
Sedangkan di meja-nya, saat ini Kylie sedang di temani Livy.
"Cie, diam seperti jomblo, bergerak menjadi menantu Tuan Galtero." Goda Livy.
"Cih!! Apaan sih!!" Balas Kylie sambil memutar bola matanya malas.
"Ini kado untuk mu." Livy menyerahkan satu kotak dari merk ternama pada Kylie.
"Apa ini?" Tanya Kylie sambil mengambil kotak itu dari tangan Livy dan hendak membuka-nya.
"Eits, nanti saja buka-nya kalau kau sudah di kamar!"
"Kau tidak memberikan ku hadiah yang aneh-aneh kan?" Kylie memicingkan matanya curiga.
"Tenang saja bestie!! Kado yang ku berikan ini, barang yang biasa di pakai wanita kalau sudah menikah!"
Kylie mengernyitkan keningnya, memikirkan kira-kira apa isi kotak itu.
"Sudah, tidak usah di pikirkan, ayo kita turun ke lantai dansa!" Ajak Livy sambil menarik tangan Kylie dan mereka pun bergabung dengan tamu undangan yang sedang berdansa.
Melihat menantunya turun di lantai dansa, Tuan Galtero langsung menyuruh Hanzel untuk menyusul istrinya.
"Cepat susul istri mu dan berdansa lah dengannya!" Bisik Tuan Galtero.
Huft..
Hanzel mendengus kesal. Namun meski kesal tetap saja ia menuruti perintah Daddy-nya.
Hanzel berjalan mendekati Kylie dan Livy yang sedang berdansa.
"Ekhem." Hanzel berdehem.
Sontak Kylie dan Livy pun berhenti berdansa.
"Apa?" Tanya Kylie ketus.
Hanzel tidak menjawab dan malah menarik tangan Kylie.
__ADS_1
"Aku pinjam teman mu! Cari lah pasangan mu yang lain!" Ucap Hanzel pada Livy lalu memegang pinggang Kylie dan memaksa Kylie berdansa bersamanya.
"Pakailah sepuas mu Tuan Muda Galtero. Sekarang dia istri mu." Balas Livy sambil tersenyum kecil.
Mendengar kata-kata sahabatnya Kylie langsung membulatkan matanya lebar-lebar.
"Kau!!" Kylie menggeram.
"Aku akan mencari pasangan ku, kalian bersenang-senang lah!" Ucap Livy lalu pergi dari hadapan Kylie dan Hanzel.
"Awas kau Livy!!" Geram Kylie.
"Kau bisa diam tidak!" Omel Hanzel.
"Kau yang diam!" Balas Kylie.
Kesal karena Kylie menantangnya, Hanzel pun menarik pinggang Kylie dan membuat tubuh mereka tak lagi berjarak.
"Kau!" Kylie menggeram.
"Tidak mau!" Balas Kylie.
"Tersenyum ku bilang atau kucium kau disini! Dari tadi kita belum berciuman kan! Pasti para tamu undangan tidak sabar melihat kita berciuman!" Ancam Hanzel.
Hanzel pikir Kylie akan takut dan akan menuruti perintahnya kalau ia mengancam seperti itu. Sepertinya Hanzel masih belum mengenali watak asli Kylie.
Karena saat ini Kylie bukannya takut dengan ancaman Hanzel, ia malah menantang balik Hanzel.
"Benarkah kau mau mencium ku? Ya sudah, cium saja! Toh aku ini sekarang istri mu!" Tantang Kylie sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat itu Hanzel mengeraskan rahangnya.
"Berhenti manyun-manyun seperti itu!" Omel Hanzel.
"Tidak mau! Kau bilang mau mencium ku! Ayo cepat cium!" Tantang Kylie lagi.
"Cih.. jangan mimpi kau! Bibir ku ini hanya untuk Courtney!"
__ADS_1
"Tapi belum tentu kan, bibir kekasih mu itu hanya untuk mu!" Ejek Kylie.
"Kau!! Jangan sesekali kau menghina kekasih ku!"
"Siapa yang menghina?! Aku kan hanya menerka! Sama seperti kau yang menerka ku sebagai ja*lang!" Balas Kylie.
Kesal dengan Kylie, Hanzel makin mempererat pelukannya di pinggang Kylie.
"Akh!! Lepas! Aku tidak bisa nafas!" Kylie berusaha mendorong tubuh Hanzel.
"Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kau meminta maaf pada ku karena sudah menghina Courtney ku!"
"Kenapa aku harus minta maaf! Kau saja bebas berpikir negatif tentang aku, kenapa aku tidak boleh!! Memangnya kau siapa mengatur jalan pikiran ku!"
Hanzel makin mempererat pelukannya.
"Aakh..!! Lepas bodoh!! Aku benar-benar tidak bisa nafas ini!"
"Sudah ku bilang minta maaf dulu, baru aku lepas!"
Bukan Kylie namanya kalau ia menyerah begitu saja.
"Baik kalau kau menantang ku! Jangan menyesal!" Balas Kylie.
Dan tanpa Hanzel duga, Kylie langsung menggigit dada Hanzel dengan sangat kencang.
"Aaarrrrgh...!!!" Jerit kesakitan Hanzel.
Dan seiring jerit kesakitan Hanzel, tiba-tiba lampu ruang resepsi padam.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1