I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
ENAM


__ADS_3

“Ada apa? Apa kau masih memikirkan sikap Edgar padaku?” tanyaku ketika kami sudah sampai di basment hotel, tempat acaranya Jagat digelar. Kuperhatikan sepanjang perjalanan kemari, Purnama hanya berdiam diri. Ia menatapku dengan pandangan sendu, mata cokelatnya memandang dalam kedua bola mataku.


“Tidak,” jawabnya menggelengkan kepala. Aku mengusap rambutnya dengan lembut, ia terpaku akan perlakuanku.


“Mari, kita masuk,” ujarku tersenyum. Purnama balas tersenyum tipis. Kami sama-sama membuka pintu mobil. Kugenggam kembali tangannya ketika berdiri di sampingnya. Tampak wajahnya merona merah, ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di wajahnya yang terlambat untuk disembunyikan, karena aku sudah melihatnya.


Dalam diam aku tersenyum senang. Entahlah, tapi hati ini seakan berperang sendiri. Sebagian menerima dan sebagian menolak akan kehadiran sesuatu yang mulai tumbuh di hati.


 


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


 


Suara dentingan piano mengalun dengan indah sepanjang pesta berlangsung. Banyak wanita melirikku, tapi aku tak peduli. Mataku berkeliling mencari sosok yang punya acara. Aku sedikit geram saat melihat para lelaki sengaja berbalik untuk menoleh dan mengagumi sosok di sebelahku. Sedangkan sosok di sebelahku hanya menundukkan kepala sambil mengalungkan tangan kanannya ke lenganku.


Purnama mendongak manakala kulepaskan tangannya dan berbalik menggenggam erat tangan mungilnya di sampingku, seakan-akan mengumumkan pada tamu undangan di sini, bahwa ia milikku. Aku tersenyum tipis saat samar-samar kulihat kedua pipinya yang putih penuh dengan rona merah. Shit, kenapa aku berpikir begitu, kembali hatiku mengelak. Tak henti-hentinya para lelaki terus menatap kami berdua tanpa berkedip kala kami melewati mereka.


Aku bernafas lega melihat dari kejauhan sosok Jagat sedang meminum wine-nya, berkumpul dengan para partner bisnisnya yang juga partner bisnisku. Sedangkan sosok Intan--sang istri--berdiri setia di sampingnya dan bergelayut mesra di lengan Jagat. Jagat melambaikan tangan saat melihat kami.

__ADS_1


“El, selamat datang di pestaku.” Jagat menjabat tanganku yang langsung kubalas dengan jabatan tak kalah eratnya. Kemudian aku beralih menjabat tangan Intan. Mata Jagat beralih ke sosok di sebelahku.


“Siapa?” Intan mendahului Jagat yang ingin bertanya. Aku menoleh ke samping, tampak Purnama juga menatap Intan.


“Perkenalkan, dia Purnama.” Kuperkenalkan Purnama pada mereka berdua. Purnama tersenyum manis hingga Jagat terpaku menatap Purnama, bahkan tangannya tak ia lepas.


“Ekhem.” Sengaja aku berdeham bersamaan Intan juga berdeham. Dehaman kami berhasil mengagetkan Jagat, ia langsung melepaskan jabatan tangannya dari Purnama.


“Ah, maafkan aku.”Jagat meminta maaf kepadaku dan Intan. Intan cemberut melihat sikap Jagat.


“Nona bulan, akhirnya kau datang juga,” teriak Nila dari kejauhan, disusul Sakti--pacarnya--dari belakang, beriringan menuju ke arah kami.


“Ke mana saja, Nil. Datang-datang sudah mengganggu orang.” Jagat balik berteriak, yang akhirnya kami menyaksikan Nila dan Jagat bertengkar seperti biasanya. Mereka berdua bagaikan anjing dan kucing. Kadang akur, kadang bertengkar. Barulah mereka berhenti ketika pasangan masing-masing melerainya. Aku berdecak melihat hal konyol yang ada di depan mata, selalu seperti ini. Sedangkan Purnama sedikit bingung, kadang ia tertawa kecil melihat hal tersebut.


