![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku bersenandung kecil saat memasak masakan untuk istri tercintaku. Bersiul-siul meracik bumbu. Membuat menu masakan khas Jepang, Gyudon dan yakiniku. Aku tersenyum simpul membayangkan permintaan Purnama yang ingin makan masakan khas Jepang, padahal kami tadi sudah berhenti di depan restoran Jepang. Tadi, aku sedikit kelimpungan saat mencari bahan-bahan untuk menunya yang ternyata tak banyak market menjual jenis bahan seperti itu. Beruntung di supermarket yang ketiga kalinya kami datangi menjual semua bahan-bahannya.
Dan aku tahu, Purnama ingin mempersulitku. Dia lagi mengujiku. Tapi itu tak masalah. Seberapa kerasnya istriku memberikan kesulitan padaku. Aku tetap akan menerima dan menjalaninya dengan hati senang. Demi bisa meluluhkan hatinya. Demi kembali bersama dengannya. Apapun akan kulakukan.
Beberapa menit kemudian masakanku telah siap di meja makan. Tinggal memanggil istriku yang masih di dalam kamar tamu. Kutarik napas dalam-dalam. Lagi, aku harus membujuknya untuk kembali sekamar denganku. Samar sudut bibirku tersenyum sinis. Mengejek diriku sendiri.
Lihat, Elias. Dulu kau yang mengusirnya dari kamar utama, tak mau sekamar dengannya. Kini...kau yang akan memohon-mohon padanya, untuk sekamar dengannya.
Berkali-kali aku mengembuskan napas kasar ke udara. Masih berat rasanya mengakui kekalahanku saat ini. Kukedikkan bahu. Mau bagaimana lagi. Purnama-lah satu-satunya pusat duniaku sekarang.
***
Bibirku tak hentinya membentuk senyuman kecil melihat sosok manis di depanku melahap habis masakan buatanku. Kalau dipikir-pikir semua masakan buatanku--yang pernah kumasak buatnya--habis semua dimakannya. Bolehkah aku sedikit sombong. Siapa yang tak suka masakanku yang hampir sekelas dengan masakan chef restoran. Karena dahulunya aku terbiasa memasak sendiri. Aku terkekeh geli akan kenarsisanku sendiri.
“Pelan-pelan, Sayang. Semua masakan ini hanya untukmu. Dan bila kurang, aku bisa memasaknya lagi untukmu.” Aku menatap penuh cinta pada istriku. Tangan kananku menopang wajahku. Saat ini hanya ada aku dan Purnama. Sedang Edgar, tak ikut bergabung bersama kami. Dia lebih memilih tidur ketimbang makan.
“Bagaimana masakanku, enakkah?” tanyaku meminta pendapatnya. Kembali kata-kata itu berputar di kepalaku. Dahulu pertanyaan itu Purnama yang mengajukannya padaku. Dan selalu aku menjawabnya dengan nada ketus. Mengatakan masakannya tidak enak. Bahkan hanya menyentuh sedikit hidangannya. Meski pun begitu, Purnama tak pernah absen satu kalipun memasak untukku. Kalau diingat lagi, selalu timbul penyesalan yang dalam padaku ketika mengenang kelakuan kasarku padanya.
Samar aku mengembuskan napas lega. Syukurlah, meski hatinya marah padaku, tetap dia memakan masakanku. Tidak seperti aku yang dulu. Pandanganku beralih ke atas piring. Semua isinya telah habis. Aku tersenyum. Senang rasanya masakan buatanku habis dilahap olehnya.
Purnama berdiri. Ia sedikit cemberut melihatku tersenyum menatap piring kosongnya. Dia tahu arti dari senyumanku ini.
“Jangan salah kira, Elias. Aku menghabiskan masakanmu karena lagi lapar saat ini,” kilahnya dengan nada ketus. Segera pergi dari dapur.
Kalau tidak mengingat istriku saat ini sedang marah, hampir saja aku tertawa mendengarnya. Ekspresi wajahnya jelas berbeda dengan ucapan dari belah bibirnya. Istriku sungguh lucu. Bilang tak menyukai masakanku, tapi dihabiskan semuanya. Baguslah. Setidaknya dia tak terlalu menjaga gengsi di depanku. Kasihan juga dengan bayinya kalau masih mempertahankan gengsinya.
Cepat-cepat aku membersihkan meja makan. Mencuci semua peralatan dapur. Lalu segera menyusulnya ke kamar. Ya, aku akan mencoba membujuknya lagi untuk kembali tidur di kamar utama.
__ADS_1
***
Aku menarik napas panjang ketika berada di depan pintu kamar tamu. Sedikit gugup dan ragu. Tanganku terangkat mengetuk pintu. Barulah ketukan yang ketiga kalinya istriku membuka pintunya. Wajahku menyengir lebar menatapnya; cemberut dan mencebik sambil mengelus perutnya.
“Kenapa?” Seperti biasa, dia berucap ketus dan singkat.
Mataku meredup menatapnya. “Tidurlah di kamarku,” pintaku tak kalah singkat.
“Tidak mau!” Purnama sedikit meninggikan kadar volume suaranya. Kuusap wajah dan menghela napas tak kentara. Jawaban yang sudah tertebak dari mulutnya.
