I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
EMPAT PULUH EMPAT


__ADS_3

Tak ada hal yang lebih membahagiakan ketika semuanya berakhir dengan indah untuk saat ini. Tiada lagi dendam yang bersarang di hati. Tiada lagi amarah yang meluap-luap memenuhi rongga dadaku. Tiada lagi egois memenuhi jalan pikiranku. Semuanya digantikan dengan rasa suka cita, menerima semua yang telah terjadi. Aku akan mencoba mengikhlaskan kejadian masa laluku agar hati ini damai selalu. Begitupula dengan istriku.


Kutatap punggung ramping penuh cinta sosok manis istriku. Dialah yang kini mengisi seluruh celah di hatiku, memenuhinya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Senyumku tiada henti mengembang menghiasi wajahku. Hatiku terasa damai melihat sosoknya.


Kupandangi lekat dirinya--bagai atasan yang memperhatikan setiap gerak-gerik bawahannya--yang sedang berkutat dengan benda-benda di dapur setiap harinya. Tubuh berisinya terus bergerak lincah kesana kemari. Meracik bumbu masakan. Sebenarnya aku ingin membantunya. Tapi dia melarangku untuk terjun langsung menyumbangkan tenagaku. Aku bisa apa lagi selain menuruti kehendaknya.


“Eh? Sudah kembali normal?” Suara ambigu lemah Edgar membuyarkan pandanganku dari memperhatikan Purnama beralih menatap kakak iparku. Dahiku mengernyit. Entah kenapa hatiku berdesir halus, jantungku berdetak-detak kencang ketika memandang wajah pucat Edgar. Entahlah. Apakah hanya perasaanku saja? Sinar di wajah Edgar kian lama kian memudar. Redup. Tak ada cahaya semangat kehidupan di sana. Sepertinya aku harus lebih kencang lagi membujuknya segera operasi.


Kuelus tengkukku sebelum menjawab pertanyaan Edgar. “Semalam kami telah berbaikan kembali,” jawabku sambil sedikit berdeham. Meraih kursi, memundurkannya dan mempersilahkan Edgar duduk di sebelahku.


“Benarkah? Wah, sungguh kabar bahagia di pagi ini.” Edgar tersenyum sumringah. Duduk di sebelahku. Meraih segelas air putih di sampingnya. Menenggaknya beberapa kali.


“Aku sangat senang mendengarnya, El.” Edgar mengelus tanganku di atas meja makan. Aku hanya tersenyum kecil. Benar kata Edgar. Aku pun juga merasakan bahagia menghampiri tempatku berada pagi ini.


“Sarapan telah siap.” Suara riang Purnama ikut memenuhi pagi kami yang ceria. Kami bertiga tersenyum satu sama lainnya. Mulai menikmati hidangan buatan ala istri tercintaku.


“Maaf aku angkat telepon dulu.” Aku meminta izin ketika suara ponselku berdering nyaring di sampingku. Kedua kakak beradik itu kompak menganggukkan kepala. Bergegas aku menjauh dari keduanya dan meraih gawaiku. Menggeser tombol jawab saat sudah berada di ruang keluarga. Dokter Katy yang menelepon.


“Hallo Dok,” sapaku dengan tersenyum tipis meski seseorang dibalik seberang lautan luas nun jauh disana tak melihatku. Perasaanku mengatakan akan ada hal baik yang dikabarkan oleh dokter wanita ini.


“Tuan Benjamin, bagaimana kondisi suaramu?”


Aku mengusap tengkukku dan melirik sekilas pada kedua kakak beradik di ruang makan, masih asyik menyantap sarapan masing-masing. “Ya, aku baik-baik saja. Suaraku mulai sedikit stabil, hanya saja obatnya mulai habis. Sepertinya aku harus mencari dokter di Beijing.”


“Tak masalah obatnya habis. Carilah obat yang sama jenisnya di apotik atau dokter spesialis di rumah sakit Beijing. Saat ini anda hanya butuh terapi yang saya sarankan dan minum obat secara teratur, tuan Benjamin.”


“Baiklah, terima kasih atas sarannya, dok,” jawabku bernapas lega.


“Satu lagi, tuan Benjamin. Soal penyakit lupus yang dikatakan oleh anda beberapa waktu lalu.”


Tiba-tiba jantungku berdetak kencang kembali.


“Anda masih berada di Beijing kan, tuan Benjamin?”


