I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
SEPULUH


__ADS_3

Apa? Katanya ceraikan dia? Kukepalkan tangan dan berbalik menatapnya. Purnama mundur. Takut, matanya bergerak gelisah menatap kedua mata tajamku.


“Apa kau bilang? Cerai?” teriakku meninggi. Purnama menunduk. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Terpaksa ia mendongak ke arahku, meski matanya ia palingkan ke arah lain.


“Tatap aku! Katakan sekali lagi!” geramku dengan menggertakkan gigi.


Purnama memberanikan diri menatap mataku. “Aku minta cerai. Aku tak tahan akan sikapmu,” jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Aku menyeringai. Kuembuskan nafasku tepat ke wajahnya.


“Kau berani minta cerai?---oke, kukabulkan permintaanmu. Tapi besok, dengan berita yang tersebar di Indonsia, bahwa Edgar Dirgasuwoto tertangkap dalam keadaan hidup atau tak bernyawa.” Kulepaskan dengan kasar tanganku dari wajahnya.


“Kau berengsek!” Purnama menamparku. Aku terkesiap kaget. Ia berani menamparku. Sialan! Kuelus wajahku bekas tamparannya. Aku mendelik tajam padanya.


“Aku tak main-main. Bahkan ini sudah lama kurencanakan. Kakakmu sudah menjadi buronan semenjak kita resmi menjadi sepasang suami istri. Saat itulah ia melarikan diri ke luar negeri. Makanya, ia tak menghadiri pernikahan kita.”


Purnama marah, tangannya melayang hendak menamparku lagi, tapi langsung kutangkap hingga kupelintir tangannya ke belakang. Purnama menjerit kesakitan.


“Kau mau melawanku, ha! Ingat! Kalau aku mendengar kata cerai lagi dari mulutmu ini, kupastikan akan memberi tahu pihak kepolisian Indoesia untuk melacak tempat persembunyian kakakmu,” bisikku tepat di telinga Purnama.


Purnama berontak, berusaha melepaskan peganganku, tapi ada daya, kekuatannya yang lemah tak sebanding dengan kekuatanku. Purnama meringis kesakitan. Aku membalik tubuhnya dengan kasar hingga ia hampir saja terpental. Segera kuraih pinggangnya dan iapun terjatuh kepelukanku.


Tiba-tiba dadaku bergemuruh hebat. Shit, umpatku dalam hati. Kudengar jantung Purnama pun berdetak kencang, sama sepertiku. Aku menyeringai. Kutangkup wajahnya hingga ia mendongak menghadapku. Nafas kami saling berembus. Kudekatkan wajahku pada pada wajahnya, lantas memejamkan mata kala bibirku menyentuh bibirnya. Kucium kuat bibirnya sampai menjadi *******. Sama seperti sebelum-belumnya, tak ada respon dari Purnama.


Puas menciumnya, kubuka mata dan bertemu pandang dengan Purnama yang melotot padaku. Kuangkat tubuh ringannya dengan gaya pengantin menuju tangga. Purnama semakin berontak memukul-mukul dadaku.


“Turunkan aku!” teriaknya panik.


“Perlawananmu membuatku semakin bergairah, Baby,” bisikku seduktif sambil mengecup keningnya. Sekilas ia bersemu merah. Astaga! Sudah lama aku tak melihat pipinya yang merona merah. “Kita lanjutkan yang semalam,” lanjutku menyeringai.


“Tidaaak.” Purnama berteriak histeris dan berontak dari pelukanku. Kuabaikan teriakannya dan melangkah menuju tangga.


“Purnamaaa. Ellll.” Teriakan melengking dari arah belakang menyela gerakanku.


“Sialan!” umpatku kesal. Mengganggu acaraku saja. Kuturunkan Purnama dari dekapanku, dan berbisik di telinganya. “Ingat, Purnama. Jangan kau ulangi lagi perkataan bodohmu tadi.”


