I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
SEMBILAN


__ADS_3

Purnama menatap kedua mata elangku. Matanya berkaca-kaca, air mata itu siap tumpah kapan saja. Kembali dada ini berdenyut melihatnya seperti itu. Mengabaikan perasaan aneh di dada ini. Aku menyeringai, jadi butuh seminggu untuk menanyakan alasanku mendiaminya selama ini. Sudah saatnya membuka rahasia ini.


Aku berdecak. “Kau mau tau alasannya?”


Purnama mengangguk polos. Aku bersidekap. Pandanganku semakin tajam menusuknya. “Karena aku dendam pada kakakmu.”


Purnama terdiam sesaat. “Den-dendam?” ucapnya kaget tak menyangka.


“Ya. Kakakmu, Edgar, telah membuat keluargaku hancur,” jelasku dengan nada dingin.


“Ti-tidak mungkin,” sangkal Purnama tak percaya. Aku semakin menyeringai melihat ekspresinya.


“Kenapa? Kau tak percaya?” sinisku.


Purnama kembali mengangguk. Aku mengembuskan napas panjang. Kutatap dingin iris cokelat beningnya. “Dengar baik-baik, Purnama. Edgar telah membunuh kedua orang tuaku dan kekasih tercintaku, Kalina. Edgar berpura-pura memacari Kalina hingga ia memutuskanku. Lebih menyakitkan lagi, Edgar mencampakkanya setelah menidurinya berkali-kali. Kalina menjadi depresi dan berakhir bunuh diri. Dan aku ingin Edgar Dirgasuwoto merasakan apa yang kurasakan, hingga aku merencanakan ini semuanya,” ujarku menjelaskan dengan detail.


Purnama tampak terpukul mendengar penjelasanku, air matanya tumpah ruah.


“Tidak, Kak Ed tak seperti itu.” Purnama terus menyangkal. Ia melempar bantalnya ke arahku, tapi langsung kutepis. “Kau bohong!” teriaknya histeris.


“Aku bohong?! Pernahkah kau tau apa pekerjaan Kakakmu sebenarnya?” aku balik bertanya.


Purnama terdiam mendengar pertanyaanku. Aku tau, selama ini Purnama tak pernah tau pekerjaan Edgar, pembunuh bayaran.


“Kau mau tau, ha!” ujarku berapi-api. “Pembunuh bayaran!”


Purnama terpaku sesaat. “Tidak, kau pasti bohong!” teriaknya semakin histeris. Ia menutup kupingnya. Menangis tersedu-sedu. Aku meneguk saliva memandang Purnama seperti ini.


“Kau bohong! Bohong!” Purnama melempar selimutnya padaku hingga tepat mengenai mukaku.

__ADS_1


Aku murka, beranjak menuju dirinya yang meringkuk di sofa. Meraih tangannya dan menguncinya ke atas dengan tangan kananku. Aku meraih wajahnya hingga ia mendongak menatapku, air matanya mengalir deras. Hembusan nafasku menerpa wajahnya.


“Aku berbohong katamu! Dengar! Edgar itu pembunuh bayaran yang telah membunuh keluargaku, dan aku juga ingin dia merasakannya,” geramku mendelik tajam padanya.


“Jadi, selama ini kau mendekati hingga menikahiku karena balas dendam pada Kak Ed?” lirihnya menatap nanar wajahku. Aku hanya menyeringai tanpa menjawabnya.


“Kau mencintaiku, El?” tanya Purnama dengan air mata semakin deras keluar.


Aku terpaku akan pertanyaannya. Dadaku bergemuruh.


“Tidak,” jawabku dingin dengan memalingkan wajahku ke lain. Tanpa sadar tanganku terlepas mengunci tangannya.


“Kau jahat, El. Kau tau aku mencintaimu dan kau tega mempermainkanku.” Purnama semakin menangis sesenggukan. Tangannya kini memukul-mukul dadaku.


“Siapa yang peduli,” ujarku ketus dan kembali menatap wajahnya.


“Jahat. Kau jahat!” Purnama semakin keras memukul dadaku. Aku hanya diam saja. “Ja---hmmmpt.”


Entah setan apa yang merasukiku, hingga aku mencium paksa Purnama. Ia berontak. Semakin ia berontak, semakin dalam aku menciumnya. Bahkan kini aku menggigit bibir bawahnya agar membuka mulutnya. Hancur sudah pertahananku selama seminggu ini, hasratku meluap. Kupandangi bibirnya yang bengkak saat aku melepas ciumanku. Cepat Purnama menutup mulutnya, ia memandang mataku dengan air mata yang tumpah ruah di pipinya.


