![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Kutatap lekat Edgar yang sedang menelepon. Duduk di balkon sambil menatap jalanan kota Beijing di malam hari—entah siapa yang diteleponnya. Tapi dilihat dari ekspresi wajahnya yang berseri-seri serta kata-kata cinta penuh mesra, aku tahu siapa yang diteleponnya. Siapa lagi kalau bukan calon istrinya. Zahratul Hafshah. Tiga minggu yang lalu Edgar resmi melamarnya. Dan minggu depan sesuai kesefakatan pihak Zahra, Edgar dan Zahra akan melangsungkan pernikahan di Jakarta.
Setahun telah berlalu. Edgar telah sembuh total dari penyakit lupusnya setelah berjuang sekuat tenaga untuk sembuh. Tiga kali melakukan operasi sumsum tulang belakang, serta kemo berkali-kali akhirnya ia bisa survive dari penyakitnya. Hal ini tidak bisa lepas dari dukungan terbesar adik kandungnya, Purnama—istri yang paling kucintai di dunia ini lebih dari segalanya. Purnama bahkan rela menghabiskan waktu bolak-balik menemani Edgar check up ke rumah sakit. Rela waktunya terbagi dengan putra kami, Geoff dan aku sendiri—kendati demikian, Purnama tidak pernah lupa akan tugas utamanya sebagai istri dan ibu. Ia mengurusku dan Geoff dengan sangat baik. Kalau ditanya siapa perempuan yang paling tangguh, kuat dan setia di dunia ini, tentu saja—tanpa berpikir lagi—aku akan menjawab istriku, juga Mommy-ku.
Dan demi kesembuhan total Edgar. Aku dan Purnama tetap tinggal di Beijing sampai ia sembuh. Rencananya aku kembali membawa istriku menetap di New York—karena pekerjaan utamaku berada di New York—setelah Edgar menikah dengan Zahra.
Satu lagi pendukung terbesar Edgar selain Purnama yaitu Zahra. Wanita itu terus berada di sisi Edgar, terus menyemangatinya setiap saat.
“Sudah ya, dek. Mimpikan abang malam ini. Terus rindu sama abang ya, dek. Love u.” Aku tertawa kecil mendengar Edgar mengakhiri panggilannya. Hal itu mengingatkanku akan kelakuanku pada istriku yang juga sering mengirimkan kata-kata cinta dan sayang.
“Sabar. Sabar. Sabar. Seminggu lagi baru bisa ketemu calon,” gumam Edgar membuatku semakin terkekeh geli. Memang berat menahan rindu. Apalagi di tempat jauh seperti mereka berdua. Edgar di Beijing, Zahra di Jakarta mempersiapkan pernikahan mereka.
“Bagaimana persiapan pernikahannya, Ed?” tanyaku pada Edgar. Ia beranjak dari balkon, duduk di sofa di sampingku—aku sedang membaca koran pagi ini kala perhatianku teralihkan pada pembicaraan hangat Edgar di telepon tadi.
“Sudah sembilan puluh persen,” jawab Edgar dengan wajah berseri-seri membuatku ikut merasakan kebahagiaannya.
“Kalau ada yang dibutuhkan katakan saja denganku. Aku bisa membantu,” ujarku seraya melipat koran.
“Makasih, El. Soal biaya semua sudah beres. Ini juga karena bantuan darimu. Kalau kau tak membantu, mungkin agak susah buatku,” balas Edgar.
“Hanya sedikit. Kaulah yang berusaha sendiri,” kataku. Uang tabungan Edgar cukup berlebih dengan hasil gajinya yang tak diambilnya semenjak tinggal dengan kami. Memang aku yang menyarankan padanya. Sebaiknya ditabung untuk biaya pernikahannya yang memang butuh biaya banyak. Selain itu biaya usai pernikahan juga banyak. Membeli rumah beserta isinya. Juga kendaraan.
“Daddy ...” Geoff berlari ke arahku. Segera kutangkap dia dan kududukkan di pangkuanku. Aku menciumi wajahnya. Ia terkikik kegelian karena bulu-bulu halus di wajahku menyentuh kulit wajahnya yang halus. Sudah seminggu ini aku belum bercukur. Malas. Ah, sebaiknya aku minta tolong istriku nanti sambil curi-curi ciuman darinya.
“Kalau sudah menikah rencananya mau tinggal di mana, Ed?” tanyaku sambil menurunkan Geoff. Ia beralih memeluk Edgar. Keduanya sangat akrab.
“Tinggal di Beijing. Pekerjaan utamaku ada di sini. Ara sudah setuju. Selain itu ia masih bisa menjadi relawan disini,” balas Edgar seraya menggelitiki Geoff. “Geo, tahun depan kau akan dapat sepupu. Teman bermain. Hehehe.”
Aku tertawa mendengarnya. Rupanya Edgar sudah tak sabar ingin punya momongan sendiri.
