![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku dan Purnama sekarang ini sedang berada di pesawat jet pribadiku. Ya, sesuai perkataanku pada Edgar, aku akan membawa Purnama ke New York. Kupandangi wajah Purnama, tampak pucat, lelah dan murung. Lantas kuelus kepalanya, ia mendongak menatap mata elangku.
“Kau pucat, apa semalam kau tak tidur nyenyak? Memikirkan apa, eum?” tanyaku.
“Tidak.” Purnama menggerakkan tangannya. Aku tahu Purnama berbohong. Ia memikirkan Kakaknya yang tak datang di acara sakral pernikahan kami tadi.
“Aku tau, apa yang kau pikirkan, Babe.” Aku tersenyum saat memanggilnya sayang. “Kakakmu, Edgar, kan,” lanjutku.
“Ya, kau benar, El,” jawabnya sendu, matanya berkaca-kaca.
“Sudahlah, mungkin ia punya alasan lain.” Ya, alasan untuk lari dari kejaran para polisi Indonesia saat ini, pikirku menyeringai.
Purnama mengangguk lemah. Disenderkan kepalanya di bahuku. Aku menepuk-nepuk kepalanya lembut, menenangkannya.
“Lagian, di New York nanti, kita akan bertetangga dengan Jagat dan Intan. Jadi, kau tak kesepian di sana. Kau bisa bermain dengan anak mereka, Jojo. Dan kabarnya, Nila sama Sakti akan segera menyusul kita menikah. Mereka akan menetap juga di New York,” hiburku.
“Benarkah itu, El?” Mata Purnama berbinar-binar bahagia.
“Ya, sekarang tidurlah. Perjalanan kita masih panjang.” Aku menepuk kepalanya agar ia tidur. Purnama menurut, memejamkan matanya sambil memeluk erat lenganku. Aku tersenyum kecil saat memandang wajah damainya yang tertidur. Kuraba dadaku, jantung ini rasanya berdetak sangat keras.
Tidak. Tidak. Tidak, jeritku dalam hati. Berulang kali kugelengkan kepala - mengingkari hati ini.
* I’m Sorry To Hurt You *
Purnama terpaku saat kami sudah tiba di depan rumahku yang super luas. Entahlah, aku tak bisa membaca ekspresi yang ditampilkannya saat ini. Sedih atau bahagia? Kutepuk bahunya, mengejutkannya dari keterpakuannya.
“Inilah rumah kita untuk ke depannya, rumah ini telah menemaniku selama sepuluh tahun ini.” Aku menjelaskan.
“Rumah di sebelah kanan kita itu rumah Jagat dan Intan. Di depan rumah kita itu rumah Nila.” Aku menunjuk kanan dan depan - menunjukkan lokasi rumah Jagat dan Nila bergantian. Purnama mengangguk mengikuti arah tunjukku.
“Yuk, masuk. Akan kutunjukkan kamar kita berdua,” lanjutku mengangkat satu koper berisi barang Purnama. Purnama mengikutiku masuk.
Kuletakkan koper Purnama di samping lemari pakaian dan berjalan menuju ke arahnya. Ia berdiri di balkon, memandang ke bawah, melihat jalan raya. Kupeluk ia dari belakang dan mengagetkannya.
“El-Elias,” ujarnya gugup.
Aku hanya menggumam. Menyandarkan kepalaku di bahunya yang sempit, menyesap aroma manis yang menguar di tubuhnya. Perlahan aku mulai mengecupi bahunya, membuat Purnama menggelinjang kegelian.
“Aaah, El,” desah Purnama tertahan. Aku menyeringai. Purnama melepaskan diri dari pelukanku dan mengelus wajahku dengan kedua tangannya yang kecil.
“El, aku mandi dulu. Rasanya tubuhku gerah habis dari perjalanan panjang,” ujarnya mengelak dari seranganku. Ia mengecup bibirku sekilas dan langsung melesat ke kamar mandi.
Aku tersenyum padanya. Tapi itu tak berapa lama, senyumanku lenyap saat ia telah menghilang di balik pintu kamar mandi. Menghapus jejak kecupan Purnama pada bibirku. Waktu berakting baik dengan Purnama sudah habis, saatnya untuk membalas dendam.
