![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku terpaku melihat keadaan Purnama. Ia pingsan dengan bersandar di dinding kamar mandi. Keningnya berdarah. Sepertinya ia terpeleset dan terantuk kekloset. Dadaku bergemuruh. Jantungku berpacu dengan cepat dan sukses membuatku tersadar dari keterpakuanku. Hatiku sangat sakit melihat keadaaannya. Aku berjongkok, menopangkan kepalanya ke pahaku dan menepuk-nepuk pipinya agar ia sadar.
“Purnama, sadarlah,” ucapku panik. “Purnama, jangan menakutiku,” teriakku mulai takut.Tak ada respon dari Purnama, bahkan kini ia semakin pucat. Aku bergegas mengangkat tubuhnya bridal style. Membaringkan tubuhnya dan memakaikan piyama padanya serta menyelimutinya. Menelepon dokter keluarga sambil memakai boxer---baru sadar aku juga tak mengenakan apapun.
* I’m Sorry To Hurt You*
“Bagaimana keadaannya, Tante?” tanyaku pada dokter Rina, biasa aku memanggilnya tante Rina, setelah ia menikah dengan sahabat Papa--om Glen--yang kini mempunyai anak bernama Intan, istrinya Jagat. Tante Rina menatapku dengan ekspresi tak terbaca.
“Ia baik-baik saja, hanya saja....”
“Hanya saja?” ulangku tak sabar. Sesaat tadi aku lega mendengar Purnama baik-baik saja, tapi kemudian kembali aku dibuat deg-degan dengan keadaannya.
Dokter Rina meremas bahuku. “Tenang, El,” katanya lembut.
“Mana bisa aku tenang, Tante. Kalau Tante belum menjelaskan yang terjadi padanya,” teriakku frustasi dan mengacak rambutku.
“Shuttt! Lebih baik kita ke luar dari sini. Biarkan pasien tenang.” Tante Rina keluar dari kamar diikuti olehku. Sesaat sebelum menutup pintu aku memandang sayu wajah Purnama yang terbaring dengan damai.
“Apa yang terjadi padanya, Tante?” tanyaku tak sabar saat kami sudah berada di ruang tamu.
“Ini berita bahagia bagimu, El.” Tante Rina tersenyum.
Aku mengkerutkan keningku tak mengerti. “Maksud, Tante?”
“Selamat, El. Istrimu hamil.”
Lama aku terdiam mendengar penjelasan tante Rina. Tak bisa mengekspresikan wajahku saat ini---sangat shock. Aku tersenyum sinis. “Tak mungkin, Tante.Tante pasti salah memeriksanya,” kilahku.
“Salah? Aku tau yang terjadi pada tubuhnya, Elias,” jelas tante Rina meyakinkan.
“Tidak. Tak mungkin ia hamil, Tante. Aku yakin saat melakukan ‘itu’ selalu memakai pengaman.” Aku menyangkal kembali pernyataan tante Rina. Sekuat tenaga aku menyangkalnya, tapi jauh di dalam lubuk hatiku, ada rasa terselip bahagia menyeruak di hatiku.
Tante Rina menghela nafasnya perlahan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekeras kepalaanku. “Elias, kami sebagai dokter tak boleh berbohong tentang keadaan pasien yang sebenarnya. Sebelum menjadi dokter aku telah disumpah.”
Aku terdiam sesaat. Itu memang benar. Tapi ... “Tidak, tetap aku tak terima,” tolakku masih dengan keras kepala.
Tante Rina menggenggam erat tanganku dan menatap kedua bola mataku yang bergerak gelisah. “Dengar El, seharusnya kau bersyukur bisa dikarunia seorang anak dari seorang wanita yang kau cintai,” katanya lembut.
Wanita yang kucintai? Aku memalingkan wajahku dari tante Rina.
__ADS_1
"Banyak orang yang mendambakan keturunan dalam pernikahan yang bertahun-tahun dijalani, bahkan kalian baru dikaruniai anak setelah dua tahun menikah, bukankah hal itu membahagiakan, El?” tanya Tante Rina.
Aku tak menjawab.
“Sudahlah, aku ada pasien lagi setelah ini, El.” Tante Rina menatap arlojinya dan bergegas kembali ke kamar mengambil peralatan medisnya. Dan menepuk bahuku pelan.
“Sekali lagi, selamat, El---oh satu lagi, minumkan obat pereda mual pada Purnama di pagi hari, dia akan mengalami gejala morning sickness di awal kehamilan. Dan karena badannya lemah, kau harus ekstra menjaga kandungannya. Ingat pesan terakhirku, Elias. Jaga baik-baik kandungannya,” jelas Tante Rina sembari memberikan berbagai macam obat ke tanganku.
* I’m Sorry To Hurt You *
Lama aku memandangi wajah pucat nan damai Purnama saat tertidur---setelah diberi suntikan vitamin oleh tante Rina tadi. Dahinya yang terluka sudah ditempel dengan plester. Sepertinya ia tidur nyenyak dan belum tau bahwa ia hamil.
Aku membaringkan tubuhku di sampingnya dan menatap sendu wajahnya. Tanganku bergerak menelusuri lekuk wajahnya yang putih pucat. Perlahan turun kebibir plumnya yang juga pucat dan membelainya dengan lembut. Kemudian beralih ke perut datarnya, mengusapnya perlahan. Di dalam perut ini bersemayam calon anakku.
