![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
“El-Elias.” Purnama terperanjat kaget. Berdiri dari duduknya diikuti Randy. Dia tak bisa berkata lagi dengan wajah memucat.
“Kali ini penjelasan apa lagi, hum,” kataku dengan nada menyindir telak.
Purnama meneguk salivanya, gugup. “I-itu---”
“Kenapa? Sudah kehabisan alasan?” cecarku terus menyerangnya.
“Elias, aku yang menyuruhnya datang kemari.” Randy mencoba mengambil alih pembicaraan. Aku mendengus dan menyeringai sinis. Mencoba menjadi pahlawan kesiangan, he? Rasanya tanganku gatal ingin meninju seseorang. Apalagi melihat sorot mata Randy padaku yang seakan ingin menantangku dan melindungi Purnama.
“Purnama, sudah kubilang padamu berkali-kali, aku tak mengizinkanmu menemui si ******** tengik ini.” Kutunjuk langsung wajah Randy---mengabaikan penjelasannya. Randy menggeram mendengar umpatanku padanya.
“Bajingan tengik? Ash, brengsek kau, Bowman.” Tak terima Randy mengumpat balik padaku. Smirkku mengembang mendengar umpatannya.
“Kenapa? Tak terima? Menemui istri orang secara diam-diam tanpa meminta izin langsung pada suaminya, ha, atau ... punya memang alasan lainnya,” tudingku menusuk tajam. Cih, alasan dengan menggunakan nama Edgar sebagai umpan untuk menemui Purnama. Dari awal saat bertemu dengan pria ini, aku sudah tak suka akan sikapnya yang terlalu berlebihan perhatian pada Purnama. Jelas-jelas Purnama sudah bersuami.
“Seperti menemui Edgar,” lanjutku sinis---kala Randy tak bisa menjawab. Cih, benar dugaanku. Orang bodohpun tahu, kalau Edgar tak ada di sini.
Aku berdecak. “Padahal aku sangat berharap bahwa si berengsek Edgar ada di sini.”
“El, jangan mengatakan kakakku berengsek. Lagipula, lihatlah sendiri olehmu, kak Edgar tak ada di sini,” bantah Purnama marah, tidak suka aku mengumpati kakaknya.
Aku terkekeh dan menatap tajam Purnama.
“Oh, jadi kalau tak menemui Edgar, berarti kalian berdua ada main di belakangku.” Aku terus menyerang Purnama dan Randy hingga mereka tak bisa berucap dan semakin terpojok.
“I-itu ....” Purnama gugup, wajahnya begitu gelisah seperti menyembunyikan sesuatu.
“Tenang, Purnama. Tak usah takut.” Randy menepuk bahu Purnama lembut. Sial. Beraninya lelaki sialan ini memegang bahu Purnama.
“Kemarilah, Purnama.” Dengan kasar kutarik Purnama ke sampingku hingga tangan Randy yang menyentuh bahu Purnama terlepas, membuat Randy menggeram kesal.
“Jangan kasar begitu pada istrimu, berengsek.” Randy seakan memantik api dalam diriku semakin meluap. Aku mendidih, mataku memerah. Kutarik kerah bajunya, hingga dia tertarik beberapa senti ke depanku.
“Mau mencampuri urusan orang, ha! Mau menjadi pahlawan, ha!” geramku dengan mendelik tajam tepat di wajah Randy.
Randy terkekeh sinis semakin membuatku naik pitam, hingga kulayangkan bogemanku. Beberapa detik saja, kepalan tanganku sudah mendarat di wajahnya, menyebabkannya tersungkur ke lantai dengan diiringi teriakan beberapa pengunjung restoran yang kaget melihat kami. Begitupula dengan Purnama, sangat terkejut bahkan menunduk berusaha ingin menolongnya. Segera kusentak tangannya hingga tubuhnya bertabrakan denganku. Secepat kilat kepeluk tubuh berisinya dari belakang. Kulirik sekilas Jeremy, dengan sigap menenangkan manajer restoran. Entahlah apa yang dibicarakan, yang pasti mereka tak ikut campur pada urusanku dan Randy di sini, hingga hanya menonton dari jauh. Yeah, mungkin setelah ini aku akan mendapatkan beberapa daftar kerusakan dari Jeremy dan menggantinya sebagai kompensasi atas keributan ini.