“Kau---akhhh, apa yang lakukan,” teriak Purnama histeris saat aku menggendongnya dengan gaya pengantin menuju tempat tidur.


Purnama semakin berontak. Kuempaskan dengan kasar tubuhnya ke kasur. Menindihnya cepat. Kukunci tubuh mungilnya dengan tubuhku. Tangannya kugenggam erat  ke atas. Kembali kulumat bibirnya dan kugigit bibir bawahnya agar ia membuka mulutnya, Purnama menutup rapat bibirnya. Aku terengah-engah di sela-sela ciumanku. Mataku menatap tajam mata cokelatnya yang tak henti mengeluarkan air mata. Miris, dada ini kembali berdenyut. Tapi tak kuhiraukan. Kututup mata hatiku.


“Elias ... kumohon, jangan lakukan ini padaku---akhhh.” Purnama berbicara memohon di sela ciumanku bertubi-tubi.


“A-aku tak mau melakukannya ...  ji-jika kau tak men-mencintaiku,” katanya kembali memohon padaku. Persetan! Aku tak mau mendengarnya. Cinta atau tidak, sudah terlambat. Nafsuku sudah memuncak dan aku ingin melampiaskannya segera. Puas ******* bibirnya yang tak ada respon sama sekali, aku menggerayangi tubuhnya yang putih mulus hingga penuh dengan tanda ciumanku di mana-mana. Aku tersenyum puas akan hasil karyaku. Dan sepanjang malam, kami lalui dengan bercinta, meski Purnama terus berontak dan memohon.


* I’m Sorry To Hurt You *

__ADS_1


Aku membuka mata saat sinar matahari mulai masuk dari tirai jendela. Kulirik jam beker di samping meja. Jam delapan pagi. Kuraba tempat di sebelahku, kosong. Aku bangun dan bersender di sandaran kepala tempat tidur. Kulihat tubuhku yang tanpa sehelai benangpun, lantas menaikkan selimut hingga batas pinggang dan menutupi bagian bawahku saja. Mataku berputar melihat sekeliling ruangan, tampak baju dan celanaku serta pakaian Purnama berserakan di lantai.


“Hiks ....”


Perlahan aku menoleh ke arah sumber suara. Purnama menangis. Ia meringkuk di sofa. Tubuhnya yang telanjang hanya ditutupi dengan selimut hingga seluruh tubuhnya tenggelam. Rambutnya kusut dan matanya bengkak. Kurasa ia menangis semalaman, terlihat dari matanya yang berkantung.


Nyuuut. Ngilu rasanya. Dada ini berdenyut melihatnya seperti itu. Tapi hati ini terus menyangkalnya. Aku menghiraukannya, beranjak bangun dan melesat ke kamar mandi.  Lama aku terdiam di kamar mandi, membiarkan tubuh telanjangku diguyur air shower. Kupejamkan mata. Tanpa sadar air mataku telah mengalir.


“Kenapa?” tanyaku sambil meninju dinding kamar mandi. Kenapa rasanya sakit melihatnya seperti itu.


“Sakit. Arrrgh! Kenapa sangat sakit,” racauku dan mengacak rambutku.


“Kenapa, Mama, Papa, Kalina. Kenapa dendam ini menyakitkan,” teriakku teredam. Aku terduduk dan menengadah ke atas, membiarkan wajahku terkena pancuran air shower.


* I’m Sorry To Hurt You *


Kulihat Purnama duduk diam mengaduk cokelat panasnya saat kami sarapan. Matanya kosong menerawang ke depan. Bibirnya bengkak dan terluka di sudutnya. Matanya-pun bengkak. Tubuhnya makin kurus. Ya, sudah tiga malam ini aku memaksa bersetubuh dengannya. Bahkan aku tak segan untuk menamparnya bila ia menolak.


Aku melepaskan sendok, tak bernafsu makan, entahlah. Kulihat Purnama juga sama sepertiku.


“Aku selesai,” ujarku dan beranjak bangun dari kursi. Aku bergegas menuju ruang tengah, mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja.


“Elias.”


Aku berhenti tanpa membalikkan tubuh saat Purnama memanggilku dari belakang. Aku diam menunggu kata selanjutnya yang keluar dari bibir plumnya.


“Ceraikan aku.”


================

__ADS_1


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2