I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
EMPAT


__ADS_3

Aku terbangun saat suara dering smartphone di pagi hari memekakkan telinga. Kusipitkan mata karena sinar matahari yang menusuk dan mengabaikan suara deringan smartphone di meja nakas. Memandang ke arah bawah, di mana sepasang tangan melingkar di pinggangku.


Ck! Memandang kesal Helen yang tidur tenang di dadaku. Wanita panggilan langgananku yang selalu menemani diriku apabila lagi minum-minum bersama teman-temanku - sekaligus partner sex.


Yeah, kau taulah, bagaimana hasrat seorang lak-laki dewasa berumur 28 tahun yang sudah siap berumah tangga, ditambah dengan kehidupan pinansial mumpuni (menurut para bibi tetangga apabila mereka bertemu denganku) pastilah ingin melakukan sex. Tapi aku tak ingin sex bebas seperti kebanyakan orang, aku tak ingin ambil resiko akan terkena penyakit. Kemudian aku menyewa Helen sebagai partner-ku. aku tak mau menjalin hubungan serius dengan para wanita manapun karena di hatiku sudah terisi penuh dengan nama Kalina, tapi sayang dia sudah tak ada di dunia ini sejak sepuluh tahun yang lalu.


Dan laki-laki yang telah membunuhnya adalah Edgar Dirgasuwoto. Cih, mengingat nama Edgar saja sudah membuatku geram ingin mencekik lehernya. Sabar El, Purnama, adik si bangasat itu sudah berada di tanganmu, kau bisa membalas si ******* itu,  hati kecilku kembali mengalun di kepalaku, membuatku tersenyum sinis.


Aku tersentak saat deringan smartphone berkali-kali menggaung minta diangkat, menghempaskanku akan dunia yang kupijak. Aku mengibaskan tangan Helen dengan kasar dan menendang kakinya.


“Hei, bangun...” Kutatap tajam Helen, ia mengerjapkan mata dan tersentak bangun. Sembari menyuruhnya untuk enyah dari hadapanku, kuraih smartphone-ku dan mengangkatnya saat Helen sudah tak ada di kamar ini lagi.


“Elias!!!” Suara melengking Nila dari seberang sana menggema, membuat kupingku berdengung. Kututup telinga dan menjauhkan smartphone-ku. “Apa yang kau lakukan, ha! Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku,” omelnya.


“Maaf, aku ketiduran,” aku beralasan, tapi memang benar pada kenyataannya. Nila menghela nafasnya.


“Sesuai permintaanmu, Purnama sudah kuterima bekerja selama seminggu ini”


“Benarkah?” Aku langsung menegakkan tubuh. Tersenyum sumringah.


“Kemana saja kau selama seminggu ini? Selalu tak bisa dihubungi,” omelan Nila semakin menjadi. Aku menggaruk belakang kepala. Ah, aku lupa mengabarinya, bahwa selama seminggu ini aku kembali ke New York mengontrol bisnisku di sana.


“Lupakan saja soal itu, aku punya berita bagus buatmu, bahkan kau bisa lebih dekat dengan si manis bulan Purnama,” sambung Nila karena sejak tadi tak ada respon dariku.


“Cih, baru seminggu kenal dengannya, kau sudah memanggilnya dengan sebutan seperti itu,” desisku. Nila terkekeh mendengarnya.


“Kenapa? Kau cemburu tuan Bowman?” godanya.

__ADS_1


Aku memutar bola mata. “Siapa yang cemburu! Ingat, Nila. Aku sangat membenci gadis manis itu,” ucapku berapi-api. Tapi Nila semakin menjadi, bahkan kini ia tertawa keras.


“Oke, oke.” Nila menghentikan tawanya. “Nanti malam kau temui aku di cafeku, dan kita akan membahasnya.” Nila memutuskan sambungan telponnya begitu saja tanpa ada balasan dariku. Kuangkat bahu dan beranjak bangun dan melesat ke kamar mandi, memulai aktifitas seperti biasanya.


🌷 I’m Sorry To Hurt You 🌷


Aku melirik arloji di tangan, pukul 7 malam. Kuparkirkan mobil mewahku tepat di depan kafe milik Nila. Bergegas masuk dan disambut dengan alunan lagu lembut menenangkan. Kulihat kanan kiri, mencari sosok manis nan polos. Tampak ia sedang mengantarkan minuman ke meja pelanggan. Tanpa kusadari kusunggingkan senyum saat melihatnya ceria. Sengaja kumencegatnya saat ia masuk ke dalam dapur.


