I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Aku bisa bernafas lega setelah mengetahui lokasi di mana Purnama berada. Akhirnya. Tunggulah pembalasanku, Jeremy.


Kukepalkan tangan. Bertekad dalam hati. Menerawang ke atas. Tak berapa lama alamat yang dilacak oleh Luhan masuk ke email-ku, dan secara bersamaan pula Jeremy mengirimkan alamat lokasinya. Kembali dering smartphone-ku bergetar, cepat-cepat kugeser tombol jawab. Itu pasti Jeremy dengan nomor barunya lagi.


“Apa lagi yang kau inginkan,” ujarku dengan dingin.


“Hahaha, benar-benar sifatmu, Elias, tanpa basa basi. Kau sudah menerima alamatnya, kan? Ingat, Elias. Bila kau memang seorang pria sejati, datanglah seorang diri ke alamat yang sebentar lagi akan menjadi kuburan buatmu. Ingat, kuperingatkan sekali lagi, jangan coba-coba membawa seorang pun, kalau kau masih peduli pada istrimu dan calon anakmu.”


Aku menggertakkan gigi, rasa amarah menguasaiku kembali. Berdecih keras. “Kau yang sebenarnya pengecut, Jeremy. Kau menggunakan Purnama sebagai umpan untuk membunuhku.”


Jeremy terkekeh, dan menggeram marah atas ejekanku. “Tak usah banyak bicara, Elias. Kuberi kau tenggat waktu satu hari ini untuk sampai di kuburanmu. Kalau kau tak datang, jangan harap kau bisa bertemu dengan Purnama dan calon anakmu hidup-hidup.”


Aku menggeram kesal bersama Jeremy memutuskan sambungan teleponnya. Cepat-cepat bergegas bangun, aku tak punya waktu lagi untuk berdiam diri. Mengambil kunci mobil dan memakai coat musim dingin dengan tergesa-gesa - kota Beijing saat ini memasuki musim dingin. Aku berlari menuruni tangga dan membuka pintu. Kulihat, Mommy sedang bersiap-siap memencet bel dengan di belakangnya Randy; memalingkan muka ke arah lain. Sepertinya ia tak mau melihatku. Tampaknya masih benci dan marah terkait Purnama diculik karenaku.


“Elias? Mau ke mana?” tanya Mommy heran ketika melihatku--tanpa menyapa mereka berdua--menutup pintu apartemen kembali.


“Pergi ke tempat rahasia, Mommy,” jawabku ringan tanpa memberi tahu lebih jauh. Mommy kembali menatapku heran, bahkan kini mencegat lenganku, hingga terpaksa aku berhenti dan menatap mata hitamnya.


“Tempat rahasia?”


Aku hanya mengangguk kecil tak berminat untuk membuka mulut.


“Katakan di mana alamatnya, itu pasti dari Jeremy.” Kini Randy membuka mulutnya dengan menatapku sengit.


Kuembuskan napas pendek. Menatap kedua mata Randy dan menggeleng kecil. “Tidak, Randy. Jeremy tak membolehkanku membawa seseorang, siapapun itu. Ini menyangkut nyawa Purnama.”


Randy menarik kerah coat-ku dengan menatapku tajam. “Jangan sok menjadi pahlawan seorang diri, Elias. Ingat kau juga seorang berengsek sebelumnya. Cepat berikan alamat itu padaku,” bentaknya.


Aku kembali menggeleng, dengan kasar melepaskan cengkraman kerah coat-ku. Menghirup udara dan mengembuskannya perlahan. Tanpa berkata lagi, kembali melangkahkan kakiku - tak ingin membuang waktu percuma seperti ini.


“Berhenti, Elias. Kau pikir bisa menghadapi Jeremy seorang diri, ha!” Randy berteriak marah di belakangku.


Aku tak menggubrisnya tetap berjalan. Kembali langkahku terhambat saat dengan kasar Randy menarik lenganku, hingga terpaksa berhadap-hadapan kembali dengan wajah Randy yang penuh amarah. Menghembuskan nafasku, gerah akan sifat Randy yang tak pantang menyerah – mengingatkanku kembali akan Randy yang berusaha menemui Purnama secara diam-diam di belakangku.


“Mengertilah posisiku, Randy. Kau membuatku tambah kesulitan. Waktuku tak banyak. Jeremy memberiku waktu seharian ini menyelamatkan Purnama,” balasku tak kalah berteriak dan frustasi, mengibaskan dengan kasar tangan Randy dari lenganku.