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 

__ADS_1


 


“Silakan diminum tehnya, Kak Nila,” ujarku membuka percakapan dengan Kak Nila saat kami sedang bersantai di taman belakang  rumah. Kuletakkan dua cangkir teh dan cookies cokelat ke atas meja. Kak Nila mendongak menatapku saat sibuk memandang kerumunan ikan di kolam.


“Makasih, Purnama,” ujarnya tersenyum padaku yang menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Ia mengikutiku duduk di kursi. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi sambil menatapku lekat.


“Ya?” Aku menaikkan salah satu alisku. Berpura-pura tak mengerti maksud ucapannya.


Kak Nila mendesah. Ia menggenggam tanganku erat dan menatap kedua mataku, seakan memastikan sesuatu. “Jangan berbohong. Aku tau apa yang terjadi selama dua minggu ini, Purnama.”


Kutundukkan kepala dan menarik tanganku dari gengggamannya. Kugigit bibir bawahku, sudah menjadi kebiasaanku saat aku gugup, atau merasa sakit.


“Benaran, kok. Aku baik-baik saja. Tak terjadi apa-apa padaku,” kataku meyakinkannya. Kucoba tersenyum kecut dan meremas kedua tanganku.


Kak Nila menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikapku. “Kau tak pandai berbohong, Purnama,” katanya menatapku tajam. Ia menarik wajahku menghadap tepat ke wajahnya dan menelusuri bekas hasil kekerasan Elias di wajahku.


“Lihat hasil karya si monyet itu---sial, padahal sudah kuperingatkan padanya jangan terlalu kasar padamu,” katanya sambil menggeram.


Huks. Akhirnya lolos juga isakan kecil dari mulutku. Aku tak sanggup lagi menahannya. Kak Nila beranjak dari kursinya, kemudian memelukku. Aku membalas pelukannya dan membenamkan kepalaku di dadanya yang beraroma strobery itu. Aku menangis tersedu-sedu dan menggelengkan-gelengkan kepala.


Kenapa ini terjadi padaku, sebegitu dendamnya-kah Elias padaku, batinku. Aku teringat kembali perlakuan kasar Elias selama dua minggu ini padaku, bahkan mengingat dengan jelas ancamannya padaku tadi, bila aku minta cerai lagi.


Huks. Aku mengeratkan pelukanku, menahan rasa sakit hatiku.


“Jangan menangis. Kuharap, sikap Elias berubah,” bujuk Kak Nila sambil mengelus lembut kepalaku. Memberikanku ketenangan. Aku mengangguk. Ya, semoga saja yang dikatakan kak Nila benar. Sikap Elias berubah padaku.


“Purnama, Kak Nila. Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis, Purnama?” seseorang menyela dari belakang, mengejutkan kami berdua. Aku melepaskan pelukanku dan berbalik ke belakang. Intan, istrinya Kak Jagat, sedang menggendong jagoannya yang berusia sepuluh bulan. Bayinya sedang tidur sambil mengemut jempol mungilnya.


“Duduklah, Intan!” Kak Nila memberi perintah dan langsung dituruti oleh Intan. Kak Nila dan Intan terdiam. Keduanya tak mengajukan pertanyaan. Mereka tau apa yang terjadi tanpa harus kujelaskan.


“Sabar, ya.” Intan mengelus tanganku. Aku hanya mengangguk.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 

__ADS_1


Aku menatap kesal kedua lelaki berparas tampan di depanku saat ini. Sakti dan Jagat, mereka kompak mendelik dengan angker padaku. Aku mendengus sebal.


“Well, kenapa kalian memandangku seperti ini. Bukankah kalian datang ke sini untuk membicarakan bisnis kita?” kataku balik menatap tajam pada mereka berdua. Kusilangkan kedua tanganku di dada.


