I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH


__ADS_3

“Purnama.” Langsung saja kubuka pintu ruang inap. Menyeka buliran keringat yang mengalir deras di pelipis, serta deru napas yang terengah-engah karena berlari sekuat tenaga dari lobi rumah sakit menuju ke ruangan istriku. Mataku langsung tertuju pada sosok istriku, sedang mengemasi barang-barangnya. Sebenarnya besok dirinya dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, tapi hari ini dia memaksa segera pulang.


Di sampingnya ada Mommy, beliau membantu Purnama melipat pakaiannya ke koper. Mommy menoleh padaku yang masih berdiri di depan pintu. Beliau tersenyum. Aku balas menganggukkan kepala. Lalu aku beralih menatap istriku. Purnama tak menoleh menatapku, bahkan ekspresi wajahnya begitu dingin saat melipat pakaiannya. Sama sekali ia tak terusik akan kehadiranku. Di wajahnya yang sayu itu, aku bisa melihat raut kekecewaan dan kebenciannya padaku.


Mommy beranjak berdiri dan berjalan menuju ke arahku. Meremas bahuku dengan lembut.


“Selesaikan masalah kalian baik-baik, Mom mau ke ruangan Edgar dulu,” bisiknya dan berlalu dari hadapanku.


Setelah Mommy keluar dan pintu tertutup di belakangku. Kuseret langkah kakiku menuju ranjang, dimana istriku masih melipat pakaiannya.


“Pur--”


“Lepaskan tanganmu!” Purnama berteriak. Mengibaskan tangannya dengan kasar saat aku memegang pundaknya. Aku mendesah, dengan berat menjauhkan tanganku dari bahunya.


“Buat apa kau kemari, aku tak sudi melihatmu,” ucapnya ketus.


Aku tak menjawab. Menatap sayu istriku. Dengan kasar dan terburu-buru, ia memasukkan pakaiannya ke koper. Melihat dia tak berbicara lagi, kuberanikan diri menyentuh tangannya, mencegahnya memasukkan kembali  pakaiannya.


“Sudah kubilang--”


“Aku tahu. Kau menyuruhku tak menyentuhmu. Tapi, aku suamimu, Purnama,” ucapku sengit penuh dengan penekanan. Suaraku mengintimidasinya. Purnama mengepalkan tangannya dalam genggamanku. Giginya gemerutuk. Akhirnya ia menatap juga wajahku dan tersenyum sinis.


“Suamiku? Setelah membuat sengsara kakakku dan tak menyuruhku bertemu dengannya. Kau masih berani mengatakan suamiku! Dasar ********!”


Purnama memukul-mukul dadaku. Aku hanya bisa diam tak melawannya.


“Purnama, a-aku ingin kau ikut ke New York!” kataku gugup.


Purnama menghentikan aksi memukul dadaku. Menatapku dengan sengit serta wajah yang memerah. “Ke New York bersamamu? Dan kembali diperlakukan kasar olehmu, begitu?”


Aku terdiam dan meneguk saliva mendengarnya. Kembali perlakuan kasarku padanya selama dua tahun ini terlintas di benakku. Aku tertunduk, menatap hampa lantai rumah sakit. Rasa penyesalan kembali menyeruak dan memenuhi hatiku.


“Maafkan aku, Purnama. Aku tahu selama ini telah berbuat kasar padamu, tapi ... saat ini kumohon, Purnama. Ikutlah kembali denganku ke New York. Ada hal pent--”


“Tidak! Aku tak mau ikut! Aku ingin disini. Berada di sisi Kak Edgar.” Purnama kembali menangis dan merosot di lantai. Hatiku serasa dicabik melihatnya seperti ini.


“Purnama--”


“Tidak! Tidak! Tidak!” Purnama menggeleng-gelengkan kepalanya. Kuembuskan napas.


“Purnama ...” Aku menjeda kalimatku sebentar dan mengambil napas, menatap sayu Purnama yang masih duduk di lantai sambil menutup kedua telinganya. “...a-ku mohon, Purnama. Sekali ini saja, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku janji. Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi,” ucapku bergetar.


Aku beralih duduk di depannya.


“Aku tak dengar. Dan tak ingin pergi,” tolak Purnama dengan menelungkupkan kepalanya ke sisi ranjang. Dirematnya pakaian yang dilipatnya hingga kembali berantakan.