Mengambil dompet dan kunci mobil di meja nakas serta sengaja mematikan ponselku agar Purnama tak bisa menghubungiku. Aku pergi menuju ke kantor.
* I’m Sorry To Hurt You *
__ADS_1
Aku memasuki rumah menjelang tengah malam. Kulihat Purnama terdiam terpaku, memandang ekspersi dinginku saat ia membukakan pintu untukku. Ya, ekspresi wajah asliku selama sepuluh tahun ini.
“El, ke mana saja? Kenapa ponselnya tak diaktifkan. Apa terjadi sesuatu?” tanyanya khawatir, mengikutiku dari belakang menuju kamar.
Sudah tiga hari aku meninggalkan Purnama sendirian di rumah besar ini, meskipun banyak maid. Tapi aku yakin ia kesepian, karena ia tak bisa berkomunikasi dengan para maid. Para maid di sini semuanya orang bule, jadi harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Sedangkan yang kutau Purnama tak bisa berbahasa Inggris.
Aku tak menggubris pertanyaan Purnama, membuka jas dan melemparnya asal. Purnama menggigit bibir bawahnya. Kuperhatikan, menjadi kebiasaannya sekarang saat ia sedang bingung. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur berukuran king. Melirik Purnama yang mengambil jasku dan meletakkannya ke lemari pakaian.
“El---”
“Ah, berisik! Bisa tidak kau diam saja. Aku ingin tidur!” bentakku. Purnama tersentak akan sikapku. Tubuhnya gemetaran, tetap saja ia tersenyum.
“Iya,” jawabnya lemah. Purnama beringsut merebahkan tubuhnya di sampingku, kini kami saling berpandangan. Kubalikkan tubuh, membelakanginya. Aku tau ia memandangiku dengan sendu. Kupejamkan mata. Kuelus dadaku yang berdenyut pelan saat melihat ekspresi sendunya. Ah, kenapa dengan dada ini, batinku.
* I’m Sorry To Hurt You *
Pelan aku membuka mata. Kulirik jam yang menggantung di dinding, jam enam pagi. Entah kenapa aku malas untuk bangun. Selama tiga hari ini kuhabiskan sepanjang hari di kantor. Bahkan aku tidur di kantor. Samar aku mencium harum pancake dari luar kamar.
“Kau sudah bangun, El? Mau mandi?” tanya Purnama sambil membuka tirai gorden, tampak hari masih gelap. Aku tak menggubrisnya dan membalikkan tubuhku, tengkurap sambil menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Samar kudengar Purnama menghela nafasnya.
“Elias?”
Kubalikkan tubuhku kembali dan berdecak.
“Ya, aku dengar. Sedikit lagi aku bangun. Lebih baik kau siapkan aku air panas untuk mandi,” ujarku ketus sambil menutup kedua mataku dengan tangan. Sempat kulihat Purnama menggigit bibir bawahnya, ia bingung akan perubahan sikapku padanya.
“Kenapa bengong, ha! Cepat lakukan!” teriakku. Purnama pun mengangguk dan bergegas ke kamar mandi.
* I’m Sorry To Hurt You *
Aku memasuki dapur luasku, kulihat Purnama sudah duduk manis di depan meja. Ia berdiri dan menghampiriku. Tanpa memandangnya, segera aku duduk. Purnama berdiri terpaku, dengan langkah gontai ia duduk kembali, matanya berkaca-kaca.
Di meja sudah tertata dengan rapi sepiring pancake dan segelas kopi, kami duduk berhadapan. Aku mengiris pancake kecil-kecil dan memasukkannya ke mulutku.
“Bagaimana, El? Enakkah?” tanya Purnama, berharap aku mengomentari masakannya. Enak sih, tapi ....
“Cuih, pancake apa ini? Terlalu manis, kau mau meracuniku, ya? Kau mau aku terkena penyakit diabetes, ha!” bentakku padanya sambil mengeluarkan pancake yang kumakan ke dalam tisu.
“Maaf, aku tak tau kalau pancake ini kemanisan.” Purnama menundukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah kapan saja. Ia beranjak berdiri. “Kubuatkan yang baru, ya,” katanya lagi.
“Tak usah, pasti hasilnya sama saja---sudahlah, aku makan di luar saja,” ketusku beranjak meninggalkannya.
