I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
EMPAT BELAS


__ADS_3

“Eliaaas.” Teriakan Sakti dan Jagat membahana di ruanganku. Mereka mengusikku siang ini. Memaksa masuk ke ruanganku dan duduk seenaknya di sofa sambil mencomot makanan di meja.


“Ada apa lagi kali ini?” kesalku menghentikan kegiatanku dari melihat setumpuk dokumen dan beralih menuju ke sofa - bergabung dengan dua mahkluk yang selalu mengganggu hidupku.


“Nila pagi ini meneleponku. Ia mengatakan kalau Purnama---”


“Hamil.” Aku memotong perkataan Sakti. Sakti hanya mengangguk.


“Aku juga dapat kabar dari mertuaku. Mami Rina semalam menelepon Intan, dan memberikan kabar kehamilan istrimu,” timpal Jagat juga ikut berbicara antusias.


Aku mendecakkan lidah. “Cepat sekali istri kalian berdua tau. Dan lagian, apa tak ada kerjaan tiap pagi mengunjungi Purnama,” kataku kesal dan mendekap kedua tanganku di dada. Jagat melempar bantal padaku, tapi dengan gesit aku menghindar, hingga bantal tersebut mendarat di sebelahku. Ia kesal atas sikapku.


“Kau ini, El .... istri kami itu menghibur istrimu yang hampir dikatakan bagai patung hidup setiap paginya, makanya mereka datang.” Jagat bersungut kesal menjelaskan, dan disetujui langsung oleh Sakti.


“Jagat benar, El. Bukan tak ada kerjaan. Lagian, itu perbuatan siapa, Purnama seperti itu, heh,” tambah Sakti.


“El, apa kau masih menjalankan misi balas dendammu?” tanya Jagat serius.


“Jagat, kalau itu sudah pasti masihlah. Kau tak lihat hasil kebejatannya setiap pagi,” sindir Sakti santai sambil mengaduk kopi mocca yang mengepul panas. Aku mendengus mendengar perkataan Sakti. Sialan kau, Sakti, umpatku kesal dalam hati.


“Iya juga sih ... lagian apa kau tak bosan menyakitinya, El? Dan sekarang lihat hasil karyamu setiap malamnya, Purnama hamil anakmu,” tambah Jagat menekanku.


“Padahal aku sudah berhati-hati, bahkan setiap melakukannya, aku memakai pengaman,” gumamku.


“Kau yakin, El?!” Sudut bibir Jagat terangkat, mengejekku telak. Sakti tertawa mendengar ejekan Jagat.


Aku meneguk saliva. Benar apa kata Jagat, nyatanya sekarang Purnama hamil anakku. Aku mengacak rambutku prustasi. Ah, kenapa jadi begini, hal yang tak kurencanakan malah balik menyerangku. Aku seperti pecundang yang menelan sendiri kata-kataku seperti yang dikatakan Jagat dahulu. Aku mendongak saat Jagat meremas bahuku pelan, ia mengerti apa yang kurasakan saat ini, bimbang.


“Sudahlah, El. Yang mesti sekarang kau lakukan hanyalah menghapus balas dendammu, dan memulai dari awal lagi bersama Purnama. Ingat, El. Anak yang dikandung Purnama itu anakmu. Lupakan Kalina, ia sudah tak ada di dunia ini,” kata Jagat.


Aku terdiam seribu bahasa. Melupakan Kalina? Aku meremas kedua tanganku.


“Jagat benar, El. Lagian, kau belum menyelidiki seratus persen kebenaran di balik kematian Daddy-mu, Mommy tirimu dan Kalina---pacarmu. Sepertinya ada seseorang yang dekat denganmu di balik ini semua.”


“Aku setuju dengan Sakti. Bukankah kedua orang tua Purnama juga meninggal karena dibunuh.” Jagat ikut menimpali perkataan Sakti. Aku menatap mereka bergantian.


“Kalian benar. Sudah dua minggu ini aku menyelidiki ulang kasus kematian mereka,” jawabku serak. Jagat dan Sakti kompak mengangguk.


“Semoga sukses atas penyelidikannya – dan tak kalah penting sebentar lagi kau akan dipusingkan dengan hal yang namanya mengidam oleh kehamilan Purnama,” ujar Sakti.


“Dan menjadi suami siaga – siap, antar, jaga selama sembilan bulan ha ha ha,” sambung Jagat tertawa diikuti oleh Sakti. Mereka senang akhirnya aku mengikuti jejak mereka berdua yang telah menyandang status Ayah. Aku mendecak sebal. Sial.


