di jok belakang sangat berbahaya, kecuali kau punya jok khusus untuk bayi, mungkin aku sedikit tenang mendudukkan Trent di jok belakang." Jawab Kylie.
"Ya sudah, kita singgah ke toko peralatan bayi untuk membeli jok khusus bayi." Ucap Hanzel. Ia pun menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman panti.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1