![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku menautkan kedua alisku heran akan pertanyaan--dengan nada memerintah--dari wanita paruh baya di depanku. Seharusnya aku yang bertanya siapa dia. Kupandang lekat wanita paruh baya ini, yang tetap begitu intens menatap tubuhku. Aku meneguk saliva saat sorot matanya yang tajam nenilaiku, aku jadi risih dan bingung harus berbuat apa pada wanita yang punya sifat bossy---sepertinya, terlihat jelas cara dia bertanya padaku tadi.
“Heum? Jangan bilang kau adalah ******* bayaran Elias, yang kemudian menggunakan kehamilanmu untuk tinggal bersamanya.” Wanita paruh baya ini memicing tajam, menatapku sinis apalagi ketika ia memandang perutku.
Mainan Elias? Aku mengkerutkan dahi bingung. Ada rasa sakit menusuk-nusuk ulu hatiku saat wanita paruh baya ini menilaiku sebagai mainan Elias. Kuakui, memang tak tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Elias sebelum menikah denganku. Dan aku sangat menyesal soal itu. Kukepalkan tangan kananku di atas perutku, mengeratkan gigiku, marah dan kesal bercampur satu - rasa sakit dihina sebagai mainan Elias begitu merasuk di hatiku. Asal tahu saja, aku ini istri sahnya Elias.
“Maaf, perkenalkan namaku Purnama Dir---maksudku Purnama Bowman.” Teringat jelas kala Elias memperingatkanku bila memperkenalkan diri harus memakai nama belakang keluarganya. Membungkukkan tubuhku dengan sopan, memperkenalkan diriku terutama menekan nama belakangku agar wanita paruh baya cantik ini tahu siapa aku sebenarnya.
“Bowman?” Dia bergumam lebih, tepatnya bertanya pada dirinya sendiri. Keningnya mengkerut dalam, kembali ia menatapku dengan intens, bahkan matanya kini beradu pandang dengan kedua iris cokelat beningku, meski akhirnya aku yang kalah ditatap setajam itu olehnya.
“Mommy?”
Seruan Elias dari balik punggungku mengejutkanku dan wanita paruh baya ini. Aku menatap bingung pada Elias dan wanita di depanku ini secara bergantian. Mommy? Setahuku Mommy-nya Elias bernama Maria. Itu yang dijelaskan oleh Nila--sepupunya Elias--saat kami baru menikah.
Memang aku tak pernah mendengarnya secara langsung dari mulut Elias. Dan sekali lagi, Elias tak pernah menceritakan masa lalunya seperti apa padaku. Satu hal yang hanya kutahu, kedua orang tua Elias dibunuh oleh kak Edgar---itu juga yang dijelaskan oleh Elias padaku. Itu sebabnya kenapa Elias begitu dendam padaku dan kak Edgar. Tapi, siapa pria di depanku ini yang dipanggil Mommy oleh Elias? Kepalaku kini penuh dengan pertanyaan siapa sebenarnya wanita paruh baya cantik ini. Aku mulai merasa kepalaku berdenyut sakit, terlalu berpikir banyak. Tapi segera kutepis, aku tak mau sakit.
“Hey, Purnama! Kau dengar! Buatkan minuman untuk Mommy-ku. Cepat!” perintah Elias membuyarkan lamunanku.
“Baiklah. Tu-tunggu sebentar...” jawabku tergagap, segera menunduk saat irisku bertemu dengan mata elang milik Elias, tak sanggup menatap tatapan intimidasinya.
“Sekalian buatkan aku sarapan! Aku tak sempat sarapan di rumah tadi,” timpal Mommy-nya Elias memerintah, benar-benar mirip dengan sifat Elias.
***
“El, eung....Mom-Mommy, sarapan sudah siap.” Aku menyela masuk ke ruang tamu - sedikit canggung memanggil wanita paruh baya itu dengan sebuatan Mommy. Kulihat mereka berdua lagi berbicara serius.
“Baiklah, Mom kita sarapan dahulu.” Elias berjalan cuek melewatiku, diiringi di belakangnya Mommy-nya EL. Aku terkesiap saat wanita cantik ini menepuk pundakku. Seakan tahu akan kesedihan yang kualami saat ini.
“Purnama, sabar ya.”
Bibirku membentuk senyuman tulus dan kedua bola mataku mulai berkaca-kaca saat mendengar simpati dari wanita paruh baya ini padaku. Hatiku menghangat, bahagia saat ada yang begitu memperhatikanku dikala rasa sakit yang terus mendera batinku.