“Hei.” Aku memegang lengannya dan melepaskannya saat ia berbalik menghadapku. Tampak Purnama terkejut dan aku memasang wajah pura-pura terkejut.


“Purnama?/El?” ucap kami bersamaan dengan raut wajah berbeda. Kami pun tertawa.


“Kau kerja di sini? Bukankah kau kerja di supermarket?” tanyaku kembali pura-pura terkejut. Purnama mengangguk, kemudian menggigit bibir bawahnya.


“Iya, aku sudah bekerja selama seminggu di sini. Aku berhenti dari sana---tepatnya dipecat,” jelas Purnama getir. “Dan ... El, kenapa ada disini?” tanyanya memiringkan kepala, menatapku. Aku tersenyum melihat tingkah polosnya.


“El.”


Terdengar suara Nila memanggil namaku, kami pun berbalik ke belakang.


“Ayo cepat ikut aku, maaf, si manis bulan Purnama kami pergi dulu.” Tanpa banyak kata Nila menyeret tanganku berlalu dari hadapan Purnama. Aku tersenyum padanya dan dibalas dengan senyuman tipis olehnya. Sekilas kulihat wajah Purnama tampak kecewa melihat Nila menggandeng tanganku mesra.


🌷 I’m Sorry To Hurt You 🌷


“Kau lihat itu, Elias? Reaksinya? Saat aku menggandeng tanganmu mesra,” ujar Nila heboh sambil menutup pintu saat kami sudah berada di ruangannya lantai 2. Tentu saja ruangannya kedap suara, jadi seberapapun kau berteriak tak akan ada yang mendengarnya. Aku mendudukkan butt-ku di sofa empuk dan meraih remot, mengganti chennel tv. Aku mendesis dan menatap tajam Nila saat mendengar ucapannya.


“Sepertinya ia telah menyukaimu.” Nila ikut duduk di sampingku dan mengambil minuman berwarna yang tampaknya sudah ia siapkan sebelum kedatanganku.

__ADS_1


“Baguslah, aku tak perlu repot dan cepat mengakhirinya,”ujarku datar dan dingin. Nila memukul bahuku pelan dan meletakkan minumannya kembali. Ia memang tau semua rencanaku. “Terus berita bagus apa yang kau punya?” sambungku.


“Malam besok Jagat mengundang kita ke pesta perayaan ulang tahun perusahaannya” Nila berjalan ke meja kerjanya dan duduk di meja menghadap ke arahku.


“Terus, apa hubungannya?” tanyaku menautkan alis. Nila mendecak.


“Bodoh---sudah kau ikuti saja perkataanku, dan jangan banyak komentar,” omel Nila. Ia meraih intercom dan memanggil seseorang. “Sinta, suruh Purnama ke ruanganku, sekarang,” perintahnya. Aku mengerjapkan mata.


“Untuk apa kau menyuruhnya ke sini, Nil? Urusan kita belum selesai,” ujarku garang. Nila terkekeh melihat reaksiku. Tampaknya ia senang sekali menggodaku.


“Shuuut, diam.” Nila menempelkan telunjuknya ke bibir. “Sudah kubilang jangan banyak komentar, kau akan tau nanti.”


Aku mendengus kesal dan menuruti perkataannya. Selang beberapa menit pintu diketuk.


“Nah itu dia.” Nila tersenyum sumringah. “Masuk”


Purnama menyembulkan kepalanya dan perlahan memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam setelah menutup pintu.


“Duduklah di sini,” perintah Nila menunjuk kursi yang ada di depan mejanya yang ia duduki. Purnama mengikuti perintahnya. Ia mendudukkan buttnya dan hanya memandang ke bawah, ke ujung sepatunya, tak berani menatap mata elangku yang mengintimidasinya.


“Kak Nila, kenapa memanggilku?” tanya Purnama mendongakkan kepalanya, menatap Nila. Nila tersenyum manis pada Purnama.


“Sejujurnya aku tak suka basa-basi, jadi langsung to the point saja---aku ingin kau menemani Elias ini ke pesta sahabat kami malam besok,” jelas Nila singkat dan padat.


“APA!!!”


===============

__ADS_1


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2