* I’m Sorry To Hurt You *
Aku menghela nafas saat tiba di depan pintu rumah. Sengaja aku pulang ke rumah jam sebelas malam. Seharian aku tak pulang ke rumah. Tadi siang Purnama berkali-kali meneleponku, tapi tak pernah kuangkat. Mengacak rambutku hingga berantakan. Bukankah ini yang kuinginkan, menyakiti Purnama untuk membalas dendam atas kakaknya.
Perlahan kubuka pintu, melirik dapur yang menyala terang. Tanpa sadar aku sudah berada di dapur. Kulihat Purnama tertidur sambil menelungkupkan tubuhnya ke meja makan. Di atas meja sudah tersedia pindang daging yang tak lagi panas serta gulai asam manis. Kulirik sekilas wajah tidurnya, tampak di sana wajah lelah bekas tangisan. Miris – lagi, kembali dada ini berdenyut melihatnya.
__ADS_1
Aku tak mau membangunkannya, tapi kakiku menyenggol kursi hingga berbunyi. Purnama terbangun dan memandangku, ia tersenyum manis.
“Kau sudah pulang? Kenapa tak membangunkanku? Kau mau makan? Aku panaskan dulu makanannya, ya,” ujar Purnama bertubi-tubi. Aku hanya diam.
“El?”
“Aku tak makan, sudah kenyang. Tadi sudah makan bersama dengan temanku,” jawabku dingin dan beranjak meninggalkan Purnama yang diam mematung.
* I’m Sorry To Hurt You *
Pintu terbuka dan Purnama masuk. Aku tak menggubrisnya, masih terus membuka jas dan dasiku, melemparnya asal.
“El, kau mau mandi? Biar kupanaskan airnya dulu,” ucapnya memunguti jas dan dasiku, lantas beranjak ke kamar mandi.
“Tidak usah, aku mau tidur,” kataku ketus dan merebahkan tubuhku ke ranjang size-ku. Kuintip Purnama menggigit bibirnya, lalu beringsut naik ke tempat tidur.
“Hei! Siapa suruh kau tidur di sini. Sana kau tidur di sofa!” bentakku. Kudorong tubuhnya hingga ia terjatuh. Lantas kulempar bantal dan selimut yang mendarat di sebelahnya. Aku berbalik memungginya, memejamkan mata sambil mengelus dada yang berdenyut sakit.
Kurasa Purnama menatapku sendu. Kudengar suara berat di sudut kamar. Kurasa ia merebahkan tubuhnya di sofa.
Aku kembali membalikkan tubuhku dan menghadap ke sofa. Purnama tertidur memunggungiku dengan tubuhnya bergetar. Aku tau ia menangis.
* I’m Sorry To Hurt You *
Tak terasa aku menikahi Purnama sudah hampir satu minggu. Dan aku mendiaminya juga selama seminggu ini, sejak pertama kami menikah, bahkan malam pertamapun aku lewati tanpa menyentuhnya.
Kadang aku menahan hasratku saat melihat ia keluar kamar mandi dengan berkain handuk saja. Memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus. Ingin kukecupi seluruh tubuhnya. Astaga, sampai kapan aku menahan hasrat ini. Aku sudah berjanji dalam hati takkan pernah menyentuhnya.
Sengaja kulakukan ini agar Purnama merasa tak diinginkan. Aku tau, setiap pasangan yang resmi menikah akan melakukan sex pada malam pertama, dan aku tak melakukannya dengan Purnama.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku tetap mendiaminya. Menyibukkan diri dengan membaca atau mengetik sesuatu di laptop hingga mataku mengantuk. Kulirik Purnama sudah mengenakan piyama kuning dan duduk meringkuk di sofa.
“Elias,” panggilnya setengah berbisik.
Kuhentikan kegiatan membacaku dan memandang lekat kedua manik cokelat miliknya. Mengintimidasinya.
“Ada apa, ha!” ujarku ketus.
Purnama menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya.
“Cepat katakan! Aku tak punya waktu untuk mendengar ocehanmu,” kataku lagi. Purnama tetap diam. “Hei, kau bisu, ya!” teriakku.
“Elias, kenapa kau lakukan ini padaku?”
==============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.