Perlahan aku merapatkan tubuhku pada Purnama. Mendekap tubuhnya, berbagi kehangatan. Mencium lama keningnya dan turun ke bibir plumnya – mengecupnya berulang kali. Meletakkan kepalaku di bahu sempitnya dan memejamkan mata sambil mencium aroma vanilla yang menguar di tubuhnya. Aroma yang kusukai darinya. Dan biarkan aku seperti ini sejenak, meresapi kebahagiaanku. Besok kembali lagi dengan diriku yang dingin penuh dendam.
* I’m Sorry To Hurt You *
Purnama menggeliat di dalam dekapanku. Aku membuka mata tanpa berniat melepaskan dekapanku. Mata elangku saling beradu pandang dengan mata cokelat Purnama. Kami diam tak bersuara, bahkan enggan untuk bergerak, hanya saling tatap-tatapan. Sekilas aku melirik sebentar ke jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
“Apa yang terjadi padaku semalam,” gumam Purnama pada dirinya sendiri - saat meraba dahinya yang tertempel plester. Sontak ia melepaskan dekapanku, lalu berdiri dan berlari ke kamar mandi. Kudengar ia muntah. Morning sickness, pikirku acuh dan kembali memejamkan mata---tak berniat sedikitpun untuk melihat keadaannya. Tetapi, di detik berikutnya, aku tersentak bangun dari baringanku.
“Ingat, El. Jaga baik-baik kandungannya." Shit. Ucapan tante Rina semalam melintas di pikiranku dan sukses mengacaukanku. Kuacak rambutku frustasi. Ada apa dengan diriku? Bukankah aku kembali pada diriku yang dingin dan kejam, tapi kenapa hati ini tak tega padanya.
__ADS_1
Kembali aku melirik ke kamar mandi. Kudengar Purnama masih muntah. Padahal aku tau semalaman ia belum mengisi perutnya. Jadi, apa yang dimuntahkannya? Beberapa detik kemudian aku tak mendengar ia muntah lagi. Tiba-tiba aku melotot. Astaga! Jangan sampai kejadian semalam terjadi lagi. Aku panik dan bergegas menuju kamar mandi. Kubuka pintu kamar mandi. Purnama menoleh padaku sesaat dari westafel tempat ia memuntahkan isi perutnya. Aku memandang wajah pucatnya, dalam diam aku menghela nafas lega - tak terjadi seperti semalam.
* I’m Sorry To Hurt You *
“Minum ini.” Aku melempar botol obat pereda mual pada Purnama saat kami sudah berada di ruang makan. Purnama mengernyitkan dahinya - tak mengerti. Ia menatapku. Aku tak menjelaskan obat apa itu, biarkan ia tau sendiri.
“Baca sendiri kegunaan obat itu,” ketusku sambil meneguk kopi. Diam-diam kulirik penasaran perubahan raut wajah Purnama - saat ia tau untuk apa obat itu.
Purnama mengalihkan perhatiannya ke botol obat dan membaca keterangan yang tertera dengan suara lantang. “Obat pereda rasa mual .... diminum saat pagi hari, saat morning sickness melanda atau rasa mual kapan saja ...”
Purnama kembali menelusuri kata-kata yang ada di dalam keterangan botol tersebut. “Warning ... obat ini khusus untuk ibu hamil, eoh? Hamil? Eh?” tanyanya polos.
Aku tersenyum geli melihat reaksinya yang lucu. Ia tak tau kalau ia sendiri lagi hamil.
“Kenapa kau memberiku obat khusus ibu hamil?” tanya Purnama memiringkan kepalanya dengan mata mengerjap. Tanpa ia sadari kembali sifat aslinya ia tunjukkan kepadaku - yang selama ini tenggelam dalam kesedihan. Diam-diam hati ini tersenyum bahagia melihat perubahan sikapnya. Apa karena pengaruh bayi dalam perutnya?
Aku berdeham sesaat. “Pikirkan saja sendiri kenapa aku memberimu obat itu,” ketusku---meski sebenarnya aku tak ingin berkata ketus.
Purnama kembali mengernyitkan dahi. Ia mengetukkan jarinya ke bibirnya - berpikir keras. Matanya menerawang.
“Ah ...” Purnama menutup mulutnya. Sepertinya ia tau sekarang. Ia menatapku, matanya berbinar senang meminta kepastian padaku. Aku memutar kedua bola mataku.
“Ya, kau hamil,” jelasku dingin dan beranjak meninggalkannya yang terdiam mematung melihat ekspresi dinginku saat memberikan kabar kehamilannya. Aku mengintip di cela pintu ruang makan, melihat keadaannya setelah kutinggal tadi.
Purnama menelungkupkan wajahnya ke meja. Samar aku mendengar suara tangis lolos dari mulutnya.
“Ibu, bagaimana ini. Haruskah aku senang atau sedih? Aku takut, huks ...”
Hatiku kembali berdenyut mendengar ucapannya. Benar-benar sakit melihatnya bimbang begitu. Aku perlahan berbalik - menjauhi ruang makan. Tak ingin melihat keadaan Purnama terus menerus, yang justeru menambah luka di hati ini.
=================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1