“Kau akan dipusingkan oleh istrimu yang berubah-ubah mood, dan kau harus extra sabar menghadapinya, El.” Jagat membagi pengalaman saat ia harus dibuat kerepotan oleh Intan saat mengandung Jhonas - anaknya.


Aku mendengus seakan menyangkal semua perkataan Jagat dan Sakti. “Aku tak peduli akan kehamilan Purnama,” ujarku keras kepala.

__ADS_1


“Astaga, El.” Serempak Sakti dan Jagat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat dinginku dan kekeras-kepalaku.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


Sepuluh tahun yang lalu ...


 


 


“El ... yang sabar ya,” ujar Jeremy--sepupuku--meremas bahuku.


Aku terduduk di lantai ruang tamu melihat dua mayat bersimbah darah terbujur kaku di depanku. Daddy dan Mommy tiriku meninggal secara mengenaskan. Aku meraung menangis tak terima atas kejadian ini.


“Siapa yang membunuh kalian, Dad. Kenapa kalian meninggalkanku mendadak seperti ini,” racauku.


“Tenanglah, Elias. Aku tau siapa pelakunya. Dia meninggalkan jejak di rumah ini,” jelas Jeremy padaku. Aku mendongak menatapnya. Jeremy memberikan jaket yang bersimbah darah ke tanganku.


“Jaket ini ditemukan di atas tubuh Daddymu, lihat nama dikerah jaket itu,” katanya memberi perintah. Aku mengikuti perintah Jeremy.


“Egdar Dirgasuwoto,” geramku saat melihat nama bordiran di balik jaket ini. Kuremas jaket kulit ini di tanganku. Berengsek. Kau Edgar, setelah mencampakkan Kalina, wanita yang teramat kucintai, kau juga membunuh kedua orang tuaku.


 


 


Seminggu kemudian ....


 

__ADS_1


 


“Elias ... Kalina ditemukan bunuh diri di apartemennya.” Telepon Jeremy padaku saat aku baru menyelesaikan prosesi pemakaman kedua orang tuaku.


“Sepertinya dia depresi berat ditinggalkan oleh Edgar, berulang kali ia menyebut nama Edgar saat mengembuskan nafas terakhirnya,” jelas Jeremy saat kami tiba di apartemen Kalina.


Aku terpaku. Mataku memerah menahan amarah. Kukepalkan kedua tanganku. Nama Edgar Dirgasuwoto terpatri jelas dalam hatiku. Edgar, tunggulah pembalasanku ....


...........


........


....


 


 


Aku tersentak bangun dan membaringkan tubuhku di sandaran kepala ranjang. Terengah-engah, bulir-bulir keringat membasahi seluruh tubuhku. Melirik jam dinding masih tengah malam.


“Mimpi ini lagi,” gumamku. Mimpi yang menghantuiku selama sepuluh tahun ini.


“Eung, El? Kenapa? Mimpi burukkah?” tanya Purnama khawatir. Ia mengucek matanya - masih mengantuk.


Aku menggeleng. “Tidak, tidurlah lagi. Masih malam” ujarku menepuk kepalanya. Purnama menurut, selang beberapa menit kemudian ia terlelap lagi.


Kupandang intens Purnama. Aku memintanya untuk tidur di sebelahku lagi setelah ia hamil. Selama ini ia tidur di sofa yang sempit, tapi demi kenyamanan anakku di dalam perutnya, aku memintanya kembali tidur di sampingku.


Kueelus wajah Purnama yang tertidur damai dan beralih ke perutnya yang mulai membuncit - usia kandungannya saat ini sudah empat bulan. Selama hamil, Purnama tak pernah meminta sesuatu lagi semenjak aku membentakknya. Satu bulan yang lalu ia membangunkanku tengah malam untuk membelikannya bubur ayam. Aku menolaknya dan membentaknya.


“Siapa yang masih membuka tokonya tengah malam begini, apalagi ini di New York, bukan di Indonesia yang tak banyak menjual jenis makanan seperti itu – jangan meminta hal aneh denganku jika kau masih ingin tidur di sebelahku, dan kalau kau mau, beli saja sendiri,” ujarku ketus saat itu. Purnama menggigit bibir bawahnya, kemudian kembali tidur sambil mengelus perutnya.


Aku menghela nafas dan memandang Purnama dalam dekapanku. Wanita manis ini adalah adik dari orang yang telah membunuh keluargaku. Hmmm ... Edgar kita lihat saja nanti.


==================


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2