__ADS_1
“Nanti, kalau kasih ponakan sama kami, jangan cuma satu lho, Kak Ed. Gih buat yang banyak. Biar nanti rumahnya rame, gak sepi,” sela Purnama ikut terkekeh. Ia datang dari dapur sambil membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat dan teh hangat.
“Kalau Kakak sih mau-mau saja. Tak tahu kalau Ara. Biasanya wanita protes punya anak banyak.” Edgar menyeruput teh panasnya.
“Iyalah, Kak. Bukan soal capek ngurusinnya. Masa depan mereka juga harus dipikirin loh. Zaman sekarang beda dengan zaman dulu. Contohnya soal pendidikan. Kalau dulu tamat SMA bisa diterima bekerja. Kalau sekarang tamatan S1 paling kecil. Apalagi kalau melamar jadi Aparatur Sipil Negara, minimal harus tamatan sarjana.”
“Iya kau benar, Pur. Zaman sekarang serba canggih. Harus mengikutin zaman.” Edgar mengangguk.
Aku merangkul istriku. “Kalau kamu, Sayang. Mau gak punya anak banyak,” godaku. Purnama langsung menepuk dadaku.
“Gak mau. Capek ngandung sembilan bulan. Cukup dua saja,” ujarnya dengan wajah cemberut. Aku tergelak mendengarnya. Bagiku tak masalah anak dua. Ikut kata istri saja.
“Kalau dua ... berarti satu lagi dong kita buatnya. Gimana kalau kita malam ini mulai programnya, Sayang,” godaku.
“Geo baru umur setahun. Ia masih nyusu sama aku. Kasihan kalau harus berbagi dengan adeknya. Aku belum mau buka KB. Lagian kamu juga nyusu setiap malamnya.”
Egdar terbatuk-batuk mendengar ucapan terakhir Purnama. Sedang aku hanya nyengir mendengarnya. Memang benar yang diucapin istriku. Hehehe. Habisnya enak loh nyusu, bikin awet muda juga menurut salah satu artikel yang aku baca.
***
Hari bahagia tibalah saatnya. Edgar dengan Zahra menikah di masjid Istiqlal. Kami datang dua jam sebelum acara dimulai. Kulihat Edgar tampak berbicara dengan penghulu. Sedang aku, sudah hampir sejam ini bolak-balik dari kamar mandi. Entah kenapa, perutku rasanya mulas. Selalu mau buang air kecil melulu.
“Yank, kamu diare ya? Kok dari tadi bolak-balik terus ke kamar mandi. Kalau kuhitung sudah lima kalian,” ucap istriku saat aku barusan saja kembali dari kamar mandi. Bergabung dengan istriku. Duduk di teras masjid. Mendiamkan Geoff yang menangis karena kepanasan di dalam.
“Apa badanmu panas?” Purnama langsung menyentuh dahiku, “Gak panas,” katanya sambil menurunkan tangannya. Aku mengambil alih Geoff dari pangkuan istriku.
__ADS_1
“Kok aku yang gugup ya Sayang melihat Edgar menikah ya,” ucapku. “Apa Edgar sudah hapal bacaan ijab kabulnya?” tanyaku lebih kepada diriku sendiri. Jujur. Aku takut dia salah ngucap begitu.
Purnama tertawa mendengar ucapanku. “Do’a in saja lancar, Yank. Sepertinya udah hapal tuh kak Edgarnya. Gak lihat dari tadi mulut kak Edgar komat-kamit.” Kulirik ke dalam masjid. Memang benar. Semakin waktu mendekat ke acara, semakin mulut Edgar komat-kamit dengan wajah agak pucat. Aku tahu dia berkali-kali lipat lebih gugup dariku. Sebab aku juga pernah berada di posisinya.
“Yuk, Yank. Kita masuk, acaranya sudah mau dimulai.” Purnama mengajakku saat mendengar pengumuman dari moderator acara. Aku mengangguk. Sambil menggendong Geoff yang ternyata sudah tidur di pangkuanku, kami pun masuk.
Aku dan Purnama duduk di belakang Edgar. Mendengarkan dengan seksama Edgar mengucap ijab kabulnya. Karena ayah Zahra sudah almarhum, juga Zahra sendiri anak tunggal, maka sebagai wali nikahnya diserahkan pada adik ayahnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Zahratul Hafshah binti Muhammad Iqbal dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Bagaimana, Saksi? Sah?” tanya penghulu menatap dua saksi di samping kiri dan kanan Edgar.
“Sah.”
“Sah.”
“Alhamdulillah. Tabarakallah ...”
Suasana di dalam masjid riuh dengan ucapan do’a menggema memberikan selamat kepada kedua mempelai. Aku menarik napas lega. Akhirnya keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.
“Selamat ya, Ed. Mulai buat anak yang banyak ke depannya ya,” godaku saat bersalaman dengan Edgar tepat berbisik di telinganya.
Edgar tergelak. Ia pun berbisik di telingaku. “Tenang saja, El. Bakalan bergadang terus ke depannya. Hahaha. Buat tim sepak bola keknya seru.”
\==========
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1