I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Kupandangi begitu lekat wajah Purnama yang terpejam. Beberapa jam yang lalu ia mendapatkan perawatan usai insiden penculikannya. Sangat bersyukur tak terjadi apa-apa pada bayi dalam kandungannya serta dirinya.


Kubelai wajahnya yang masih sangat pucat, perlahan jari-jari panjangku turun membelai bibirnya yang begitu kering dan tak kalah pucatnya. Kudaratkan bibir tebalku di atas bibir plumnya, lama kukecup bibirnya. Setelah puas barulah kulepaskan. Kugenggam tangan kanannya di mana terdapat selang infus tertancap.


“Purnama, maafkan aku,” gumamku dengan serak dan parau. Saat ini hatiku bagaikan tertusuk sembilu tajam. Perih rasanya.


“A-ku ... pria paling bodoh di dunia ini. Bah-kan mungkin tak pantas mendapatkan maafmu setelah perlakuan kasarku padamu,” bisikku penuh sesal. Menyesali semua yang telah terjadi. Dan kurasa akan kembali menyakitinya. Bila dia tahu bahwa kakaknya--keluarga satu-satunya--mengidap penyakit serius, setelah dia kubawa pergi ke New York. Oh Tuhan, bagaimana nanti aku akan menghadapinya.


Kurebahkan tubuhku di sisi lainnya seraya mendekap erat tubuhnya. Matanya masih setia tertutup rapat. Telapak tanganku perlahan mengelus-elus perut buncitnya; untuk pertama kali aku menyentuh perutnya. Dalam perut ini ada kehidupan lain yang mulai berkembang, bagaimana bisa selama ini aku tega memperlakukannya begitu kejam.


 


 


 


***


 


 


 


Entah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun saat kurasakan tangan Purnama membelai kepalaku. Dengan enggan, kubuka sedikit kelopak mataku, melirik arloji di tanganku - menunjukkan waktu dini hari. Sepersekian detik berikutnya kutegakkan tubuh. Kutatap Purnama yang ternyata masih memejamkan matanya. Kelopak matanya perlahan mulai bergerak-gerak. Dengan suara serak dan parau, aku mulai memanggilnya, agar terbangun dari tidurnya. Kuguncang bahu lemahnya.


“Sayang, ayo bangun,” kataku. Purnama merespon panggilanku, perlahan membuka matanya.


Dengan perasaaan cemas, kutatap nanar istriku hingga tanpa kusadari telah berdiri mematung. Serasa tubuhku kaku, antara senang dan shock. Jemariku gemetaran hebat kala memencet tombol darurat di atas kepalanya. Memberi tahu dokter bahwa istriku sudah siuman. Seketika itu juga beberapa suster dan dokter berhamburan masuk ke ruangan. Begitupun dengan Daddy. Kubiarkan tim dokter memeriksa istriku. Daddy menuntunku duduk di sofa dengan rasa tak nyaman dan gelisah memenuhi relung hatiku.


 


 


 


***

__ADS_1


 


 


 


Satu jam kemudian, setelah Purnama sadar dari pingsannya. Aku mengumpulkan keberanian serta bisa mengontrol perasaanku; tiba-tiba saja menjadi down untuk duduk di sampingnya. Rasa takut segera menyergapku tadi hingga tak mampu berdiri di sampingnya.


Saat ini ... tak ada yang berani membuka suara. Disaat diam seperti ini, kurasakan keheningan semakin menyelimuti ruangan. Sebagai seorang yang terdakwa bersalah, dan banyak dosa pada istriku, sudah selayaknya aku membuka mulut dan berbicara langsung padanya.


“Purnama,” lirihku tak mampu menatap mata cokelat beningnya secara langsung. Aku tertunduk, menatap kakiku yang menapak kuat di lantai marmer putih rumah sakit. Telingaku menangkap desahan napasnya yang begitu lembut menyapa pendengaranku.


“Purnama, maafkan aku,” bisikku, masih tak berani menatap matanya secara langsung. Lagi dan lagi, hanya kata itulah yang keluar dari mulutku, sudah tak terhitung jumlahnya selama seminggu ini. Tanpa kuduga, dengan lembut Purnama memegang tanganku yang terkepal. Aku masih diam, tak meresponnya.