“Lepaskan aku!” Purnama berteriak marah padaku, terus memukul lenganku. Aku diam bergeming, tak menggubris teriakannya.
“Arrrgh ... apa yang kau lakukan, Purnama!” Tiba-tiba tanpa diduga Purnama menggigit lenganku. Secepat kilat kulepaskan dekapanku di tubuhnya. Sial. Kenapa Purnama semakin berani padaku. Untunglah aku memakai jas, kalau tidak mungkin ada bekas gigi di lenganku.
“Dy, kau baik-baik saja?”
Aku melotot mendengar ucapan dengan nada khawatir dari Purnama---begitu cemas, yang notabene Randy bukanlah siapa-siapanya. Tidakkah dia menghormatiku sebagai suaminya. Tanganku semakin kuat mengepal, apalagi Purnama dengan lembut membantu Randy berdiri, meringis menahan sakit. Mata Randy menyipit tajam padaku dan mengusap pipinya yang bekas kutonjok. Dia pikir nyaliku akan ciut karena tatapannya yang seperti gigitan semut. Bibirku membentuk smirk mengejek padanya, memancingnya untuk marah. Marah? Sebenarnya akulah yang lebih berhak marah di sini, sebagai suami sah Purnama.
Randy membentuk kepalan tangannya dan dilayangkan padaku. Dengan sigap aku menghindar hinggga tinjuannya membentur meja makan. Suara beberapa piring dan gelas yang berada di atas meja terdengar lantang kala terjun bebas dan hancur berantakan akibat tinjuan Randy yang membentur meja dan terbalik.
Spontan semua pengunjung yang berada di dalam termasuk Purnama berteriak semakin histeris kala melihat semua benda hancur berantakan. Memutar kedua bola mataku. Tak peduli akan keributan ini, meski kamilah yang membuat asal mulanya. Toh pada akhirnya, akulah yang akan mengganti semua kerugian ini.
“Dy ...” suara Purnama kembali menyadarkanku, segera kutarik tubuhnya takkala lewat di depanku. “Lepaskan aku, Elias!”
“Tidak akan!” Aku mendelik tajam. “Jangan pedulikan dia, kita pulang.”
“Tidak, Ran---”
“Jangan panggil nama pria aneh ini di depanku, PURNAMA!”
Aku sangat murka, amarahku sampai di ubun-ubun. Semakin mengeratkan cengkeraman tanganku pada lengannya dan menyeretnya keluar dari restoran. Tak kupedulikan tangannya yang terus memukul dadaku. Aku menggertakkan gigi, berbalik pada Randy yang masih mengelap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
“Ini peringatanku yang terakhir, kalau kau masih sayang sama nyawamu, jangan lagi kau menghubungi istriku, apalagi sampai meminta bertemu dengannya secara diam-diam!” ancamku tak main-main.
Randy tertawa sinis. “Kau pik---”
“Sudahla, Dy. Tak usah diperpanjang lagi.” Purnama menggelengkan kepalanya, sorot matanya seakan memberikan isyarat tertentu. Randy mendengus kesal, kemudian menuruti perkataan Purnama. Hanya diam. Sial. Aku benci adegan ini. Kenapa mereka berdua punya isyarat khusus.
***
__ADS_1
Aku memacu mobil sportku dengan kesetanan, menyalip beberapa mobil. Tak menggubris teriakan para pengendara lainnya yang mengumpatiku. Aku tak peduli, saat ini ingin cepat sampai ke apartemen dan mengurung Purnama di sana. Mengintrogasinya. Sesekali kulirik Purnama di sela-sela menyetir dengan kecepatan tinggi. Wajahnya pucat, ah kurasa memang selalu pucat semenjak kami sampai ke Beijing.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemen dengan mengendarai kendaraan seperti orang kesurupan. Turun dari mobil sembari memegang erat tangan Purnama, mengabaikannya yang memberontak.
Dengan kasar kututup pintu kamar kemudian menguncinya. Berbalik menghadap Purnama yang kini duduk di sofa. Melepaskan jasku dan melemparnya ke atas tempat tidur. Membuka beberapa kancing kemeja putihku lantas menggulung lengan kemeja sampai kesiku. Dadaku kembang kempis menatap nanar Purnama.
“Purnama kau benar-benar melanggar laranganku. Kau benar-benar ingin menusukku dari belakang!” Marahku kesal dengan berkacak pinggang. Purnama hanya diam.
