
"Ayo." Ucap Hanzel sambil menarik tangan Kylie dan berjalan menuju restoran tempat mereka mengisi perut tadi.
"Lepas!!" Kylie langsung menyentak tangan Hanzel dari tangannya.
"Jangan pegang-pegang!!" Ucap Kylie ketus.
"Cih." Decih Hanzel sambil menaikkan sudut bibirnya.
Meski terlihat ketus, tetap saja Kylie mengikuti Hanzel ke restoran tadi.
*
*
*
Kini mereka sudah berada di restoran tempat tadi mereka mengisi perut mereka.
"Mau pesan minum atau cemilan?" Tanya Hanzel sambil menarik kursi untuk Kylie.
Tapi yang di tarik-kan kursi malah menarik kursi lain untuk dirinya duduki. Hanzel tersenyum tipis melihat aksi Kylie yang menolak secara terang-terangan perhatiannya.
"Aku pesan kentang goreng dan air mineral dingin saja." Jawab Kylie setelah mendaratkan bokongnya di kursi.
"Hanya itu?" Tanya Hanzel sekali lagi.
"Mmm."
__ADS_1
"Oke." Hanzel pun berjalan menuju tempat pemesanan.
Begitu Hanzel pergi, barulah Kylie menghela nafasnya lega. Entah kenapa sejak tadi dada-nya terasa sesak sekali.
Sedangkan Hanzel, setiba-nya di tempat pemesanan, Hanzel langsung memesan cemilan dan minuman untuknya dan untuk Kylie.
Sambil menunggu pesanan-nya datang, sesekali Hanzel melirik ke arah Kylie. Sebenarnya bisa saja Hanzel kembali ke meja-nya tapi ia tidak mau dan lebih memilih menunggu pesanan itu dan membawa sendiri pesanan-nya itu.
"Kenapa tadi aku malah memainkan bibirku di bibirnya?" Gumam Hanzel dalam hati.
"Tapi tak ku pungkiri, bibirnya manis sekali." Gumam-nya lagi.
"Shiit!!! Kenapa aku jadi memikirkan kearah situ! Apa karena sudah lama bibir ku ini menganggur, makanya aku jadi berpikir seperti itu!!" Gumam-nya lagi.
"Mister, ini pesanannya." Ucap pelayan sambil memberikan satu nampan yang berisi dua air mineral dingin dan satu bowl kentang goreng dan satu bowl nugget dan sosis goreng.
Hanzel mengambil nampan itu dari si pelayan lalu berjalan kembali ke meja-nya.
Lima menit mereka hanya berdiam sambil menikmati cemilan mereka masing-masing.
"Mmmm.. Ky.." Hanzel membuka suaranya ragu-ragu.
"Hemh.." balas Kylie masih canggung.
"Terimakasih untuk yang tadi."
"Cih!!! Jangan kau ingatkan lagi!! Itu sangat memalukan!"
__ADS_1
"Tetap saja aku harus mengucapkan terimakasih padamu." Balas Hanzel.
Kylie tak menjawab dan malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ky.."
"Hemh.."
"Sejak kapan kau mengadopsi Marsha, Sharon dan Trent?"
"Sejak mereka baru datang ke panti. Aku lebih dulu mengadopsi Marsha, lalu Sharon dan terakhir Trent."
"Apa saat mereka datang, mereka masih bayi?"
Kylie menganggukkan kepalanya.
"Ya kira-kira masih berusia beberapa minggu. Marsha di kirim ke panti karena ibu kandung Marsha meninggal saat melahirkan Marsha, sedangkan ayah kandung Marsha entah kemana dan keluarga dari ibu Marsha tidak sanggup mengurus Marsha karena kehidupan mereka juga susah." Kylie menjeda sebentar kata-katanya.
"Kalau Sharon, dia anak hasil hubungan gelap. Ayah kandung Sharon sudah memiliki istri saat berhubungan dengan ibu kandung Sharon, Ayah kandung Sharon tidak mau bertanggung jawab, sedangkan ibu kandung Sharon waktu itu masih kuliah, untuk menutupi aib keluarga, ibu kandung Sharon pun di bawa mengungsi kesini oleh orangtuanya dan saat Sharon lahir langsung dititipkan di panti Bunda Vero dan berjanji setiap bulan akan mengirimi uang untuk Sharon. Nyatanya sampai usia Sharon tiga bulan, tidak sepeser pun uang yang di kirimkan keluarga ibu kandung Sharon. Jangankan uang, nomor telepon yang di hubungi serta alamat yang mereka berikan pun semua palsu." Setelah menjelaskan tentang Sharon, Kylie menjeda kembali kata-katanya untuk mengatur emosinya karena Kylie juga ikut andil dalam mencari keluarga ibu kandung Sharon.
"Lalu Trent?"
Tak ada lagi suasana canggung diantara mereka, sepertinya mereka sudah sama-sama melupakan masalah ciuman tadi.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...