I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Aku tersentak bangun, mataku langsung terbuka lebar, memperhatikan sekeliling. Lalu mengembuskan napas. Berharap kejadian yang kulalui selama ini hanyalah mimpi buruk belaka. Dari lubuk hatiku, sangat berharap Edgar sehat dan Purnama tak perlu membenciku.


Kududukkan tubuhku dengan paksa. Dadaku terasa sangat sakit sekali. Bahkan untuk menarik napas saja begitu sulit. Kulihat jarum infus tertancap di tangan kananku. Aku ingat, sebelum tak sadarkan diri, Randy menendangku secara brutal.


“Elias, jangan bangun dulu. Kau masih sakit.” Mommy memegang tubuhku, mencegahku untuk duduk.


“Tidak, Mom. Aku harus menemui Purnama,” lirihku dengan suara lemah dan menatap Mommy yang sepertinya habis menangis. Mommy menggelengkan kepalanya, terus mendorong tubuhku agar berbaring kembali. Tetapi tubuhku hanya diam tak bergerak.


“El, kau juga sakit. Nanti saja ya menjenguk Purnama,” bujuk Mommy masih tetap bersikukuh membaringkan tubuhku yang kaku.


“Mom, aku hanya ingin memastikannya apakah dia baik-baik saja.” Aku menyingkirkan tangan Mommy di bahuku. Tanpa berpikir panjang lagi langsung kucabut selang infus dari tangan kananku. Aku meringis menahan rasa sakit dan perih sekaligus menusuk tanganku. Darah segar mulai muncrat dari urat di pergelangan tanganku; dimana tadi tertancap selang infus. Mommy yang melihat langsung memekik.


“Elias! Apa yang kau lakukan!”


“Ada ap--astaga! Elias.” Daddy tiba-tiba saja masuk ke ruangan ketika mendengar pekikan kaget Mommy. Dengan sigap Daddy langsung menahanku. Memegang erat tubuhku.


“Lepaskan, Dad. Biarkan aku pergi, aku ingin melihat Purnama.”  Aku mulai meninggikan suara.


“Tidak, El. Kau harus istirahat dulu.”


“Dad, kumohon! Biarkan aku melihat keadaannya. Aku ...” Tak kuteruskan ucapanku. Aku berlutut karena tubuhku masih sangat lemah untuk kugerakkan. Kupeluk pinggang Daddy sebagai tumpuanku. Tak kupedulikan lagi darah yang masih mengalir dari pergelangan tanganku. Mataku berkaca-kaca. Hatiku berdenyut sakit. Terbayang-bayang di pelupuk mataku wajah kesakitan Purnama saat mengetahui Edgar mengidap penyakit lupus stadium akhir.


“Kumohon, Dad,” lirihku. Daddy mengembuskan napasnya. Menatap kedua bola mataku yang bergerak-gerak gelisah. Ia mengusap darah di pergelangan tanganku. Sedang Mommy hanya bisa terisak-isak sedari tadi.


“Baiklah, bila itu keinginanmu. Temuilah Purnama.” Akhirnya Daddy mengizinkanku.


Kuembuskan napas lega. Setelah mengucapkan terima kasih pada Daddy. Dengan tertatih-tatih menyeret tubuh lemahku menuju ruangan Purnama bersama kedua orang tuaku yang setia mengekor dari belakang.


Ketika sampai di ruangan Purnama. Ada Edgar, sedang membelai pucuk kepala Purnama yang menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Kutarik napas dalam-dalam dan menunduk menatap ujung sepatuku. Melihat Edgar berada disini, mungkin dia sudah mengetahui kalau aku membocorkan soal penyakitnya. Kutatap wajah Mommy dan Daddy bergantian, mereka hanya mengangguk - memberikan kekuatan untukku.


“Purnama,” ucapku parau.


“Elias?” Edgar menoleh dan menatapku  yang masih berdiri di depan pintu. Aku hanya mengangguk sebagai tanggapan. Lalu beralih pada istriku. Mataku menyayu memandangnya. Purnama hanya diam saja melihat langit-langit kamar. Kakiku mulai melangkah mendekati ranjangnya.


“Kak Ed, mau ke mana?” tanya Purnama memegang erat pergelangan tangan Edgar. Mencegahnya pergi.


Senyum tipis hadir di wajah pucat Edgar. Ia mengusap lembut punggung tangan Purnama. “Kakak mau keluar sebentar. Bicaralah baik-baik dengan Elias, oke.”


Purnama menggelengkan kepala di sela-sela isakannya. “Tidak! Kakak tetap disini--seharusnya dia yang pergi dari sini.” Tunjuknya padaku.


“Tapi, Pur---”


“Aku tak mau dengar!” Purnama berteriak histeris menutup kedua telinganya, memotong ucapan Edgar.

__ADS_1


Kuembuskan napas pendek. Menyela keduanya. “Tak apa, Ed. Aku akan kembali nanti.”


“Tidak, Elias! Kau tetap di sini!” cegah Edgar menghentikan gerakanku yang mulai berbalik dan melangkah pergi. Kuberanikan diri menatap wajah Purnama yang mendelik tajam padaku, lalu mengalihkan pandangannya pada Edgar.


“Kakak, aku tak setuju!” bantahnya menolak kehadiranku.


“Tidak, Purnama. Kita harus menyelesaikan masalahnya bertiga,” kata Edgar dengan tegas, membuat Purnama bungkam seketika.


“Kemarilah, El. Duduk disini,” lanjut Edgar memanggilku sembari menarik kursi lainnya, menepuknya agar aku segera duduk di sampingnya. Aku mengangguk pelan, mulai melangkah mendekati keduanya. Kutundukkan kepala, menatap lantai seraya meremat kedua tanganku. Membiarkan Edgar berbicara.


