I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA


__ADS_3


“Ba-baik ...” Purnama menjawab gugup – kembali rona merah memenuhi wajah manisnya. Cepat ditundukkan kepalanya, sepertinya takut diketahui olehku. Tapi terlambat, aku sudah melihatnya. Benar-benar polos gadis ini, belum kugoda saja wajahnya sudah merona merah, apalagi sampai bila benar-benar kugoda. Aku tak bisa membayangkannya – tanpa sadar aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Seketika senyumku lenyap saat mengingat tujuanku mendekatinya.


Tidak, kau tak boleh menyukainya, El, hatiku kecilku mengingatkan.


“Maaf, tuan El. Pakai uang kecil saja. Kami kehabisan uang kembaliannya.” Purnama mengembalikan uang yang kuberikan.


“Tidak, kembaliannya ambil saja olehmu.” Kembali aku menyodorkan uang tersebut. Purnama menggeleng cepat dan memberikan uang tersebut ke tanganku. Aku menghela nafas akan sikap Purnama.


“Kalau kau tak mau ambil, ya sudah. Kau yang bayar ini dan sebagai balasannya kau harus ikut menemani aku makan siang! Oke,” kataku tegas memandang tajam Purnama.


“Apa?” pekik Purnama kaget tak menyangka.


“Kuanggap kau setuju.” Mengambil shampo tersebut dari tangan Purnama dan berlalu.


“Hey ... apa-apaan itu? Hey, hey ... aku belum menjawabnya,” jerit Purnama memanggilku. Aku berbalik ke arahnya saat akan membuka pintu.


“Aku tak mau dengar kata penolakan nona Purnama. Ingat! Siang ini jam 12, di depan supermarket ini ada resto, kita makan di sana,” kata-kataku penuh intimidasi. Bergegas keluar dari supermarket, meninggalkan Purnama yang terbengong-bengong--sempat kulirik ekspresinya di pantulan kaca pintu.


* I’m Sorry To Hurt You*


Aku melihat jam tanganku, pukul 12 kurang. Mencari tempat yang pas untuk menunggu Purnama. Tak berapa lama kulihat Purnama masuk dan matanya berkeliling mencariku. Aku melambaikan tangan saat ia melihatku. Purnama membungkukkan tubuhnya padaku dan duduk tepat di depanku saat kupersilahkan ia duduk. Mengambil daftar menu dan menyuruhnya untuk memilih makanan. Matanya berbinar-binar melihat menu makanan, sepertinya lama ia tak makan yang enak-enak--terlihat dari pancaran matanya.


“Eung, Tuan El---”


“Panggil El saja atau Ben juga boleh, Purnama. Tak usah terlalu formal, aku bukan orang gila hormat,” kataku santai sambil mengamati wajahnya yang manis.


“Eum, El saja--kurasa ...” Purnama menunduk malu, wajahnya penuh dengan rona merah.


“Ya?” kataku dengan nada menggoda. Purnama semakin bersemu merah.


“Aku pesan steak dengan daging matang sempurna dan minumnya jus lemon.” Purnama menyodorkan daftar menu kepadaku setelah ia memilih pesanannya.


“Ada lagi?” tanyaku. Purnama hanya menggeleng, kemudian aku memanggil pelayan dan memesan menu yang dipilih Purnama tadi.

__ADS_1


“Woaaah ... kelihatannya enak.” Purnama berteriak girang bahkan bertepuk tangan saat makanan sudah tersaji dihadapan kami


“Makannya pelan­pelan saja, Pur.” Aku mengingatkan Purnama, tersenyum geli melihat cara ia makan cepat-cepat, seperti ia tak pernah makan steak seumur hidup.


“Ah maaf--habisnya, aku tak pernah makan steak seenak dan semahal ini,” ujarnya dengan mulut penuh makanan.


“Apa El tau? Harga steak ini sama dengan gaji sebulanku,” bisiknya polos menatapku. Aku hanya terkekeh geli. Purnama mengerucutkan bibirnya melihat kekehanku, ini anak ini benar-benar polos.


“El, aku serius.”


“Ya, ya, ya. Aku tahu,” ujarku masih terkekeh. Kulihat mulutnya belepotan dengan saus dan secara reflek aku mengambil tisu dan membersihkannya. Purnama berhenti mengunyah dan terpaku menatapku.


Deg!!!


Dadaku berdetak kencang saat mata kami bertemu pandang. Tanganku berhenti bergerak, terpaku di tempatnya. Purnama mengedipkan matanya lucu. Oh sial, tak boleh ada getaran aneh di dada ini. Aku meyakinkan diri.


Ingat Elias, kau memang harus membuat gadis ini jatuh cinta padamu, tapi kau justru sebaliknya. Kau harus tetap di jalurmu, membuat Edgar merasakan bagaimana menderitanya dirimu. Peringatan itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku, bahkan memenuhi seluruh isi kepalaku.