__ADS_1


Mataku mulai memanas. Melihatnya rapuh seperti ini hatiku berdenyut sakit. Kuberanikan kembali menyentuh bahunya, melihatnya tak bereaksi akan sentuhanku. Aku semakin berani menyentuhnya. Kupeluk tubuhnya dari belakang, tanganku melingkar erat di pinggangnya. Telapak tanganku menyentuh perut buncitnya. Kusandarkan kepalaku ke bahu mulusnya sambil memejamkan mata. Kugigit bibirku dengan sangat kuat saat cairan bening mulai berdesakan keluar di sudut mataku.


“Purnama, aku tetap dengan keputusanku. Membawamu ke New York,” ujarku parau dan mengeraskan hati.


“Tidak. Aku takkan pergi dari ruangan ini.” Purnama meraung  dan memukul tanganku.


Aku bergeming. Kukeraskan hati sekeras baja. Kali ini saja, biarkan dia membenciku. Ketika di New York nanti, aku akan mengubah sikapku. Kugertakkan gigi, berjanji dalam hati, akan kujaga Purnama sesuai keinginan Edgar.


“Purnama, bila kau disini, siapa yang akan menjagamu dan bayi yang kau kandung. Sedangkan di New York, ada aku yang menjagamu, kumohon. Sekali ini saja, dengarkan aku, suamimu, Purnama,” bujukku.


“Tidak. Di New York aku sendirian. Setidaknya disini, ada Kak Edgar yang kurawat. Serta tanpa harus susah payah memahami bahasa di sana. Huks ... Aku tak mau kembali ke New York lagi. Aku tak sanggup lagi menahan sakit yang kau berikan.”


Aku tak sanggup berkata-kata lagi mendengar rintihannya. Sedalam itukah aku menancapkan luka di hatinya? Seakan mengoyak kembali luka lamanya bila kubawa dia ke New York. Akan tetapi, aku tak sanggup berpisah dengannya. Jauh di lubuk hatiku, aku mulai mencintai istriku, semakin dalam mencintainya. Aku sudah bertekad untuk membahagiakannya.


Tapi kini ... sepertinya harapan itu tenggelam dalam lautan kebencian. Seakan aku mendaki gunung yang tak sampai pada puncaknya. Tetap terkatung-katung di tengah jalan. Belum sampai puncak bahagia, Purnama sudah menyerah atas diriku.


Kuembuskan napas kasar ke udara. Hidupku kenapa begitu sulit begini. Kenapa aku susah untuk mendapatkan kebahagiaan. Semua orang yang kusayangi satu persatu meninggalkanku. Dari ayah kandungku, ibu tiriku, Kalina, Edgar dan kini ... istriku, Purnama juga ingin meninggalkanku.


Lama kekosongan memenuhi ruang di antara kami berdua. Hanya deru napas yang tersendat-sendat dari Purnama bercampur dengan suara isakannya memenuhi ruangan.


“Baiklah, kau tetap disini, Purnama.” Kuputuskan untuk mengalah. Kuusap perut buncitnya. Ya, ini demi ketenangannya dan bayi dalam perutnya. Aku tak mau mendesaknya hingga membuatnya tertekan dan berakibat fatal pada bayi kami.


“Tapi, kumohon, Purnama. Pikirkan kembali malam ini permintaanku. Sudahlah, sebaiknya kau istirahat!” kataku mengembuskan napas.


 


 


 


 


 


 


Kubuka pintu ruang inap. Berharap hari ini istriku telah mengubah keputusannya. Mataku langsung tertuju padanya, telah berpakaian rapi, wajahnya menghadap ke jendela dengan menopangkan kedua tangannya. Tak ada lagi pakaiannya di ranjang. Mungkinkah ... mataku beralih ke koper yang teronggok di samping tempat tidur.


Aku duduk di sisinya. Purnama tak menggubris kehadiranku dengan pandangan masih tertuju keluar jendela. Meraih tangannya dan menggenggamnya. Dia tetap diam. Tak merespon.


“Purnama, apa kau telah mengubah keputusanmu?” tanyaku penuh harap.


Purnama melepaskan genggamanku dan menggelengkan kepalanya. Dadaku berdetak. Hatiku berdenyut sakit melihat gelengannya, berarti dia tetap akan keputusannya semalam.


