
Sontak Kylie pun menoleh ke belakangnya.
"Tu-tuan Galtero." Kylie gugup melihat calon Daddy mertuanya yang ternyata menepuk pundaknya.
"Jangan panggil Tuan, kan sudah saya bilang panggil saya Daddy, seperti Hanz memanggil saya." Balas Tuan Galtero.
"Oh iya, ada perlu apa kau kemari? Apa kau punya teman yang tinggal di gedung ini?" Tanya Tuan Galtero pura-pura bodoh. Padahal sejak ia mendapat kabar bahwa Kylie sedang menuju gedung apartemennya dari orang yang ia suruh untuk menjaga Kylie, Tuan Galtero langsung turun ke lobi untuk menunggu kedatangan Kylie.
Kylie menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya saya ingin menemui Anda Tuan, eh.. Daddy." Jawab Kylie masih gugup. Entah kenapa begitu bertatap muka dengan Tuan Galtero nyalinya perlahan terkikis padahal dari tadi dirinya sangat menggebu-gebu.
"Sepertinya sangat penting. Kalau begitu, kita bicara di apartemen." Ucap Tuan Galtero dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Kylie.
Mereka pun berjalan beriringan menuju lift.
*
*
*
Kini Kylie dan Tuan Galtero sudah berada dalam unit penthouse apartemen Tuan Galtero.
Mata Kylie terkesima melihat kemewahan penthouse Tuan Galtero.
Dan terkesimanya Kylie di salah artikan oleh Tuan Galtero. Tuan Galtero pikir Kylie sekarang sedang mencari Hanzel.
"Hanzel masih ada di kamarnya, sebentar lagi dia turun kok." Ucap Tuan Galtero.
__ADS_1
"Saya tidak mencari si teng-, maksud saya, saya tidak mencari Hanzel, Dad." Hampir saja Kylie keceplosan menyebut Hanzel dengan panggilan 'tengik'.
Tuan Galtero hanya tersenyum menanggapi kilah Kylie. Mereka pun kembali meneruskan langkah mereka keruang tengah.
"Silahkan duduk. Kau mau minum apa?" Tanya Tuan Galtero sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Apa saja." Jawab Kylie.
Tuan Galtero pun menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan. Pelayan yang sudah stay di dekat ruang tengah pun berjalan mendekati Tuan Galtero dan Kylie.
"Suguhkan teh terbaik untuk calon menantu ku." Perintah Tuan Galtero pada pelayan itu.
"Baik Tuan." Jawab pelayan itu. Pelayan itu pun berjalan mundur menjauh dari ruang tengah lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan teh seperti yang Tuan Galtero perintahkan padanya.
"Mmmm... Tuan..." Lirih Kylie. Ia ingin langsung memberitahu pada Tuan Galtero tentang profesi yang sedang ia geluti.
Mau tak mau Kylie pun membungkam mulutnya.
Tak lama Hanzel pun datang dan melihat Kylie sedang bersama Daddy-nya di ruang tengah.
"Bi*tch!!! Pasti dia sedang merayu Daddy ku!! Dia pikir pasti aku sudah tidak ada di apartemen, makanya dia berani datang kesini!" Geram Hanzel. Masih saja ia berpikiran negatif tentang Kylie.
Hanzel pun berjalan menghampiri Tuan Galtero dan Kylie di ruang tengah.
"Ekhem." Dehem Hanzel.
Sontak Kylie dan Tuan Galtero pun menoleh ke arah sumber suara.
"Hai Son." Sapa Tuan Galtero sambil tersenyum pada sang putra.
__ADS_1
Tapi ekspresi yang berbeda Kylie tunjukkan begitu melihat Hanzel. Rasa gugup-nya kini berganti rasa emosi. Sama dengan Kylie, Hanzel juga memberikan tatapan tidak suka pada Kylie.
"Kau tidak mau menyapa calon istri mu, hah?!" Goda Tuan Galtero saat melihat tatapan Kylie dan Hanzel.
"Hai." Sapaan yang sangat singkat dan sangat di paksakan Hanzel berikan untuk Kylie.
"Hai." Balas Kylie tak kalah singkat dan terpaksa.
"Sedang apa kau disini?!" Tanya Hanzel ketus sambil melipat kedua tangannya didepan dada-nya.
"Dia ingin berbicara dengan Daddy." Malah Tuan Galtero yang menjawab.
"Tuh kan, benar dugaan ku! Pasti dia ingin menggoda Daddy ku!" Geram Hanzel dalam hati.
"Apa kau ingin tetap berdiri disitu?" Tanya Tuan Galtero, ia risih melihat Hanzel yang tak kunjung duduk.
Hanzel pun berjalan mendekati sofa dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Kylie. Kembali Hanzel dan Kylie saling memberi tatapan tajam.
Tuan Galtero hanya menghela nafasnya kasar melihat kelakukan Hanzel dan Kylie.
"Kita lihat saja siapa nanti diantara kalian berdua yang jatuh cinta lebih dulu!" Gumam Tuan Galtero dalam hati-nya.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1