“Ya, aku masih di Beijing,” jawabku sangat gugup bahkan menahan napas beberapa detik.


“Baguslah. Daripada anda jauh-jauh terbang langsung ke New York menemui dokter Rody, lebih baik anda temui sahabat sahabat saya di rumah sakit internasional Beijing, dia bisa membantu operasi saudara ipar anda.”


Setika senyumku mengembang bahagia mendengar penjelasan dokter Katy. Kututup sambungan telepon usai berbicara panjang lebar soal penyakit Edgar. Aku bergegas kembali ke ruang makan. Barusan saja keduanya selesai sarapan.


“Kenapa, Elias? Adakah hal baik singgah padamu hingga senyummu tak pernah luntur di wajah tampanmu itu.” Edgar tersenyum tipis seraya memiringkan kepalanya. Menatapku begitu lekat saat aku duduk dengan nyaman di kursi, bergabung bersama keduanya.


Sekilas kuteguk kopi hitamku yang mulai mendingin - kutinggalkan sejenak mengangkat telepon dari Dr. Katy tadi. “Tebakanmu benar, Ed. Ada hal baik menghampiriku, lebih tepatnya untukmu.” Kuletakkan gelas kopiku kembali ke tatakannya usai berbicara.


“Benarkah itu, El?” Mata Purnama berbinar-binar menatapku. Senyumnya begitu lebar - menampakkan gigi putih kecilnya yang rapi.


“Ya, Sayang.” Kuelus punggung tangannya, lalu beralih mengecup sebelah pipinya. Aku terkekeh geli melihat semburat merah jambu bermunculan di wajah manisnya. Purnama menundukkan kepalanya, malu. Dan Edgar sedikit berdeham-deham kecil akibat aksi yang kupertontonkan di depannya. Aku lupa. Di ruang makan bukan hanya ada aku dan istriku saja.

__ADS_1


“Maaf, Ed.” Aku tercengir malu, lantas kembali berkata serius, “Sebenarnya aku baru saja dapat kabar dari dokter yang menanganiku bahwa kau bisa dioperasi dalam minggu ini di rumah sakit Beijing. Kita tak perlu lagi ke rumah sakit di New York.”


Hening sesaat. Hanya suara Purnama yang terdengar begitu gembira. Berkali-kali dia mengucap syukur. Tapi tidak demikian dengan Edgar. Beliau hanya diam saja.


“Kakak, kau dengar kata Elias? Kita tak perlu ke New York. Kita bisa operasi di sini. Bahkan dalam minggu ini bisa operasi. Kita bisa mempersiapkan operasi Kakak sebaik mungkin.” Purnama berdiri dari duduknya. Segera memeluk erat Edgar. Istriku terisak. Namun bukan menangis sedih, melainkan menangis haru.


“Kakak?” panggil Purnama ketika Edgar tak merespon sama sekali.


“Ed, percaya padaku. Kau pasti bisa melewati semuanya,” ujarku menyemangatinya.


Edgar mengembuskan napas. Menatap lekat Purnama dan aku bergantian. Ia menggeleng. “Kurasa tidak, El.”


“Ed, kumohon. Kali ini saja. Kita lakukan operasi dulu,” kataku lagi, berusaha sebisa mungkin meyakinkannya. Purnama menganggukkan kepala. Setuju denganku.


“Elias benar, Kak. Yang penting Kakak operasi dulu. Singkirkan dulu masalah lainnya,” tambah Purnama disela isak tangisnya, kali ini isak tangis sedih. Kembali duduk di kursinya. Kuelus punggung tangannya. Menenangkannya.


Edgar menghela. Ia tak menjawab apapun. Hanya berdiri dari duduknya. Segera kuraih tubuh istriku. Ia semakin menangis terisak-isak di dadaku melihat reaksi dingin Edgar. Tak berapa lama, Edgar keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi. Jaket tebal membalut tubuh kurus pucatnya.


“Mau kemana, Ed?” tanyaku khawatir.


“Keluar sebentar. Hirup udara segar.”


“Kalau begitu kuteman--”


“Tidak usah, El. Aku butuh sendirian.” Edgar buru-buru memotong ucapanku.


Edgar hanya mengangguk lemah. Berlalu dari hadapan kami.


“Kuharap, setelah dia jalan-jalan sebentar diluar, ia berubah pikiran. Mau dioperasi,” ujarku mengembuskan napas pendek. Menatap sisa kopiku yang sudah sangat mendingin.