“Aku tetap disini, bersama Kak Edgar,” ucapnya dingin. Ia beranjak berdiri dan menjauh dariku. Memejamkan mataku sejenak dan menghirup udara. Tidak, aku tak boleh melepaskan Purnama begitu saja. Siapa yang akan menjaganya disini? Aku takut Purnama akan menjadi sasaran kejahatan Jeremy lagi.

__ADS_1


“Purnama, kumohon. Ikutlah denganku ke New York,” bujukku. Kupeluk dirinya dari belakang, mencegahnya berjalan semakin jauh dariku. Hidungku bisa mencium wangi sampo di rambutnya; mengalirkan rasa tenang dalam hatiku.


Purnama terdiam sesaat, tak melanjutkan langkahnya. Kemudian dia mulai memukul tanganku yang melingkar di pinggangnya.


“Lepaskan tanganmu, Elias!” Purnama meninggikan volume suaranya.


Aku bergeming, malah makin mengeratkan pelukanku. Aku terkesiap kaget saat merasakan tanganku mendapatkan tetesan dari atas. Saat menolehkan kepalaku di bahunya. Kulihat dengan jelas, buliran airmata jatuh di pelupuk matanya, hingga membasahi kedua tanganku yang melingkar di perutnya.


“Elias, biarkan aku disini. A-ku tak ingin bersamamu,” isaknya.


Hatiku semakin berdenyut-denyut sakit saat merasakan airmatanya yang jatuh di punggung tanganku. Apalagi saat mengatakan tak ingin bersamaku lagi. Aku bimbang, hatiku berteriak tak ingin melepaskannya. Tapi disisi lain aku tak tega melihatnya terus terpuruk seperti ini.


“Tapi, bagaimana kalau Edgar saja yang ikut dengan kita?” usulku.


“Kau gila, Elias! Kak Edgar sakit keras. Ia tak bisa berpergian jauh-jauh. Kondisinya bisa langsung drop. Kau berniat membunuhnya perlahan-lahan ketika dalam perjalanan.”


Aku terhenyak. Tak sanggup berkata-kata.


“Kau memang jahat!” pekiknya. Dengan paksa melepaskan backhug-ku padanya. Dia memutar tubuhnya. Kami saling berhadap-hadapan.


Kutatap sayu matanya. “Tapi, Purnama. Tak ada pil--”


“TIDAK!”


Aku terperanjat kaget mendengar betapa kerasnya Purnama memekik. Dia meraba perutnya. Menghela napasnya sebentar. Memalingkan muka ke arah lain. Berusaha menghalau titik air mata yang ingin turun. Hatiku sungguh tak tahan melihatnya begitu rapuh, sedih dan marah begini. Jari-jariku perlahan mengusap airmata di pipinya, tak ada perlawanan lagi darinya.


“Baiklah, kau boleh disini. Merawat Edgar,” ucapku serak menahan rasa sakit yang semakin menusuk-nusuk hatiku.


“Tapi, tolong biarkan saat ini aku memelukmu dan calon bayi kita,” lanjutku memohon dan menatap sayu matanya, berharap dia mengiyakan permintaanku kali ini. Dia diam, hanya itulah reaksinya. Kuanggap dia membiarkanku memenuhi keinginanku.


Menggigit bibirku ragu dan mulai melangkah memeluknya. Semakin kueratkan pelukanku di tubuh Purnama yang tetap bergeming. Setelah puas memeluknya. Aku beralih mensejajarkan tubuhku dengan perutnya. Mencium perut buncitnya sembari memejamkan mata. Mengalirkan rasa bersalahku pada bayi dalam kandungannya, sebab selama ini aku tak memperhatikan pertumbuhannya.


Maafkan Daddy, Nak. Maafkan Daddy-mu yang egois ini, mengacuhkanmu dan Mommy-mu selama ini. Daddy mohon jangan nakal, buatlah Mommy-mu nyaman di sini. Percayalah satu hal, bahwa Daddy-mu ini mencintaimu dan Mommy-mu lebih dari apapun. I love you, my son.


Berkali-kali aku mengecup perutnya, berharap akan sampai rasa sayangku pada bayi dalam kandungan Purnama. Mendirikan kembali tubuhku, kembali memeluk istriku. Mengusap-usap punggungnya.


I’m sorry, Sayang. Aku tak bisa menjagamu disini ... Kuharap kau baik-baik saja disini.


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2