Aku mengacak rambutku dengan tangan kiriku hingga membuat rambutku berantakan. “Ah, sial.” Aku bergumam kesal.


“El?”


“Maafkan aku--lihat wajahmu belepotan begitu. Kau ini, makanya kalau makan pelan-pelan, padahal sudah kuingatkan.” Aku berdecak, memalingkan wajahku, menatap pemandangan luar dari arah samping. Sebenarnya untuk menetralkan detak jantungku sendiri. Kulirik dari sudut mataku, Purnama semakin bersemu merah. Aku yakin gadis manis ini sudah jatuh cinta padaku. Baguslah kalau begitu, aku mengedikkan bahuku akan pemikiranku.


“Eung, El. Aku sudah selesai makan,” suara Purnama kembali menyadarkanku dari lamunan, berbalik menatap Purnama. kulihat Purnama menundukkan kepalanya sambil membenarkan poninya yang menjuntai.


“Ya?” Entah jawaban atau tanya yang keluar dari mulutku efek dari lamunanku sendiri.


Purnama menghela nafas, menatap kedua bola mataku yang bulat. kemudian melihat arloji yang melingkar manis di tangannya.


“Maafkan aku, waktuku sudah habis, saatnya aku kembali bekerja,” ujarnya dengan berat hati.


“Ah tak apa--terima kasih sudah menemaniku makan,” ujarku tulus.


Purnama tersenyum manis, membuatku terpaku akan senyumannya. Ia berdiri dari duduknya dan menundukkan kepalanya. Berlari kecil dari hadapanku, aku terus mengikutinya hingga ia membuka pintu dan berpapasan dengan Nila; yang akan masuk. Nila menatap intens Purnama  dengan mata kucingnya yang tajam hingga Purnama menghilang di balik pintu. Aku melambaikan tanganku saat Nila beralih menatapku dan segera menghampiriku.

__ADS_1


* I’m Sorry To Hurt You*


“Siapa?” tanya Nila random saat mendudukan butt-nya yang sesaat tadi diduduki oleh Purnama di depanku.


“Siapa yang kau tanyakan, Nil?” tanyaku mengaduk kopi dan meminumnya “Enak,” gumamku. Nila menatapku sarkastik. Matanya mengikuti para pelayan yang mengganti menu yang baru.


“Siapa lagi kalau bukan gadis manis yang berpapasan denganku barusan – iish jangan bilang kau ingin menyangkalnya,” ujarnya berdecak sebal menatap tajam ke arahku setelah para pelayan itu berlalu dari hadapan kami.


Aku hanya terkekeh melihatnya. “Kenapa?” kembali Nila bertanya


“Tidak,” jawabku singkat membuat Nila memicingkan matanya, sepertinya aku melihat tanda tanya besar di atas kepalanya. Kuabaikan dirinya, membuka ponsel dan menghubungi seseorang.


“Ya, pak Robert. Hubungi bossnya Purnama dan buat ia memecatnya. Aku tak ingin tau caranya, pokoknya kau harus membuat Purnama dipecat dari pekerjaaannya,” perintahku pak Robert; biasa mematai Purnama. Kudengar helaan nafas dari seberang telepon setelah mengiyakan perintahku dan langsung kututup teleponnya. Nila mendesis tajam ke arahku mendengar penuturanku barusan. Aku hanya mengedikkan bahu.


“Kau ini, jadi orang jangan terlalu kejam.” Nila meninju bahuku pelan.


“Maka dari itu, Nil kau harus menerima Purnama menjadi pelayan cafe di tempatmu.” Aku menimpali perkataannya, membuat Nila membelalakkan matanya yang sipit itu--masih punya keturunan darah Asia, ibunya berasal dari negeri Gingseng, Korea. Sama sepertiku, masih ada darah campuran Korea.


“Apa?”Nila memekik, membuat orang yang berada di sekeliling memandang kami sebal dan otomatis membuat Nila tertawa nyengir. “Hei, hei ... Astaga. Kau ini,” sambungnya dengan suara pelan. “Lagian aku tak tau siapa itu Purnama.”


“Gadis yang barusan berpapasan denganmu tadi, Nil.”


“What, kau benar-benar kejam. Njirr,” umpat Nila. Aku hanya terkekeh.


“Jadi, dia gadis manis yang kau ceritakan selama ini. Kasihan dia kalau tau niatmu.” Nila mencomot burger di depannya, dan mengunyahnya cepat. Aku memasang wajah dingin.


“Kau tau sendiri, Nil. Betapa sakitnya aku akan perlakuan Edgar terhadap keluargaku. Apa salahnya kalau aku membalasnya melalui adiknya.”


Nila menatap mataku yang dingin, tangannya terulur menggenggam tangaku.


“Dan aku ingin kau harus menerima Purnama menjadi pelayan kafemu, bagaimanapun caranya, paham?” ujarku penuh penekanan.


Nila hanya menghela nafas, ia tahu sifatku yang tak ingin ada kata bantahan. “Iya, paham.”


__ADS_1


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2