“Ya, terima kasih eung Mom-mommy,” jawabku pelan. Aku tak menyangka kalau wanita ini ternyata baik, berbanding terbalik dengan kesan pertama tadi.
“Tak usah canggung, panggil aku Mommy. Nama asliku adalah Cinthya, Purnama.”
“Baik, Mom. Terima kasih banyak.”
“Tak usah sungkan---ngomong-ngomong, Elias tak pernah cerita siapa aku, Purnama?” tanyanya saat melihatku bingung melihat dirinya tadi. Aku hanya menggeleng dengan jujur.
“Dasar anak itu! Dari dulu sifatnya tak pernah berubah,” desis Mommy menatap punggung Elias yang menghilang di balik dinding ruang makan.
“Sudah berapa bulan kandunganmu?” tanyanya melembut. Tangannya bergerak mengelus perutku meski belum terlalu besar ukuran kandunganku.
“Hampir memasuki bulan ketiga, Mom.” jawabku tersenyum sumringah padanya, tak menyangka bahwa Mommy sangat perhatian padaku, bahkan Elias saja tak pernah menanyakan berapa usia kandunganku, meski aku yakin Elias mengetahuinya dari tante Rina.
“Apa dia masih dingin padamu?”
“Eh?” Aku terkejut akan pertanyaan Mommy. Apakah Elias sudah menceritakan semuanya tentang dendamnya? Aku menggigit bibir bawahku, kembali teringat sifat dingin Elias padaku, padahal baru saja Elias mulai baik padaku, tapi kini kembali membeku. Dengan ragu aku mengangguk - membenarkan pertanyaan Mommy. Tampak Mommy membuang nafasnya, antara sedih dan kesal.
“Hey! Apa yang kalian berdua lakukan, mau sarapan tidak!?” teriak Elias ketus dari dapur. Aku tersentak kaget, sama seperti Mommy. Aku menolehkan kepala di mana Elias sedang menyembulkan kepalanya. Aku meringis saat tatapan tajam Elias menusuk mataku, ketika kami bertemu pandang.
“Baik, kami segera ke sana. Hn, dasar---nanti jangan seperti Daddy-mu, ya, Boys,” ujar Mommy balik berteriak pada Elias sembari mengelus perutku. Mencairkan suasana yang terasa sedikit panas dan tegang. Aku hanya terkekeh kecil.
__ADS_1
“Nanti kita sambung lagi obrolannya, Purnama,” lanjutnya mengusap lembut rambutku. Aku hanya mengangguk, ya banyak yang ingin kutanyakan tentang Mommy Cinthya.
***
“Eliaaas, tega sekali kamu pada istri manismu.”Mommy berteriak padaku saat kami tiba di apartemennya. Usai sarapan pagi Mommy menyeretku ke apartemennya. Meninggalkan Purnama sendirian. Awalnya Mommy ingin mengajak Purnama untuk main ke apartemennya, tetapi, dengan dingin kutolak ide Mommy.
“Padahal dia lagi mengandung anakmu, dasar suami bodoh tak berperasaan,” raung Mommy kala aku hanya diam saja, dia mendesis dan menyerangku dengan bantal serta memukulkannya ke tubuhku - meluapkan semua kekesalannya padaku. Berkali-kali aku menghindari serangan Mommy kandungku.
Mommy Cinthya adalah sosok yang telah melahirkanku, sedangkan Daddy kandungku yaitu Marcus Benjamin Bowman. Mereka bercerai ketika aku berumur enam tahun. Aku ikut Daddy dan meneruskan bisnis keluarga turun temurun. Daddy kemudian menikah lagi dengan Mommy Maria sedangkan Mommy menikah lagi dengan Robert Dawson. Keduanya menetap di Beijing hingga sekarang.
Hidup memang aneh. Daddy menikah dengan Mommy karena perjodohan, padahal mereka sudah punya orang yang mereka cintai, meski pada akhirnya mereka tetap menikah dengan pasangan masing-masing - setelah aku lahir dan berumur enam tahun.
Dahulu aku sangat membenci Daddy dan Mommy bercerai, tapi lambat laun aku mengerti bahwa Daddy dan Mommy tidak saling mencintai satu sama lain. Dan kini mereka hidup bahagia. Mommy dengan Daddy Robert dan Daddy dengan Mommy Maria.
***
Aku tiba di apartemen ketika jam menunjukkan tepat angka delapan malam. Seharian ini aku habiskan waktu di tempat Mommy sembari mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Edgar. Melirik sebentar ke arah ruang tamu. Sunyi. Apakah dia sudah tidur? Aku hanya mengedikkan bahu tak peduli dan menuju kamarku sendiri.
