I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
01| Spesial Chapter (Edgar)


__ADS_3

 


 


Malam yang gelap. Tak ada cahaya bulan menyinari. Bintang-bintang tak tampak satu pun di langit. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Kuhela napas panjang. Sepertinya aku salah memilih waktu ketemuan dengan kekasihku. Akan tetapi, tak ada waktu lagi selain malam ini.


Kuperhatikan sekelilingku. Kalau-kalau saja ada orang yang mengintaiku. Sepertinya aman. Sengaja aku memilih tempat ketemuan dengan kekasihku di kafe yang tidak terlalu terkenal di Jakarta, jauh dari pusat keramaian. Untuk jaga-jaga. Kalau-kalau orang suruhan Elias menangkapku dan aku bisa melarikan diri dengan mudahnya.


Elias ... nama itu ... bertahun-tahun aku melindunginya dengan diam-diam. Pulang pergi New York - Jakarta mengontrol keadaannya dengan dibiayai langsung oleh tante Cinthya yang menetap di Beijing. Kadang harus berpisah dengan Purnama—adikku satu-satunya—berbulan-bulan demi menjalankan amanah almarhum Om Marcus Benjamin Bowman. Beliau sahabat baik kedua orang tuaku. Beliau sudah terlalu banyak membantu keluargaku. Di saat ekonomi keluarga kami sedang carut-marut, beliaulah yang memberikan dana pada orang tuaku. Beliau jugalah yang memberikan pekerjaan padaku.


Sayangnya, beliau meninggal di tangan keponakannya sendiri, Jeremy. Karena adu domba Jeremy-lah hingga Elias membenciku—lebih tepatnya dendam padaku. Jeremy jugalah yang membuatku dan Purnama menjadi yatim piatu demi menghapus jejaknya sebagai pembunuh.


Sudah satu bulan ini aku—tanpa disangka—kembali bertemu dengan Elias. Yang lebih membuatku terkejut ia mendekati adikku satu-satunya. Berhasil membuat Purnama jatuh cinta padanya. Besok mereka akan menikah. Dan Elias mengancamku akan memenjarakanku. Maka dari itu aku duduk di sini, di cafe ini, menunggu sosok wanita yang kucintai. Menemuinya untuk terakhir kalinya sebelum aku kabur ke Beijing.


“Mas Edgar, sudah lama menunggu ya?”


Aku menengadah. Zahratul Hafshah, lebih muda dariku setahun. Wanita yang sudah dua tahun ini mengisi hatiku. Andaikan saja Elias tidak datang mengusikku dan adikku, tentu dia sudah kenikahi. Sayangnya, rencana ini tak bisa kulaksanakan. Malam yang seharusnya menjadi kencan paling indah untuk kami, akan berubah menjadi kencan terakhir kami.


Irisku memperhatikan Zahra yang duduk di depanku seraya mengibaskan rambutnya yang hitam panjang. Sangat indah. Salah satu penyebab aku jatuh cinta padanya karena rambutnya itu—selain tutur katanya yang sopan dan sikapnya yang baik. Bahkan sangat baik padaku sekalipun banyak rahasiaku darinya tak kuceritakan padanya. Salah satunya, aku tak mengatakan bila aku punya adik yang manis seperti Purnama. Ini kulakukan demi keselamatan dua sosok wanita yang kucintai. Hidupku terlalu tidak aman. Selalu dikejar-kejar polisi. Selalu menghilang setiap saat. Tetapi demikian, aku sangat bersyukur baik Purnama atau Zahra tak ada yang protes. Mungkin karena aku pandai menutupinya. Selalu berhasil membuat alasan yang bisa dimengerti keduanya.


“Mas? Kau mendengarku?” suara lembut Zahra membuyarkan lamunanku.


Aku tersenyum tipis padanya, kemudian mengangguk kecil. “Ya. Enggak terlalu lama,” dustaku. Padahal sudah dua jam-an aku menunggu.


“Syukurlah.” Zahra menarik napas pendek. “Tadi aku hampir sesat mencari kafe ini. Petunjuk di google maps membuatku puyeng. Jalannya muter-muter. Eh tahunya gak jauh dari jalan utama.” Zahra mengerucutkan bibirnya membuatku terkekeh gemas melihatnya.


“Maafkan aku tak bisa menjemputmu seperti pria-pria di luaran sana, Ra. Kalau aku punya kendaraan aku bisa menjemputmu,” sesalku. Aku tak punya kendaraan apapun. Jangankan punya kendaraan, pekerjaanku saja serabutan untuk saat ini.


“Enggak apa kok, Mas. Aku punya motor.” Zahra menyunggingkan senyuman manis.

__ADS_1


Satu lagi yang membuatku sangat mencintainya. Zahra sangat pengertian padaku. Sangat memaklumi kondisiku. Bahkan ia tidak peduli pada cibiran teman-temannya yang punya cowok miskin sepertiku. Zaman begini punya cowok tak punya motor. Tapi itulah kenyataannya. Dan Zahra menerimaku apa adanya. Kutahu banyak lelaki yang lebih mampu dariku mendekatinya. Tapi ia lebih memilihku.