“Ya. Akupun berharap begitu. Aku ... sangat ingin Kak Edgar sembuh.” Purnama menengadahkan kepala. Menatap lekat bola mataku.


Sudut bibirku menyunggingkan senyuman tipis. Kuseka sisa air mata di pipi istriku. Lalu menyibak poninya yang menjuntai dan mengecup ringan dahinya.


“Aku juga, Sayang. Sangat ingin melihat Edgar sembuh dan hidup bahagia,” bisikku parau.


 


 


***


 


 


“Elias.”

__ADS_1


Aku menengadah. Mengalihkan perhatianku dari atas laptop ke ambang pintu ruang kerjaku. Istriku berdiri di sana dengan wajah cemas.


“Kenapa, Sayang?” tanyaku. Segera berdiri dan menghampirinya. Kubimbing Purnama menuju sofa tunggal panjang di depan meja kerjaku.


“Sudah beberapa jam berlalu, kak Edgar belum pulang-pulang. Manalagi dia belum makan,” ujar Purnama dengan suara nyaris tenggelam. “Aku sangat mencemaskannya.”


Kulirik sekilas arloji di tangan kananku. Itu benar. Karena sibuknya aku pada file-file bertumpuk di laptop serta melakukan zoom meeting bersama beberapa pejabat penting di perusahaanku di New York, aku lupa pada Edgar yang pergi menghirup udara segar dari pagi tadi.


“Kau sudah meneleponnya, Sayang?” tanyaku mencoba tenang.


“Sudah. Bahkan sudah ratusan kali semenjak sejam yang lalu. Tapi sepertinya kak Edgar mematikan teleponnya.”


Kuambil smartphone-ku di atas meja kerjaku. Kucoba menelepon Randy. Siapa tahu Edgar pergi ke apartemennya.


“Tidak. Kak Edgar tidak main ke tempatku. Memangnya kenapa dengan kak Edgar?” Randy balas bertanya usai aku menanyakan Edgar.


“Tidak kenapa-kenapa. Hanya Edgar belum pulang saja. Sudah ya, Dy. Kalau Edgar datang ke apartemenmu segera kabari aku,” ujarku buru-buru mematikan sambungan telepon. Lalu memencet nomor lain yang masih ada hubungannya dengan Edgar. Mommy-ku. Namun jawaban Mommy sama dengan Randy. Edgar tidak datang ke apartemen Mommy.


Kuhela napas pendek. Kemana sebenarnya Edgar? Daripada terus bertanya-tanya dalam keadaan khawatir begini. Dan tak ingin terjadi sesuatu dengan kakak iparku, sebaiknya aku bergegas mencarinya ke luar. Kuambil hoodie-ku yang tersampir di kursi kerjaku.


“Sebaiknya aku keluar. Langsung mencarinya, Sayang,” ujarku di tengah-tengah memasang hoodie ke tubuhku.


Purnama bergegas mendekatiku. “Aku ikut,” katanya.


“Tidak, Sayang. Biar aku saja yang mencarinya. Kau tetap di apartemen. Aku khawatir dengan keadaanmu dan juga di sini.” Kuelus perut buncitnya dan mengecup dahinya sekilas. “Bukankah dalam dua atau tiga hari lagi menurut prediksi dokter kau akan melahirkan, Sayang.”


Purnama mengangguk. “Ya. Menurut prediksi begitu.”


“Kau sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan?” tanyaku tanpa menjauhkan tanganku dari perut buncit istriku.


Lagi-lagi istriku mengangguk. “Iya. Kadang punggungku terasa sakit sebentar. Kadang sakit perut atau kram sebentar. Mulas-mulas begitu.”


“Kalau begitu duduk saja. Tak usah banyak bergerak.”


Purnama mengangguk lagi. Kurangkul tubuh istriku. Keluar dari ruangan kerjaku. Saat aku memutar tubuh dan hendak menuju pintu, Edgar muncul dengan wajah tercetak senyuman sangat cerah di belah bibirnya yang pucat. Tidak seperti beberapa jam yang lalu, wajahnya sangat pucat dengan pandangan begitu redup. Entah apa yang ditemuinya di luar apartemen hingga wajahnya tampak bersinar penuh semangat membara.


“Elias, Purnama. Aku setuju dioperasi.”


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2