“Arrrgh. Kenapa semuanya ingin mengkhianatiku,” makiku kesal pada diri sendiri.
“El, aku tak mengkhianatimu. Aku hanya pergi menemui Randy untuk bertemu dengan kakakku. Aku melanggar karena kau tak mengizinkanku bertemu dengannya,” jelas Purnama parau. Ia memainkan kedua jemarinya dengan gugup. Aku mendelik tajam padanya.
“Terus apa hasilnya, aku sama sekali tak melihat batang hidung Edgar,” bantahku berapi-api. Rasanya kalau mendengar nama berengsek Edgar ingin sekali aku memecahkan kepalanya.
“I-itu---” Purnama terdiam sesaat, entahlah diam karena apa. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu.
“Dan kau dengan bodohnya masuk kejebakan pria aneh dan tengik itu,” sinisku menyeringai. Purnama mendelik tajam. Tangannya mengepal.
“Elias, berhentilah mengejek Randy dengan sebutan pria aneh dan tengik. Dia tidak aneh.”
Mataku membulat. Berani sekali Purnama membela Randy dengan terang-terangan di depanku. Aku mendengus kasar. Menatap tajam mata cokelat beningnya - sekarang juga menatapku dengan tajam. Sorot matanya tak gentar padaku. Aku terkekeh, menyunggingkan senyum sinis.
“Oh, begitu ya. Jadi benar, ternyata kalian merencanakan sesuatu dariku. Kalian ingin melarikan diri dariku,” hardikku sambil bersidekap.
“Geez, kalau bisa sudah dari dulu aku melarikan diri darimu. Tapi nyatanya aku masih peduli padamu, terutama pada bayi yang kukandung ini,” balas Purnama berani, tangannya memegang perutnya dengan protektif.
“Kau marah karena aku bertemu dengan Randy. Tapi, kau tak pernah menghormati perasaanku. Aku juga sakit hati saat kau masih mengingat mendiang mantanmu itu! Kau memang ********!” raung Purnama.
Aku terdiam. Raungan Purnama menyadarkanku. Selama ini aku ... aku ...
“Dan apa salahnya kalau aku bertemu dengan kakak kandungku sendiri!”
“Tak ada yang salah kau bertemu dengan Edgar. Yang salah itu pertemuanmu dengan Randy. Ya, Tuhan. Kenapa kau bodoh sekali, Purnama...” Aku mendengus keras. “...itu hanya akal-akalan Randy saja. Satu hal lagi, aku benar-benar berharap kau bisa bertemu dengan Edgar, agar aku bisa menangkapnya hidup-hidup.”
“Elias!”
Purnama menggigit bibirnya cemas. Kulihat tangannya gemetaran - sepertinya ingin mengelus wajahku tetapi segera diurungkan. Kutarik napas sesaat dan mengembuskannya berulang kali sampai meredanya amarahku.
Tenang, Elias. Kau harus tenang. Kau tak boleh terbawa emosi. Jangan sampai karena amarahmu sesaat, Purnama dan calon bayimu terluka lagi.
Berkali-kali pikiranku mengingatkan. Lebih baik aku pergi dari kamar ini daripada nanti benar-benar kehilangan kendali.
***
[Seminggu kemudian ...]
Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur setelah seharian ini mengobrol dengan Mommy Chintya hingga malam menjelang. Mommy barusan pulang ketika Elias pulang dari kantor. Aku telah menyiapkan makan malam---yang kali ini Elias mau makan, disebabkan ada Mommy yang memaksanya dan ikutan makan.
Kupejamkan mata sejenak manakala rasa kantuk tiba-tiba saja menyerang. Barusan mau memejamkan mata, suara dering smartphone-ku bergetar. Kembali mendudukkan tubuhku dan mengambil smartphone di atas nakas. Melihat ID penelepon. Nama Randy tertera, langsung kugeser tombol jawab tanpa berpikir lagi.
“Purnama, besok kita ketemuan di apartemen elit kawasan Beijing, Kak Edgar ada di sana.”
“Benarkah, Dy?” kataku setengah tak percaya, antara senang dan takut.
__ADS_1
“Ya. Berhati-hatilah, jangan sampai ketahuan oleh Elias.” Randy memperingatkanku, takut kejadian seminggu yang lalu terulang lagi.