“Purnama, sebenarnya memang Kakak yang menyuruh Elias merahasiakan penyakitku ini darimu. Kakak tak mau kau khawatir. Kakak tak mau kau bersedih. Kakak tak mau kau jatuh sakit karena memikirkanku. Tapi ... Elias telah mengatakannya padamu.”


“Maafkan aku, Ed,” lirihku dengan perasaan bersalah, tak bisa menjaga rahasianya dengan baik.


Edgar menepuk bahuku pelan. Tersenyum tipis. “Tak apa, sudah terjadi--lagipula, lambat laun juga ketahuan oleh Purnama.”


“Tetap ini salah Elias, Kak. Andai saja dia tak melarangku selama ini menemui Kakak. Mungkin ... huks,” sela Purnama terisak.


“Purnama,” panggilku dengan parau dan menatap lara padanya. Tanganku gemetaran kala meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat. Tetapi buru-buru Purnama menepis tanganku.


“Sekarang kau puas, El. Kak Ed menderita,” pekik Purnama menatap nyalang kedua bola mataku. Tiba-tiba dia meninju dadaku, melampiaskan semua amarahnya. Aku hanya diam, tak melawan sama sekali. Kubiarkan saja dia menumpahkan semuanya padaku.


“Purnama, hentikan!” Edgar menahan tangan Purnama. “Elias juga sakit saat ini,” lanjutnya membuatnya terdiam.


Aku segera berdiri, tak tega bila dia terus bersikap histeris padaku.


“Ed, aku pergi dulu,” pamitku. Edgar hanya mengangguk tipis. Kali ini dia menyerah.


“Jangan kesini lagi! Jangan melihatku lagi, Elias!” Purnama terus berteriak di belakangku, membuat hatiku kembali berdenyut sakit mendengar penolakannya.


 


 


***


 


 


Aku berbalik menjauh dari jendela kaca, melangkahkan kakiku diam-diam. Sebelumnya mengintip keadaan istriku. Apakah makan dengan baik. Tidur dengan baik. Ya. Sudah hampir semingguan aku melakukan kegiatan seperti ini. Mengawasinya dari kejauhan.


Semenjak kejadian di mana aku mengatakan padanya bahwa Edgar sakit, Purnama begitu terpukul. Bahkan tak mau melihatku lagi. pernah sehari sesudahnya aku menjenguknya. Dia bereaksi sangat histeris padaku, hingga aku tak berani lagi melihatnya secara langsung.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, aku keluar dari area rumah sakit dan menuju apartemen. Saat ini Purnama kupercayakan pada kedua orang tuaku untuk menjaganya secara bergantian. Dan Randy sendiri berada di sisi Edgar, menjaganya. Aku juga menempatkan beberapa anak buahku--secara rahasia--menjaga istriku dan Edgar. Aku tak mau kejadian Purnama diculik oleh si berengsek Jeremy terulang lagi. Soal Jeremy, secepatnya aku ingin membereskannya.


Mataku menyipit saat menatap langit cerah di sore hari, manakala telah berdiri di pelataran parkir rumah sakit. Mengembuskan napas dan membuka pintu mobil. Menyuruh supir pribadiku menuju kediamanku.


 


 


***


 


 


Dengan gontai aku memasuki apartemen yang terasa sunyi. Lantas berbaring di sofa, mengistirahatkan tubuhku yang lelah. Kututup kedua mata dengan lenganku. Kupalingkan wajah ke atas meja saat smartphone-ku berdering nyaring. Kutegakkan tubuh dan mengusap wajahku yang kusut. Lalu memijit dahiku kala kurasakan berdenyut, dan menggeser tombol jawab. Sekilas melihat ID penelepon. Bryan.


“Kenapa, Bry?” tanyaku langsung.


“El, kapan kau akan kembali ke New York? Kami tak bisa meng-handle semua permasalahan perusahaan, tanpa kepemimpinan-mu sama sekali kami kelimpungan. Kami butuh kau sebagai pemilik perusahaan ini.”


Aku mengembuskan napas. Satu lagi masalah terbesarku; yaitu perusahaanku yang tiba-tiba saja mengalami kerugian besar, disebabkan hampir semua keuanganku berpindah tangan atas nama Jeremy semua.


Kembali kupijat dahiku yang semakin terasa berdenyut. Gigi gemeretak. Hatiku sangat kesal. Aku berdecak. Dasar licik Jeremy. Dahulu dia bilang padaku tak butuh harta saat menculik Purnama. Tapi ternyata, diam-diam dia sudah memindahkan semua aset keuanganku padanya.


“Secepatnya, Bry. Aku kembali. Saat ini aku belum bisa memastikan kapan kembali ke New York. Purnama disini juga membutuhkanku.” Kudengar dengan jelas desahan suara berat Bryan saat mendengar jawabanku.


“Baiklah. Kembalilah secepatnya, El. Mengingat ini bukan masalah kecil. Apalagi perusahaan kita di New York adalah induk dari sepuluh cabang anak perusahaan.”


Kugigit bibir mendengar penjelasan Bryan. Masalah ini sungguh membutuhkan perhatianku secepatnya.


“Aku mengerti, Bry. Secepatnya aku akan berada di New York,” kataku dan mematikan sambungan telepon. Menatap langit-langit kamar. Setidaknya aku kembali ke New York saat Purnama benar-benar dalam keadaan sehat. Aku berencana membawanya pulang ke New York lagi.


\================


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2