“Memang benar kami datang ke kantormu untuk berbicara bisnis---tapi sebelumnya, izinkan aku memukul wajahmu yang dingin ini.” Usai berbicara, sontak Jagat mengambil setumpuk kertas yang tak terlalu tebal di atas meja dan memukulkannya ke wajahku. Tak sempat aku mengelak akan gerakannya yang cepat itu.


“Sial!” Aku mengumpat kesal, meski pukulannya tak terasa sakit sama sekali. Jagat dan Sakti tersenyum puas. Aku mendecakkan lidah dan semakin mendengkus sebal. Kuelus pipiku bekas tamparan Jagat. Kuhitung, pagi ini dua kali aku mendapatkan tamparan gratis.


“Sudah kuperingatkan padamu, Elias. Jangan terlalu menyakitinya!” teriak Jagat kesal, dan Sakti mengangguk setuju.


“Itu urusanku. Kenapa kalian ikut campur!” teriakku garang. Aku tau siapa yang mereka bicarakan.


“Kita tak ikut campur, Elias. Tapi, sebagai sahabat kami wajib mengingatkanmu. Sudah untung kami tidak melaporkanmu ke polisi. Kau bisa dijerat kekerasan dalam rumah tangga. Ubahlah sikapmu sebelum terlambat.” Sakti menasehatiku. Aku memalingkan wajah ke tempat lain, seolah mengacuhkan ucapan Sakti.


“Pagi tadi, Nila meneleponku, usai ia melihat keadaan Purnama. Dan ia menyuruhku untuk menggorengmu.” Kembali Sakti berucap marah. Kurasa, tangan Sakti gatal ingin memukul kepalaku.


“Ya, Sakti benar. Intan juga meneleponku tadi. Menyuruhku untuk membantaimu,” timpal Jagat dengan sadis.


“Elias, ubah sedikit sikapmu pada Purnama. Kasihan dia. Ia tak tau apa-apa,” ujar Sakti melembut. Aku hanya diam.


“Yang dikatakan Sakti benar, El. Tak sepantasnya kau menyakitinya, yang bersalah itu kakaknya, bukan dia.” Jagat menimpali. Kutatap tajam Jagat dan menggeram. Sial! Tau apa mereka ini, mereka tak tau betapa sakitnya aku.


“Kami tau, El. Seberapa sakitnya hatimu. Tapi, tak baik melampiaskannya pada Purnama.” Seakan tau apa yang kupikirkan, Jagat berbicara.


Aku mengembuskan nafas keras. Aku tau, jauh di lubuk hatiku, aku tak ingin menyakiti Purnama. Tapi, dendam selama sepuluh tahun ini telah memenuhi seluruh ruang hatiku. Kuremas kedua tanganku, lalu mengacak rambutku hingga berantakan kala kembali terlintas bayangan Purnama yang penuh dengan air mata.


“Pada akhirnya, El. Kau tak kalah bejatnya dengan kakaknya,” ucap Sakti tenang sambil menyesap kopinya perlahan. “Hm, enak,” lanjutnya.


Aku terhenyak sesaat. Samar aku mendengkus, sedikit tak terima dibilang bejat.


Jagat mendecakkan lidah akan kekeras kepalaanku. “Aku setuju dengan Sakti. Kau tak kalah bejatnya.”


“Siapa bilang!” Aku menggeram.


“Tak usah mengelak lagi, El. Satu lagi, selain kekerasan fisik, kau juga memaksanya berhubungan badan. Itu sama saja dengan memperkosanya. Apa itu tidak dinamakan bejat?” sindir Jagat dengan nada sinis.


Aku meneguk saliva dan bungkam. Kembali kurasakan dada ini berdenyut saat mengingat wajah kesakitan Purnama kala kami melakukan hubungan badan. Aku menunduk, sudah tak bisa menyangkal lagi.


“Jujur, El. Aku tak mau kau mengalami nasib sama sepertiku,” tambah Jagat dan beranjak dari duduknya. Ia memutari meja dan berdiri di sampingku, meremas bahuku pelan. Lagi-lagi aku hanya bisa diam.


==============


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2