Lama kupandangi smartphone-ku yang layarnya tak menyala lagi. Pelan menghela napas. Semoga saja tak ada kejadian lebih buruk lagi. Entah kenapa, ada perasaan tak enak menyelinap di hatiku. Belum sempat menaruh smartphone-ku kembali ke nakas, suara gedoran pintu kamar berulang kali diketuk tak sabaran. Aku bisa menebak siapa orang yang tak sabaran di balik pintu itu.
Segera kubuka pintu, Elias menyerobot masuk sampai-sampai tubuhku terdorong beberapa langkah ke belakang. Kuteguk saliva saat melihat mata Elias memerah yang dipenuhi emosi.
“Ada ap---” Aku tak meneruskan ucapanku saat tiba-tiba saja Elias merampas smartphone-ku secepat kilat.
“Kembalikan smartphone-ku!” hardikku sembari berusaha mengambil smartphone-ku kembali. Elias meninggikan smartphone-ku, hingga aku tak bisa menjangkaunya. Bahkan aku melompat-lompat kecilpun tak sampai. Dengan kesal aku menghentikan lompatanku, takut akan terjadi sesuatu dengan kandunganku.
“Apa maumu, ha!” ujarku menantang. Sudah habis kesabaranku akan sikap kasarnya padaku. Elias menyeringai tipis, ia menggoyangkan smartphone-ku di depan mataku tanpa bisa menjangkaunya.
“Bukannya aku tak tahu siapa yang meneleponmu barusan,” katanya sinis.
Kuteguk saliva, ketahuan lagi seperti minggu lalu? Darimana Elias tahu semuanya, bahkan secepat ini. Aku terdiam seribu bahasa. Apakah Elias tahu pembicaraanku dengan Randy barusan? Kugigit bibir. Aku takut. Tidak. Aku menggelengkan kepala, aku tak boleh takut pada Elias.
“Terus kau mau apa? Tak mengizinkanku kembali?” kataku menantang dengan mata melotot tajam.
Elias terkekeh sinis. “Tentu saja, kau sudah berani melanggar perintah suamimu, maka aku akan menghukummu. Percuma dengan kata-kata kau tak mengerti.” Sorot mata Elias terlihat berapi-api.
Aku membola. Hukuman? “A-apa maksudmu, menghukumku?”
Elias mengangguk. Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja ia keluar dari kamar dan secepat kilat mengunci pintu kamar.
“Elias, buka pintunya!” Aku berteriak sekuat tenaga, menggedor-gedor pintu.
“Itu hukuman buatmu, sampai malam besok kau tak kuzinkan keluar dari kamar, kau tak boleh bertemu dengan Randy.”
“Ti-tidak...” Aku berteriak panik sambil terus menggedor-gedor pintu. Aku takut bila tak bisa menemui Randy, rasanya aku takkan bertemu dengan kak Edgar selama-lamanya.
“Kumohon, El. Buka pintunya.” Aku memelas dengan putus asa.
“Jangan memohon padaku untuk bertemu pria lain, Purnama!”
“Ka-kalau kau tak mengizinkanku keluar, kembalikan saja smartphone-ku,” ujarku penuh harap.
“Mau mencoba mombodohiku, ha. Kau pikir aku tak tahu!”
Aku terdiam. Memang niatku ingin menghubungi Randy untuk membatalkan pertemuannya dengan kak Edgar.
***
Tengah malam aku memasuki kamar Purnama, kulihat dia sudah tidur. Syukurlah. Dia sedikit baik-baik saja. Kupandangi wajahnya yang tertidur dengan dahi berkerut. Sepertinya dia gelisah.
Maafkan aku, Purnama. Maafkan aku ...
Aku terus mengucapkan mantra ini untuk menenangkan hatiku kala melihat Purnama begitu sakit. Perlahan mengusap perut buncitnya, lalu mengecup keningnya. Menyelimuti tubuhnya dengan benar. Sebelum menutup pintu, kupandangi sekali lagi dirinya, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Mengepalkan tanganku, berjanji dalam hati. Ini terakhir kalinya aku menyakiti Purnama. Besok, aku akan menyelesaikan semua ini. Setelahnya, memulai dari awal dengan Purnama kembali.
Bergegas ke kamar, mengambil mantel dan menuju kantor, menyusun rencana bersama Jeremy. Aku berencana akan menjebak Randy---bahkan kalau mungkin beruntung, Edgar juga ada di sana, seperti yang dikatakan oleh Randy dalam pembicaraannya bersama Purnama tadi.
============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1