![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku terduduk lesu di tepi ranjang. Mengembuskan napas berat. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kedua tanganku menggengam erat besi ranjang yang dingin. Kini, tinggallah aku sendirian dalam ruangan ini. Kedua alisku bertautan saat terbayang kenangan yang tak enak di rumah sakit ini. Banyak hal pahit yang telah kulewati disini.
Entah berapa menit aku duduk seperti ini. Kurasa, mungkin sudah setengah jam terlewati begitu saja. Pintu terbuka. Kulirik sekilas siapa yang membukanya. Mommy masuk membawa keranjang buah di tangannya. Aku bergeming, masih menatap ke luar jendela. Bahkan saat Mommy meletakkan keranjang buah di meja nakas pun--tepat didekatku--tak kuindahkan.
“El, mana Purnama?” Mommy berbalik menatapku. Aku tak menyahut.
“Dia pergi sebentar?” tanya Mommy lagi.
Aku mengalihkan pandangan dari jendela dan tertunduk menatap lantai. Kemudian mengangguk lesu. “Purnama sudah pergi setengah jam yang lalu, Mom. Ke ruangan Edgar. Dia memutuskan menginap di apartemen Randy untuk sementara waktu.”
“Kenapa harus menginap di tempat Randy?” Mommy menyayangkan. “Bukankah kalian ada apartemen sendiri?”
Aku mendesah pendek. “Purnama tak mau tinggal bersamaku untuk sementara waktu,” jelasku pahit, sepahit hati ini yang tak rela Purnama tinggal dengan Randy. Tapi mau bagaimana lagi, itu keputusan istriku. Aku percaya dengan Randy, ia pria jujur. Takkan berbuat jahat pada Purnama. Bahkan aku tahu Purnama tinggal dengannya pun dari Randy sendiri. Barusan Randy SMS padaku. Dan saat ini aku hanya bisa mempercayakan keselamatan Purnama dengan Randy.
“Oh, ya. Purnama memberi salam pada Mommy. Mengucapkan terima kasih telah merawatnya dan menjaganya selama di rumah sakit,” lanjutku menyampaikan pesan Purnama. Dahiku mengernyit sekilas saat mengingat nada suara Purnama yang begitu dingin ketika berucap padaku tadi.
Mommy menghela napas. Duduk di sampingku. Meremas bahuku, sangat memahami kesedihanku saat ini. Tangannya yang lembut beralih mengusap-usap punggungku dengan penuh perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ibu pada umumnya. Kurebahkan kepalaku di bahu sempitnya. Pandanganku menatap hampa ke depan.
“Mommy, sore nanti aku akan berangkat ke New York,” ujarku parau.
Mommy berhenti mengusap punggungku sesaat. “Kok cepat sekali? Tidakkah besok atau lusa saja kau pergi, El? Mommy mencemaskanmu. Lagian Purnama masih belum bisa kau bujuk.”
“Purnama tak mau ikut aku ke New York,” kataku pahit dan menghela napas. “Aku tak bisa menunda lagi ke New York, Mom. Perusahaanku sekarang ini mengalami failed. Selain itu ada seseorang mengembuskan desas desus kotor di perusahaan, hingga para karyawanku ingin berdemo lusa,” jelasku mengingat kembali ucapan Bryan kemarin siang saat kembali dari rumah sakit.
Mommy menatapku terkejut. “Astaga! Itu pasti ulah Jeremy, si berengsek. Kenapa psikopat itu belum mati juga,” geram beliau dengan menggerutukkan gigi. Kesal. Tangannya kembali mengusap lembut kepalaku.
“Sabar ya, Elias. Kau pasti bisa melewatinya.”
Ucapan Mommy membuatku tersentuh, tak ayal mataku mulai berkaca-kaca. Mommy menepuk-nepuk punggungku, memberikanku ketenangan. Sesekali beliau mengecup puncak kepalaku.
***
__ADS_1
Aku mengerjapkan mata saat supirku membangunkanku. Mengerling sekilas keluar jendela. Ternyata mobil telah berhenti tepat di halaman rumahku. Menggeliat sebentar, meluruskan tulang-tulangku yang terasa remuk redam serta seluruh tubuh terasa kebas akibat terlalu lama duduk di kursi pesawat, dari Beijing kembali ke New York memakan waktu lebih kurang sekitar tiga belas jam-an. Dan seperti biasa, aku memilih kelas bisnis di setiap perjalananku.
Aku beringsut turun dari mobil. Menatap langit malam di kota New York. Akhirnya aku kembali. Sebulan lalu aku berangkat dari New York bersama Purnama, namun pulangnya tanpa dia di sisiku. Sayang, semoga kau baik-baik saja di Beijing.