“Katakan sekali lagi, El. Katakan dengan menatap langsung kedua mataku ...” Ada jeda yang lama darinya, lalu kembali menyambung perkataannya, “Katakan kalau kau mengakui kesalahanmu, huks,” lanjutnya di sela-sela isakan kecil yang lolos dari cela bibirnya.


Hatiku berdenyut sakit. Kuangkat kepalaku. Kuberanikan menatap langsung kedua mata beningnya yang dipenuhi dengan air mata kesakitan.


“Maafkan aku, Purnama. Aku benar-benar bersalah padamu,” kataku dengan suara serak.


Sebait kalimat dari belah bibir Purnama menjawab perkataanku. Sebait kalimat yang mampu meluluhkan hatiku yang segunung es ini mencair perlahan. Tak kuasa lagi, kurengkuh tubuh lemahnya.


 


 


 


***


 


 


 


Sudah sehari aku pulang dari rumah sakit. Tubuhku masih terasa lemah dan berat. Kuraba tempat tidur di sampingku, mencari sosok hangat yang semalaman terus mendekapku, memberiku rasa nyaman dan aman. Dahiku mengeryit saat tak merasakan keberadaan suamiku.

__ADS_1


“Elias?” panggilku. Samar hidungku mengendus bau wangi masakan yang tertiup angin. Siapakah yang memasak? Apa mungkin tetangga? Mencium wangi harumnya masakan ini membuatku jadi lapar. Mengelus perutku, sepertinya bayi di dalam juga lapar.


“Sebentar ya, Baby. Mommy masak dulu. Sekarang kita ke dapur,” kataku sambil mengelus perut besarku dan mengulas senyum di belah bibir plumku.


Dengan hati-hati kujejakkan kaki ke lantai. Kugerakkan tubuh mengikuti bau masakan sampai ke dapur. Eh ke dapur? Kugosok mataku. Apakah aku salah lihat? Kulihat Elias sedang memasak. Wajahnya sangat serius sekali. Lengan kemejanya digulung batas siku. Keringat yang menetes di pelipisnya tak dihiraukannya. Aku terpaku tak bergerak menatap pemandangan ini.


“Sayang, sudah bangun.” Suara berat Elias menyapa saat menyadari keberadaanku. Berhenti dari kegiatannya, ia menghampiriku yang bengong - sama sekali tak mengedipkan mata. Dalam sepersekian detik saja, bahkan aku tak sempat berpikir lagi, bibirnya telah mendarat di bibirku.


“Kecupan selamat pagi,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Menyunggingkan senyum menawan di belah bibir sensualnya. Aku masih dalam mode mematung - belum merespon apapun.


“Masih belum puaskah, Sayang,” godanya.


Aku tersadar. Mengerjapkan mata dan memandang lekat dirinya. Elias terkekeh melihatku bengong. Kali ini, Elias benar-benar menciumku. Kupejamkan mata saat bibirnya menyentuh bibirku.


Kutepuk dadanya, memberi kode, aku butuh udara saat ini. Dengan enggan Elias melepaskan tautan bibir kami. Jari-jarinya dengan lembut menghapus sisa saliva di bibirku, tersenyum tipis lalu menyatukan keningnya ke keningku. Tatapan mata elangnya seakan menembus ke dalam bola mataku.


“Ayo kita sarapan,” katanya. Menjauhkan dahinya dariku, lantas mendorong pelan bahuku dan menuntunku ke kursi. Kulihat di atas meja ada dua piring nasi goreng dengan toping yang sangat menggiurkan. Ketika aku menyantapnya, itu benar-benar lezat. Terhitung baru dua kali Elias membuatkanku masakan dan semuanya sangat lezat. Sungguh.


“Enak,” ujarku dengan mulut penuh makanan. Memberikan dua jempol padanya yang membuatnya terkekeh geli.


“Makanlah yang banyak, setelah ini kita pergi ke suatu tempat,” katanya sambil mengusap lembut pucuk rambutku.


“Eh? Mau ke mana?” tanyaku bingung.


“Rahasia.” Elias mengedipkan sebelah matanya.


Ke manakah dia akan membawaku? Tak sengaja kupergoki wajah Elias berubah menjadi sayu, tapi itu hanya sesaat. Saat aku kembali melihatnya, ia tersenyum tipis. Siapakah yang akan dikunjungi Elias?


\============


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes , kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 珞, oke .


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 珞.


 


 

__ADS_1


__ADS_2