“Kau--”


“Sudahlah, Randy. Berpikirlah jernih. Biarkan Elias pergi,” sela Mommy menengahi, memegang tangan Randy.


“Elias, Mommy hanya minta kau berhati-hati. Apakah kau menghubungi Luhan?” lanjutnya menatapku dengan wajah cemas.


“Ya, Mom. Tapi aku sudah memberi tahu Luhan untuk tak mencampuri urusanku,” jawabku seraya berlari menyusuri lorong menuju lift - meninggalkan Mommy dan Randy yang hanya terdiam.


 


 


 


***


 


 


 

__ADS_1


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, butuh waktu beberapa jam untuk sampai di distrik Huairou; lokasinya terletak di pegunungan Jundu. Apalagi Jeremy memberikan tenggat waktu hanya seharian ini. Ck! Sialan. Kau benar-benar licik Jeremy, makiku dengan tetap fokus menyetir sembari melihat jalanan yang kini mulai sepi. Ketika memasuki kawasan distrik Huairou, sepanjang mata memandang, hanya pohon-pohon rindang yang memenuhi bahu jalan, kini ditutupi dengan hamparan salju.


Kulirik arloji di tangan kananku; menunjukkan pukul sembilan malam waktu setempat. Pantatku sudah sangat panas karena terlalu lama menyetir. Tapi, aku tetap tak mau mengambil istirahat walau sedetik saja. Karena waktu sedetik sangat berharga bagiku. Aku tak ingin menyia-nyiakannya, sebab ini menyangkut keselamatan istriku dan calon anakku. Meleset dikit, nyawa taruhannya.


Mematikan mesin mobil sport-ku kala telah berada di lokasi. Tepat di bangunan villa megah. Kupikir, tempat Purnama diculik di bangunan tak terpakai. Perlahan turun dari mobil, menatap lekat bangunan villa. Menunggu telepon dan instruksi dari Jeremy selanjutnya. Aku yakin, dia pasti melihatku dari kamera CCTV. Benar saja, selang beberapa detik kemudian smartphone-ku bergetar di dalam saku coat-ku. Menggeser tombol jawab seraya mataku melihat-lihat sekitar villa.


“Masuklah!” perintahnya langsung dan mematikan sambungannya.


Kukantongi ponselku kembali. Pintu ganda villa terbuka lebar di depanku. Perlahan kakiku melangkah masuk. Mataku tetap waspada melihat sekeliling ruangan yang luas serta kosong melompong, tak ada perabotan di mana pun. Hanya ada sebuah tv plasma berukuran 90 inchi, tertempel di dinding tepat di sebelahku.


Salah satu alisku naik. Aku bingung. Ke mana semua orang? Tak ada yang menjaga di sini. Di mana Jeremy menyembunyikan Purnama?


Samar, telingaku menangkap suara langkah sepatu berat di lantai dua. Aku menengadah. Kulihat sosok Jeremy berdiri di sana, sedang bersidekap dada dengan menatapku sengit. Ia bertepuk tangan sambil tersenyum mengejekku.


“Selamat datang! Akhirnya sampai juga di kuburanmu, Elias!”


Aku menatap datar Jeremy.


“Terima kasih, bedebah. Hm! Aku tak menyangka kau sudah menyiapkan villa semewah ini untuk menguburkanku. Ck! Jeremy--ah tidak, apa aku memanggilmu mantan sepupu?” balasku balik menyerangnya - tak kalah sengit dan menantang.


Jeremy terkekeh. Menundukkan tubuhnya dan memegang erat besi pengaman, menatapku yang berada di bawah.


“Wow! Kau memang hebat, Elias. Tak pernah takut akan kematian. Tapi sayangnya, kelemahanmu adalah terlalu percaya pada mantan sepupumu ini.” Dia menunjuk dadanya.


Gigiku gemeretak. Amarahku sudah sangat meluap. Tanganku mengepal hingga buku-buku jariku memutih. Dalam diam mengembuskan nafas perlahan-lahan. Aku tidak boleh emosi dan membuat kesalahan. Harus tetap tenang menghadapi orang licik seperti Jeremy.


“Sebenarnya apa alasanmu ingin sekali membunuhku, Jeremy,” kataku dengan jujur dan dingin. Sangat ingin tahu alasan dari mulutnya. Apa sebabnya melakukan hal kejam itu terhadap keluargaku.