“Kau akan melihat kejadian konyol ini setiap hari bila sudah akrab dengan mereka,” ujarku menebak pikirannya. Purnama memalingkan wajahnya ke arahku.


“Benarkah?” tanyanya polos. Aku hanya mengangguk membenarkan dan mengusap lembut kepalanya.


“Oh aku lupa, Babe, ini nona bulan yang kuceritakan padamu itu.” Nila akhirnya mengenalkan Purnama dengan Sakti yang dibalas dengan senyum bersahabat oleh Sakti, tidak seperti reaksi Jagat saat berkenalan dengan Purnama tadi.


“Kau yakin, El, mau menjadikan Purnama alat pelampiasan balas dendammu?” tanya Sakti ketika kami hanya bertiga dengan Jagat. Kami memisahkan diri dari Purnama, Nila dan Intan saat para lelaki seperti kami sedang membicarakan bisnis perusahaan. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Sakti, seperti biasa memasang wajah dingin.


“Kau ini, kasihan perempuan semanis Purnama di---”


“Ya, aku tahu.” Aku memotong cepat perkataan Jagat.


“Semoga saja, bung.” Jagat memukul bahuku pelan mengerti akan maksudku. Yeah, aku takkan menyesal seperti Jagat yang memperlakukan Intan kasar, yang pada akhirnya Jagat menikahi Intan atas dasar cinta. Berbeda dengan diriku, aku berniat akan menikahi Purnama atas dasar dendam. Akan terus begitu, hingga aku puas menyiksanya, dan membuat Edgar merasakan apa yang kurasakan sepuluh tahun silam.


 


 


 


 

__ADS_1


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


Aku kembali merapikan jas mahalku saat tiba di salah satu restoran mewah di Jakarta. Memandang cincin perak yang didesain unik. Terhitung, sudah satu bulan lebih aku dan Purnama saling mengenal. Aku rasa, sudah waktunya untuk melamarnya. Aku tak ingin masa pacaran dulu baru menikah, karena akan membuang-buang waktuku saja. Dan kutau, Purnama menyukaiku, pasti takkan ditolak.


“El, maaf aku terlambat.” Suara Purnama mengagetkanku dari belakang.


“Tak apa, duduklah.” Aku tersenyum, dan mempersilahkannya duduk.


“Kau cantik malam ini,” kataku memujinya. Purnama menundukkan kepalanya, tampak pipinya yang putih dipenuhi dengan rona kemerahan. Aku tersenyum tipis menatapnya, sepertinya ia telah benar-benar jatuh hati padaku.


Saatnya pertunjukan. Kukeluarkan kotak cincin dari saku jas. Memegang tangannya. Purnama mengernyit bingung akan sikapku. Kuhela nafas, sedikit gugup. Meski ini hanya sebuah permainan yang kuciptakan sendiri, tapi aku belum pernah melamar seseorang dalam hidupku, walau kuyakin, Purnama pasti akan menerimanya.


“Purnama, ini mungkin sedikit membingungkan bagimu,” ujarku serak dan gugup. Purnama hanya diam menunggu ucapanku. Aku berdehem sebentar untuk menetralkan jantungku yang berdetak semakin tak karuan.


“Kita sudah saling mengenal hampir satu bulan. Waktu satu bulan mungkin belum mengenal pasti tentang diri masing-masing. Tapi aku yakin, apa yang kurasakan sama sepertimu---aku, mencintaimu, Purnama. Maukah kau menikah denganku?” kataku menatap langsung kedua bola matanya yang cokelat. Tanganku semakin erat menggenggam jarinya yang mungil dan mulai bergetar. Entahlah, apa ia merasa senang? Kulihat matanya berkaca-kaca. Purnama menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang lain.


“El, i-ini ...”


================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2