“Purnama, besok siang temui aku di apartemen XXX. Di sana ada kak Edgar. Kita akan menjenguknya, tak perlu kau minta izin dengan Elias. Mengerti?”
Aku mendengar jelas suara Randy. Ya. Aku menyadap smartphone Purnama. Ini kulakukan agar Purnama tak bisa lari dariku.
“Ta-tapi, a-aku takut dengan Elias. Ba-bagaimana kalau ia tahu rencana ini.”
“Tak usah takut, kau tenang saja, Purnama.”
Tak lama aku mendengar sambungan telepon ditutup. Kubanting smartphone-ku ke kasur. Sialan. Jadi mereka berencana akan melarikan diri dariku dan menemui Edgar diam-diam. Tak akan kubiarkan terjadi. Aku tak sudi Purnama pergi secepat ini dariku, sebelum aku membalaskan dendamku dengan Edgar terlaksana. Tanpa pikir panjang lagi, aku bergegas ke kamar tamu, dimana Purnama berada.
“PURNAMA, buka pintunya!” teriakku penuh amarah dan menggedor-gedor pintu tak sabaran.
“A-ada apa, El---”
Aku menyerobot masuk dengan Purnama yang mengekoriku. Raut wajahnya penuh dengan tanda tanya, apalagi melihat wajahku seperti orang kesetanan.
“Aku tahu semua rencanamu. Kau ingin melarikan diri bersama Randy!” cecarku murka dengan mengepalkan tinju menatap mata cokelat beningnya. Purnama terdiam mendengar perkataanku. Ia meneguk saliva, tubuhnya mulai bergetar.
“I-itu ... dari mana kau tahu?”
Wajahku membentuk seringaian sinis. “Itu tak penting dari mana aku tahu, jadi benar besok kau berencana melarikan diri. Takkan kubiarkan kau lari!” Volume suaraku mulai meninggi – mataku sudah menggelap menahan amarah yang memenuhi seluruh dadaku.
“Tidak seperti itu. Aku tak berencana ingin lari. Aku hanya menemui kak Edgar saja, kudengar ia sakit. Aku ... aku rindu kak Edgar, sudah lama aku tak menemuinya,” jelas Purnama menatap sendu kedua bola mataku, kemudian dia menggenggam tangan kananku, tapi langsung kutepis. Aku berbalik dan berjalan keluar. Tapi lagi-lagi ia menahan tanganku bahkan kini genggamannya mengerat.
“Kumohon,El. Izinkan aku menemui kak Edgar,” mohonnnya. Aku sama sekali tak membuka suara. “El?”
“Tidak, aku tak mengizinkanmu. Itu hanya alibimu untuk melarikan diri bersama Randy. Mulai detik ini kau tak kuizinkan keluar dari apartemen ini,” tekanku sambil membalik tubuh dan mulai berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Tiba-tiba Purnama memeluk tubuhku dari belakang, kurasakan tubuhnya bergetar menahan tangis. Lagi hati ini sakit melihatnya seperti ini memohon padaku. Aku hanya diam mematung tak bereaksi.
“Kumohon, El.”
Aku mengerutukkan gigi menahan amarah
“Lepaskan, Purnama.” Aku berteriak marah. Tak ada gerakan dari belakangku. Tangan Purnama semakin mengerat di pinggangku. Perlahan aku merasakan kalau Purnama menggelengkan kepalanya. Kuembuskan napas---lebih tepatnya melepaskan amarahku yang telah memuncak. Perlahan kulepaskan tangan Purnama, kemudian kembali membalik tubuhku hingga berhadapan lagi dengannya. Kutatap dengan sinis iris bening Purnama yang bergerak gelisah memohon padaku.
“El, kum---“
“TIDAK! Sekali tidak tetap tidak!” Akhirnya amarahku keluar tak terkendali. Purnama berjengit mendengar teriakanku. Entah keberanian dari mana, untuk pertama kalinya, iris beningnya berani melawan menatapku. Ia menengadah, menatap ke wajahku yang lebih tinggi darinya. Ia terkekeh parau bercampur takut.
“Meskipun kau tak mengizinkanku, aku tetap akan pergi. Kak Edgar adalah kakakku. Saat bertemu nanti, aku akan menanyakan padanya, apakah benar dia menjadi seorang pembunuh bayaran selama ini,” katanya menantang---meski suaranya terdengar bergetar ketakutan.