Jeremy terkekeh dan mendelik tajam, kemudian memicingkan matanya. Aku hanya menatap datar tatapannya. Cih, dia pikir aku akan gentar dengan delikannya itu.


“Baiklah, aku akan menjawab rasa penasaranmu, hitung-hitung permintaan terakhirmu sebelum kematian menjemputmu!”


“Sebenarnya, ayahmu mempunyai saudara tiri yang bernama Jacob. Jacob tak pernah diakui di keluarga besar Bowman karena tak punya hubungan darah. Nenekmu sangat membenci Jacob. Dan aku ... adalah putra kandung Jacob. Kemudian nenekmu mengusir ayahku dari Indonesia. Dengan mengancam tak boleh menginjakkan kaki lagi di Indonesia, hingga akhirnya ayahku pun mati tanpa bisa dikuburkan di tanah kelahiran yang dicintainya,” jelas Jeremy mengeratkan pegangannya di besi pengaman. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kesakitan yang mendalam.


“Kemudian, aku diangkat anak oleh adik ibu tirimu. Di sanalah aku memulai misi balas dendam, yaitu melenyapkan seluruh keturunan Bowman. Membalaskan rasa sakit hati ayahku. Termasuk dengan membunuh kau dan calon bayimu.”


“Jangan coba-coba, Jeremy!” hardikku. Darahku mendidih kala mendengar niat Jeremy yang ingin melenyapkan keturunanku. Dia pikir semudah itu melenyapkan keturunan Bowman, huh.


“Ow, ternyata sang serigala mulai terbangun. Tapi itu tak berguna, karena sebentar lagi kau akan mati Elias. MATI! Hahaha.” Tawa Jeremy menggelegar. Gigiku gelemetuk tajam.


“Nah, sekarang pertunjukkan utama.” Jeremy memberikan tepukan. Muncul sepuluh kawanan perampok dari empat penjuru sudut.


Kulirik satu persatu kawanan perampok yang perlahan bergerak mendekatiku. Aku bersiap memasang kuda-kuda, mulai bertarung dan tetap waspada. Tidak! Aku belum mau masuk kepermainan Jeremy sekarang, sebelum memastikan istriku dan calon bayiku selamat. Mereka harus baik-baik saja.


Kuusap mulutku dengan kasar. Menatap sengit Jeremy dari atas yang menikmati permainan ini.


“Tunggu!” Tahanku hingga Jeremy menyipit padaku. ”Sebelumnya, biarkan aku melihat terlebih dahulu Purnama.”


Ia tersenyum sinis dan terkekeh. Menjentikkan jarinya. Layar plasma datar di sampingku hidup, menampilkan Purnama yang sedang duduk di kursi dengan kedua tangannya diikat serta mulut yang dilakban. Ia ditempatkan di ruangan kosong.


Kutarik napas lega. Syukurlah, Purnama tak terluka sedikitpun. Meskipun matanya bengkak habis menangis, wajahnya tampak kusam dan rambutnya kusut. Tubuhnya bergerak-gerak, ingin melepaskan ikatan yang mengikat tangannya, serta matanya bergerak-gerak gelisah memperhatikan sekitarnya. Aku menggeram. Bagaimana caranya bisa membebaskan istriku?


Klik!


Layar plasma tiba-tiba mati. Kutarik napas, kucoba bernego dengan Jeremy.


“Jeremy, sesuai janjimu siang tadi, kau akan membebaskan Purnama. Tepati janjimu sekarang juga! Lepaskan Purnama!”

__ADS_1


“Aku akan membebaskannya bila kau bisa lolos dari kematianmu, Elias. Kau tak usah takut. Bila kau mati, dengan senang hati akan kubunuh juga dia. Jadi, kalian berdua bisa bertemu kembali di neraka. Hahaha.” Jeremy tertawa kesetanan. Ia semakin menggila.


Sialan! Dari semula, dia memang tak berniat melepaskan Purnama. Aku harus mencari ide lain.


“Aku sungguh prihatin, Jeremy. Ternyata kau sungguh-sungguh pengecut, untuk membunuhku pun kau harus menggunakan tangan anak buahmu. Bahkan butuh waktu sampai tiga belas tahun lamanya, hahaha,” balasku balik tertawa mengejek, hingga membuatnya naik pitam


“Bagaimana kalau kau yang duluan bertarung denganku, eum? Sebagai lelaki sejati yang kau sebutkan siang tadi,” tawarku. Setidaknya aku bisa mencari ide lain dan mengulur waktu.