Aku tersenyum tipis menatap langit malam tanpa bintang. Dengan langkah gontai, kuseret kaki masuk ke rumah. Mengembuskan napas yang terasa sesak ke udara, menatap hampa sekeliling rumahku yang luas, kini tanpa kehadiran istriku di sini. Lagi-lagi, bagaikan ada besi yang beratnya berton-ton, kakiku terasa sangat berat untuk melangkah ke kamar utama. Mengingatkanku akan banyaknya kenangan buruk dan manis di dalam kamar itu. Meski kenangan buruklah; mendominasi selama dua tahun ini.
***
Saat kakiku melangkah memasuki lobi perusahaan raksasaku, seluruh manager perusaan telah berdiri dan berjajar rapi. Aku yakin, sebelum kedatanganku kemari, tampak wajah mereka kusut dan muram, kini kembali tersenyum cerah, seakan ada harapan manakala melihat langsung wajah pimpinannya. Yang menyambut dan berdiri dibarisan utama yaitu Bryan, sejenak menundukkan tubuhnya ketika aku berdiri di depannya. Sama seperti yang lainnya, Bryan menarik napas lega.
“Selamat datang kembali, Mr. Benjamin.” Bryan berkata formal, memanggil nama tengahku di depan seluruh staf bawahanku. Aku hanya mengangguk kecil terus berjalan menuju lift khusus yang membawa langsung ke ruanganku. Bryan setia mengekoriku dari belakang. Dengan sigap dia memencet tombol lift dan pintu pun terbuka. Kami berdua masuk bersama.
“Sangat genting. Siang ini para karyawan akan berkumpul di lobi, dan mulai berunjuk rasa--satu lagi, masalah kita telah bocor ke media. Jadi para wartawan juga akan meliput.”
Bryan mengembuskan napas beratnya, kemudian jari panjangnya memencet lantai 20. Aku hanya menatap datar pantulanku dan Bryan di depan pintu; mulai bergerak perlahan. Satu lagi masalah yang harus kuhadapi akibat ulah jeremy, yaitu mengendalikan para karyawanku.
“Setelah ini, perintahkan manajer personalia dan manajer keuangan untuk datang ke ruanganku. Siapkan juga jadwal siang ini untuk melakukan jumpa pers. Biarlah aku yang menghadapi para karyawan dan awak media,” ujarku dengan nada dingin dan tegas.
“Siap dilaksanakan.”
***
__ADS_1
Aku memasuki lobi perusahaanku, di sana para karyawan dan para awak media telah menunggu akan penjelasanku tentang nasib para karyawan. Mendudukkan butt-ku di kursi empuk--telah disediakan sebelumnya--bersama beberapa puluh microphone dan beberapa jenis alat perekam lainnya yang tergeletak di atas meja. Blitz kamera tak henti-hentinya menyorot dan mengabadikan potretku sedari tadi.
Aku berdeham sebentar dan mengambil napas. Mataku mulai menyapu seluruh ruangan, melihat dengan pandangan berani para karyawanku dan awak media yang menyiarkan acara langsung tersebut ke berbagai media elektronik, yang bisanya akan menjadi headlines news seketika.
“Selamat siang semuanya. Saya Elias Benjamin Bowman, sebagai pemilik perusahaan dari Bowman Group, menyatakan bahwa tak ada pemecatan besar-besaran dari pihak perusahaan ...”
***
Aku menghirup udara segar ketika telah sampai ke ruanganku kembali. Huft. Mendudukkan butt-ku ke kursi empuk. Menatap langit-langit ruanganku. Aku mengetukkan jemariku ke meja, berpikir. Bagaimana caranya aku bisa menangkap Jeremy dan mengembalikan keuangan perusahaan agar stabil kembali. Tentunya aku ingin masalah ini cepat-cepat selesai, dan menjemput kembali istriku.
Baru sehari jauh dari Purnama, aku sudah merasakan rindu berat padanya. Aku berdecak. Mencemooh diriku sendiri. Dahulu, aku lebih suka menghabiskan waktu di kantor seharian, tanpa memperdulikan apa yang dilakukan Purnama di rumah. Mengabaikan dia sepenuhnya. Bahkan, Purnama hamil dan mengidam pun tak pernah kukabulkan. Kalau diingat-ingat, hanya satu kali aku memenuhi keinginan istriku.
Seandainya saja aku bisa memutar waktu. Aku ingin mengubah sikap kasarku padanya selama ini.
Saat ini, apa yang kau lakukan, Sayang?
Aku mendesah. Tentu saja Purnama takkan peduli lagi padaku saat ini. Apa yang kulakukan baginya tak penting saat ini. Ya, aku telah memetik hasil dari balas dendamku selama ini. Rasa kecewa teramat dalam Purnama padaku. Seratus persen aku telah gagal menjalankan misiku.
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1