
BRAAK..
Kylie menutup pintu mobil bagian belakang Hanzel dengan kasar.
"Hei bodoh!!! Kenapa kau duduk di belakang? Apa kau pikir aku ini supir mu, hah!! Pindah kau ke depan!!" Protes Hanzel.
"Tidak mau! Aku tidak sudi duduk bersebelahan dengan mu!"
Hanzel memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menahan emosinya.
"Cepat pindah!! Aku sedang tidak mau berdebat dengan mu atau aku tidak akan menjalankan mobil ini!" Ancam Hanzel.
Lima menit, Kylie masih bertahan untuk tidak pindah dan Hanzel benar-benar tidak menjalankan mobilnya.
Sepuluh menit, Kylie sudah mulai kesal karena Hanzel tidak main-main dengan ancamannya.
Dan di menit ke lima belas, mau tak mau Kylie pun pindah ke tempat duduk bagian depan.
"Haish!!" Geram Kylie sambil keluar dari mobil.
BRAAK..
Ia menutup pintu mobil bagian belakang itu dengan kasar, lalu membuka pintu mobil bagian depan.
BRAAK..
Dan kembali menutup pintu mobil bagian depan itu dengan kasar.
"Apa kau tidak bisa pelan sedikit menutup pintu mobil ku, hah!!!" Bentak Hanzel karena sudah tiga kali Kylie menutup pintu mobilnya dengan kasar.
"Oops.. maaf." Balas Kylie dengan entengnya dan dengan mimik wajah mengejek.
"Haish!!" Geram Hanzel.
__ADS_1
"Cepat pakai sabuk pengaman mu!" Perintah Hanzel. Ia tidak ingin berdebat dan ingin segera menyelesaikan urusan fitting baju dan foto prewedding.
Kylie pun memakai sabuk pengamannya. Setelah Kylie memakai sabuk pengamannya barulah Hanzel melajukan mobilnya ke butik yang Tuan Galtero maksud.
"Apa kau tahu jalan menuju butik itu?" Tanya Kylie meragu. Karena setahu Kylie, Hanzel tidak pernah tinggal di Jakarta.
"Tahu! Kau pikir aku tidak pernah tinggal di Jakarta, hah!! Waktu SD sampai SMA aku tinggal di kota ini dan dulu sebelum aku bekerja bersama Daddy ku setiap tahun pasti aku datang ke kota ini." Jawab Hanzel.
"Benarkah? Kalau begitu kau tahu bahasa indonesia?"
"Tahu!"
Kylie diam sejenak, ia memikirkan cara untuk membuat Hanzel kesal.
"Mmmm.. kalau begitu apa bahasa indonesianya i love you." Tanya Kylie.
"Aku cinta kamu!" Dengan polosnya Hanzel menjawab.
"Cie... Ternyata diam-diam kau mencintai ku, hah!" Ledek Kylie.
"Cuih!!! Jangan mimpi kau! Aku mengatakan itu karena kau bertanya apa bahasa indonesianya i love you! Dan aku menjawabnya! Jadi itu bukan pernyataan cinta, dasar bodoh!"
"Kau yang bodoh! Harusnya kau juga menjawab, bahasa indonesianya adalah aku cinta kamu bukan hanya aku cinta kamu!" Balas Kylie tak mau kalah.
Dan perdebatan-perdebatan pun terus terjadi sepanjang perjalanan mereka menuju butik.
*
*
*
Sang Rilla Boutique.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di butik yang Tuan Galtero tunjuk untuk menyiapkan gaun pengantin untuk Kylie dan tuxedo untuk Hanzel.
"Hai... Tuan Muda ganteng." Sapa Madam Rilla, designer sekaligus pemilik butik dengan gaya gemulainya.
Madam Rilla berjalan dengan langkah cepat mendekati Hanzel dan hendak memeluk Hanzel.
"Stop! Berhenti disitu!" Seru Hanzel saat Madam Rilla hendak memeluknya.
Sontak Madam Rilla pun menghentikan langkah kakinya mendadak.
"Tidak perlu basa-basi, langsung saja tunjukkan gaun dan tuxedo yang sudah kau siapkan untuk kami!" Ucap Hanzel tegas.
"Uuuh... sudah tidak sabar yah melihat aura cantik yang terpancar dari calon istri mu." Goda Hanzel.
Hanzel melototkan matanya. Tapi tak dihiraukan oleh Madam Rilla.
Madam Rilla berjalan mendekati Kylie.
"Woah.. ternyata aslimu lebih cantik dibandingkan yang di foto." Puji Madam Rilla.
"Kenalkan, Madam Rilla." Ucap Madam Rilla sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kylie.
"Kylie." Balas Kylie sambil menerima uluran tangan Madam Rilla.
"Ayo cantik kita ke ruang ganti." Madam Rilla pun menggandeng tangan Kylie menuju ruang ganti.
"Dan kau Tuan Muda, tunggu disitu." Ucap Madam Rilla pada Hanzel sambil menunjuk sofa panjang yang ada disisi kanan butik.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...