“Sayang, kumohon kali ini saja ya,” bujukku dengan memegang tangannya. Purnama tak mengibaskannya seperti biasa. Ada peluang untuk bisa membujuknya.
“Sayang” tanyaku lagi meminta kepastiannya.
“Sayang, kumohon. Aku akan melakukan apapun yang kau minta, bagaimana?” Aku memberikan pilihan, berharap dia mau tidur di kamar utama. Tak lupa menambahkan dengan raut wajah memelas agar hatinya luluh. Aku tahu, istriku tipe orang yang mudah tersentuh.
“Apapun yang kuminta?” Purnama menaikkan sebelah alisnya, menatap lekat bola mataku, mencari kebenaran di mataku.
Demi dia mau kembali padaku, apapun itu akan kulakukan. Mengangguk dengan setengah hati, karena aku tak tahu konsekuensinya apa yang diinginkan Purnama dariku. Semoga bukan hal-hal aneh.
“Baiklah.” Purnama menyeringai. Aku tersenyum lega seraya mengernyit merasakan pikiran buruk merayapi kepalaku.
***
__ADS_1
Aku memandang bergantian bantal dan selimut di tanganku dengan wajah kosong. Meneguk salivaku berkali-kali. Kemudian memelas menatap sekali lagi pada wajah manis istriku yang menampilkan eskpresi datar.
“Sayang, kau yakin?” Aku meringis. Kutatap sofa di sudut kamar. Ya. Aku disuruh Purnama tidur di sana. Beruntung Purnama tak melempar bantal, seperti yang kulakukan dahulu padanya.
Purnama berusaha bangun dengan tubuh buncitnya, sedikit kesusahan. Menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kedua alisnya terajut ke atas, menatapku dengan tajam.
“Kenapa? Tak ingin? Baiklah aku akan kem---”
“Oke, aku mengerti.” Buru-buru kupotong kalimatnya. Mana mungkin aku membiarkan istriku kembali ke kamar tamu. Setelah bersusah payah aku memohon padanya, serta berbicara baik-baik pada kakak iparku untuk bertukar kamar dengan istriku. Bisa-bisa Edgar menertawakanku.
Dan sofa ... lumayan juga. Daripada tidur di ranjang sendirian. Lebih baik membaringkan tubuh di sana. Melihat wajah damainya yang tertidur sambil menjalankan rencanaku selanjutnya, ketika dia sudah tidur nyenyak.
Aku mulai membaringkan tubuh di sofa dengan tak nyaman, karena tubuhku yang besar. Kutarik selimut sampai batas dada. Tubuhku kumiringkan ke samping, agar jelas memandang wajah damai istriku yang tertidur. Mataku tak berkedip sedikitpun melihat wajahnya. Kembali hatiku mengembang bahagia, bahkan bibirku tertarik ke atas membentuk senyuman. Aku tak sabar ingin memeluk tubuhnya, dan mengelus perut buncitnya. Aku melirik ke jam dinding. Masih lama.
Tepat jam dua belas malam. Purnama masih tertidur pulas. Sepertinya aman. Dia takkan terbangun. Membuka pelan selimutku. Menjejakkan kaki telanjangku ke lantai. Dengan langkah hati-hati, aku mendekati ranjang. Membaringkan tubuhku di sampingnya. Sangat hati-hati sekali aku memindahkan kepalanya ke lenganku. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa mendengar napasnya yang teratur.
Masih tersenyum--seakan senyuman itu melekat di wajahku, tak luntur walau sedetikpun--merasakan istriku tertidur lelap dalam pelukanku. Bahkan kini, tanpa disadarinya, menyurukkan kepalanya ke dadaku. Kutahan napas sesaat. Menetralkan debaran jantungku kian kencang. Takut istriku yang tertidur di dadaku terbangun karena mendengar suara debaran jantungku.
Kuembuskan napas lega saat Purnama tak terusik sama sekali. Dengan sangat hati-hati kuangkat dagunya. Mendekatkan wajahnya pada wajahku, hingga menyisakan beberapa senti saja. Jariku membelai wajahnya. Aku sangat merindukannya di dalam dekapanku.
Kuelus kedua alisnya secara bergantian. Menjepit hidungnya. Mengelus pipi berisinya yang sedikit gemuk karena mengandung anakku. Dan terakhir, beralih ke bibirnya, membelainya sangat lama. Aku tersenyum girang, hal-hal yang tak bisa kulakukan saat dia tidak tidur, kulakukan sekarang.
Aku terkekeh kecil saat Purnama tak terusik sedikitpun akan ulahku. Kukecup keningnya lama. Turun ke bawah, mengecup hidungnya, dan terakhir mengecup bibirnya dalam waktu lama. Bahkan tak hanya sekali, melainkan berkali-kali, hingga bibir penuhnya sedikit membengkak, dan hatiku pun merasakan kepuasan.
Aku mengeratkan ke dua tanganku di pinggangnya. Mengecup bahu mulusnya, lalu mengelus perutnya. Menyapa bayiku di sana.
Bagaimana kabarmu di sini, Nak. Tolong katakan pada Mommy, bahwa Daddy sangat mencintainya.
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1