
"Kau!!!!" Mama Emely berteriak emosi dan mendekati Kylie, ia hendak membalas perlakuan Kylie pada Emely, namun Papa Emely dan para dosen disitu langsung sigap menahan Mama Emely dan menjauhkan Mama Emely dari Kylie.
"Lepas!! Lepaskan saya!! Saya harus beri pelajaran perempuan ini, karena sudah membuat hidung Emy patah!!" Ronta Mama Emely.
"Kalian berdua keluar dulu!" Perintah rektor pada dua teman Emely di tengah-tengah histeria Mama Emely.
Dua teman Emely pun berdiri dari tempat duduknya lalu keluar dari ruangan dosen.
Setelah dua teman Emely keluar, Papa Emely pun menggiring istrinya untuk duduk di tempat duduk yang tadi di tempati dua teman Emely.
"Akan ku bawa masalah ini ke jalur hukum! Kau harus di penjara seumur hidup!" Teriak Mama Emely.
"Tenangkan diri mu Ma!" Ucap Papa Emely.
Sedangkan Kylie malah memainkan kuku-kukunya, ia sama sekali tidak merasa takut mendengar ancaman Mama Emely.
"Kylie, apa kau tidak bisa mengucapkan permintaan maaf mu pada orangtua Emely?" Tanya dosen yang duduk disebelah Kylie.
Kylie tidak menjawab dan makin asyik memainkan kuku-kuku'nya. Pikirnya lebih baik ia pura-pura tuli dan buta dengan drama yang ada di hadapannya saat ini.
Melihat aksi Kylie yang masih bungkam, rektor dan para dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Rektor pun meminta orangtua Emely untuk sabar menunggu kedatangan orangtua Kylie.
*
__ADS_1
*
*
Lima belas menit kemudian.
Tok.. Tok.. Tok.
Pintu ruang dosen terketuk. Salah satu dosen pun berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati pintu dan membuka pintu.
Ceklek. Mata dosen itu membulat sempurna melihat empat orang yang berdiri di depan pintu. Empat orang yang suka wara-wiri di televisi dan majalah bisnis.
"Kami orangtuanya Kylie." Ucap Papa Bimantara.
"Oh.. si-silah-kan ma-suk Pak." Ucap dosen itu sambil membuka lebar pintu.
Papa Bimantara, Mama Nirmala dan disusul Kenneth dan Kevin dari belakang pun masuk kedalam ruang dosen, tak ketinggalan tiga orang pengawal orangtua Kylie juga ikut masuk keruangan itu.
Sama seperti dosen yang membuka pintu tadi, semua mata yang ada di ruang dosen itu termasuk orangtua Emely membulatkan matanya lebar-lebar. Sedangkan Emely yang sudah tahu kalau Kylie adalah anak Tuan Bimantara terlihat biasa saja dan untuk Kylie sendiri, ia malah menghela nafasnya kasar karena sesuai dugaannya, pasti kedua Kakak-nya akan ikut bersama orangtuanya.
"Kenapa gak sekalian aja istri Kak Ken dan Kak Kev dibawa!" Gerutu Kylie dalam hati.
"Selamat siang, Pak. Kenalkan, saya Papa-nya Kylie." Papa Bimantara memperkenalkan dirinya pada rektor sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan rektor itu.
__ADS_1
Rektor pun menyambut uluran tangan Papa Bimantara. Setelah berkenalan dengan Papa Bimantara, giliran Mama Nirmala yang memperkenalkan dirinya dan tak ketinggalan juga Kenneth dan Kevin yang memperkenalkan diri mereka.
Setelah selesai berkenalan dengan empat anggota keluarga Bimantara, rektor pun mempersilahkan orangtua dan kedua Kakak Kylie untuk duduk disebelah Kylie.
"Jadi apa masalah yang putri kami lakukan sampai-sampai kami diminta datang ke kampus ini?" Tanya Papa Bimantara membuka pembicaraan.
"Ini masalahnya!" Jawab Mama Emely dengan nada tinggi sambil menunjuk wajah Emely yang bonyok.
"Pelankan suara mu Ma, dia itu...."
"Sudah tidak pa-pa! Wajar kalau seorang ibu mengamuk jika anaknya di lukai." Potong Papa Bimantara saat Papa Emely hendak memperingati istrinya.
"Ky, apa kau bisa jelaskan kenapa kau melukai teman mu ini?" Tanya Papa Bimantara.
Kylie pun menceritakan mulai dari foto-foto yang ada di papan pengumuman sampai pada Emely mengatai-nya ja*lang.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1