Ini jugalah yang mungkin akan membuatku sangat merasa bersalah padanya. Akan membuatnya menangis. Menyakitinya. Maafkan aku, Sayang. Rasanya bibirku begitu kelu untuk mengatakan hal menyakitkan padanya malam ini.


Lagu cinta dari BCL yang berjudul Karena Kucinta Kau yang dilantunkan oleh penyanyi kafe wanita sangat cocok untukku yang menjalin hubungan dengan Zahra. Menggambarkan cinta Zahra padaku. Dan mungkin inilah yang akan selalu kurindukan bila nanti kami berpisah.


“Makanlah. Aku sudah pesankan makanan kesukaanmu,” ujarku. Kebetulan pesananku datang pas Zahra datang. Semangkuk bakso. Setiap kali kami pergi kencan, Zahra selalu memintaku membelikannya bakso. Hanya bakso. Yes. Tak banyak pintanya. Mungkin kalau wanita lain minta lebih dari bakso. Tapi Zahra sangat unik. Baginya bakso saja sudah cukup untuk mengganjal perut dalam menunjang kencan kami—kendati demikian, kami juga sering makan nasi, meski kebanyakan aku yang memaksanya makan—yang penting kata Zahra, kami bisa pergi berdua. Jalan-jalan kemanapun kami suka. Ke taman hiburan. Ke mall hanya sekedar cuci mata tanpa membeli. Ke bioskop menonton film-film kesukaannya, dan lain sebagainya.


Sambil menunggunya makan, kutatap lekat wajah manis Zahra. “Makannya pelan-pelan saja, Ra. Gak usah buru-buru,” kataku, agar bisa menikmati memandang wajahnya untuk terakhir kalinya. Juga mengulur waktu kepembicaraan serius.


Kusodorkan jus apel—jus kesukaannya selain jus nanas—padanya. Selesai makan dan minum, barulah aku mulai pembicaraan seriusku—berat rasanya untuk mengatakan hal ini. Kuraih tangannya dalam genggamanku. Lalu kucium telapak tangannya dengan sayang. Zahra tersipu akan perlakuanku. Kemudian kulepaskan genggamanku.


Sinar mataku berubah semakin lembut saat berkata, “Ara ...” kujeda ucapanku. Kuambil napas dalam-dalam. Kulanjutkan lagi ucapanku, “Kurasa aku memang gak cocok denganmu.”


“Ih, bilang itu lagi. Aku gak mau mendengarnya.” Zahra cemberut.


“Ara ... kau pantas bahagia. Dan aku gak bisa membahagiakanmu dengan kondisiku yang seperti ini,” kataku lagi, mengabaikan keberatannya setiap aku membahas masalah ini.


“Aku tahu. Tapi ... aku yang sudah tak mampu bersamamu lagi. Aku ...” kuhentikan ucapanku. Zahra mengerutkan dahinya. Ekspresinya mulai tak enak dilihat.


“Kok Mas Edgar ngomong begitu. Maksudnya apa?”


Kutarik lagi napas dalam-dalam. Kutatap lekat ke dalam bola matanya. “Maafkan aku, Ara. Aku menyerah pada hubungan kita. Lebih baik, mulai sekarang kita jalan sendiri-sendiri ya. Carilah pria yang lebih baik dariku.”


Usai berkata aku bergegas meninggalkannya yang mematung. Sempat kulihat air matanya yang berlinangan. Ah sakit sekali melihatnya seperti itu. Tapi apa mau dikata. Inilah pilihan yang terbaik. Aku hanya bisa berkata; I’m sorry to hurt you, Zahra. My Love.


..........


.......

__ADS_1


.....


 


 


Angin yang gemulai berbisik lembut di telingaku. Mengingatkanku akan kejadian dua tahun yang lalu. Malam yang sangat menyesakkan bagiku. Malam dimana aku harus meninggalkan dua sosok yang kucintai, Purnama dan ...


Zahra ....


Nama itu ... nama yang terpatri di benakku. Sampai detik ini. Hanya dia yang bisa mengisi celah di hatiku.


Kuhela napas panjang. Kupandang lekat taman bunga di depanku—di sekitar kompleks apartemen adik iparku, Elias. Sudah berjam-jam aku duduk termenung di sini, setelah Elias dan Purnama—untuk sekian kalinya—membujukku operasi.


Kalau dipikir-pikir lagi. Ada gunanya aku berpisah dengan Zahra bila melihat keadaanku yang sekarang divonis penyakit lupus. Hidupku tak lama lagi. Sungguh aku tak sanggup menyakiti Zahra lagi. Aku tak sanggup melihat air matanya ketika melihatku pergi dari dunia yang fana ini. Cukup Purnama yang menangisi kepergianku.


Dan mungkin sekarang Zahra sudah bahagia dengan laki-laki lain. Menikah. Menjadi istri yang baik bagi orang yang dicintainya. Menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan. Yang kesemuanya itu takkan pernah aku berikan padanya.


Maafkan aku, Ara. Aku sudah menyakitimu saat itu.


Hanya kalimat ini yang tak bisa kuucapkan lagi setelah aku pergi dari dunia ini nantinya. Kalimat yang sangat ingin kuucapkan namun tak pernah tersampaikan.


\===================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2