Aku menyunggingkan senyuman sinis, Purnama tak tahu bahwa selama ini aku melacak keberadaan Edgar untuk menangkapnya hidup atau mati. Aku bersidekap, sedikit membungkuk menatap wajahnya, hampir saja hidung kami bertabrakan, andai saja Purnama tak berjengit kaget dan memundurkan tubuhnya selangkah. Ia bersemu merah, entah itu rona tersipu atau marah. Lamat diriku tersenyum tipis melihat reaksinya.
“Silakan saja. Aku tak keberatan, bahkan aku bersyukur kau mempermudah pekerjaanku untuk menangkapnya.” Smirk-ku mengembang di belah bibir sensualku.
“Kau...” Purnama menggeram marah. Aku semakin terkekeh sinis melihatnya seperti ini, hatiku senang. Menikmati wajahnya yang penuh dengan amarah menantangku yang baru kali ini terjadi, biasanya wajahnya sembab penuh air mata. Kurasa, ia sudah habis kesabarannya terhadapku. Meskipun begitu, tubuhnya masih sedikit gemetaran.
“Lalu kenapa kau tak mengizinkanku keluar, kalau itu memang mempermudahmu untuk menangkap kak Edgar,” balas Purnama sedikit meninggikan volume suaranya.
Aku mendecakkan lidah, kesal. “Sudah kukatakan dari awal, karena itu hanya akal bulus Randy untuk membawamu lari dari tanganku.”
Purnama mendengus mendengar penjelasanku. Kemudian ia tersenyum sinis dan menatap mataku.
“Lari? Membawaku pergi darimu? Aku benar-benar berharap Randy memang membawaku lari dari orang sepertimu!” teriaknya menatap tajam padaku. Kali ini Purnama benar-benar berani melawanku.
Kumajukan tubuhku, mendekat kembali padanya. Sama seperti sebelumnnya, Purnama mundur selangkah dan meneguk saliva. Aku balik menatap matanya yang kini mulai memancarkan ketakutan. Aku semakin menyeringai, puas menikmati wajahnya yang seperti itu.
“Ma-mau apa, kau,” hardiknya. Mataku tertuju pada kedua tangannya yang melingkar erat di perut buncitnya. Kedua mata beningnya menatapku dengan gelisah. Kulirik sekilas bulir-bulir keringat halus mulai turun di pelipisnya. Hatiku turun bagai roller coaster. Yang semula tadi penuh dengan kemarahan, tiba-tiba saja menjadi melunak. Ah, shit. Aku kembali mengumpati hatiku yang terlalu lemah padanya.
“Coba saja kalau kau ingin merasakan sakit yang teramat pedih.” Ancamku tak main-main. Tetapi ancamanku tak membuat Purnama gentar. Ia bahkan tertawa kecil.
“Mencoba mengancamku, heh. Sakit? Bukankah selama ini aku sudah merasakan sakit, baik itu fisik maupun batin. Tubuh dan hatiku sudah rusak, tak kuasa menanggung rasa sakit yang diberikan padaku selama ini.”
Aku terdiam sesaat. Tetapi, emosi kembali menguasaiku.
“Kau, beraninya---” Aku tak melanjutkan lagi perkataanku. Mataku kini sudah memerah. Rasanya kepalaku akan meledak, dadaku ikut bergemuruh karena rasa amarah yang tak terbendung lagi.
Aku semakin memajukan tubuhku, Purnama mundur selangkah. Aku maju dan Purnama mundur. Akhirnya, Purnama berhenti ketika sudah terpojok di sudut dinding. Tak bisa melarikan diri lagi, bahkan kini tubuhkupun mengunci pergerakan tubuhnya.
Kuembuskan napas tepat di wajahnya. Purnama diam bergeming, matanya pun tak berkedip. Kendati ia terpojok olehku, ia masih bisa melawan menantangku. Kedua tanganku kuangkat ke atas hingga tepat sejajar dengan kepala Purnama. Sontak kutinju dinding sekuat tenaga.
“Jangan membuatku marah, Purnama,” kataku parau tepat di telinganya---kini, ia memejamkan matanya sesaat, kala aku meninju di dinding di sampingnya tadi. Kurasakan tanganku berdenyut-denyut sakit seirama dengan denyutan hatiku, serta tak kuhiraukan telapak tanganku yang memerah.
“Kenapa memejamkan mata, hum. Apa kau takut?” ejekku menyeringai sinis tepat di telinganya. Napasku ikut tersengal menahan rasa amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Purnama langsung membuka kedua matanya, kami saling berpandangan tajam nan sengit. “A-aku, tidak takut!”
===================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1