“Baiklah, bila itu maumu, Elias. Kita bertarung satu lawan satu.”


“Tunggu apalagi. Turunlah, Jeremy!” Tantangku.


Aku sudah tak sabar ingin memberikan beberapa shock terapi padanya. Aku mulai bersiap-siap memasang kuda-kuda saat ia sudah turun. Jeremy meremat kedua tangannya hingga berbunyi gemeretak pada buku-buku jarinya. Cih, terlalu lama. Aku yang pertama memulai pertarungan. Secepat kilat aku menendangnya. Ia terhuyung-huyung ke belakang ketika tendanganku mengenai sasaran, tepat mendarat di pipi kanannya. Hingga mengeluarkan darah segar di sudut mulutnya.


Jeremy menatapku dengan garang. Mengelap sudut mulutnya. Detik kemudian, kami mulai bergumul. Saling menendang dan meninju. Baik aku dan dia saling mendapatkan beberapa pukulan. Kuelap hidung dan mulutku yang berdarah, akibat tendangannya yang tepat mengenai sasaran.


Ketika kami asyik bertarung satu sama lainnya, suara sirine mengaum memekakkan telinga. Aku dan Jeremy terpaksa berhenti. Samar kudengar derap langkah kaki dari luar dan beberapa letusan tembakan mengudara, disusul kemudian suara dari salah satu polisikah? Berteriak dengan megaphone.


“Saudara Jeremy, menyerahlah! Anda sudah dikepung!”


“Berengsek kau, Elias!” Jeremy mengumpat kasar.


Dahiku mengernyit. Akupun bingung. Setahuku, aku memang datang sendirian ke sini. Tapi kenapa ada polisi di luar?


“Boss, sebaiknya kita melarikan diri dahulu.” Salah satu anak buah Jeremy menyela dari lantai dua. Jeremy mendengus kasar kemudian menggumam sesuatu. Ia berbalik melotot padaku.


“Kita sambung lain kali, Elias. Kali ini kau kembali lolos dari kematian.”


Bersamaan dengan Jeremy yang melarikan diri, pintu villa terbuka dengan paksa. Muncul Mommy dan Randy? serta Daddy yang mengekor di belakang? Aku bernafas lega, ternyata mereka.


“El, kau tak apa-apa?” Serbu Mommy dengan wajah cemas. Berlari ke arahku. Aku hanya mengangguk kecil, kemudian berlari ke lantai dua, mencari keberadaan istriku.


“Elias, apa yang kau lakukan?” tanya Mommy mengikutiku dengan heran.


Tanpa melihat Mommy, aku menjawab sembari menendang beberapa pintu kamar yang terkunci. “Mencari Purnama. Jeremy masih menyembunyikannya di suatu tempat di villa ini.”


Kulirik Randy mulai ikut mencari, setelah mendengar perkataanku barusan. Sudah beberapa kali aku menendang pintu kamar dan semuanya nihil. Di mana Jeremy menyembunyikan Purnama?


Kuhirup udara, kemudian mengembuskannya perlahan. Aku harus tenang. Kupejamkan mata sejenak. Kubuka mataku kembali. Tiba-tiba saja mataku menjadi terang. Dari kejauhan, dengan jelas aku melihat ada ruangan kosong dan gelap di sana. Letaknya di sudut ruangan. Bahkan pintunya pun ditutupi dengan kardus-kardus yang ditumpuk, menyamarkan bahwa ruangan itu tak terpakai. Mungkinkah ....


Tanpa sadar kakiku sudah berlari menuju ruangan itu. Menyingkirkan semua kardus-kardusnya. Dengan dada bergemuruh serta jantung berdetak kencang, perlahan kubuka kenop pintu. Ternyata dikunci. Langsung saja dengan tak sabaran aku menendangnya sekuat tenaga, hingga terbuka dan rusak. Aku menyerobot masuk.


Benar saja, Purnama duduk di kursi dengan tangan diikat dan mulut tertutup lakban. Kepalanya tertunduk lemah, sepertinya tidur atau pingsan?


“Purnama.” Aku berteriak memanggil namanya. Berlari menuju dirinya.


Purnama menengadah. Sedetik kemudian mata kami bertemu. Purnama meronta-ronta dan mulai menangis. Hatiku terenyuh melihatnya. Langsung kubuka lakban di mulutnya. Lalu membebaskan ikatan talinya.


“Huks, Elias ...”


\=============


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2